Sariawan, Perlukah Diobati?

Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan tentang penarikan obat Abothyl. Pasalnya obat yang mengandung Policresulen ini amat populer dikalangan masyarakat untuk mengobati sariawan. Masyarakat mungkin dibuat resah karena bingung mencari obat alternatif yang dianggap ampuh mengatasi sariawan ini. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua sariawan perlu diobati; apalagi dengan Abothyl. Kenapa ya? Yuk simak penjelasan selanjutnya.

Bentuk dan Penyebab Sariawan

Sariawan merupakan sebuah lesi yang muncul di rongga mulut. Bentuk dan penyebabnya bisa beragam. Bentuk sariawan yang paling sering ditemui adalah berupa cerukan. Beberapa kemungkinan penyebabnya:

  • Cedera mekanis, seperti tergigit ketika makan atau tertekan benda lain
  • Terpapar zat yang mengiritasi, misalnya Abothyl (policresulen), aspirin, propolis, dan obat lain atau penggunaan gigi palsu.

Selain itu, sariawan juga dapat ditemui dalam bruntus berisi cairan, nanah atau darah, dan permukaan kemerahan yang tertutup lapisan putih. Beberapa sebab yang menyebabkan lesi seperti ini misalnya :

  • Infeksi (infeksi jamur, bakteri, dan virus)
  • Tanda adanya hipersensitivitas
  • Penyakit kronis misalnya gangguan kekebalan tubuh (seperti infeksi HIV, diabetes, xerostomia atau mulut kering, dll).

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali masuk dalam kategori normal atau tidak sariawan yang dialami.

Bagaimana cara mengenali sariawan yang berbahaya dan tidak?

Pada kondisi normal atau tubuh tidak memiliki penyakit serius, sariawan yang disebabkan oleh trauma mekanis akan sembuh dalam waktu 5-10 hari secara alami, tanpa obat apapun. Akan tetapi, kita perlu mewaspadai pada kondisi berikut :

  1. Sariawan yang terus berulang.

  2. Tubuh mengalami demam saat atau sebelum munculnya sariawan.

  3. Pembukaan mulut terbatas.

  4. Anak tidak mau makan/ tidak bisa masuk makanan.

  5. Muncul bentuk lesi serupa di bagian tubuh lain (misalnya tangan dan kaki).

Pada kondisi ini, Anda perlu memeriksakan kondisi rongga mulut/ sariawan ke dokter gigi spesialis Penyakit Mulut.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mengalami Sariawan?

Saat mengalami sariawan pengobatan yang paling penting ialah menjaga kebersihan rongga mulut. Caranya dengan tetap menyikat gigi 2 kali sehari dengan cara dan waktu yang benar. Hal ini disebabkan, lama proses penyembuhan sariawan sangat tergantung dari tingkat kebersihan mulut penderita. Selain itu, pemenuhan asupan makanan bergizi yang mengandung Zinc, vitamin C, dan B harus terpenuhi.

Selanjutnya, terapi terhadap sariawan ini perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Jika sariawan muncul karena trauma mekanis, maka Anda dapat berkumur air garam hangat dan obat kumur yang mengandung chlorhexidine gluconate 2%, menggunakan plester sariawan, dan madu. Tapi ingat ya, madu hanya boleh diberikan bila usia seseorang sudah >1 tahun. Penggunaan obat oles atau tetes telan yang mengandung antijamur dan kortikosteroid (misalnya triamcinolone in orabase) harus mendapatkan persetujuan dari dokter gigi, terutama jika Anda tidak benar-benar mengetahui penyebab munculnya sariawan. Penggunaan obat yang tidak tepat dapat memperparah kondisi sariawan.

Mengapa Abothyl/Policresulen Tidak Boleh Digunakan untuk Sariawan?

Policresulen merupakan asam organik polimolekuler, tergolong obat antiseptik dan disinfektan kulit. Kandungannya memiliki sifat hemostatik lokal dan antimikroba. Akan tetapi, obat ini memiliki kandungan asam yang tinggi dan dapat menyebabkan kematian jaringan. Hal ini menyebabkan sariawan menjadi lebih parah dan lebar dibandingkan dengan sebelumnya.

Policresulen digunakan oleh penduduk di Indonesia. Akan tetapi, penggunaannya sejak lama tidak direkomendasikan oleh dokter gigi. Berdasarkan jurnal kedokteran gigi, obat ini dilaporkan dapat menyebabkan cedera kimiawi dari mukosa mulut berupa erosi, peradangan, pembengkakan, ulserasi dan pengelupasan. Akan tetapi, belum terdapat laporan terjadinya kanker akibat penggunaan obat ini.

Jadi, perlukah sariawan Anda diobati?

Rizky Fitri, drg.

03/13/2018

Daftar Referensi

  • Femiano F, et al. Guidelines for Diagnosis and Management of Apthous Stomatitis. The Pediatric Infectious Disease Journal. 2007; 26(8): 728-32.

  • Weinberg MA, Maloney WJ. Treatment Common Oral lessions. US Pharm. 2007; 32(3): 82-88.

  • Wardhany II, Wimardhani YS, Soegyanto AI. Oral Mucosal Burn Caused by Topical Application of 36% Policresulen Solution- A Case Series. JIDMR. 2016; 9: 387-91.

  • Hullah EA, Hegarty AM. Oral Ulceration: Aetiology, Diagnosis, and Treatment. Dental Nursing. 2014; 10(9); 7-19