Picky Eater Berhubungan Dengan Gangguan Cemas dan Depresi

Sering sekali kita dengar keluhan orang tua mengenai perilaku balita yang picky eater atau memilih-milih makanan. Setidaknya hal itu yang dilaporkan oleh 14-20% orang tua dari penelitian baru-baru ini. Sangking banyaknya keluhan ini, praktisi kesehatan dan ilmuwan menganggap hal ini lumrah sebagai kebiasaan yang akan hilang saat anak besar. Namun, tahukah Anda bahwa penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics ini menyebutkan bahwa picky eater sedang sampai berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan pada balita. Fakta ini tentu bisa membawa perubahan besar terhadap persepsi picky eater.

picky2

“Minimnya penelitian sistematik mengenai penyebab, dampak atau tatalaksana dari picky eating ini menyebabkan dokter mengalami dilema dalam memberikan saran yang tepat. Dalam penelitian ini kami ingin mengetahui adakah kaitan perilaku picky eater dengan gangguan mental pada anak serta faktor-faktor yang terkait.”,  Helen Egger, MD., Peneliti utama dari Departement of Psychiatry and Behavioural Science, Duke University.

Untuk mengetahui kaitan tersebut, peneliti dari Duke University ini menganalisa 917 anak usia 24-71 bulan. Orang tua atau pengasuh diwawancara mengenai kebiasaan makan, gejala gangguan kejiwaan, dan kondisi lingkungan rumah.

Perilaku picky eating atau Selective Eating (SE) sendiri dikategorikan menjadi 3 : ringan, sedang dan berat. Anak yang tidak suka makananan yang pada umumnya anak lain tidak suka (misalnya brokoli) dikatakan Selective Eating ringan. Untuk kategori sedang dikatakan bila anak hanya mengkonsumsi makanan tertentu yang ia suka. Sedangkan picky eater berat bila anak amat sulit makan karena pemilihan makanan yang terlalu ekstrim.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Selective Eating sedang dan berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan seperti gangguan cemas, depresi dan ADHD. Meskipun begitu, tingkat gejala kejiwaan tergantung pada derajat picky eater. Gangguan picky eater berat biasanya terjadi pada anak yang sebelumnya didiagnosis depresi, gangguan cemas sosial, atau gangguan motorik mulut yang mempengaruhi proses makan. Selain itu pada kedua derajat picky eater ini terdapat rasa sensitif yang berlebihan dan rasa penolakan pada anak terhadap makanan diluar yang ia bisa terima.

Adanya gangguan dalam fungsi keluarga juga dilaporkan pada perilaku ini. Anak yang picky eater sedang sampai berat dilaporkan memiliki ibu dengan kecemasan tinggi dan konflik keluarga seputar makanan. Namun, dibandingkan dengan picky eater berat, lebih banyak orang tua anak dengan picky eater sedang yang memiliki riwayat penggunaan narkoba dan ibu yang berobat ke psikiater.

Temuan ini bisa menjadi titik balik memahami dan menangani masalah selected eating atau picky eating pada anak. Persepsi bahwa kebiasaan picky eating akan hilang dengan sendirinya mungkin menjadi kurang tepat saat ini. Sebaiknya orangtua waspada dan berkonsultasi ke dokter bila menemukan perilaku picky eating sedang atau berat pada anak.

Agustina Kadaristiana, dr.

08/07/2015 

Referensi

Zucker N, Copeland W, Franz L, Carpenter K, Keeling L, Angold A, et al. Psychological and Psychosocial Impairment in Preschoolers With Selective Eating. Pediatrics. 2015 Aug 3;peds.2014–386.

Gambar di unduh dari :

http://edgyplate.com/wp-content/uploads/2015/06/Trade-secrets-feeding-picky-eaters-Jan06-istock.jpg

http://images.sciencedaily.com/2015/08/150803083343_1_900x600.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *