Pro dan Kontra Suplementasi Besi

Sama seperti skrining anemia pada anak, suplementasi besi ini sering menimbulkan kebingungan di masyarakat. Kenapa membingungkan ? Karena memang ini hal baru yang masih belum banyak penelitiannya. Walaupun WHO sudah mengeluarkan rekomendasi sejak lama, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru mengeluarkan rekomendasi pada tahun 2011. Rekomendasi suplementasi besi IDAI untuk bayi dan anak ini diturunkan dari pedoman WHO untuk negara berkembang mengenai suplementasi besi dan ditambah dengan beberapa sumber lain. Selain WHO dan IDAI, American Academy of Pediatric (AAP) juga mengeluarkan pedoman suplementasi besinya. Tahun 2010, AAP malah menganjurkan pemberian universal suplementasi besi pada bayi usia 4 bulan, termasuk pada bayi yang disusui eksklusif.

Kenapa setuju dengan suplementasi besi ?
Seperti yang sudah kita bahas di artikel skrining anemia, efek jangka panjang yang merugikan dari defisiensi zat besi dengan atau tanpa anemia antara lain adalah terganggunya perkembangan sistem saraf dan tumbuh kembang anak. Berhubung status anemia dan tingginya angka ADB di Indonesia, IDAI juga menilai pemberian zat besi pada bayi mulai usia 4 bulan (juga termasuk yang masih diberikan ASI) amat penting. Pemberlakuan tambahan zat esensial ini juga dinilai tepat sebagai tindakan pencegahan karena seiring dengan rekomendasi WHO untuk melakukan program suplementasi zat besi bila suatu negara punya angka anemia lebih dari 40%. Selain itu, beberapa orang tua merasa tidak dapat mengejar kebutuhan besi hanya dengan makanan saja, karena jika anak dibawah usia dua tahun banyak mengalami kesulitan mengunyah makanan yang tinggi zat besi, seperti daging merah.

Kenapa tidak setuju dengan suplementasi besi ?
Karena studi yang masih sedikit, beberapa kalangan masih meragukan rekomendasi suplementasi besi ini. Rekomendasi AAP untuk suplementasi besi pada bayi yang disusui eksklusif juga menimbulkan banyak pertanyaan. Bukankah kebutuhan besi bayi sudah dicukupi dari ibu ? Terdapat juga kalangan yang mengusahakan dahulu pemberian makanan pendamping ASI yang mengandung banyak zat besi dibandingkan langsung memberikan suplementasi besi.

iron-rich-foods

Kesimpulannya, apapun pilihan yang ibu ambil, kembali lagi ke kondisi ibu dan anak, pertimbangan masing masing, juga rekomendasi dokter berdasarkan hasil skrining.

Bagaimana Jika Harus Diberikan Suplementasi Besi ?
Jika anak ibu perlu minum suplementasi besi, berikut hal hal yang perlu ibu ketahui.

Kapan minum suplementasi besi ?
Absorbsi besi yang terbaik adalah pada saat lambung kosong, diantara dua waktu makan, namun suplementasi besi dapat menimbulkan efek samping pada saluran cerna. Untuk mengatasi hal itu, maka pemberian suplementasi besi dapat dilakukan pada saat makan atau segera setelah makan meskipun akan mengurangi absorbsi obat sekitar 40%-50%. Terdapat juga cara membagi dosis suplementasi besi menjadi dua atau tiga kali pemberian supaya lebih nyaman untuk anak.

Apa saja efek sampingnya ?

  • Mual
  • Preparat besi dapat mengendap sehingga meny ebabkan gigi hitam → perubahan warna ini tidak permanen
  • Warna tinja juga berubah menjadi hitam
  • BAB menjadi lebih keras

Sampai kapan minum suplementasi besi ?
Biasanya kadar hemoglobin kemudian akan meningkat 0,1 mg/dL/hari, berarti setelah satu bulan seharusnya terdapat kenaikan 2g/dL atau lebih. Bila setelah 3-4 minggu tidak ada hasil seperti yang diharapkan, perlu dievaluasi apakah terdapat cara pemberian yang tidak sesuai. Apabila didapatkan hasil seperti yang diharapkan, pengobatan dilanjutkan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin kembali normal.

Penting diingat!!

  • Memperbanyak konsumsi vitamin C (suplemen/jus buah alami) sesudah makan membantu penyerapan zat besi
  • Minum teh dan kopi akan menghambat penyerapan zat besi

iron1

Resume Isi Rekomendasi Suplementasi Besi IDAI

Isi dari pedoman ini mencakup beberapa rekomendasi. Diantaranya, suplementasi besi diberikan kepada semua anak, dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun. Untuk kelompok bayi berat lahir rendah (BBLR) dan prematur, suplementasi besi dapat diberikan mulai usia 1 bulan dengan dosis 2 mg/kgBB/hari diberikan satu kali sehari. Dari rekomendasi, suplementasi besi untuk bayi berat lahir rendah (BBLR) atau prematur dapat diberikan sekurang-kurangnya sampai usia 12 bulan. Terdapat juga sumber yang mengatakan suplementasi ini dapat diteruskan sampai bayi mendapat susu formula yang difortifikasi atau mendapat makanan padat yang mengandung cukup besi.

Pada kelompok bayi cukup bulan dan anak usia di bawah dua tahun, suplementasi besi dapat mulai diberikan pada usia 6-23 bulan dengan dosis 2 mg/kgBB/hari. Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif selama enam bulan dan kemudian tidak mendapat besi secara adekuat dari makanan, dianjurkan mendapat suplementasi besi dengan dosis 1 mg/kgBB/hari sejak usia 4 atau 6 bulan. Dosis ini dilanjutkan sampai bayi mendapat makanan tambahan yang mengandung cukup besi.

Di dalam rekomendasi ini juga terdapat pengaturan dosis dan lama pemberian suplementasi besi untuk balita, anak usia sekolah, dan remaja. Anak remaja, khususnya remaja putri mendapat perhatian khusus selain anak usia balita. Remaja putri rentan mengalami anemia defisiensi besi karena mengalami menstruasi. Para remaja putri ini harus memiliki cadangan besi yang baik karena kelak mereka akan menjadi seorang ibu yang kelak akan melahirkan anak. Oleh karena itu siklus terjadinya anemia defisiensi besi dapat dicegah dengan membekali remaja putrid dengan cadangan besi yang cukup. Saat ini sudah terdapat berbagai sediaan besi yang dapat disesuaikan pemberiannya menurut usia anak. Jenis sediaan besi yang terdapat di pasaran mulai dari drops, sirup, dan tablet.

Rara Pramudita, dr

Sumber :
1. Pustika Amalia. Diagnosis anemia pada anak. Disampaikan dalam seminar : Perningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak pada tingkat pelayanan primer. Jakarta, 15-16 Juni 2013.

2. Dedy Gunadi, Bidasari Lubis, Nelly Rosdiana. Terapi dan suplementasi besi pada anak. Dalam Sari Pediatri , Vol. 11, No. 3, Oktober 2009

3. IDAI. Suplementasi besi untuk anak dan bayi. Diunduh dari : http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Rekomendasi-IDAI_Suplemen-Zat-Besi.pdf

4. Stoltzfus RJ, Dreyfuss ML. Guidelines for the Use of Iron Supplements to Prevent and Treat Iron Deficiency Anemia. International Nutritional Anemia Consultative Group. Diunduh dari : http://www.who.int/nutrition/publications/micronutrients/guidelines_for_Iron_supplementation.pdf

5. AAP news release.. AAP offers guidance to boost iron levels in children. Diunduh dari : http://www2.aap.org/pressroom/Ironfinal.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *