Pertolongan Pertama Mimisan Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mendapatkan sang buah hati mengalami mimisan. Saat ia sedang asik-asiknya bermain, ceria dan sehat, tiba-tiba hidungnya berdarah. Tentu mimisan cukup membuat panik darah yang cukup banyak dan spontan. Namun, masih banyak orangtua yang menangani mimisan dengan cara yang kurang tepat. Seperti menyumbatnya dengan kain, tisu bahkan daun sereh. Lalu, bagaimana pertolongan pertama mimisan yang benar pada anak?

How-to-Stop-Nose-Bleeds

Sekilas Tentang Mimisan

Mimisan atau epistaksis ialah pendarahan dari hidung. Di hidung terdapat banyak pembuluh darah halus, terutama di daerah cuping hidung. Pembuluh darah itu dapat pecah jika terdapat faktor-faktor pencetusnya. Saat itulah terjadi mimisan. Anak-anak rentan terhadap mimisan karena selaput lendir dan pembuluh darahnya masih sensitif.

4359_image
Pembuluh darah hidung (http://www.seattlechildrens.org/kids-health/image/ial/images/4359/4359_image.png)

Terdapat dua faktor penyebab mimisan, yakni:

  1. Faktor organik
    Ditandai oleh kelainan organ bawaan sejak usia dini. Bisa berupa kelemahan pada organ atau pembuluh darah hidungnya. Misalnya, pembuluh darah hidungnya terlalu lebar, terlalu tipis atau rapuh. Dengan begitu, ketika aktivitas anak terlalu berlebih, kena iritasi, atau mengalami stres, akhirnya mimisan.
  2. Faktor gangguan medik
    Terjadi karena adanya gangguan pembekuan darah. Mimisan karena faktor ini disebabkan pembuluh darah dan trombosit (keping darah) gagal berfungsi menutup luka.

Secara umum, mimisan dipicu oleh:

  1. Suhu udara yang ekstrem, baik terlalu panas maupun terlalu dingin. Bisa juga terjadi karena perubahan cuaca yang sangat drastis.
  2. Kebiasaan anak yang sering mengorek lubang hidung.
  3. Hidung yang terbentur benda keras atau terjatuh
  4. Masuknya benda-benda kecil ke dalam hidung yang membuat hidung mengalami pendarahan
  5. Terlalu lelah bermain
  6. Terlalu kencang saat menbuang ingus atau mengembuskan udara
  7. Anak dengan riwayat alergi. Misalnya, anak yang sering pilek (flu) atau bersin-bersin juga lebih sering mengalami mimisan.

Cara Mengatasi Mimisan

Saat pertama kali terjadi mimisan pada anak, sebaiknya Anda tidak perlu panik. Lakukanlah pertolongan pertama dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Dudukkan anak dengan kepala condong ke depan. Hal ini menghindari tersedak atau muntah darah akibat darah berbalik arah ke kerongkongan. Dengan duduk, aliran darah akan melambat. Hindari posisi menengadah atau tidur karena darah dapat tertelan.
Cara Benar
Cara Benar (http://www.rch.org.au/uploadedImages/Main/Content/kidsinfo/Nosebleeds—KHI-RCH.jpg)
Cara Salah
Cara Salah (http://www.wetreatkidsbetter.org//wp-content/uploads/Nose-Bleed-Dont.bmp)
  • Tekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. Sebaiknya, gunakan kain atau tisu bersih saat menekan sehingga darah tidak berceceran. Lakukan selama 1-2 menit. Tenteramkanlah jika ia merasa tidak nyaman. Atau jika ia sudah mengerti, ajari bernapas melalui mulut sejenak.
  • Jika darah belum berhenti, coba kompres hidungnya dengan es yang dibungkus sapu tangan. Es dapat mengecilkan pembuluh darahnya. Ulangi juga menekan pangkal hidung.
  • Hindari menyumbat dengan kain, tissue atau daun sereh karena akan memperlama proses pembekuan darah.

Setelah pendarahan berhenti, cegah anak mengorek-ngorek hidung. Biasanya dengan bertambahnya usia, mimisan jadi berkurang, karena pembuluh darah dan selaput lendir hidungnya semakin menguat.

Kapan Perlu ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus mimisan ialah ringan, terkadang ada pula mimisan yang terjadi karena sebab serius. Sebaiknya orangtua segera membawa anaknya ke dokter apabila :

  1. Mimisan tidak berhenti dengan penekanan setelah 10-20 menit
  2. Mimisan yang hebat, dapat menyebabkan pingsan
  3. Mimisan berulang dalam periode singkat disertai darah yang banyak
  4. Anak merasa pusing, lemah atau merasa akan pingsan
  5. Mimisan pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun
  6. Adanya Sumbatan jalan napas
  7. Mimisan akibat trauma pada wajah
  8. Mimisan disertai demam atau muntah darah.

Depok, 9 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir :2015-06-11

Referensi :

  1. Jeremy Foon. 2014. Epistaxis. Department of Otolaryngology. University of Texas Medical Branch.
  2. Grema Umar, et al. 2014. Epistaxis: The Experience at Kaduna Nigeria. Department of Clinical Service. Journal of Medical Society.
  3. Bestari, Al Hafiz. 2009. Epistaksis dan Hipertensi. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang.
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 1485.
  5. Mimisan: Kapan berbahaya? [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/mimisan-kapan-berbahaya.html
  6. Nosebleed (Epistaxis) Causes, Symptoms, Treatment – When to Seek Medical Care [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/nosebleeds/article_em.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *