Seberapa Amankah Penyandang Diabetes Berpuasa?

Semua umat muslim tentu ingin menyambut bulan Ramadan. Tidak terkecuali penyandang diabetes. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa puasa untuk penderita diabetes tidak sepenuhnya aman. Oleh karena itu, tahun 2010, American Diabetes Association (ADA) mengeluarkan rekomendasi mengenai siapa-siapa saja diabetisi yang bisa berpuasa dan bagaimana cara berpuasa yang aman bagi penyandang diabetes. Lebih lengkapnya, yuk kita simak..

Sekilas Tentang Diabetes

Diabetes melitus merupakan penyakit dimana terdapat kadar gula darah yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh  gangguan pengeluaran hormon insulin dari pankreas dan/atau insulin tidak berfungsi dengan baik. Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengantar gula darah masuk ke dalam sel untuk menghasilkan energi. Gangguan pada hormon ini menyebabkan gula menumpuk dalam darah tanpa energinya bisa kita gunakan. 2, 3

Diabetes terbagi 2 jenis, tipe 1 dan 2.

  • Diabetes tipe 1 merupakan keadaan dimana tubuh tidak bisa sama sekali menghasilkan insulin. Kita tidak bisa mencegah diabetes tipe 1 ini dan biasanya penyakit ini terdiagnosis saat anak-anak atau remaja. Penyandang diabetes tipe ini membutuhkan suntikan insulin sepanjang hidupnya.
  • Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh kekurangan insulin atau saat insulin tidak berfungsi secara baik. Diabetes tipe 2 dialami 90% penyandang diabetes. Seseorang beresiko mengalami diabetes tipe 2 karena faktor keturunan, etnik, atau pola hidup yang kurang sehat seperti obesitas. Diabetes tipe 2 paling banyak dialami orang dewasa usia 40 tahunan.2-4
slide-big-4
Diabetes (http://medwingz.com/wp-content/uploads/2014/06/slide-big-4.jpg)

Proses Tubuh Saat Penyandang Diabetes Berpuasa

Perbedaan reaksi tubuh saat puasa penderita diabetes dengan orang sehat terletak pada kerja hormon pengendali gula darah. Pada orang yang sehat hormon insulin, glukagon, dan katekolamin dapat bekerja secara baik dalam menyeimbangkan gula darah. Sedangkan pada penderita diabetes, proses ini tidaklah berjalan secara baik. Gula darah saat diabetisi berpuasa berkurang, sedangkan hormon-hormon pengatur gula tidak bekerja secara baik dan obat-obat penurun gula darah tetap dikonsumsi sehingga dapat beresiko hipoglikemia atau gula darah rendah. Namun, bisa juga saat puasa malah terjadi keadaan hiperglikemia (gula darah sangat tinggi) karena tubuh terus memecah gula darah dari organ penyimpan gula (hati, lemak, otot) disaat gula darah turun tanpa diiringi dengan kerja insulin untuk menggunakan gula tadi sebagai energi.1, 2

Resiko Puasa Bagi Penyandang Diabetes

Penelitian EPIDAR tahun 2001 yang dilakukan di 13 negara Islam pada 12.243 individu penyandang diabetes yang berpuasa Ramadhan menyebutkan bahwa terjadi komplikasi akut yang cukup tinggi pada objek penelitian tersebut. 4 resiko tinggi yang cukup berbahaya yang ditemukan saat berpuasa pada diabetisi ini adalah :1

  1. Hipoglikemia (gula darah rendah) Menurunnya asupan makanan diketahui sebagai faktor resiko terjadinya hal ini.
  2. Hiperglikemia (gula darah tinggi) Keadaan ini mungkin disebabkan penurunan dosis obat pencegah hipoglikemia yang berlebihan atau konsumsi makanan manis yang meningkat saat puasa.
  3. Diabetes Ketoasidosis (gula darah dan zat keton yang tinggi) Biasanya terjadi pada penderita Diabetes Tipe 1. Keadaan ini mungkin terjadi karena penurunan dosis insulin yang berlebihan berdasarkan asumsi asupan makanan berkurang saat puasa.
  4. Dehidrasi dan trombosis (penyumbatan pembuluh darah)
    Kurangnya cairan saat berpuasa terutama di daerah yang beriklim panas dan lembab atau pada buruh yang menyebabkan keluar keringat yang berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan seseorang pingsan, jatuh, dan tekanan darah menurun. Selain itu, dehidrasi ini bisa menyebabkan darah menjadi lebih kental yang bisa beresiko menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah. Laporan kasus dari Saudi Arabia menyebutkan bahwa terdapat peningkatan kasus penyumbatan pembuluh darah vena retina saat puasa. Namun, kejadian jantung koroner atau stroke tidak meningkat saat Ramadhan.

Hasil dari penelitian ini membuat praktisi kesehatan dan penyandang diabetes untuk berhati-hati bila dihadapkan dengan keputusan berpuasa saat Ramadhan. Meskipun ADA tidak mengatakan penderita diabetes boleh atau tidak melakukan puasa secara gamblang, ADA memberi gambaran kelompok penyandang diabetes mana yang aman berpuasa dan mana yang tidak.1

Kelompok Penyandang Diabetes Berdasarkan Resiko Terjadinya Komplikasi Saat Puasa 1

Resiko Kelompok Penyandang Diabetes
Resiko Sangat Tinggi -Hipoglikemia berat 3 bulan terakhir sebelum Ramadhan
-Riwayat hipoglikemia berulang
-Riwayat hipoglikemia yang tidak disadari
-Diabetes tidak terkontrol
-Ketoasidosis dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
-Diabetes tipe 1
-Diabetisi dengan penyakit akut
-Koma,dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
-Diabetisi yang bekerja berat (buruh,petani,dll) saat puasa
-Penyandang diabetes yang hamil
-Diabetisi yang menjalani dialisis (cuci darah) dalam jangka waktu lama
Resiko Tinggi -Diabetisi dengan hiperglikemia sedang (rata-rata gula darah 150-300mg/dL, A1C 7,5-9,0%)
-Diabetisi dengan gangguan ginjal
-Diabetisi dengan komplikasi sumbatan pembuluh darah besar (jantung koroner, stroke)
-Diabetisi yang hidup sendiri
-Diabetisi usia lanjut dengan kondisi yang kurang sehat
-Pengguna obat-obatan yang mempengaruhi mental
Resiko Menengah Penyandang diabetes yang terkontrol baik yang diobati insulin jangka pendek
Resiko Rendah Diabetisi yang terkontrol baik yang diobati oleh diet, obat yang secara umum sehat.
Rekomendasi ADA ini bertujuan untuk memberi edukasi baik pada penyandang diabetes maupun tenaga kesehatan sehingga dicapai komunikasi dan kerja sama yang baik saat diabetisi memutuskan untuk berpuasa. Perlu diingat bahwa terlepas dari fakta dan rekomendasi yang ada, keputusan berpuasa tetap dikembalikan kepada penyandang diabetes itu sendiri setelah diberikan informasi yang memadai. Tidak lupa mempertimbangkan untuk mengambil keringan berupa fidyah bila dirasa puasa malah memberatkan.

Anjuran Bila Penyandang Diabetes Ingin Berpuasa

Bila penyandang diabetes memutuskan untuk berpuasa, ada beberapa poin yang penting dijalani agar puasanya tetap aman, yaitu :

  1. Konsultasi dengan dokter. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi Anda aman atau tidak untuk berpuasa serta untuk mengatur waktu pemberian obat.
  2. Seringlah memonitor gula darah terutama penyandang diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang menggunakan insulin. Hal ini disebabkan kadar gula darah menjadi patokan penting seseorang masih aman berpuasa atau tidak.
  3. Waspada gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. Diabetisi harus mengenal gejala hipoglikemia seperti pusing, keringat banyak, gemetar dan jantung berdebar-debar atau gejala hiperglikemia seperti sulit konsentrasi, sering buang air kecil, sakit kepala, badan terasa lemah dan pandangan kabur. Semua penyandang diabetes harus segera membatalkan puasanya bila gula darah dibawah 70mg/dL atau gula darah mencapai 300 mg/dL untuk mencegah komplikasi yang berbahaya seperti koma bahkan kematian.
  4. Porsi makanan saat puasa tidak boleh berubah secara drastis dari diet seimbang dan sehat.
  5. Makan sahur dilakukan saat mendekati waktu imsak/subuh. Sebaiknya konsumsi jenis karbohidrat kompleks seperti beras merah, barley, oat, millet, semolina, kacang-kacangan, lentil, tepung gandum dan beras basmati. Selain itu makanan tinggi serat juga baik dikonsumsi saat sahur karena dicerna perlahan-lahan seperti kentang dengan kulit, sayuran dan hampir semua buah. Fungsi dari mengkonsumsi makanan ini supaya energi tetap dihasilkan secara jangka panjang.
  6. Hindari makanan tinggi lemak dan porsi besar saat berbuka. Makanan dengan karbohidrat sederhana lebih dianjurkan saat berbuka seperti madu, sirup, gula, kentang, nasi putih, dll namun jangan berlebihan.
  7. Tingkatkan minum saat sahur dan berbuka.
  8. Aktivitas fisik normal tetap dilakukan tetapi jangan berlebihan. Bila solat tarawih dilakukan, harus dimasukkan ke hitungan program latihan fisik
  9. Hindari berpuasa bila merasa kurang sehat. 1, 5, 6, 7

Gejala Hipo dan Hiperglikemia

Picture

Agustina Kadaristiana, dr.
Publikasi pertama : 2014-07-03
Modifikasi terakhir : 2015-06-23

Daftar Pustaka

  1. Al-Arouj M, Assaad-Khalil S, Buse J, Fahdil I, Fahmy M, Hafez S, et al. Recommendations for management of diabetes during Ramadan: update 2010. Diabetes care. 2010;33(8):1895-902.
  2. Ali DS, Hussain DS, Chowdhury DT, Hanif PW, Shafi DS. Diabetes and Ramadan : Managing Diabetes During Ramadan. In: Britain TMCo, UK D, editors.: Diabetes UK; 2014.
  3. David K McCulloch M. Classification of diabetes mellitus and genetic diabetic syndromes2014 4 July 2014. Available from: http://www.uptodate.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/contents/classification-of-diabetes-mellitus-and-genetic-diabetic-syndromes?source=search_result&search=diabetes+mellitus&selectedTitle=5~150.
  4. Romesh Khardori M, PhD, FACP. Type 2 Diabetes Mellitus2014 4 July 2014. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/117853-overview.
  5. Holland K. Hyperglycemia and Type 2 Diabetes2012. Available from: http://www.healthline.com/health/type-2-diabetes/hyperglycemia#Overview1.
  6. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011.
  7. Carbohydrates: Simple versus Complex. Available from: http://www.nutritionmd.org/nutrition_tips/nutrition_tips_understand_foods/carbs_versus.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *