Sholat Menyenangkan Bersama Anak

Sebagai seorang ibu, tentunya setiap melakukan sesuatu tidak terlepas dari hubungannya dengan anak tercintanya, termasuk beribadah. Beberapa hari yang lalu, aku mengikuti pengajian di salah satu masjid besar di bilangan blok M Jakarta. Pengajian dimulai pada pukul 10.00 dan berakhir setelah sholat zhuhur. Karena bertepatan dengan sholat, tentunya aku mengikuti sholat berjamaah, dengan konsekuensi kemungkinan anakku, naren yang berusia 1 tahun, akan nangis. Tapi mau bagaimana lagi, sholat adalah kewajiban yang harus ditunaikan bagiku, dan karena tidak punya nanny, jadi naren tidak bisa dititipkan.

 
Dan benar saja, seusai rakaat ke 2 (note: sholat dzhuhur terdiri dari 4 rakaat), naren mulai menangis kencang. Akhirnya, aku memutuskan melanjutkan sholat sendiri dengan pertimbangan bisa lebih cepat dibandingkan sholat berjamaah. Sesudah sholat, aku pun berbincang dengan ibu-ibu di sebelah. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya bisa saja sholat dengan menggendong anak lho. Dan kondisi itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw yang pernah menggendong cucunya. Wah, mendengar pernyataan tersebut aku akhirnya jadi tertarik untuk tahu lebih lanjut bagaimana ya caranya. Sebenarnya sebelumnya udah pernah denger-denger sih tentang beginian, cuma belum kebayang aja cara mengerjakannya gimana ya.
 
Selidik punya selidik, dari nanya-nanya offline dan mencari-cari via online, akhirnya nemu juga ilmu-ilmu menarik yang menurutku sih penting jadinya buat ibu-ibu rempong kayak aku, yang ngurus anak sendiri tanpa nanny. Jadi ya sodara-sodara, mengenai menggendong anak saat sholat, terdapat beberapa riwayat: 
 
Telah pasti kabar yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17) (1)
 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) pernah menggendong Umamah binti Zainab, cucu beliau sendiri ketika shalat. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri, beliau menggendongnya lagi. (Riwayat Bukhari dan Muslim) (2)
 
ha­dits yang diriwayatkan Imam Muslim da­lam Shahih-nya:
Dari Abu Qatadah, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW sedang mengimami shalat, sedangkan Umamah binti Abil ‘Ash, ia adalah putri Zainab binti Rasulullah SAW, berada di atas pundak­nya. Maka, apabila sujud, beliau mele­tak­kannya, dan ketika bangun berdiri, be­liau menggendongnya.” (3)
 
Imam Nawawi dalam kitabnya yang men­syarah kitab hadits Shahih Muslim, ber­­kata, “Hadits inilah yang menjadi dalil bagi Madzhab Syafi’i dan ulama-ulama lain yang sependapat tentang bolehnya membawa anak kecil laki-laki atau pe­rem­puan saat shalat, baik shalatnya ter­sebut shalat fardhu maupun sunnah. Bolehnya ter­sebut berlaku bagi imam, makmum, ataupun orang yang shalat sendirian.”
 
Lebih lanjut lagi, menurut Madzhab Syafi’i, kita diperbolehkan membawa anak saat sholat asalkan sang anak tidak membawa najis atau kotoran, baik dengan sepengetahuan kita atau dengan sangkaan kita yang kuat bahwasanya anak tersebut tidak menge­luarkan atau membawa najis. Bila kita yakin atau ada sangkaan yang kuat bah­wa anak tersebut mengeluarkan atau mem­bawa najis, kita tidak boleh meng­gendongnya ketika shalat. Shalatnya batal apabila tetap menggendongnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Qurrah al-‘Ayn bi Fatawa Ismail Az-Zain:
“Bila diketahui anak tersebut mem­bawa najis yang tampak di kulup atau ku­lit luar kemaluannya, shalat orang yang membawanya batal; dan apabila tidak ketahui atau tidak ada sangkaan yang kuat akan hal tersebut, shalat orang yang membawanya tidak batal, karena hukum asalnya anak itu suci (ti­dak membawa najis).” (3)

Wah, ternyata menarik ilmunya. Ternyata beribadah ini bisa juga dengan cara yang menyenangkan untuk semua pihak ya, termasuk anak. Dengan sholat sambil membawa anak, sang anak tentunya akan menjadi pribadi yang lebih tenang dan sebenarnya ini bisa jadi pembiasaan untuk beribadah sedari dini ya. Ini beberapa hasil intip-an googling orang-orang yang gendong anaknya saat sholat:

Tapi penting untuk diingat, bahwa sebelum sholat jangan sampe lupa ganti diaper si baby karena kalau bawa-bawa anak yang membawa najis (pee or pup) malah jadi kita yang batal sholatnya. Hehe, gapapalah rempong sebelum sholat, yang penting aman dan nyaman untuk semua, dan afdhol sholatnya karena ga mikirin anak yang nangis menjerit-jerit selama kita sholat. Oh ya, ini kebetulan dapet gambar buat jadi contoh:

gendong bayi

Semoga dengan segala kemudahan untuk sholat ini jadi semakin meningkatkan semangat kita untuk beribadah bagaimanapun kondisinya.

Titania Nur Shelly,dr

Sumber :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *