Serba Serbi MPASI

Kapan Saat yang Tepat Memberikan MPASI?

Ibu-ibu yang hebat, apa kabar si kecil? Sudahkah si kecil memulai petualangan baru mengkonsumsi makanan padat pertamanya? Mungkin banyak ibu-ibu yang masih bingung, kapan sebaiknya memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) pertama kali. Hal ini tak jarang menjadi perdebatan di keluarga dan di kalangan ibu-ibu lainnya. Namun, sebaiknya para ibu bersabar menunggu sampai usia bayi mencapai 6 bulan, mengapa?

  1. Bayi di bawah usia 6 bulan, keterampilan motorik kasarnya yaitu duduk tegak masih belum sempurna. Sementara bayi usia 6 bulan ke atas sudah bisa duduk dan menopang lehernya sehingga mengurangi resiko tersedak. Hati-hati bila memberikan makanan dalam posisi tidur, hal ini bisa membahayakan karena beresiko membuat bayi tersedak atau makanan terhisap ke hidung.
  2. Adanya refleks penolakan lidah bayi di bawah usia 6 bulan. Refleks ini menyebabkan lidah bayi spontan menjulur ke luar saat ada sesuatu yang ditaruh di lidahnya. Refleks ini menurun pada usia 4-6 bulan.
  3. Pemberian MPASI di bawah usia 6 bulan beresiko mengundang berbagai macam penyakit ke dalam tubuh, dikarenakan sistem imunitas / kekebalan tubuh bayi yang belum sempurna. Apalagi jika MPASI tidak disajikan secara higienis.
  4. Pemberian MPASI setelah usia 6 bulan mengurangi resiko terhadap makanan yang potensial menimbulkan alergi. Pada bulan-bulan awal, kadar IgA pada usus bayi masih rendah sehingga beresiko mengalami alergi.
  5. Pada usia 6 bulan ke atas bayi memerlukan tambahan energi dan zat gizi yang lebih banyak, terutama zat besi, yang sudah tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja.

Mengapa Membuat MPASI Rumahan?

Hal ini sering juga menjadi pertanyaan seputar MPASI, kenapa harus repot menyiapkan sendiri makanan bayi, sementara ada cara praktis dengan memberikan makanan kemasan untuk bayi yang banyak dijual di pasaran. Berikut beberapa alasan yang menjadi pertimbangan bahwa MPASI terbaik adalah buatan rumahan:

  • Makanan yang kita buat sendiri, dapat kita pantau dari segi kebersihan, penyediaan dan pengolahan makanan, serta pemilihan berbagai jenis makanan dari mulai buah-buahan, sayuran, sereal, hingga aneka protein yang bervariasi untuk bayi kita. Hal ini mempermudah saat peralihan dari makanan bayi ke table food nantinya.
  • Makanan bayi instan / cepat saji dari pabrik mengandung zat tambahan seperti gula, garam, penambah rasa, dan bahan lain untuk membentuk tekstur makanan, yang walaupun sudah diizinkan untuk dijual di pasaran, tapi tidak disarankan untuk diberikan pada bayi, apalagi  diberikan setiap hari. Dalam makanan instan juga terdapat bahan pengawet yang bila diberikan dalam jumlah banyak tentu tidak baik untuk kesehatan bayi. Hati-hati juga terhadap resiko alergi yang dipicu oleh bahan-bahan yang terkandung di dalam makanan instan tersebut. Makanan instan diberikan hanya dalam keadaan yang benar-benar darurat saja.
  • Sebelum area pengecapan bayi terbiasa dengan cita rasa makanan siap santap yang gurih dan manis, sebaiknya orangtua lebih dulu membiasakan bayi dengan rasa yang alami. Lebih amannya hindari makanan yang berperisa tambahan, pewarna, pengawet, dalam menu bayi sehari-hari.

Mulai dari Makanan Apa?

Pertanyaan berikutnya yang sering membuat ibu-ibu galau adalah ‘memulai dari mana’ MPASI perdana ini. Beberapa pihak menganjurkan untuk lebih dulu mengenalkan sayuran daripada buah-buahan untuk mengurangi rasa tidak suka bayi pada sayuran. Namun, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa pengenalan buah lebih dulu membuat bayi tidak menyukai sayur. Jadi, hak dan keputusan ada pada sang ibu untuk memutuskan makanan perdana untuk si buah hati.

Sementara itu, panduan terbaru dari WHO menganjurkan makanan dari serealia (beras) menjadi makanan pertama untuk bayi, karena rendah kemungkinan terjadinya alergi. Namun, beberapa bayi malah mengalami sembelit saat mengkonsumsi bubur dari beras karena terlalu pekat atau karena terlalu banyak mengandung zat besi (terutama beras merah). Jadi, pastikan untuk mencukupi kebutuhan cairannya melalui ASI, air putih, atau sari buah.

Anjuran dari WHO dan UNICEF adalah langsung memberikan makanan dalam bentuk pekat, tetapi boleh saja mengenalkan makanan padat pertama untuk bayi berupa bubur yang dilarutkan dalam ASI. Mulai dari tekstur yang sangat encer hingga mengental secara bertahap. Satu minggu pertama biasanya ditujukan untuk membiasakan anak mengenal jenis makanan baru, setelah itu boleh bereksperimen dengan tekstur dan rasa secara bertahap.

Jadi kesimpulannya, pilihan makanan pertama tidak berlaku secara umum. Setiap anak memilki keadaan yang berbeda-beda, sehingga trial and error adalah hal yang biasa terjadi pada masa-masa awal pemberian MPASI. Namun pastikan bayi mendapat semua makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral) secara seimbang setiap harinya.

1_baby-pureee

Bagaimana dan Seberapa Banyak Bayi Makan?

Usia Jenis Makanan Contoh Frekuensi Jumlah
6 bulan makanan lumat, bubur halus / encer bubur tepung beras yang dibuat encer dan disaring, puree buah / sayur dicampur ASI mulai dari 1 kali sehari meningkat bertahap menjadi 2-3 kali sehari, satu macam menu diganti setiap 3-4 hari, tujuannya agar bayi mengenali rasa makanan tersebut 2-3 sendok makan (30-45 ml) setiap waktu makan
7-9 bulan makanan bertekstur lembut bubur dari beras utuh, ubi atau kentang kukus dilumatkan dengan cairan, nasi tim saring 2-3 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari 2-3 sendok makan (30-45 ml) sampai setengah cup (100-120 ml) setiap waktu makan
10-12 bulan makanan lembut yang lebih padat nasi tim biasa yang dilembutkan, nasi lunak, makanan yang bisa digenggam bayi sebagai cemilan, seperti buah / sayuran kukus 3-4 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari Sedikitnya setengah cup (100-120 ml) setiap waktu makan
12 bulan-2 tahun makanan yang biasa dimakan keluarga dengan bumbu yang tidak terlalu tajam, dihaluskan seperlunya, atau dipotong ukuran kecil 3-4 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari 3/4 sampai 1 cup (200-250 ml) setiap waktu makan

mpasiPerlu diingat bahwa keterangan di atas adalah panduan yang berlaku umum, namun tidak mutlak. Bisa jadi bayi anda makan lebih banyak, atau mungkin lebih sedikit. Selama masih dalam range normal pada grafik dan berat badan bayi naik terus setiap bulannya, tidak perlu khawatir.

Daftar Makanan Bayi Sesuai Usia

Karbohidrat Sayuran Protein Buah
6-7 bulan tepung beras merah, tepung beras putih, tepung maizena, tepung arrowroot labu kuning, labu siam, bayam, brokoli, kacang polong ASI (protein dari produk hewani ditunda dulu pemberiannya) alpukat, apel, pir, pisang, pepaya, jeruk bayi
7-9 bulan beras putih, beras merah, kentang, jagung, oatmeal, tepung hunkwe brokoli, bayam, tomat, wortel, bit, labu kuning hewani : daging sapi tanpa lemak, daging ayam organik tanpa kulit, hati ayam, ikan (gurami, lele, salmon, kakap, gindara, tenggiri, dll) nabati : tahu putih, tempe, kedelai, kacang merah, kacang hijau, kacang polong pisang, melon, pepaya, alpukat, jeruk bayi, apel, pir, mangga, anggur manis
9-12 bulan beras putih, beras merah, kentang, jagung, makaroni, roti gandum, oatmeal, mie, bihun, soun bisa ditambahkan aneka sayuran berserat seperti kangkung, caisim, kacang panjang, kailan hewani :daging ayam tanpa kulit, daging sapi, hati ayam, aneka jenis ikan, telur, keju nabati : tahu, tempe, kacang merah, kacang hijau, kacang polong pepaya, apel, pir, mangga, anggur manis, jambu biji merah, alpukat, melon, pisang, jeruk bayi
12-24 bulan beras putih, beras merah, tepung terigu, kentang, jagung, pasta, cornflakes, mie, bihun, soun semua jenis sayuran sudah bisa diberikan kecuali sayuran yang banyak mengandung gas seperti; lobak, kembang kol, rebung hewani: daging sapi, daging ayam, aneka jenis ikan, telur, keju, hati ayamProtein nabati: tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, susu kedelai Semua jenis buah kecuali yang terlalu asam (kedondong, sirsak, mangga mengkal) atau yang mengandung gas (durian, nangka, cempedak) karena bisa menyebabkan kembung

1001323shutterstock-94931887780x390Tantangan dalam Pemberian MPASI

  1. Bayi menolak makanan padat. Hal ini adalah wajar terjadi, karena bayi perlu menyesuaikan dengan kebiasaan sebelumnya yang hanya makan dari susu / ASI yang bentuknya cair. Bila bayi menolak sendok, coba gunakan tangan, namun jangan dibiasakan. Apabila masih menolak, mungkin teksturnya terlalu kental. Apabila teksturnya sudah cair namun bayi masih menolak, jangan khawatir. Teruslah menyusui bayi dan coba lagi hari berikutnya. Proses pengenalan MPASI tidak perlu terburu-buru dan memang butuh waktu yang panjang.
  2. Bayi mengalami sembelit / konstipasi. Masalah ini biasa terjadi pada bayi di awal memulai makanan padat. BAB pada bayi yang biasa mengkonsumsi ASI akan berubah, bila sebelumnya berwarna kekuningan dan lembek, setelah MPASI bisa menjadi lebih pekat dan berwarna kecoklatan dan lebih berbau. Untuk bayi yang minum sufor biasanya tidak terlalu berbeda keadaannya. Sembelit biasanya jarang terjadi bila cara makannya benar, dan sebaiknya mulai diberikan tambahan air putih untuk memperlancar pencernaan. Memijat perut bayi dengan gerakan lembut membentuk huruf ILU atau gerakan kaki seperti mengayuh sepeda juga dapat membantu. Namun apabila sembelit berlangsung lama dan bayi tampak kesakitan, saatnya memeriksakan bayi kita ke dokter.
  3. Bayi hanya menyukai rasa makanan tertentu. Kadang para ibu merasa makanan si kecil kurang bervariasi, tapi tujuan utama pengenalan makanan padat pada bayi adalah membiasakannya dengan jenis makanan baru, bukan mengharuskan makanan yang bervariasi. Masalah ini bisa diakali dengan mencampur jenis makanan yang disukai bayi dengan makanan yang ingin kita kenalkan.
  4. Problem lanjutan: GTM (Gerakan Tutup Mulut). Bayi melepeh, mengemut makanan, atau menutup mulutnya rapat-rapat biasa terjadi saat usia bayi bertambah besar, umumnya mulai terjadi usia 8-12 bulan. Dan penyebabnya biasanya pergantian pengasuh, pergantian suasana atau traveling, ketertarikan pada hal-hal baru sehingga tidak fokus pada makanan, dan adanya problem kesehatan yang membuat bayi sulit makan. Rata-rata di usia ini juga gigi-gigi mungil mulai tumbuh dan proses ini ‘menyakitkan’ buat si kecil, sehingga ia jadi enggan membuka mulut. Banyak faktor yang membuat bayi GTM, namun para ibu harus tetap sabar, tidak cemas, dan terus mencoba memberikan asupan makanan yang baik. Makan sedikit-sedikit berkali-kali lebih baik daripada memaksanya untuk memakan 3 kali dalam porsi besar sekaligus. Selera makan bayi yang berkurang bisa disiasati dengan membuat MPASI dalam bentuk dan wadah penyajian yang menarik. Menu MPASI juga bisa diganti-ganti agar bayi tidak bosan.
  5. Alergi makanan. Alergi ini terkadang muncul pada awal belajar makanan padat. Sampai usia dua tahun, imaturitas saluran cerna akan membaik sehingga gangguan saluran cerna karena alergi makanan ikut berkurang.

78200x200-tips-menyiapkan-makanan-balita-selama-perjalanan-mudik-130806p_thumbnail

Tips Mengolah MPASI

  1. Sebelum mengolah MPASI, memasak, atau menyuapi bayi, hendaknya cuci tangan dulu dengan sabun hingga bersih.
  2. Jangan membiarkan bahan makanan mentah berada terlalu lama di suhu ruangan. Jika terlalu lama, bakteri patogen yang menyebabkan penyakit bisa menempel pada bahan makanan.
  3. Pastikan bahan makanan, alat masak dan alat makan bayi sudah bersih sebelum digunakan. Cuci bersih kembali alat-alat tersebut setelah selesai digunakan.
  4. Sebaiknya gunakan talenan yang berbeda untuk memotong sayuran / buah dan daging / ikan.
  5. Jangan memanaskan makanan berkali-kali. Apabila ingin masak dalam jumlah banyak, taruh dalam wadah tertutup, simpan dalam freezer, dan ambil secukupnya untuk dipanaskan.
  6. Buang makanan yang masih tersisa di mangkuk bayi, jangan memberikannya lagi untuk waktu makan yang berbeda, karena makanan yang sudah terkena ludah bayi membuatnya lebih cepat basi.
  7. Untuk makanan yang dibekukan, berilah tanggal, dan gunakan prinsip first in first out.
  8. Jangan lupa menutup makanan di meja makan dengan tudung saji.

Nela Fitria Yeral, dr

Daftar Pustaka

  1. Zahrial, Dian Prima & Mangiri, Yudith. MPASI Perdana Cihuy! Asha Book: Jakarta. 2013.
  2. Sutomo, Budi. Makanan Sehat Pandamping ASI. Demedia: Jakarta. 2010.
  3. Damayanti, Diana & Setyarini, Lies. 365 Hari MP-ASI Plus. Kompas: Jakarta. 2012.
  4. Brown, Amy. Understanding Food Principles & Preparation. 2010.
  5. Karmel, Annabel. First Meals. 1999.
  6. Dr. Sears. The Baby Books. 1999.
  7. Lansky, Vicky. Feed me, I’m Yours. 2004.
  8. Seri Ayahbunda. Makanan untuk Tumbuh Kembang Otak. PT Grafika Multi Warna: Jakarta. 2003.
  9. Sastroasmoro, Sudigdo. Membina Tumbuh Kembang Bayi dan Balita. Badan Penerbit IDAI: Jakarta. 2007.
  10. Pandi Wirakusumah, Emma. Panduan Lengkap Makanan Bayi & Balita. Penebar Plus: Jakarta. 2008.

* Gambar diambil dari: mamasoyaku.blogspot.com, eckapunyacerita.blogspot.com, health.kompas.com, esensi.co.id, zainabpekanbaru