Pertanyaan Seputar TB Anak

Penyakit TB atau Tuberculosis termasuk sering terjadi pada anak di Indonesia. Tak ayal bila hal ini membuat orangtua gelisah bila buah hati sering demam atau berat badan sulit naik. Namun, bagaimana sebenarnya mendiagnosis TB?

Sekilas tentang TB Anak
Tuberculosis ialah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling banyak menyerang paru-paru, namun dapat menyebar ke organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, kulit, sauran cerna, bahkan selaput otak. Disebut TB anak apabila penyakit TB terjadi pada anak usia 0-14 tahun.

Bagaimana TB ditularkan pada anak?
TB menular melalui udara di mana anak menghirup droplet atau tetesan dahak dari penderita TB paru dewasa maupun anak. Namun, bukan berarti TB dapat menular dengan cepat. Anak dapat tertular TB apabila tinggal dalam satu atap bersama penderita TB dalam jangka waktu yang lama (3 bulan) disertai dengan sistem imun yang kurang baik.

Apa faktor risiko anak terkena TB?
Anak rentan terkena TB apabila :
1. Tinggal seatap atau kontak langsung dengan penderita TB paru
2. Usia <5 tahun
3. Mengidap HIV
4. Mengalami malnutrisi berat

Apakah TB anak menular?
TB anak jarang menular kecuali pada anak yang lebih besar atau remaja. Namun, adanya kasus TB pada anak menandakan sedang berlangsungnya penyebaran TB dalam lingkungan setempat.

Bagaimana gejala TB pada anak?
Gejala TB pada anak berbeda sesuai umur. Pada bayi dan anak <2 tahun, munculnya gejala TB bisa lebih cepat dibandingkan anak yang lebih besar. Gejala yang timbul juga lebih berat seperti pneumonia (sesak nafas, demam), meluas dan lebih berisiko menyebabkan kematian.

Sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, gejalanya tidak khas seperti:

  • Lemah badan, letih, lesu, kurang aktif bermain
  • Demam tidak terlalu tinggi > 2 minggu atau demam berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, DBD, dll)
  • Keringat malam
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Berat badan tidak kunjung naik berdasarkan kurva pertumbuhan setelah 1 bulan diberi upaya perbaikan gizi yang baik
  • Gagal tumbuh
  • Anak tidak nafsu makan atau berkurang
  • Batuk-batuk lama yang tidak kunjung sembuh (biasanya jarang pada anak)
  • Diare menetap (>2 minggu) meskipun sudah diobati terapi baku diare

Karena TB bisa menyebar ke organ selain paru, gejalanya juga bisa khas dengan organ terlibat. Misalnya pembesaran kelenjar getah bening, gangguan saraf, penonjolan tulang belakang, lesi kulit yang khas, dll.

Bagaimana mendiagnosis TB?

Seperti penyakit infeksi lain, anak didiagnosis pasti TB apabila ditemukan kuman Mycobacterium tuberculosis pada pemeriksaan dahak, bilas lambung ataupun biopsi jaringan. Namun upaya untuk menemukan kuman penyebab TB pada anak melalui dahak tidak mudah karena sedikitnya sampel yang di dapat dan prosedur yang sulit. Untuk memudahkan penegakan diagnosis TB terutama di fasilitas kesehatan terbatas, saat ini di Indonesia diadopsi sistem skoring TB. Dalam sistem ini dibutuhkan informasi berupa :

  • Ada/tidaknya kontak erat dengan penderita TB
  • Uji tuberkulin (Mantoux)
  • Tanda dan gejala klinis
  • Pemeriksaan Rontgen Paru

Pada umumnya anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6

Apa itu tes Mantoux atau Tuberkulin?
Tes Mantoux merupakan tes untuk mengukur respon imun anak terhadap bakteri. Sehingga anak yang positif tes mantoux belum tentu pasti mengidap TBC. Tapi tes ini bisa membantu menegakkan diagnosis pada anak yang diduga TB, skrining anak yang kontak erat TB atau tambahan dari pemeriksaan lain untuk memperkuat diagnosis TB.

Cara melakukan tes mantoux :

  1. Anak akan disuntikkan larutan tuberkulin PPD RT-23 2 TU sebanyak 0,1 ml di lengan bawah dengan jarum agak mendatar (intrakutan)
  2. Bila penyuntikan dilakukan secara benar, akan muncul penonjolan di kulit dengan pori-pori seperti kulit jeruk
  3. Setelah 72 jam hasil uji tuberkulin dibaca
  4. Hasil dikatakan positif bila terdapat indurasi (seperti bentol di kulit) >10 mm untuk anak pada umumnya atau >5 mm pada anak dengan imun yang lemah.
clip-image002-thumb71
Tes Mantoux

Bila anak saya positif TB, bagaimana terapinya?

Pada prinsipnya, anak diberikan obat anti TB sambil diberikan gizi yang cukup dan diobati penyakit penyertanya. Obat Anti TB (OAT) diberikan dalam bentuk kombinasi minimal 3 macam obat untuk mencegah resistensi. Waktu pengobatan TB anak berkisar antara 6-12 bulan untuk mencegah kekambuhan. Terapi TB dibagi dalam 2 tahap :

  1. Tahap intensif selama 2 bulan pertama. Anak diberi minimal 3 macam obat tergantung berat penyakit dan pemeriksaan kuman. Setelah 2 bulan akan dilihat responnya. Bila tidak ada perbaikan akan dievaluasi kembali atau dirujuk.
  2. Tahap lanjutan selama 4-10 bulan tergantung hasil pemeriksaan dan perbaikan klinis.

Obat yang biasa digunakan ialah antibiotik Isoniazid, Rifampisin, Piranzinamid, Etambutol, dan Streptomisin.

Bagaimana bila TB tidak diobati?
TB anak yang dibiarkan atau diobati tapi tidak teratur dapat menyebar dan berakibat fatal. Dua komplikasi terberat ialah TB miliar dan meningitis (radang otak). Selain itu, kuman TB dapat merusak paru dan organ lain seperti jantung, usus, sendi, mata bahkan ginjal.

Bagaimana cara mencegah TB pada anak?
Kunci dari pencegahan TB ialah :

  1. Edukasi. Terapi TB amatlah melelahkan. Sehingga butuh edukasi yang tepat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini dan terapi.
  2. Deteksi dini dan terapi penderita TB untuk memutus rantai penularan
  3. Vaksinasi BCG berasal dari kuman Mycobacterium bovis yang dilemahkan. Imunisasi ini diberikan pada bayi 1-3 bulan. Pada bayi >3 bulan, pemberian vaksin harus didahului uji tuberkulin. Tujuan diberikan vaksin BCG ialah untuk mencegah terjadinya TB berat.
  4. Terapi pencegahan dengan isoniazid pada anak yang kontak erat dengan penderita TB.

Ayo sama-sama berantas TB. Segera bawa anak Anda ke sarana kesehatan bila Anda curiga TB.

Agustina Kadaristiana, dr. di review oleh Tundjungsari Ratna Utami,dr. Sp.A 

Ditulis tanggal : 10/26/2015 Update terakhir : 11/11/2015

Referensi

1. Guidance for national tuberculosis programmes on the management of tuberculosis in children. 2nd ed. Geneva: World Health Organization;
2. Pediatric Tuberculosis: Overview of Tuberculosis, TB Risk Factors, Mechanism of TB Infection. 2015 Aug 4 [cited 2015 Oct 26]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/969401-overview
3. Carol J. Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Infectious Disease. 2nd ed. United States of America.: American Academy of Pediatrics; 2013.
4. TB Anak : TB Indonesia [Internet]. [cited 2015 Oct 26]. Available from: http://www.tbindonesia.or.id/tb-anak/
5. Lisa V Adams, MD, Jeffrey R Starke, MD. Tuberculosis disease in children. Uptodate. 2015 Sep 22;
6. Tuberkulosis [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Oct 26]. Available from: http://idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/tuberkulosis.html

2 thoughts on “Pertanyaan Seputar TB Anak

    1. Halo ibu, obat TB sebaiknya diminum pagi saat perut kosong atau 1-2 jam sebelum makan, tapi seandainya lupa lebih baik lgs diminum malam karena obat TB harus setiap hari. Silakan berkonsultasi ke dokter yang memberi resep untuk lebih jelasnya. Semoga membantu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *