Susu sapi berbahaya. Benarkah?

“Awas! Susu sapi hanya untuk sapi!”. Isu viral ini mungkin pernah kita dapat dari internet atau berita broadcast. Tidak tanggung-tanggung, para pakar anti-susu ini menyorot bahwa susu sapi dapat menyebabkan kanker, alergi, dan menghasilkan radikal bebas. Padahal, sejak dulu masyarakat selalu didorong untuk minum susu. Lalu, manakah sebenarnya pendapat yang benar?

Manfaat vs Resiko

Saat ini memang terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai manfaat susu dari para ahli. Di satu sisi, susu sapi sudah dikenal kaya nutrisi. Kandungan lemak susu sapi yang cukup tinggi (sekitar 50% dari total kalori) bermanfaat untuk anak terutama yang memiliki asupan lemak rendah. Susu juga memberi kontribusi yang signifikan untuk kalsium, zinc, magnesium, selenium, ribovlafin, vitamin B12 dan asam pantothenat. Meskipun perlu diingat bahwa susu sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah.1–4

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi anak Indonesia saat ini ialah stunting (postur pendek). Stunting dianggap masalah karena meningkatkan resiko kecatatan anak dan gangguan perkembangan kognitif. Postur pendek ditambah berat badan lahir rendah juga merupakan faktor resiko penyakit kronik saat dewasa. Penelitian menyebutkan bahwa memberi setiap pemberian 245 ml susu pada anak meningkatkan tinggi badan sebesar 0.4 cm. Susu sapi juga berperan penting dalam mengatasi gizi kurang dan buruk baik di negara berkembang maupun negara industri.3,5,6

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa susu sapi membawa resiko kesehatan bagi anak alergi, memiliki masalah pencernaan (misalnya intoleran laktosa) atau yang mengkonsumsi secara berlebihan. Diet tinggi lemak jenuh, seperti pada susu, disertai konsumsi makanan rendah serat dan olahraga dapat menyebabkan obesitas pada anak. Secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

Susu dan Kanker

Susu dan kalsium telah diduga memegang peran yang berbeda pada tiap-tiap kanker. Beberapa komponen dari susu seperti kalsium, vitamin D, sphingolipids, asam butirat dan protein diduga melindungi tubuh dari kanker. Secara khusus, kalsium dan vitamin D dalam susu bersifat protektif terhadap kanker kolorektal (WCRF dan AICR). 7–13

Konsumsi Susu Sejak Kecil dan Resiko Kanker

Pengaruh konsumsi susu sejak kecil berfokus pada efek susu terhadap IGF-1 (hormon pertumbuhan). Diet susu hewan yang tinggi telah diketahui dapat meningkatkan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang tinggi ini dapat meningkatkan resiko kanker prostat, payudara dan kolorektal. Studi Boyd Orr menemukan bahwa keluarga yang mengkonsumsi produk kaya susu sejak kecil memiliki resiko kanker kolorektal saat dewasa, berbeda dengan temuan dari WCRF. Namun, konsumsi susu saat anak-anak tidak berhubungan dengan kanker payudara dan lambung. 5,14

Konsumsi Susu Saat Dewasa dengan Resiko Kanker

Kadar galaktosa yang tinggi, gula yang dihasilkan dari pencernaan laktosa susu, diketahui berbahaya terhadap ovarium. Meskipun hubungan langsung antara susu dan kanker ovarium tidak serempak dilaporkan, namun ada potensi yang berbahaya mengkonsumsi laktosa yang tinggi. Penelitian yang melibatkan 500.000 wanita menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi laktosa yang tinggi (setara dengan 3 gelas susu per hari) mengalami resiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak.15

Diet tinggi kalsium juga diduga menjadi faktor resiko kanker prostat. Studi dari Harvard menemukan bahwa pria dewasa yang meminum 2 gelas atau lebih susu tiap hari beresiko mengalami kanker prostat dua kali lipat dibandingkan yang tidak. Hubungan ini lebih ditekankan pada konsumsi kalsiumnya daripada produk susu secara umum. 16,17

Kesimpulan

Agar masyarakat tidak bingung, Anda perlu pahami bahwa susu hewani bermanfaat sebagai bagian diet seimbang terutama pada anak di negara berkembang. Namun, konsumsi susu berlebihan secara jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa tidak disarankan karena dapat berpotensi menimbulkan obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, sampai kanker.

Susu hewani memang tidak dapat menggantikan manfaat dari ASI. Namun, anak di atas 1 tahun dapat diberikan susu hewan full cream sebagai susu rekreasi sebanyak 2 gelas. Setelah 2 tahun, beri anak susu rendah lemak sebanyak 2-3 gelas. Untuk orang dewasa, konsumsi kalsium dan produk susu yang cukup (1-2 gelas) bermanfaat untuk kesehatan tulang, menurunkan resiko darah tinggi dan kanker kolon sebagai bagian dari diet seimbang.18

HEPApr2013-1024x800

Bagi anak atau dewasa yang tidak dapat mengkonsumsi susu hewani karena alergi atau masalah pencernaan, Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dari sumber makanan lain. Susu hipoalergenik dapat menjadi pilihan untuk anak yang alergi. Kalsium dapat ditemukan di sayuran hijau, kacang-kacangan, jus dan susu kedelai yang difortifikasi kalsium. Jangan lupa penuhi kebutuhan protein, lemak dan mikronutrien dari daging, ikan, ayam serta sayur dan buah. 18

Agustina Kadaristiana, dr. 

09/12/2015

Referensi

1. Barger-Lux, M.J, Heaney, R.P., Packard, P.T., Lappe, J.M., & Recker, R.R. Nutritional correlations of low calcium intake. Clin Appl Nutr. 1992;2:39–44.
2. Fulgoni V, Nicholls J, Reed A, Buckley R, Kafer K, Huth P, et al. Dairy consumption and related nutrient intake in African-American adults and children in the United States: continuing survey of food intakes by individuals 1994-1996, 1998, and the National Health And Nutrition Examination Survey 1999-2000. J Am Diet Assoc. 2007 Feb;107(2):256–64.
3. Michaelsen KF, Nielsen A-LH, Roos N, Friis H, Mølgaard C. Cow’s milk in treatment of moderate and severe undernutrition in low-income countries. Nestlé Nutr Workshop Ser Paediatr Programme. 2011;67:99–111.
4. Hoppe C, Mølgaard C, Michaelsen KF. Cow’s milk and linear growth in industrialized and developing countries. Annu Rev Nutr. 2006;26:131–73.
5. De Beer H. Dairy products and physical stature: a systematic review and meta-analysis of controlled trials. Econ Hum Biol. 2012 Jul;10(3):299–309.
6. Parodi PW. Cows’ milk fat components as potential anticarcinogenic agents. J Nutr. 1997 Jun;127(6):1055–60.
7. Parodi PW. Conjugated linoleic acid and other anticarcinogenic agents of bovine milk fat. J Dairy Sci. 1999 Jun;82(6):1339–49.
8. Parodi PW. Dairy product consumption and the risk of breast cancer. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):556S – 68S.
9. Parodi PW. A role for milk proteins and their peptides in cancer prevention. Curr Pharm Des. 2007;13(8):813–28.
10. Garland CF, Garland FC, Gorham ED, Lipkin M, Newmark H, Mohr SB, et al. The Role of Vitamin D in Cancer Prevention. Am J Public Health. 2006 Feb;96(2):252–61.
11. German JB, Dillard CJ. Composition, structure and absorption of milk lipids: a source of energy, fat-soluble nutrients and bioactive molecules. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(1):57–92.
12. Holt PR, Bresalier RS, Ma CK, Liu K-F, Lipkin M, Byrd JC, et al. Calcium plus vitamin D alters preneoplastic features of colorectal adenomas and rectal mucosa. Cancer. 2006 Jan 15;106(2):287–96.
13. Van der Pols JC, Bain C, Gunnell D, Smith GD, Frobisher C, Martin RM. Childhood dairy intake and adult cancer risk: 65-y follow-up of the Boyd Orr cohort. Am J Clin Nutr. 2007 Dec;86(6):1722–9.
14. Genkinger JM, Hunter DJ, Spiegelman D, Anderson KE, Arslan A, Beeson WL, et al. Dairy products and ovarian cancer: a pooled analysis of 12 cohort studies. Cancer Epidemiol Biomark Prev Publ Am Assoc Cancer Res Cosponsored Am Soc Prev Oncol. 2006 Feb;15(2):364–72.
15. Edward Giovannucci, Eric B. Rimiti, Alicja Wolk, Alberto Ascherio, Meir J. Stampfer, Graham A. Colditz, Walter C. WilleÂ. Calcium and fructose intake in relation to risk of prostate cancer. CANCER Res. 1998;(58):442–7.
16. Food, nutrition, physical activity, and the prevention of cancer: a global perspective. Washington: World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research; 2007.
17. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
18. Calcium and Milk: What’s Best for Your Bones and Health? Harv Sch Public Health [Internet]. Available from: http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/calcium-full-story/#ref15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *