Tag Archives: anak

Tanya jawab vaksin MR

Halo ayah bunda! Baru-baru ini pemerintah baru saja menambahkan vaksin MR (Measles, Rubella) di imunisasi dasar. Seperti isu vaksin lainnya, respon orangtua terhadap vaksin MR juga terbagi tiga: ada yang pro, kontra dan yang galau. Pada tulisan kali ini, Doctormums akan membantu orang tua menimbang manfaat dan risiko dari vaksin MR. Siap-siap yah…

Apa itu vaksin MR?

Vaksin Measles, Rubella (MR) atau disebut juga vaksin campak dan rubella ialah vaksin hidup yang dilemahkan berupa serbuk kering dengan pelarut. Seperti namanya, vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit campak dan rubella (campak Jerman) pada anak yang disebabkan oleh virus.(1)

Apa bedanya vaksin campak, MR dan MMR?

Kalau ini paling mudah dijelaskan dengan rumus matematika yah 😊

Vaksin campak= M (measles)

Vaksin MR= Measles + Rubella

Vaksin MMR= Mumps (gondongan)+ Measles (campak) + Rubella (campak jerman)

Sebelumnya pemerintah hanya mewajibkan vaksin campak. Namun, karena kejadian rubella juga tinggi, pemerintah menambah imunisasi rutin dengan vaksin rubella. Vaksin MMR sudah ada di Indonesia, tapi tidak masuk dalam program wajib pemerintah artinya vaksin ini tidak gratis. Tapi stok vaksin MMR di Indonesia sudah lama kosong. Dengan adanya vaksin MR, diharapkan penyakit rubella dan campak bisa tetap dicegah. Pemerintah lebih memprioritaskan MR karena campak dan rubella lebih berbahaya dan mematikan disbanding mumps (gondongan).(1,2)

Apa bahayanya campak dan rubella sampai anak saya harus divaksin?

Rubella berbahaya bila mengenai ibu hamil dan anak-anak. Bila mengenai ibu hamil pada trimester pertama, rubella bisa menyebabkan aborsi, kematian janin atau cacat bawaan. Cacat yang diakibatkan oleh rubella disebut Congenital Rubella Syndrome/ Sindrom Rubella Kongenital (CRS) yang ditandai katarak, tuli, kelainan jantung dan otak. Bila anak tertular rubella setelah lahir, anak beresiko terkena ensefalitis (peradangan otak) meskipun jarang. Mirip halnya dengan campak, anak yang terkena infeksi ini setelah lahir bisa terkena komplikasi ensefalitis, meningitis (radang selaput otak), radang paru (pneumonia), diare, bahkan kematian.(1)

Kapan vaksin MR ini diberikan?

Selama program kampanye vaksin MR, semua anak usia 9 bulan-15 tahun harus di vaksin MR ya ayah bunda. Kalau kampanye vaksin sudah selesai, vaksin MR diberikan menggantikan jadwal vaksin campak yaitu 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat.(2)

Kalau sudah di vaksin campak, apa perlu di vaksin MR lagi?

Perlu supaya anak terlindungi dari rubella. Vaksin MR aman diberikan pada yang sudah diberi vaksin campak.(1)

Kalau sudah di vaksin MMR bagaimana?

Sebaiknya si kecil tetap di vaksin untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit campak dan rubella. Vaksin MR aman diberikan pada anak yang sudah MMR.(1)

Kenapa banyak orang tua yang galau untuk vaksin anaknya?

Menurut penelitian di Indonesia, alasan orangtua untuk tidak memvaksin ialah takut akan resiko dan efek samping, takut terkena autis, dan ragu akan kehalalannya.(3)

Memang apa resiko anak saya di vaksin MR?

Vaksin MR pada umumnya aman namun bukan berarti bebas dari resiko. Resiko atau efek samping yang bisa muncul karena vaksin MR misalnya:

  • Sakit karena disuntik!
  • Radang di bekas suntikan
  • Demam

Meskipun sangat jarang, reaksi alergi terhadap vaksin bisa terjadi.(1) Bila terjadi hal tersebut, segera laporkan ke petugas kesehatan untuk ditindak lanjuti. Saat ini pemerintah menyediakan situs pelaporan keamanan vaksin bila orangtua resah terhadap efek samping/resiko vaksin: www.keamananvaksin.com

Benarkah vaksin campak membuat autisme?

Tidak. Isu vaksin MMR menyebabkan autism dan penyakit usus berasal dari penelitian dokter Andrew Wakefield di tahun 1998. Penelitian ini sangat menghebohkan orangtua di Inggris sampai-sampai banyak orangtua yang menolak vaksinasi. Ternyata setelah ditelusuri penelitian ini dianggap tidak valid, terdapat unsur penipuan dan tidak bisa di replikasi. Pemerintah Inggris telah mencabut izin praktek dan menarik penelitiannya dari jurnal. Tapi tetap saja Wakefield aktif berkampanye anti vaksin lewat gerakan Vaxxed sampai saat ini. (4)

Benarkah vaksin mengandung babi sehingga haram?

Tidak. WHO sudah memberi pernyataan resmi bahwa enzim tripsin atau gelatin yang berasal dari babi tidak terkandung di produk akhir vaksin. Gelatin dan enzim tripsin dipakai dalam beberapa proses pembuatan vaksin. Namun, vaksin dicuci hingga bersih sampai enzim tersebut benar-benar hilang (5). Tahun 2001, WHO telah konsultasi dengan 100 ulama dari berbagai belahan dunia dan disimpulkan gelatin yang terkandung dalam vaksin halal. Menurut ulama dunia, tidak ada alasan untuk tidak mengimunisasi anaknya. (6)

Di Indonesia, MUI telah mengeluarkan fatwa nomor 4 Tahun 2016 bahwa imunisasi hukumnya mubah (boleh).(7) Sebagai informasi, saat ini sedang dikembangkan vaksin yang tidak menggunakan produk babi oleh Biofarma. Jangan lupa kita dukung ya 😊

Adakah anak yang tidak boleh divaksin MR?

Ada. Beberapa kelompok yang kontraindikasi untuk di vaksin MR misalnya:

  • Anak yang sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan dan radioterapi
  • Anak dengan kelemahan imun (immunocompromise)
  • Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  • Kelainan fungsi ginjal berat
  • Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin
  • Setelah pemberian gamma globulin atau transfusi darah.(1)

Kapan pemberian vaksin MR bisa ditunda?

Pemberian imunisasi bisa ditunda saat anak demam, batuk pilek, dan diare.(1)

Kalau saya memilih tidak memvaksin, apa resikonya?

Vaksin bukan hanya melindungi anak yang divaksin tetapi juga juga anak-anak yang lain. Vaksin memberi kekebalan masyarakat dari penyakit dari konsep Herd immunity. (4,8) Bila cakupan vaksin tinggi (80-95%), virus akan terhambat penyebarannya. Bahkan suatu penyakit bisa benar-benar hilang seperti penyakit smallpox (cacar) bila cakupan vaksin tetap tinggi. Tingginya herd immunity ini akan melindungi anak yang belum atau tidak bisa divaksin MR. Misalnya, anak yang timbul reaksi alergi berat karena vaksinasi, bayi-bayi muda, atau anak dengan kekebalan tubuh rendah. Sebaliknya, bila banyak orangtua yang menolak vaksin, herd immunity akan menurun drastis. Penelitian terbaru di Amerika menemukan bahwa penurunan cakupan imunisasi sekecil 5% saja bisa meningkatkan resiko campak 3x lipat! (9) Bayangkan bila angka imunisasi turun lebih dari itu. Bukan hanya anak berisko terkena penyakit, masyarakat akan beresiko terkena wabah.

Sebagai janji Doctormums di awal, kami akan membantu orangtua menimbang-nimbang risiko vs manfaat dari vaksinasi. Kalau dirangkum dari tulisan ini, yang perlu orangtua pikirkan ialah:

vaksin mr

Orangtua memang memiliki kewenangan untuk membesarkan anak dan memberi keputusan medis untuk anak yang dianggap belum cukup umur. Kebebasan berpendapat orangtua memang perlu dihargai seperti keyakinan beragama. Namun, dalam menimbang masalah imunisasi, orangtua kerap kali menyepelekan resiko penyakit seperti campak dan rubella dan membesarkan efek negatif imunisasi. (10) Penelitian lain juga menemukan bahwa sentimen dari sosial media tentang vaksin berpengaruh besar terhadap keraguan orangtua pada vaksin (11). Agar orangtua senantiasa bijak dalam memilih yang terbaik untuk anak, kami sangat mendukung orangtua yang terus mencari informasi yang terpercaya. Diskusikan dengan tenaga medis sebanyak-banyaknya bila orangtua galau dalam memutuskan imunisasi. Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr.

8/8/2017

Referensi

  1. Kemenkes. Petunjuk teknis kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. Jakarta; 2017. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1
  2. IDAI. IDAI – Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017 [cited 2017 Aug 8]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
  3. UN Global Pulse. Understanding immunisation awareness and sentiment through social media and mainstream media. Glob Pulse Proj Ser [Internet]. 2015;(19). Available from: http://www.unglobalpulse.org/projects/immunisation-parent-perceptions
  4. Chatterjee A. Vaccinophobia and Vaccine Controversies of the 21st Century [Internet]. 2013. Available from: http://reader.eblib.com/(S(r0xkd1qnsweq5vz04hzacqs1))/Reader.aspx#
  5. WHO. Oral polio vaccine and its production [Internet]. WHO. 2017 [cited 2017 Aug 2]. Available from: http://www.emro.who.int/polio/information-resources/oral-polio-vaccine-production.html
  6. MMR. [cited 2017 Aug 8]; Available from: http://www.immunisationscotland.org.uk/vaccines-and-diseases/mmr.aspx
  7. MUI. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang imunisasi [Internet]. MUI, 4 2016. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/lain/Fatwa No. 4 Tahun 2016 Tentang Imunisasi.pdf
  8. Luyten J, Vandevelde A, Van Damme P, Beutels P. Vaccination policy and ethical challenges posed by herd immunity, suboptimal uptake and subgroup targeting. Public Health Ethics. 2011;4(3):280–91.
  9. Lo NC, Hotez PJ. Public Health and Economic Consequences of Vaccine Hesitancy for Measles in the United States. JAMA Pediatr [Internet]. 2017;1–6. Available from: http://archpedi.jamanetwork.com/article.aspx?doi=10.1001/jamapediatrics.2017.1695
  10. Wearmouth E. Children, vaccination and UK law and UK law. Arch Dis Child [Internet]. 2014;99(Suppl 1):A193–A193. Available from: http://adc.bmj.com/cgi/doi/10.1136/archdischild-2014-306237.445
  11. Salathé M, Khandelwal S, Cauchemez S, Gerberding J, Barabasi A. Assessing Vaccination Sentiments with Online Social Media: Implications for Infectious Disease Dynamics and Control. Meyers LA, editor. PLoS Comput Biol [Internet]. 2011 Oct 13 [cited 2017 Aug 8];7(10):e1002199. Available from: http://dx.plos.org/10.1371/journal.pcbi.1002199

 

Tips Menangani Gangguan Belajar pada Anak

Pada umumnya, setiap anak akan menampilkan satu atau lebih dari tanda-tanda peringatan dini gangguan belajar. Hal ini normal. Namun, saat menemukan ada beberapa karakteristik yang terus muncul dalam periode waktu yang panjang, maka Anda perlu mempertimbangkan anak Anda mengalami gangguan belajar.

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan dalam merespon gangguan belajar:

  1. Memahami kekuatan anak

  • Anak-anak dengan gangguan belajar seringkali sangat cerdas, memiliki keterampilan memimpin, atau lebih unggul dalam bidang musik, seni, olahraga, atau bidang kreatif lainnya. Daripada berfokus pada kekurangan anak, kita harus lebih menekankan dan menghargai kekuatan anak.
  1. Melakukan evaluasi

  • Anda bisa meminta pihak sekolah untuk memberikan evaluasi pendidikan yang komprehensif, termasuk tes kemampuan (assessment), pengujian untuk mengevaluasi dan mengukur bidang kekuatan dan kelemahan anak Anda.
  1. Bekerja sama untuk membantu anak

  • Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa anak Anda memiliki gangguan belajar, maka Anda harus memenuhi syarat untuk mendapat layanan pendidikan khusus. Anda dapat bekerja dengan guru untuk mengembangkan Program Pendidikan Individual, semacam dokumen tertulis tentang ringkasan kinerja pendidikan anak dan metode untuk mengevaluasi kemajuan.
  1. Berdiskusi dengan anak tentang gangguan belajar

  • Anak-anak dengan gangguan belajar harus diyakinkan bahwa mereka itu tidak bodoh atau malas. Mereka orang cerdas yang mengalami gangguan belajar karena pikiran mereka berbeda cara dalam memproses kata-kata atau informasi.
  1. Temukan akomodasi yang dapat membantu

  • Anda dapat bertemu dengan guru untuk membahas tentang opsi untuk dibacakan informasi tertulis dengan kertas, tambahan waktu pada saat ujian, merekam pelajaran, dan menggunakan alat bantu teknologi.
  1. Memonitor kemajuan anak

  • Perhatikan kemajuan anak untuk memastikan bahwa kebutuhan anak Anda telah terpenuhi.
  1. Mengorganisir informasi seputar gangguan belajar anak

  • Mulailah membuat folder untuk semua materi yang berhubungan dengan pendidikan anak Anda.
  1. Mendapatkan bantuan sejak dini

  • Sangat penting bagi Anda untuk mencari bantuan segera setelah Anda menyadari anak memiliki gangguan belajar.

Jadi, apa yang harus Anda lakukan terlebih dahulu?

  • Percayalah pada naluri!
  • Tidak ada yang tahu anak Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Jadi, Anda bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi, langsung berbicara dengan guru, mencari informasi dan pendapat para ahli, dan jangan takut untuk segera mendapatkan evaluasi.
  • Bertemu dengan guru dan konselor bimbingan. Mereka dapat memberi tahu Anda seberapa baik anak Anda berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Saran untuk orang tua dalam menangani gangguan belajar:

  1. Bekerja sama dengan anak di rumah

  • Orang tua adalah guru anak yang pertama dan terbaik. Kita dapat menunjukkan kepadanya bahwa membaca itu menyenangkan. Kita bisa membacakan sebuah buku untuk anak setiap hari.
  1. Bergabung dengan mereka yang peduli

  • Yakinlah Anda tidak sendirian. Bergabung dengan orangtua lain dalam sebuah support group dan bekerja sama dengan para profesional, maka kita pun dapat meningkatkan kesadaran terhadap problem ini, menghilangkan kesalahpahaman populer.
  1. Bekerja sama dengan para profesional

  • Para profesional tersebut antara lain: audiolog, konsultan pendidikan, terapis pendidikan, spesialis gangguan belajar, neurologist, terapis okupasional, dokter anak, psikiater, psikolog (klinis), psikolog pendidikan/sekolah, terapis wicara dan bahasa.
  1. Membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah

  • Tunjukkan minat pada pekerjaan rumah anak kita. Kita dapat menanyakan tentang mata pelajaran dan tugas apa yang harus dikerjakan. Ajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari satu atau dua kata.
  1. Membantu anak menjadi pembaca yang lebih baik (untuk anak usia dini)

  • Mengajarkan hubungan antara huruf dan kata. Ajarkan pada anak sejak dini cara mengeja kata-kata, seperti: nama mereka sendiri atau kata-kata yang mungkin akan sering mereka ucapkan, seperti: sudah! Atau tidak boleh!

Selamat mencoba!

<Depok, 31 Desember 2016>

Reqgi First Trasia, dr.

.

.

.

Referensi:

  1. Corinne Smith: Learning Disabilities A to Z; Free Press; 1st edition (June 12, 2000)
  2. Gary Fisher dan Rhoda Cummings: The School Survival Guide for Kids with Learning Disability (Self-Help for Kids Series); Free Spirit Publishing; 2nd edition (September 2000)
  3. Joan M Harwell dan Rebecca Williams Jackson: The Complete Learning Disability Handbook: Ready to-Use Strategies and Activities for Teaching Students with Learning Disability; Jossey-Bass; 3rd edition (October 20, 2008)
  4. Peg Dawson dan Richard Guare: Coaching Students with Executive Skills Deficits; The Guilford Press; 3rd edition (Februari 9, 2010)

 

Virus Zika dan Serba-serbinya

Akhir-akhir ini informasi mengenai virus zika mulai menyebar luas, membuat kita semua khawatir terutama karena virus ini disinyalir merupakan penyebab mikrosephali pada bayi baru lahir di wilayah Amerika Selatan. Mums, mari kita kenali fakta-fakta unik mengenai virus zika untuk menghindari penyakit yang disebabkannya.

Penyebaran

Seperti halnya demam berdarah atau chikungunya yang telah lebih dulu menjadi endemik di beberapa wilayah di Indonesia selama musim tertentu, virus zika merupakan golongan flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Di wilayah tropis, nyamuk Aedes Aegypti menjadi jenis nyamuk yang menyebarkan virus ini. Oleh karena itu, salah satu poin penting pencegahan penyakit ini adalah melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Penularan

Selain melalui nyamuk, virus zika juga menular secara kongenital, perinatal (saat kelahiran), dan juga seksual. Kemungkinan cara penyebaran yang lainnya antara lain karena gigitan binatang seperti monyet, melalui transfusi darah, dan juga akibat paparan di laboratorium. Virus zika pernah terdeteksi terdapat pada ASI penderitanya namun belum dapat dibuktikan apakah virus ini juga menyebar melalui pemberian ASI.

Gejala

Virus ini juga menyebabkan gejala yang mirip dengan demam berdarah atau penyakit akibat virus lainnya. Gejala tersebut antara lain; demam, nyeri otot, konjunctivitis pada mata, ruam kemerahan, nyeri sendi, dan nyeri kepala. Gejala umumnya ringan dan bahkan pada kebanyakan kasus (80%) tidak bergejala sama sekali. Gejala yang terjadi juga dapat sembuh sendiri dalam rentang waktu maksimal 2 minggu.

Mikrosephali

Berita yang paling menggemparkan mengenai virus zika adalah kejadian microcephaly (kondisi dimana ukuran lingkar kepala bayi di bawah rata-rata ukuran kepala bayi dengan usia dan jenis kelamin yang sama) pada bayi di Brazil yang diduga disebabkan karena virus zika yang menginfeksi ibu hamil. Meski masih terus diteliti mengenai keterkaitan virus zika dan efeknya pada kehamilan, ibu hamil menjadi salah satu golongan yang harus waspada terhadap infeksi virus zika. Jika seorang ibu hamil baru pergi berpergian dari wilayah yang terkena wabah virus, sebaiknya  memeriksakan diri apakah terinfeksi atau tidak.

Pada orang dewasa, virus zika dapat mengakibatkan komplikasi neurologis seperti Guillain-Barre Syndrome, meningitis, dan meningoencephalitis. Virus ini jarang sekali mengakibatkan kematian.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang khusus untuk menyembuhkan virus zika. Istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, serta obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol merupakan terapi yang cukup efektif untuk mengurangi gejala yang terjadi.

Pencegahan

Pencegahan terutama dengan cara menghindari gigitan nyamuk. Gunakan lotion atau spray anti nyamuk, baju lengan panjang, dan juga pelindung saat tidur. Ibu hamil hendaknya berhati-hati dalam melakukan perjalanan, hindari mengunjungi wilayah yang terkena wabah.

Pada orang yang tinggal di daerah wabah sebaiknya menghindari hubungan seksual saat hamil atau menggunakan pelindung seperti kondom.

Irma Susan Kurnia, dr.

Sumber:

  1. Plourde, Anna M & Bloch, Evan M. 2016. A Literature Review of Zika Virus. EID Journal Vol 22 No 7 Cited Dec 2016. Available at wwwnc.cdc.gov
  2. World Health Organization. 2016. Zika Virus. Cited Dec 2016. www.who.int
  3. Meaney Delman et al.2016. Zika Virus and Pregnancy: What Obstetric Health Care Providers Need to Know. Obstetrics & Gynecology: April 2016 – Volume 127 – Issue 4 – p 642–648

 

Probiotik untuk Bayi?

Saya menjadi semakin percaya terhadap pemberian probiotik pada anak. Bukan karena apa-apa dan juga bukan karena saya mendukung pihak tertentu. Probiotik, pada dasarnya adalah bakteri “baik” hidup yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan (biasanya Lactobacillus Acidophilus di Amerika Serikat). Saat ini probiotik semakin banyak tersedia dan semakin sering direkomendasikan oleh para dokter.

Peran Probiotik Untuk Bayi

Peran mikroba di dalam kesehatan kita adalah topik yang seru. Probiotik diduga dapat meningkatkan kesehatan usus dengan cara mengembalikan atau meningkatkan jumlah bakteri baik sementara secara bersamaan dia juga menurunkan populasi bakteri yang berbahaya.

Bakteri di dalam usus merupakan bagian normal dari kesehatan saluran pencernaan, tetapi jumlah populasi bakteri dalam usus kita dapat berubah karena penyakit, penggunaan antibiotik, makanan yang dimakan/ dimodifikasi, ataupun perubahan-perubahan lain dalam hidup kita. Apa yang kita makan dan kemana kita pergi untuk minum air, mengubah apa yang hidup di usus kita. Penelitian juga menemukan dimana bakteri yang hidup bersama di tubuh kita dapat mempengaruhi penyakit-penyakit lain di luar usus seperti eksema, alergi, dan/atau asma.

Probiotik

Probiotik sebagai Bakteri ‘Baik’

Pada anak-anak, suplemen probiotik dapat mendukung penyembuhan dari diare akut dengan cara menurunkan jumlah episode diare dan lamanya waktu diare. Probiotik juga dapat mencegah munculnya diare pada anak-anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik. Kenyataannya adalah banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi populasi bakteri dalam tubuh kita. Hal ini dimulai sejak seseorang lahir. Kita mengetahui contoh pada bayi-bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar memiliki populasi bakteri yang berbeda pada tinja mereka ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara normal, dalam waktu seminggu setelah dilahirkan. Jadi sejak dari awal, pilihan-pilihan yang kita buat (atau yang orang tua kita buat) dapat mengubah lingkungan di dalam tubuh kita. Hal ini pada akhirnya dapat mengubah kesehatan kita. Sejumlah dokter mempelajari efek probiotik pada bayi kolik…

Probiotik sering ditemukan secara alami pada makanan (yogurt dengan kultur aktif) sementara beberapa yogurt dan makanan yang diperdagangkan (termasuk susu formula bayi) memiliki kultur probiotik tambahan (fortified by additional cultures). Anda juga dapat membeli kapsul Lactobacillus (atau probiotik lain) di toko obat dan makanan sehat. Seberapa aktif, dan seberapa banyak probiotik yang tersisa di dalam produk-produk ini? Ini masih menjadi perdebatan.

Di Amerika Serikat, suplemen probiotik (dan makanan yang difortifikasi dengan kultur) tidak diregulasi oleh FDA. Tidak diketahui berapa banyak bakteri yang ada di dalam sebuah kapsul probiotik dan mungkin juga ada perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya dari hari ke hari. Dan jika kultur probiotik mati, mereka hanya sedikit berpengaruh untuk mendorong perubahan di dalam tubuh. Sebagai konsumen, adalah mustahil untuk mengetahui apakah suplemen tersebut masih hidup.

Seperti yang telah dikatakan, walaupun pilihan probiotik di Amerika Serikat terbatas, literatur dan penelitian tentang mengubah bakteri pada seorang anak untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka merupakan hal yang sangat menarik dan menjanjikan. Selain Lactobacillus, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat mengenai probiotik. Tapi, kami belajar sangat banyak dari rekan kami di Eropa. Risiko pemberian suplemen bakteri baik ini terbukti sangat rendah pada anak-anak dengan sistem imun yang sehat. Namun seperti hal lainnya dalam ilmu kesehatan anak, secara teoritis, selalu ada resiko ketika kita mencoba untuk mengintervensi hasil penelitian ini.

Sebuah penelitian Italia pada jurnal Pediatrics menguji keuntungan probiotik untuk bayi yang rewel atau kolik. Para peneliti menemukan hasil positif pada bayi-bayi ASI yang menerima dosis harian Lactobacillus reuteri. Di Eropa, probiotik diregulasi dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan di Amerika Serikat (dan juga Indonesia). Jadi, terdapat kemungkinan data/ penelitian ini tidak dapat diaplikasikan kepada bayi-bayi kita karena kita tidak memiliki akses kepada suplemen yang sama. Tapi bacalah apa yang mereka temukan.

Pada penelitian tersebut:

  • Kolik ditetapkan menggunakan aturan 3 (rule of 3’s). Bayi kolik didefinisikan dengan usia dibawah 3 bulan yang menangis lebih dari 3 jam sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama paling sedikit 3 minggu.
  • Sekitar 50 bayi kolik yang ASI eksklusif dikelompokkan secara acak ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok bayi diberi suplemen plasebo/inert tanpa probiotik, sementara kelompok yang lain mendapatkan Lactobacillus setiap hari. Para orang tua dan peneliti tidak mengetahui bayi mana yang mendapatkan bakteri (penelitian double blind).
  • Diantara bayi kolik yang menerima probiotik, terdapat pengurangan yang bermakna terhadap lamanya waktu menangis harian pada akhir penelitian (21 hari) dibandingkan dengan kelompok plasebo.
  • Tangisan semakin membaik pada akhir penelitian di kedua kelompok, seperti yang diharapkan dengan kolik.
  • Peneliti juga menganalisa tinja dari kedua kelompok bayi dan menemukan populasi bakteri yang berbeda antara kelompok bayi. Mereka yang diberi probiotik memiliki jauh lebih banyak Lactobacillus di tinja mereka.
  • Para peneliti berteori bahwa perubahan lingkungan usus (bakteri, amonia) mungkin telah mengubah pengalaman sensorik pada bayi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perilaku menangis mereka.

Sulit membuktikan bahwa bakteri yang diberikan kepada bayi-bayi inilah yang bertanggung jawab langsung terhadap perbaikan tangisan tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok benar-benar terlihat. Dan walaupun terasa “aneh” bagi orang tua untuk memberi makan anak mereka dengan bakteri, setelah kami mendiskusikan keuntungannya, banyak orang tua yang memilih memberikan suplemen Lactobacillus kepada anak-anak mereka karena biayanya yang rendah dan mudah diberikan (dapat ditaburkan pada apa saja).

Jika bayi anda sering menangis dan anda mulai khawatir akan kolik, anda bisa berdiskusi dengan dokter anak anda untuk memulai pemberian suplemen Lactobacillus. Dengan risiko yang rendah, pemberian probiotik akan meredakan tangisan anak anda dan itu hal yang bagus bagi semua orang. Intinya adalah saya tidak berpikir probiotik akan berbahaya bagi bayi yang rewel, dan ini adalah penelitian baru yang mengindikasikan hal tersebut dapat benar-benar membantu.
Kalau begitu, berilah sesendok bakteri untuk bayi Anda!

DoctorMums Headshot

Written by Dr. Wendy Sue Swanson, pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and author of the Seattle Mama Doc Blog & Mama Doc Medicine. Learn more by following her onTwitter (@SeattleMamaDoc) and Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel diterjemahkan oleh Farah Suraya, dr. dengan izin dari Seattle Mama Doc. Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/a-spoonful-of-bacteria-for-baby/

Referensi

Savino F, Cordisco L, Tarasco V, Palumeri E, Calabrese R, Oggero R, et al. Lactobacillus reuteri DSM 17938 in Infantile Colic: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Pediatrics. 2010 Sep 1;126(3):e526–33.

Gizi Anak Sekolah

7 Rekomendasi Gizi Untuk Anak Sekolah

Anak sekolah menurut WHO (World Health Organization) ialah anak yang berusia antara 7-15 tahun. Pada masa ini nafsu makan dan kebutuhan nutrisi anak meningkat secara alami. Hal ini disebabkan karena anak masih dalam masa pertumbuhan dan aktivitas anak semakin padat. Namun, dalam periode ini pemberian asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Anak mulai mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya termasuk dalam hal jajan dan pemilihan makanan. Bila orangtua kurang jeli memperhatikan konsumsi anak, dikhawatirkan makanan pilhan anak yang kurang sehat mungkin dapat mengakibatkan penyakit dan mengganggu perkembangan potensinya.

Tantangan Seputar Makan Pada Anak Sekolah

Saat anak mulai mengeksplorasi dunia sekolah, anak mulai ingin mencicip-cicipi sesuatu hal yang baru. Ia juga mulai punya selera sendiri tentang makanan kesukaan. Makanan yang ia pilih biasanya dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya sendiri (misal ada penyakit alergi tertentu) dan lingkungan sekitarnya. Tentu yang terdekat ialah kebiasaan di keluarga. Selain itu, pengaruh dari teman sebaya, iklan di media massa, atau tren sosial juga mempengaruhi apa yang ia hendak makanan. Sayangnya, tidak semua pengaruhi ini berdampak baik. Terkadang anak juga terjebak dalam memilih jajanan yang tidak sehat. 

Menurut Kepmenkes RI no 942, jajanan ialah :

Makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual kepada masyarakat selain yang disajikan jasa boga, rumah makan, atau hotel.

Anak yang terbiasa untuk jajan cenderung malas makan makanan yang bergizi. Selain itu, tidak jarang kita temukan anak yang menderita diare, sakit perut, bahkan dirawat karena demam tifoid. Tentu bukan hanya mempengaruhi performa sekolah dan kecerdasan anak. Jajanan yang kurang sehat bisa jadi menimbulkan dampak serius yang mengancam kesehatan. Beberapa penyebab anak suka jajan antara lain:

  • Faktor dalam keluarga, misalnya orangtua yang kurang jeli memperhatikan makanan anak, orangtua yang terlalu sibuk atau kebiasaan makan yang kurang baik di keluarga.
  • Faktor dari anak sendiri, seperti kejiwaan dan selera yang berbeda-beda.
  • Makanan itu sediri, seringkali bentuk dan rasa jajanan lebih menarik perhatian anak dan lebih gurih

Menanggapi hal ini, penting bagi orangtua untuk lebih jeli mengawasi pola makan anak sehari-hari. Pahami rekomendasi gizi untuk anak sekolah agar ia mendapatkan nutrisi yang optimal

Rekomendasi Gizi Anak Sekolah

Ada lima rekomendasi gizi yang perlu diperhatikan untuk anak sekolah, yaitu:

1. Konsumsi menu gizi seimbang.
Pada prinsipnya anak sekolah harus mengonsumsi menu gizi seimbang yang terdiri semua zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Untuk memenuhi gizi seimbang anak sekolah, konsumsi makanan pokok seperti nasi, pasta, kentang; sumber protein seperti ikan, ayam, daging; sayur dan buah; sumber lemak yang sehat; dan air.

gambar piramida makanan & pedoman gizi seimbang

Pedoman Gizi Seimbang

2. Sesuaikan konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi.

Kebutuhan gizi anak berbeda untuk setiap umur, jenis kelamin dan aktivitas. Secara garis besar, kebutuhan kalori anak sekolah berkisar antara :

  • 4-8 tahun : 1,200-1,400 kalori
  • 9-13 tahun (perempuan): 1,600 kalori
  • 9-13 tahun (laki-laki): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (perempuan): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (laki-laki): 2,200 kalori

Kebutuhan kalori ini didapatkan dari sumber karbohidrat, lemak dan protein. Karbohidrat merupakan sumber utama energi yang digunakan tubuh. Anak perlu mengkonsumsi karbohidrat 45-65% dari total kalori yang diperlukan.

Lemak juga diperlukan untuk sumber energi, mengangkut vitamin dan sumber asam lemak esensial (lemak yang tidak bisa dihasilkan dari tubuh). Sebanyak 60% dari otak anak ialah lemak. Kebutuhan lemak total untuk anak sekolah ialah 23-35% dari kebutuhan kalori.

Protein juga penting dipenuhi untuk pertumbuhan yang optimal, pengaturan hormon, sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Anak sekolah perlu mengkonsumsi 10-30% dari total kalori yang dibutuhkan.

Selain kalori, anak juga membutuhkan vitamin dan mineral seperti besi, zinc dan kalsium. Anak sekolah usia 7-15 tahun membutuhkan kalsium 1.000-1300 mg per hari. Itu merupakan kebutuhan tertinggi sepanjang hidup mereka karena pada usia tersebut anak dalam pertumbuhan tinggi badan yang pesat sehingga membutuhkan kalsium yang banyak untuk pertumbuhan tulangnya. Kebutuhan zat besi pada anak perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena zat besi dibutuhkan untuk persiapan periode mentruasi bagi wanita.

Berikut ini contoh takaran harian makanan anak sekolah:

anak skolah

Takaran piring setiap anak makan kira-kira memenuhi kaidah ini. 1/2 porsi diisi dengan sayuran, 1/4 sumber protein (tahu, tempe, ikan, ayam, daging, dsb), 1/4 piring lagi diisi sumber karbohidrat (misal nasi). Jadi bukan lebih banyak karbohidrat. Tentu takaran piring ini disesuaikan dengan kebutuhan anak yah, ayah ibu.

meal_plan3

Proporsi Piring Anak Sekolah

3. Selalu sarapan pagi.
Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi di sekolah. Hal ini disebabkan saat bangun pagi, gula darah dalam tubuh anak cenderung menurun karena metabolisme tubuh tetap bekerja saat anak tidur.

4. Sediakan cemilan

Cemilan ialah makanan selingan di antara sarapan, makan siang dan makan malam. Cemilan juga penting sebagai komponen gizi anak. Sehingga menyediakan cemilan sehat perlu direncanakan sebagai bagian dari kebutuhan kalori. Contoh cemilan sehat misalnya buah segar, keju, biskuit, susu, 100% jus buah, yoghurt, dl.

5. Hindari minuman manis

Minuman manis mengandung gula yang amat banyak. Sehingga bisa menyebabkan obesitas pada anak. Minuman manis juga mengurangi nafsu makan anak terhadap makanan/minuman sehat seperti susu. Contoh minuman mans misalnya sirup, minuman soda, teh, minuman kaleng/kemasan, minuman buah, dsb. Anak paling baik minum air putih dibandingkan minuman manis.

6. Makanan segar lebih baik

Makanan yang terlalu gurih karena penguat rasa atau pemanis buatan dapat menyebabkan rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan. Sehingga selera makan anak terhadap makanan sehat bisa saja berkurang. Meskipun masih kontrovesial, pengawet, pewarna atau pemanis buatan juga diduga kurang baik terhadap kesehatan anak.

 7. Pastikan keamanan makanan!

Ada dua hal yang penting orangtua perlu perhatikan terkait keamanan makanan, yaitu resiko tersedak dan infeksi. Pada anak yang lebih muda, hindari makanan yang mudah membuat tersedak. Ajari anak untuk duduk yang baik dan tidak bicara saat mengunyah makanan. Perhatikan juga kebersihan makanan. Selalu cuci tangan dan bersihkan alat makan sebelum menyajikan makanan pada anak. Biasakan juga untuk mengajaknya cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Hati-hati dengan jajanan di sekitar lingkungannya. Lebih aman membawakan anak bekal jika Anda tidak yakin dengan kebersihan jajanan di sekolah anak.

Semoga bermanfaat.
Reqgi First Trasia, dr.

11/26/2015

Referensi :

  1. Robert Russels, et al. 2001. Dietary Reference Intakes for Vitamin and Mineral. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington.
  2. United States Department of Agriculture and Health and Human Services. 2010. Dietary Guidelines for Americans. Washington DC.
  3. Vernon, R Young, et al. 1998. Dietary Reference Intakes of Vitamin and Minerals. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington DC.
  4. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
  5. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
  6. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
  7. Childhood Nutrition [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Childhood-Nutrition.aspx
  8. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
  9. The Truth about 7 Common Food Additives [Internet]. WebMD. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.webmd.com/diet/the-truth-about-seven-common-food-additives

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Sekilas Tentang Demam

Demam pada anak cukup sering dialami. Seperti halnya batuk, muntah dan diare, sebenarnya demam bukanlah penyakit. Demam merupakan sebuah gejala yang menunjukkan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam tubuh. Anak dikatakan demam bila suhu tubuhnya di atas 37,5oC saat diukur dari mulut dan 38oC saat diukur dari dubur. Umumnya, demam bukan kondisi yang berbahaya bagi jiwa. Justru demam merupakan bukti bekerjanya mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi infeksi. Mencari tahu penyebab demam sangat penting artinya bagi orang tua. Dengan demikian, langkah-langkah penanganan terhadap anak pun dapat dilakukan.

Proses Terjadinya Demam

Peningkatan suhu tubuh saat demam dikarenakan dalam tubuh terdapat molekul kecil bernama pirogen (sebagai zat pencetus panas). Terjadinya peningkatan pirogen disebabkan oleh infeksi, radang, alergi, tumbuh gigi, atau dampak pemberian imunisasi tertentu. Ketika terkena infeksi, tubuh sengaja menciptakan demam sebagai upaya membantu menyingkirkan infeksi. Caranya dengan mengerahkan sel darah putih (leukosit) sebagai pasukan khusus dalam sistem kekebalan tubuh. Agar daya gempurnya tinggi terhadap infeksi, sel darah putih butuh sokongan pirogen. Sebenarnya ada dua tugas pirogen:

  1. Menuntun sel darah putih ke tempat infeksi
  2. Meningkatkan suhu tubuh melalui demam dengan tujuan menghambat pertumbuhan kuman.

Bila anak mengalami demam, biasanya diawali oleh tubuh menggigil. Lalu dengan cepat suhu meningkat di atas suhu yang normal. Suhu itu menetap dan akhirnya menurun. Anak yang sedang demam biasanya rewel, sulit tidur, dan tidak mau makan.

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Saat anak mengalami demam, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua sebelum ke dokter:

  1. Pastikan sirkulasi udara ruangan tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kipas angin dapat pula difungsikan disini.
  2. Beri pakaian yang mampu menyerap keringat. Jangan terlalu tebal atau tipis.
  3. Teruskan pemberian gizi yang seimbang.
  4. Sebaiknya jangan terburu memberikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi. Sebab naiknya suhu tubuh merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus.
  5. Beri banyak minum, termasuk ASI bagi bayi yang masih menyusui. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi komplikasi dehidrasi. Dengan minum banyak, akan memulihkan cairan tubuh yang mungkin berkurang akibat dehidrasi.
  6. Lakukan pengompresan saat suhu tubuhnya meningkat, bahkan mencapai 40o C. sebaiknya mengompres dilakukan dengan mendudukan anak di bath tub (bak mandi) dengan air hangat (30-32oC C). beri mainan jika ia menolak didudukkan. Atau dapat juga membasuhkan waslap yang telah dicelup air hangat ke sekujur tubuhnya.
  7. Pada balita yang sudah agak besar, jika suhu tubuhnya melebihi 38o C dan terus menerus rewel atau tidak nyaman, cobalah beri obat penurun panas khusus anak. Sebaiknya jangan memberi aspirin karena akan berdampak buruk pada hati. Berilah paracetamol atau ibuprofen dengan tetap mematuhi aturan pemakaian. Hentikan jika suhu tubuh kembali normal.

Sebaiknya orangtua segera membawa anak ke dokter bila menemukan tanda-tanda ini saat anak demam.  Semoga bermanfaat.

Reqgi First Trasia, dr.

11/23/2015

Referensi:
1. Efstathiou SP, Pefanis AV, Tsiakou AG, et al. 2010. Fever of Unknown Origin: Discrimination between Infectious and Non-infectious Causes. Eur J Intern Med; 21:137
2. Tolan RW Jr. 2010. Fever of Unknown Origin: a diagnostic Approach to this Vexing Problem. Clinical Pediatry, Philadelphia; 49:207-213
3. Joshi N, et al. 2008. Clinical Spectrumof Fever of Unknown Origin among Indian Children. Ann Trop Paediatric ; 28: 261-266
4. Iwanczak B, et al. 2007. Management of Fever Without Source in Children. Przegl Lek; 64 (Suppl3):20-24
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 120

Tanda tanda Vital Bayi dan Anak

Tanda tanda vital ialah tanda yang menunjukkan fungsi penting tubuh manusia. Dari tanda-tanda ini bisa diketahui apakah seseorang relatif sehat, mengalami penyakit serius, atau menderita gangguan yang mengancam jiwa. Ada empat tanda tanda vital yang umum diperiksa oleh tenaga kesehatan yaitu denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan kondisi nafas. Semua orang yang masih hidup tentu memiliki tanda tanda vital. Namun, nilai tanda tanda vital ini bisa berbeda sesuai dengan usia, jenis kelamin, berat badan, dan kesehatan tubuh pada umumnya.

Pada anak, pemeriksaan tanda tanda vital ini amat penting dipelajari karena dapat mendeteksi dini adanya penyakit serius pada anak atau tidak. Hal ini amat bermanfaat karena anak bisa mendapatkan pertolongan segera dari dokter ketika sakitnya cukup serius. Pemeriksaan tanda tanda vital pada anak juga sebenarnya cukup mudah untuk dipelajari oleh orangtua atau pengasuh. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh hendaknya tahu dan paham cara pemeriksaan ini.

Tanda Tanda Vital 1 : Denyut Nadi

Denyut nadi yang dihitung menunjukkan berapa kali jantung berdetak dalam satu menit. Jumlah denyut nadi ini bisa berubah sesuai usia, jenis kelamin, aktivitas bahkan perubahan stress pada anak. Selain menghitung jumlah, dokter juga biasa menilai apakah irama nadi ini teratur atau tidak.

Pada bayi, denyut nadi biasanya diukur dengan meletakkan jari secara lembut di lipatan siku atau lipatan lutut dalam. Sedangkan pada anak yang lebih besar, denyut nadi bisa dihitung dari nadi pergelangan tangan. Setelah itu, denyut nadi dihitung selama satu menit menggunakan jam yang memiliki jarum atau stopwatch.

c5f001be2817adfc6f43064baafeeeb8

Tanda Tanda Vital 1 : Nadi

Berikut ini denyut nadi normal selama satu menit pada anak sesuai usia.

Usia Nadi saat anak bangun (kali/menit) Nadi saat anak tidur (kali/menit)
Bayi baru lahir s/d 3 bulan 85-205 80-160
3 bulan s/d 2 tahun 100-190 75-160
2 s/d 10 tahun 60-140 60- 90
>10 tahun 60-100 50-90

Pemeriksaan denyut nadi ini sebenarnya tidak perlu rutin dilakukan orangtua. Terkecuali bila memang buah hati Anda memiliki kondisi penyakit yang membutuhkan pemantauan denyut nadi secara berkala. Namun, ada kalanya pemeriksaan ini penting untuk dilakukan seperti saat :

  • anak mengeluhkan jantung berdebar-debar, nyeri dada
  • pingsan
  • kulit mendadak pucat atau bibir menjadi biru
  • sulit bernafas mendadak seperti pada asthma

Bila ada kondisi seperti ini, Anda sebaiknya segera membawa ke dokter.

Tanda Tanda Vital 2: Tekanan darah/Tensi

Pemeriksaan tekanan atau tensi darah pada anak cukup sulit dilakukan bagi awam. Selain itu, untuk mengukur tekanan darah anak dibutuhkan manset yang ukuran khusus sesuai usia mereka. Sehingga, tidak seperti pemeriksaan tanda tanda vital yang lain, pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Namun, mungkin pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu, dokter akan melatih orangtua untuk memeriksa tekanan darah anak.

pediatric's office nurse with patients

Tanda tanda vital 2 : Tekanan darah

Tidak seperti orang dewasa, pemeriksaan tekanan darah anak baru rutin dilakukan setiap tahun pada anak usia diatas 3 tahun. Pasalnya, tensi pada batita cukup sulit dinilai secara akurat. Terkecuali bila batita mengalami penyakit jantung atau ginjal yang cukup serius. Berikut ini ialah tekanan darah normal anak sesuai usia.

Perkiraan Usia Batas normal tekanan sistolik (mmHG) Batas normal tekanan diastolik (mmHg)
1-12 bulan 75-100 50-70
1-4 tahun 80-110 50-80
3-5 tahun 80-110 50-80
6-13 tahun 85-120 55-80
13-18 tahun 95-140 60-90

Tanda Tanda Vital 3 : Pernafasan

Masalah pernafasan ternyata menjadi penyebab nomer satu kegawatdaruratan pada bayi dan anak. Sehingga amat penting bagi orangtua untuk bisa menilai pernafasan yang normal dan tidak. Menilai pernafasan yang akurat paling baik dilakukan saat anak tidur atau istirahat. Anak sebaiknya tidak menyadari bahwa pernafasarnnya sedang dihitung. Sebab, bila ia sadar, anak bisa mengatur nafasnya seperti yang ia inginkan.

Pernafasan normal pada bayi dengan anak lebih besar ternyata berbeda. Bayi bernafas lebih cepat dan lebih tidak teratur. Terkadang bayi baru lahir bernafas cepat dan dalam lalu tiba-tiba nafasnya menjadi lambat dan dangkal. Jangan heran juga bila sewaktu-waktu ia menahan nafas selama beberapa detik. Hal ini disebut juga nafas periodik (periodic breathing) dan normal ditemukan pada bayi. Selain itu, bayi juga suka mengeluaran dengkuran halus saat ia tidur. Orangtua tidak perlu khawatir bila bayi bernafas seperti itu karena lambat laun pernafasannya akan menjadi matang dan teratur.

Cara menilai pernafasan

Menilai pernafasan anak amat mudah dilakukan. Caranya ialah dengan mengamati langsung atau memegang dada anak saat ia bernafas. Sementara itu, hitung seberapa banyak ia bernafas selama satu menit menggunakan jam dengan jarum atau stopwatch. Hal pertama pernafasan yang dinilai ialah upaya nafas. Apakah anak sulit bernafas atau tidak. Tanda anak sulit bernafas misalnya :

  • Wajah anak bisa seperti ketakutan dan terlihat panik
  • Anak bernafas melalui mulut. Hal ini bisa saja saluran nafas anak tersumbat atau anak sudah terlalu sesak.
  • Anak mengeluarkan suara yang tidak lazim saat bernafas seperti mendengkur atau mengi (bengek)
  • Hidung anak kembang kempis
  • Otot leher dan dada sangat terangkat saat bernafas. Bahkan terlihat cekungan yang nyata di leher, sela tulang iga dan perut. Dalam istilah kedokteran hal ini disebut retraksi.
  • Kulit anak menjadi pucat dan membiru di sekitar hidung dan mulut. Hal ini menandakan darah anak tidak mengangkut cukup oksigen dari paru-paru.
  • Nafas anak menjadi lebih cepat atau lambat dari yang normal.
60999-0550x0475

Tanda kesulitan bernafas

Adapun kecepatan bernafas anak yang normal sesuai usia ialah:

Umur Kecepatan nafas normal (kali/menit)
0-1 tahun 30 s/d 60
1-3 tahun 24 s/d 40
3-5 tahun 22 s/d 34
5-12 tahun 18 s/d 30
>13 tahun 12 s/d 16

Selain itu, lihat juga pola pernafasannya. Apakah teratur atau tidak. Bila orangtua atau pengasuh menemukan tanda-tanda sulit bernafas atau khawatir pola pernafasan anak tidak seperti biasanya, silakan hubungi tenaga kesehatan. Ada kemungkinan anak Anda butuh pertolongan segera.

Tanda Tanda Vital 4 : Suhu tubuh

Suhu pusat tubuh anak rata-rata antara 36.6oC – 37oC saat diukur lewat mulut dan 0.5oC lebih tinggi saat diukur dari dubur. Mengukur suhu tubuh penting dilakukan saat curiga anak mengalami demam. Pasalnya, demam bisa jadi pertanda anak Anda terkena infeksi, gangguan metabolisme atau penyakit lain. Ada beberapa cara mengukur suhu tubuh anak. Paling akurat ialah dari dubur meskipun cara ini terasa kurang nyaman. Selain itu, pengukuran dari mulut (di bawah lidah) juga bisa mendapatkan hasil akurat bila dilakukan dengan teknik yang benar. Cara ini berguna terutama pada anak lebih dari 4 tahun yang bisa kooperatif.

4343_image

Tanda tanda vital 4 : Suhu

Sebaliknya, pengukuran dari ketiak ternyata kurang akurat. Namun, cara ini masih bisa digunakan sebagai pemeriksaan awal pada bayi kurang dari tiga bulan atau pada anak yang lebih besar tetapi belum bisa menahan termometer dari bawah lidah. Demikian pula pemeriksaan suhu lewat telinga atau dahi, dimana hasil yang didapatkan kurang akurat. Orangtua tidak disarankan untuk menilai suhu anak hanya dari memegang kulit anak. Hal ini disebabkan hasil yang didapatkan tergantung dari suhu pemeriksanya.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/22/2015

Referensi

1. How To Take Your Child’s Pulse. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/firstaid_safe/emergencies/take-pulse.html
2. Normal Vital Signs: Normal Vital Signs. 2015 Sep 18 [cited 2015 Nov 22]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2172054-overview
3. Mark A Ward, MD. Patient information: Fever in children (Beyond the Basics). Uptodate. 2015 Aug 31;
4. Pediatric Vital Signs: Normal Heart Rate Chart [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Nov 22]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/pediatric_vital_signs/article_em.htm
5. Jan E Drutz, MD. The pediatric physical examination: General principles and standard measurements. Uptodate. 2015 Nov 18;
6. Vital Sign in Children. US Dep Health Hum Serv [Internet]. 2011 Jun 26; Available from: http://chemm.nlm.nih.gov/pals.htm#sec2
7. Your baby’s breathing: what’s normal. Babycenter [Internet]. 2012 Apr; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a558559/your-babys-breathing-whats-normala

Tanda Balita Sehat dan Balita Sakit

Kondisi balita yang senantiasa sehat tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Dengan begitu proses tumbuh kembang bayi dan balita dapat berlangsung lebih optimal. Sementara jika sang buah hati dirundung sakit, terlebih lagi jika sering, proses tumbuh kembangnya pun akan terganggu. Berikut ini tanda balita sehat dan sakit yang perlu orangtua ketahui.

Tanda Bayi dan Balita Sehat

Bayi dan balita sehat umumnya ditandai oleh:

  • Matanya yang cemerlang saat menatap
  • Bergerak aktif, di mana gerakannya itu melibatkan tubuh, kepala, kaki, dan tangan secara seimbang. Terlihat lincah dan antusias jika diajak bermain.
  • Nafsu makannya baik
  • Tangisannya cukup bertenaga dan mudah ditenangkan lagi
  • Senantiasa responsif (tersenyum dan tertawa) ketika diajak bicara
  • Suhu tubuh normal yaitu 36,5-37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut
  • Kulitnya bersih. Jika terjadi luka goresan mudah sembuh
  • Giginya putih cemerlang. Warna gusinya merah muda dan tidak mudah berdarah
  • Kukunya kuat dan berwarna agak kemerahan
  • Rambut tidak kusam dan rontok
  • Tidurnya nyenyak dalam waktu yang cukup
  • Buang air besar dan kecil lancar

Tanda Bayi dan Balita Sakit

Sementara pada bayi dan balita yang sakit umumnya ditandai oleh:

  • Matanya tidak cemerlang dan terlihat sayu
  • Terlihat lemas dan malas bergerak
  • Lebih banyak tidur dari biasanya dan sulit untuk dibangunkan
  • Kurang respon terhadap lingkungan
  • Malas menyusui, minum dan makan
  • Suhu tubuh lebih dari 37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut. Hati-hati bila saat anak demam kulit teraba dingin atau anak menjadi diam dan lesu
  • Anak kesulitan bernafas yang ditandai nafas menjadi cepat, nafas berbunyi, dan usaha nafas anak meningkat (sampai terlihat anak nafas dari mulut, anak mengangkat pundak saat bernafas atau terlihat cekungan pada perut).
  • Menjadi rewel dan sulit ditenangkan
  • Kulit terlihat pucat, membiru atau berbintik-bintik
  • Muncul ruam-ruam di kulit yang biasanya tidak ada
  • Diikuti gejala susulan seperti hidung berair, batuk, muntah, mencret, kejang dan lain-lain, tergantung dari penyakit yang dialaminya.

Memang bayi dan balita umumnya sangat rentan terhadap beragam penyakit. Apalagi jika orangtua kurang optimal mencurahkan perhatian pada kesehatannya. Kecukupan asupan gizi yang tepat dan berimbang, jadwal imunisasi yang terpenuhi dengan baik, perawatan keseharian yang memadai, serta pembiasaan sikap hidup bersih dan sehat dalam keluarga, sangat menentukan kualitas kesehatan bayi dan balita Anda.

Namun, ada kalanya bayi dan balita tetap mengalami gangguan kesehatan, padahal perawatan telah diberikan secara optimal. Hal itu dapat terjadi karena beragam faktor. Misalnya penularan penyakit oleh virus atau bakteri yang terbawa melalui air atau udara, sistem kekebalan tubuh bayi yang sedang menurun, adanya faktor bawaan (genetik) dari orangtua, adanya wabah tertentu yang menyerang suatu daerah, dan sebagainya.

Untuk itu, kepekaan dan kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit yang diderita anak menjadi sangat penting. Di samping itu, moto mencegah lebih baik daripada mengobati kian relevan bagi keluarga dalam merawat dan membesarkan anak. Jangan lupa untuk membawa bayi balita anda ke tenaga kesehatan untuk diperiksa. Hindari mengobati anak sendiri tanpa informasi keamanan cara dan produk yang jelas. Semoga bermanfaat

Depok, 17 September 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi:

  1. J Robinson, et al. 2014. Evidence-Based Child Health: A Cochrane Review Journal. USA
  2. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 118
  3. Does your child have a serious illness?. NHS UK. 22/04/2014 http://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/pages/spotting-signs-serious-illness.aspx#close
Perilaku Makan

Perilaku Makan yang Salah Pada Anak Sekolah

Ketidaktahuan akan gizi yang baik pada anak ataupun orang tua menyebabkan anak sekolah sering berperilaku salah dalam mengonsumsi zat gizi. Berikut beberapa perilaku gizi yang salah pada anak sekolah.

Perilaku Makan yang Salah

  1. Tidak Mengonsumsi Menu Gizi Seimbang
    Menu gizi seimbang seharusnya menjadi pedoman bagi pola makan anak sekolah. Saat makan harus selalu tersedia:
    Sumber karbohidrat : nasi, roti, kentang, sereal
    Sumber protein : ikan, telur, daging, tempe, tahu
    Sumber lemak : margarine, minyak goreng
    Sumber vitamin-mineral : sayuran dan buah
    Untuk menyempurnakan ditambah dengan segelas susu.
  2. Tidak Sarapan Pagi  Makan pagi mempunyai peran penting bagi anak sekolah usia 6-14 tahun, yaitu untuk pemenuhan gizi di pagi hari dimana anak-anak berangkat sekolah dan memiliki aktivitas yang padat di sekolah. Apabila anak terbiasa makan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung prestasi belajar anak ke arah yang lebih baik.
  3. Jajan Tidak Sehat di Sekolah. Jajanan di sekolah bisa jadi kurang aman dari segi kebersihan atau produk kimianya. Apalagi beberapa pekan terakhir ini Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengungkapkan temuan tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia sekolah harus diperhatikan secara cermat dan serius.
  4. Kurang Mengonsumsi Buah dan Sayur. Anak sekolah di Indonesia umumnya kurang mengonsumsi sayuran. Ini disebabkan kurangnya kesadaran anak dan orang tua akan pentingnya zat gizi dari buah dan sayuran. Hal ini merupakan pola makan yang salah karena jelas tidak memenuhi gizi seimbang. Anak sekolah dapat mengalami kekurangan vitamin dan mineral yang berdampak pada tidak optimalnya pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak.
  5. Mengonsumsi Fast Food dan Junk Food. Makanan tersebut tidak memenuhi gizi seimbang, bahkan berbahaya bagi kesehatan karena padat kalori dan tingginya kandungan lemak, terutama asam lemak jenuh yang akan mengakibatkan kegemukan dan tingginya kolesterol dalam darah.
  6. Konsumsi Gula Berlebihan. Kelebihan konsumsi gula dapat mengakibatkan karies gigi dan diabetes. Karies gigi berasal dari mikroba yang mengfermentasi karbohidrat, sehingga terbentuk asam yang menyebabkan demineralisasi gigi. Hasil Riskesdas 2007, prevalensi anak usia di atas 10 tahun mengonsumsi makanan manis sebanyak 68,1%.
  7. Konsumsi Garam Berlebihan. Kelebihan konsumsi garam dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah meningkat. Akibatnya, volume dan tekanan darah naik sehingga mempermudah terjadinya hipertensi.
  8. Konsumsi Lemak Berlebihan. Bukti yang kuat menunjukkan bahwa asupan yang berlebihan dari asam lemak jenuh, asam lemak trans, dan kolesterol dapat menjadi plak yang menghambat aliran darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Depok, 4 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 11/14/2015

Referensi :
1. Girard M, et al. 2009. Breakfast Skipping is Associated with Differences in Meal Patterns Macronutrients Intakes and Overweight Among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume 12, Issue 1, pg 19-28. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18346309
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Judarwanto. 2006. Antisipasi Perilaku Makan Anak Sekolah. Rumah Sakit Bunda. Jakarta.

6 Langkah Mengatasi Masalah Gizi Anak

Masalah gizi anak, baik gizi kurang atau lebih, termasuk masalah yang sering dialami orangtua. Tentu perkara gizi tidak bisa diabaikan begitu saja. Gizi menjadi salah satu fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut poin-poin penting cara mengatasi masalah gizi pada anak yang perlu orangtua ketahui:

  1. Lakukan secara terus menerus evaluasi status gizi anak dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi anak, serta membandingkannya dengan diagram dari WHO. Bila anak berada dalam status gizi kurang atau lebih, segera konsultasikan dengan petugas kesehatan. Selengkapnya tentang cara membaca kurva WHO di sini.
  2. Perbanyak pengetahuan gizi bagi orang tua. Orang tua harus punya pengetahuan gizi karena gizi anak sangat ditentukan oleh orang tua sebagai pengasuh anak. Biasakan membaca buku-buku tentang gizi dan kesehatan anak, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dan kesehatan.
  3. Beri anak pendidikan gizi. Biasakan untuk memberikan informasi tentang makanan sehat dan bergizi pada anak. Orang tua bisa memberikan contoh makanan sehat dan makanan tidak sehat.
  4. Berikan anak menu gizi seimbang. Pilih makanan yang sehat buat anak, biasakan memasak sendiri makanan untuk anak agar bisa diketahui nilai gizinya.
  5. Hindari kebiasaan memberi makanan siap saji pada anak karena biasanya tidak segar, zat gizinya kurang lengkap karena tidak memenuhi syarat gizi seimbang, bahkan banyak mengandung zat berbahaya seperti pengawet, pewarna, dan penguat rasa.
  6. Latih anak untuk selalu mengonsumsi sayuran dan buah. Hindari jajanan yang mengandung banyak gula karena akan membuat anak merasa kenyang sebelum makan.

Selamat mencoba!

10/21/2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
2. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
3. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
4. Kementerian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Menteri tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta.
5. Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Tips Menggunakan Media Digital yang Bijaksana Pada Anak

Di era modern ini perkembangan teknologi amat pesat. Dahulu mungkin anak hanya terpapar oleh TV atau video games. Sekarang tidak jarang kita lihat anak bahkan bayi punya ‘mainan’ baru berupa smartphone, tablet, laptop dsb. Bahkan gadget mungkin sekarang sudah seperti ‘pengasuh’ yang bisa segera membuat anak anteng ketika rewel. Namun, terlepas dari manfaat media elektronik sebagai pendukung belajar, gadget juga dapat berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan psikologis anak.

Fakta Tentang Gadget/Media Elektronik

  • Daya tangkap anak <2 tahun berbeda dengan anak yang lebih besar. Mereka kurang bisa menangkap informasi yang disampaikan lewat video daripada disampaikan langsung. Penelitian menyebutkan bahwa anak <2 tahun yang menonton TV perkembangan kognitifnya tidak lebih baik daripada yang tidak menonton.
  • Kosakata anak didapat dari interaksi saat bicara langsung pada pengasuh. Penelitian membuktikan bahwa anak <2 tahun yang terlalu banyak menonton TV/video dapat mengalami keterlambatan bicara.
  • Saat TV disetel (meskipun bukan untuk ditonton anak), interaksi anak dengan orang dewasa berkurang. Media elektronik yang distel menjadi latar belakang saja bisa mengganggu proses kognitif anak, memori dan proses membaca.
  • Penggunaan media elektronik pada anak prasekolah dan usia sekolah dapat meningkatkan resiko obesitas, gangguan tidur, perilaku agresif dan gangguan atensi (konsentrasi). Pola tidur yang terganggu dapat mempengaruhi mood, perilaku dan proses belajar anak.
  • Dalam waktu 30 menit menggunakan teknologi sudah dapat menimbulkan gangguan fisik seperti gangguan mata, tidak makan dan kelelahan.
  • 2/3 anak dan remaja melaporkan bahwa orangtua tidak menerapkan aturan menggunakan media. Padahal, banyak anak kecil yang melihat film untuk remaja (PG-13 atau R) baik online, TV atau bioskop yang nyatanya mengandung adegan yang tidak sesuai untuk mereka. Penelitian menyebutkan bahwa 20% remaja menerima atau mengirim gambar berbau pornografi dari internet atau telepon selular.

Melihat dampak negatif ini tentu orangtua perlu segera menyadari bahwa gadget/media elektronik tidak selamanya bermanfaat. Meskipun saat ini banyak program/aplikasi khusus untuk bayi dan balita, tetapi interaksi langsung adalah proses belajar dan kehangatan yang mereka butuhkan. Tentu kita tidak dapat pungkiri bahwa meniadakan media digital dalam gaya hidup saat ini hampir tidak mungkin. Sehingga, orang tua perlu mulai langkah-langkah ini agar meminimalisir dampak negatif media. Berikut rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) mengenai penggunaan media :

  1. Pahami bahwa permainan acak, tidak terstruktur dan tanpa elektronik amat baik untuk perkembangan otak anak, memecahkan masalah, berpikir inovatif dan menumbuhkan logika. Bermain bersama anak tidak ternilai manfaatnya.
  2. Sebisa mungkin hindari sama sekali gadget untuk anak <2 tahun. Sebisa mungkin juga matikan TV di ruang tamu meskipun bukan anak yang menonton. Lebih baik membiarkan anak bermain masak-masakan di lantai sembari orangtua menyiapkan makanan daripada memberi gadget.
  3. Pahami pentingnya bercengkrama langsung dengan anak. Komunikasi dari wajah ke wajah, atau duduk dan membacakan cerita amat baik untuk perkembangan kognitif dan bahasa.
  4. Buat arena “Bebas teknologi” di kamar anak dan di acara keluarga. Hindari pemasangan TV di kamar anak. Charge semua gadget di malam hari agar anak tidak tergoda untuk menggunakannya. Jadikan makan malam, kumpul keluarga, sebagai momen spesial membina kedekatan dengan anak.
  5. Jangan gunakan teknologi untuk menghibur anak saat rewel. Media memang amat efektif membuat anak ‘anteng’. Tetapi perlu diingat bahwa cara ini bukan satu-satunya untuk menenangkan anak. Anak perlu diajarkan bagaimana mengatasi gejolak emosi yang kuat, mencari aktivitas untuk mengurangi kebosanan atau ditenangkan lewat latihan nafas, bicara untuk menyelesaikan masalah atau strategi lain untuk menyalurkan emosi.
  6. Untuk anak yang lebih besar (di atas 2 tahun), batasi penggunaan media maksimal <1-2 jam perhari. Saat anak menonton TV, film atau video, dampingi ia sambil berdiskusi mengenai nilai-nilai positif dari cerita tersebut.
  7. Perlakukan media sama seperti mengawasi lingkungan anak yang lain. Kenali apps/program yang digunakan, situs apa yang dikunjungi, aktivitas apa yang ia lakukan secara online dan siapa temannya di dunia maya.
  8. Jadilah contoh yang baik. Karena anak ialah peniru yang ulung, maka batasi juga penggunaan media oleh orangtua. Saat bersama anak, upayakan untuk berinteraksi dengan mengobrol, bermain, memeluk daripada menatapi layar bersama-sama.
  9. Saat mereka remaja, biarkan mereka menggunakan internet. Berinteraksi di sosial media di kalangan remaja sudah menjadi hal yang lumrah. Pastikan saja bahwa perilaku mereka baik di kehidupan sehari-hari atau di dunia maya tidak menyimpang. Ingatkan selalu bahwa setelan “privasi” pada sosial media tidak benar-benar “privat”. Apa yang mereka posting di sosial media akan tetap ada jejak digitalnya sampai kapanpun.
  10. Anak bisa saja melakukan kesalahan saat menggunakan media digital/internet. Cobalah berempati saat ia salah dan jadikan momen ini sebagai pelajaran berharga. Namun, perilaku seperti bertukar pornografi, bullying, posting foto yang membahayakan diri sudah menjadi “lampu merah” untuk orangtua mengambil langkah selanjutnya. Seperti mengawasi lebih ketat atau berkonsultasi kepada ahlinya (dokter anar, psikolog atau psikiater).

Agustina Kadaristiana,dr.

10/11/2015

Refernsi

1. Strasburger VC, Hogan MJ, Mulligan DA, Ameenuddin N, Christakis DA, Cross C, et al. Children, Adolescents, and the Media. Pediatrics. 2013 Nov 1;132(5):958–61.
2. Kids & Tech: 10 Tips for Parents in the Digital Age [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 11]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/Tips-for-Parents-Digital-Age.aspx
3. Brown A. Media Use by Children Younger Than 2 Years. Pediatrics. 2011 Nov 1;128(5):1040–5.
4. Smahel D, Wright MF, Cernikova M. The impact of digital media on health: children’s perspectives. Int J Public Health. 2015 Feb;60(2):131–7.

Gizi dan Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Tulang berfungsi menopang badan, melindungi alat tubuh yang vital seperti otak dan paru-paru. Tulang juga merupakan parameter penentu tinggi badan. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya memiliki tinggi badan yang ideal.

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa penting pertumbuhan dan pembangunan tulang. Sebesar 45% pertumbuhan massa tulang terjadi pada usia 0-10 tahun. Pada masa itu, tulang tumbuh memanjang. Ketika remaja, sekitar 45% massa tulang dewasa terbentuk sampai usia 18 tahun. Anak disebut pendek apabila tinggi per umur di bawah normal.

Gizi adalah batu bata penopang pertambahan tinggi badan yang merupakan salah satu indikator status gizi anak. Anak yang terbiasa memilih makanan kesukaan tanpa mempertimbangkan kandungan gizi, akan mengakibatkan terhambatnya pertambahan tinggi badan. Penelitian menunjukkan bahwa protein, vitamin, dan mineral mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan tinggi badan.

Protein
Setiap sel dalam tubuh kita mengandung protein. Pada tulang, protein berfungsi dalam pembentukan jaringan tulang yang baru dan penggantian jaringan tulang yang rusak. Protein juga berfungsi memperkuat otot sekitar tulang, sehingga tulang terpelihara.

Kalsium
Kalsium merupakan mineral terbanyak dalam tubuh dan 99% terdapat dalam tulang dan gigi. Sisanya terdapat dalam darah dan jaringan lunak. Kalsium berperan sebagai penyusun sel tulang, mendukung kerja sel osteoblas (pembentuk tulang), mengeraskan dan menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.

Fosfor
Fosfor berfungsi dalam mineralisasi tulang dan gigi. Sebanyak 80% fosfor tersimpan dalam tulang. Kristal mineral dibentuk selama kalsifikasi (pengerasan) tulang yang terdiri dari kalsium fosfat, komponen utama mineral kompleks yang membentuk struktur dan kekuatan pada tulang.

Vitamin D
Vitamin D membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta mineral. Vitamin D berfungsi membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.

Magnesium dan Seng
Magnesium berfungsi untuk mineralisasi dalam tulang. 50% magnesium tubuh terdapat dalam tulang. Seng berperan dalam pertumbuhan sel dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan tinggi badan. Keduanya berperan dalam pelekatan kalsium dan mineral lain di antara serat protein, sehingga memberikan kekuatan pada tulang.

Yodium
Bagian dari hormon tiroid ini berfungsi mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretinisme yang ditandai dengan tubuh yang kerdil, serta retardasi mental.

Depok, 6 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Kalkwarf et al. 2010. Tracking of Bone Mass and Density During Childhood and Adolescence. The Endocrine Society.
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
5. Bataviase. 2010. Protein dan Olahraga Cegah Patah Tulang. Bataviase. Jakarta

Agar Anak Tidak Mengalami Cemas Perpisahan

Apakah si kecil terlihat cemas dan menangis ketika jauh dari bunda? Apakah hal ini juga membuat bunda selalu merasa gelisah? Tenang bunda. Hal itu wajar karena si kecil sedang mengalami cemas perpisahan.

Separation anxiety atau cemas perpisahan merupakan hal yang lumrah yang menunjukkan bahwa anak memiliki kelekatan atau hubungan emosional yang baik dengan orang tuanya.1,2 Kondisi ini juga merupakan salah satu tanda berkembangnya aspek emosi dan kemampuan berpikir pada anak.1 Sebelum usia 6 bulan, bayi jarang menunjukkan reaksi negatif terhadap orang yang tidak ia kenal. Selanjutnya ketika memasuki usia 8 atau 9 bulan, bayi pada umumnya akan menangis, mendekap erat tubuh orang tuanya, membalikkan wajah, atau tubuhnya ketika ia akan ditinggalkan bersama orang asing. Perubahan ini terjadi karena pada usia tersebut bayi telah memiliki kemampuan object permanence – tahu bahwa orang tuanya sebenarnya ada walau tidak terlihat, serta telah mampu menggunakan daya ingatnya untuk membedakan wajah orang asing dengan wajah orang tuanya dan mengingat situasi dimana ia pernah ditinggalkan bersama dengan orang asing.

Meski demikian, usia terjadinya separation anxiety dapat berbeda pada masing-masing anak.3 Beberapa anak mungkin baru mengalami kondisi ini antara usia 18 bulan hingga 2.5 tahun, dan beberapa mungkin tidak pernah mengalaminya. Sementara itu pada beberapa anak lain, cemas perpisahan timbul ketika adanya kejadian tertentu seperti adanya pengasuh baru, saudara baru, atau pindah ke tempat yang baru. Pada banyak kasus, kecemasan yang timbul pada anak tidak berlangsung lama. Rasa cemas dan tangisan anak umumnya akan hilang setelah 3-4 menit mereka berpisah dari orang tua.2 Kondisi separation anxiety dapat menjadi sangat buruk ketika mereka merasa lapar, lelah, atau dalam kondisi yang tidak sehat. 4

bilde

Ada beberapa hal yang dapat orang tua lakukan agar si kecil tidak terlalu sedih atau cemas ketika harus berpisah sementara dari orang tua3,4:

  1. Perhatikan waktu
    Tidak disarankan bagi orang tua untuk memasukkan anak ke tempat penitipan anak atau sekolah antara usia 8 bulan hingga 1 tahun, dimana separation anxiety umumnya muncul pertama kali. Disamping itu, cobalah untuk tidak meninggalkan anak saat ia sedang lelah atau lapar. Jika memungkinkan, atur jadwal kepergian orang tua yaitu setelah anak tidur dan makan.
  2. Berlatihlah
    Latihlah diri anda untuk tidak selalu bersama dengan anak setiap saat, serta kenalkan anak pada orang dan tempat baru secara berkala. Jika anda berencana untuk menitipkan anak pada pengasuh yang lain, kenalkan anak dengan pengasuh tersebut terlebih dahulu dan berikan kesempatan pada pengasuh untuk bermain bersama anak dengan pengawasan anda. Apabila anak akan dititipkan di tempat penitipan atau akan mulai bersekolah, ajaklah anak untuk mengunjungi tempat tersebut sebelum anak mulai dititipkan atau bersekolah di sana.
  3. Ciptakan ritual dan tetap tenang
    Ciptakan ritual perpisahan dengan anak seperti dengan memeluk, mencium, atau melakukan gerakan-gerakan tertentu dengan penuh cinta. Lakukan hal tersebut dengan singkat dan konsisten. Jangan terlalu lama karena hal tersebut akan membuat anak semakin sulit berpisah dengan anda. Tetaplah tenang dan tunjukkan rasa percaya pada anak. Buatlah anak yakin bahwa anda akan kembali – jelaskan anda akan pergi kemana dan berapa lama anda akan berpisah dengannya dalam bahasa yang dapat dipahami anak (seperti, “Bunda akan pergi kerja ke kantor dan akan kembali setelah kamu mandi sore”). Ketika berpisah, berikan perhatian penuh kepada anak anda. Jangan lakukan salam perpisahan ketika anda sedang melakukan hal yang lain. Disamping itu, anda juga tidak disarankan untuk pergi diam-diam meninggalkan anak karena hal tersebut justru membuat anak semakin merasa cemas. Lebih baik melakukan salam perpisahan dengan cepat meski anak akan menangis atau berteriak karena biasanya hal tersebut akan berhenti beberapa saat.
  4. Tepati janji
    Pastikan bahwa anda benar-benar kembali sesuai dengan yang telah dijanjikan. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi terbentuknya rasa percaya anak terhadap anda serta kemandirian dan keyakinan bahwa ia mampu melalui waktu dengan baik meskipun tidak bersama orang tua.

Jika cemas perpisahan ini terus berlanjut hingga anak memasuki TK atau sekolah dasar, dan mengganggu aktivitas harian anda, diskusikanlah hal ini dengan dengan psikolog anak terdekat.

Aisha Salsabila, S.Psi

10/08/2015
Referensi
1 Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human development (11th Ed.). New York: McGraw-Hill.
2 Watkins, C.E. (2004). Separation anxiety in young children. Artikel. Nouthern County Psychiatric Associates. Diakses dari http://www.baltimorepsych.com/separation_anxiety.htm
3 Pendley, J.S. (2012, Januari). Separation anxiety. Diakses dari http://kidshealth.org/parent/emotions/feelings/sep_anxiety.html
4 How to ease your child’s separation anxiety. American Academy of Pediatrics. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/Pages/Soothing-Your-Childs-Separation-Anxiety.aspx

Keterampilan Motorik Anak

Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan gerakan-gerakan sadar dan terkoordinasi. Keterampilan motorik ditandai dengan berkembangnya pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir. Keterampilan motorik seorang anak sangat ditentukan faktor-faktor berikut:

  1. Perkembangan organ otak anak.
    Otak merupakan pusat koordinasi dari aktivitas motorik yang disadari. Sehingga apabila perkembangan otak terganggu, ada kemungkinan aktivitas gerak anak juga terganggu.
  2. Kemampuan anak mempersepsikan sesuatu di lingkungannya
    Pada tahap awal, kemampuan motorik anak sebenarnya perwakilan dari hasrat anak terhadap sesuatu. Misalkan, ketika anak melihat sebuah benda yang menarik perhatiannya, benda itu dipersepsikan dalam otaknya untuk dimainkan.
  3. Proses kematangan fisik anak.
    Perkembangan kemampuan anak terjadi secara bertahap.Tidak mungkin anak usia 6 bulan sudah langsung dapat berjalan.
  4. Kelengkapan organ tubuh anak
  5. Jenis kelamin. Pada anak laki-laki, kemampuan fisik yang bersifat atletis seperti berlari, melompat, dan melempar, lebih baik dibandingkan dengan anak perempuan.

Untuk lebih jelas, berikut beberapa manfaat atas pencapaian keterampilan motorik anak:

  1. Melalui keterampilan motorik, kepercayaan diri anak sedang diasah dan dimunculkan
  2. Dirinya akan merasa terhibur dan senang
  3. Menjadi sarana sosialisasi dan pergaulan anak
  4. Sesungguhnya anak sedang merintis jalan menuju pembentukan dan perkembangan kepribadiannya.

Jenis keterampilan motorik:

1. Motorik halus

Gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu untuk melakukan gerakan-gerakan kecil. Kemampuan ini dipengaruhi kesempatan yang diperoleh anak untuk belajar dan berlatih melakukan gerakan-gerakan itu. Misalnya, kemampuan menggenggam, memindahkan benda dengan jari jemarinya, mencoret-coret, menyusun balok, menyuap sendiri makanan ke dalam mulut, menulis, menggambar, menggunting, dan sebagainya.

2. Motorik kasar

Gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar untuk melakukan gerakan-gerakan besar. Kemampuan dari gerakan ini dipengaruhi oleh proses perkembangan kematangan organ-organ tubuh anak itu sendiri. Misalnya,tengkurap, mengangkat leher, duduk, berdiri, berjalan, berlari, menendang, naik atau turun tangga, memanjat, mengayuh sepeda dan sebagainya.

Cara yang dapat ditempuh agar perkembangan motorik halus dan kasar anak berkembang baik antara lain:

  1. Memberi stimulasi (rangsangan) pada motorik halus maupun motorik kasarnya
  2. Memberikan gizi yang cukup dan seimbang pada anak
  3. Menyediakan lingkungan yang mendukung

Depok, 5 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Barbara J Roeber, et al. 2012. Gross Motor Development in Children Adopted from Orphanage Settings. Departement of Psychology, University of Wisconsin-Madison.
2. Thomas Schack, et al. 2011. Representation and Anticipation in Motor Action. Faculty of Psychology and Sport Sciences, Bielefeld University, Germany.
3. Bartlomiej, Maria. 2012. Development of Selected Motor Skills in Boys and Girls in Relation toTheir Rate of Maturation – A Longitudinal Study. University School of Physical Education. Polandia.
4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 184

Gambar diunduh dari:

http://www.smartfirstgraders.com/image-files/boycutting.jpg

Rabun Jauh Pada Anak dapat Dicegah dengan Aktivitas Outdoor

Anak berkacamata bukan hal yang aneh lagi kita lihat di sekolah. Nyatanya, masalah mata minus, rabun jauh atau miopia sudah menjadi masalah epidemis pada remaja di kota-kota besar Asia Tenggara dan Asia Timur. Saat ini, 80-90% anak lulusan SMA memiliki masalah miopia dan 20% diantaranya membutuhkan lensa minus tinggi. 1,2

Riset terbaru dari Sun Yat-sen University in Guangzhou, Cina bisa jadi membuka perspektif baru tentang pencegahan efektif miopia pada anak. Pasalnya, hasil riset membuktikan bahwa aktivitas outdoor selama 40 menit tiap hari dapat mencegah perkembangan rabun jauh pada anak. 3

Indian children play at dusk on the outskirts of the eastern Indian city of Bhubaneswar, India, Thursday, June 20 2013. (AP Photo/Biswaranjan Rout)

(AP Photo/Biswaranjan Rout)

Penelitian ini melibatkan 1903 anak SD tanpa miopia dengan rata-rata usia 6.6 tahun. Kemudian anak-anak ini dikategorikan menjadi 2 grup : grup kontrol dan grup intervensi. Pada kelompok intervensi, anak dilibatkan dalam kegiatan lapangan selama 40 menit di tiap akhir jam pelajaran. Selain itu, saat liburan atau akhir pekan, anak diajak melakukan aktivitas outdoor di bawah partisipasi orangtua. Sebaliknya, tidak dilakukan tambahan aktivitas outdoor pada kelompok kontrol

Setelah tiga tahun, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan 9.1% dari insidensi miopia di dua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan 23% penurunan relatif (relative reduction) dari insidensi miopia. Meskipun peneliti menyebutkan angka ini kurang dari penurunan yang diantisipasi, hasil ini tetaplah bermakna dari segi klinis. Pasalnya, semakin muda anak mendapatkan miopia, semakin besar kemungkinan miopia menjadi berat.

Kesimpulannya, penambahan aktivitas outdoor selama 40 menit di sekolah pada anak usia 6 tahun di Guangzhou, Cina, menurunkan insidensi miopia sampai 3 tahun kemudian. Penelitian lebih lanjut tentu dibutuhkan untuk follow up perkembangan miopa anak-anak ini dan generalisir hasil riset.

Agustina Kadaristiana, dr.

09/19/2015

Referensi

1. Morgan I, Rose K. How genetic is school myopia? Prog Retin Eye Res. 2005 Jan;24(1):1–38.
2. Morgan IG, Ohno-Matsui K, Saw S-M. Myopia. Lancet Lond Engl. 2012 May 5;379(9827):1739–48.
3. He M, Xiang F, Zeng Y, Mai J, Chen Q, Zhang J, et al. Effect of Time Spent Outdoors at School on the Development of Myopia Among Children in China: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2015 Sep 15;314(11):1142–8.

6 Akibat Gizi Lebih Pada Anak

Dulu banyak orang tua menyenangi anak gemuk karena dianggap lucu dan menggemaskan. Kini diketahui bahwa kegemukan pada anak merupakan faktor pencetus terjadinya penyakit dan menurunkan usia harapan hidup. Gizi lebih akan berakibat timbulnya berbagai penyakit degeneratif.

Akibat Negatif Gizi Lebih Pada Anak

1. Memicu Depresi
Anak akan depresi karena bentuk tubuhnya tidak ideal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada pandangan buruk terhadap anak yang mengalami kegemukan. Anak sering diejek, susah berteman, dan tidak diikutsertakan dalam aktivitas tertentu, seperti olahraga, karena dipandang lamban yang akan menjadi titik lemah dalam tim.

2. Merusak Liver (Hati)
Saat lemak mulai menumpuk dalam tubuh, maka hati akan mendapatkan pengaruhnya. Penelitian mencatat kasus penyakit liver yang dapat menyebabkan sirosis, gagal hati, atau kanker hati kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak di negara maju seperti Amerika, Eropa, Australia, dan bahkan ada pula di beberapa negara berkembang.

3. Penyakit Jantung Koroner
Gizi lebih mengakibatkan kelebihan kalori dalam tubuh disimpan dalam bentuk lemak. Bila lemak dalam darah tinggi, biasanya dalam bentuk kolesterol dan trigliserida, maka akan terbentuk plak sehingga aliran darah dalam pembuluh tidak lancar. Akibatnya, jantung harus bekerja keras untuk memompa darah. Bila kondisi ini berjalan terus, akan memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

4. Diabetes
Diabetes dipicu oleh tingginya kadar gula dalam darah. Konsumsi sumber karbohidrat dan gula yang tinggi akan menyebabkan kadar gula darah naik. Akibatnya, insulin tidak mampu memetabolisme gula darah secara optimal sehingga sel kekurangan energy. Pada saat yang bersamaan, simpanan glikogen dalam hati akan dilepas ke pembuluh darah. Akibatnya, kadar gula darah semakin tinggi, tetapi tidak dapat dimetabolisme, sehingga orang yang bersangkutan makin kurus.

5. Stroke
Stroke diawali oleh profil lemak, seperti kolesterol dan trigliserida yang tinggi. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala defisit fungsi susunan saraf yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah di otak. Ditandai dengan kematian sebagian jaringan otak yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Gejalanya berupa kaku, menurunnya fungsi sensorik, kemampuan membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu, lidah lemah, daya ingat menurun, dan kebingungan.

6. Osteoarthritis
Kegemukan mengakibatkan gangguan pada sendi, terutama sendi lutut, karena lutut terbebani oleh berat badan yang berlebih. Hal ini dapat menyebabkan tulang rawan pada sendi menipis. Akibatnya, pergerakan sendi menjadi terbatas dan terasa nyeri, bahkan bisa menyebabkan peradangan. Inilah yang disebut osteoarthritis.

Depok, 2 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Dubois L, et al. 2007. Social Factors and Television Use During Meals and Snacks is Associated with Higher BMI among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume II, Issue 12, pg 1267-1279
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/08/Beban-ganda-masalah-gizi.pdf

Susu sapi berbahaya. Benarkah?

“Awas! Susu sapi hanya untuk sapi!”. Isu viral ini mungkin pernah kita dapat dari internet atau berita broadcast. Tidak tanggung-tanggung, para pakar anti-susu ini menyorot bahwa susu sapi dapat menyebabkan kanker, alergi, dan menghasilkan radikal bebas. Padahal, sejak dulu masyarakat selalu didorong untuk minum susu. Lalu, manakah sebenarnya pendapat yang benar?

Manfaat vs Resiko

Saat ini memang terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai manfaat susu dari para ahli. Di satu sisi, susu sapi sudah dikenal kaya nutrisi. Kandungan lemak susu sapi yang cukup tinggi (sekitar 50% dari total kalori) bermanfaat untuk anak terutama yang memiliki asupan lemak rendah. Susu juga memberi kontribusi yang signifikan untuk kalsium, zinc, magnesium, selenium, ribovlafin, vitamin B12 dan asam pantothenat. Meskipun perlu diingat bahwa susu sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah.1–4

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi anak Indonesia saat ini ialah stunting (postur pendek). Stunting dianggap masalah karena meningkatkan resiko kecatatan anak dan gangguan perkembangan kognitif. Postur pendek ditambah berat badan lahir rendah juga merupakan faktor resiko penyakit kronik saat dewasa. Penelitian menyebutkan bahwa memberi setiap pemberian 245 ml susu pada anak meningkatkan tinggi badan sebesar 0.4 cm. Susu sapi juga berperan penting dalam mengatasi gizi kurang dan buruk baik di negara berkembang maupun negara industri.3,5,6

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa susu sapi membawa resiko kesehatan bagi anak alergi, memiliki masalah pencernaan (misalnya intoleran laktosa) atau yang mengkonsumsi secara berlebihan. Diet tinggi lemak jenuh, seperti pada susu, disertai konsumsi makanan rendah serat dan olahraga dapat menyebabkan obesitas pada anak. Secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

Susu dan Kanker

Susu dan kalsium telah diduga memegang peran yang berbeda pada tiap-tiap kanker. Beberapa komponen dari susu seperti kalsium, vitamin D, sphingolipids, asam butirat dan protein diduga melindungi tubuh dari kanker. Secara khusus, kalsium dan vitamin D dalam susu bersifat protektif terhadap kanker kolorektal (WCRF dan AICR). 7–13

Konsumsi Susu Sejak Kecil dan Resiko Kanker

Pengaruh konsumsi susu sejak kecil berfokus pada efek susu terhadap IGF-1 (hormon pertumbuhan). Diet susu hewan yang tinggi telah diketahui dapat meningkatkan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang tinggi ini dapat meningkatkan resiko kanker prostat, payudara dan kolorektal. Studi Boyd Orr menemukan bahwa keluarga yang mengkonsumsi produk kaya susu sejak kecil memiliki resiko kanker kolorektal saat dewasa, berbeda dengan temuan dari WCRF. Namun, konsumsi susu saat anak-anak tidak berhubungan dengan kanker payudara dan lambung. 5,14

Konsumsi Susu Saat Dewasa dengan Resiko Kanker

Kadar galaktosa yang tinggi, gula yang dihasilkan dari pencernaan laktosa susu, diketahui berbahaya terhadap ovarium. Meskipun hubungan langsung antara susu dan kanker ovarium tidak serempak dilaporkan, namun ada potensi yang berbahaya mengkonsumsi laktosa yang tinggi. Penelitian yang melibatkan 500.000 wanita menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi laktosa yang tinggi (setara dengan 3 gelas susu per hari) mengalami resiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak.15

Diet tinggi kalsium juga diduga menjadi faktor resiko kanker prostat. Studi dari Harvard menemukan bahwa pria dewasa yang meminum 2 gelas atau lebih susu tiap hari beresiko mengalami kanker prostat dua kali lipat dibandingkan yang tidak. Hubungan ini lebih ditekankan pada konsumsi kalsiumnya daripada produk susu secara umum. 16,17

Kesimpulan

Agar masyarakat tidak bingung, Anda perlu pahami bahwa susu hewani bermanfaat sebagai bagian diet seimbang terutama pada anak di negara berkembang. Namun, konsumsi susu berlebihan secara jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa tidak disarankan karena dapat berpotensi menimbulkan obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, sampai kanker.

Susu hewani memang tidak dapat menggantikan manfaat dari ASI. Namun, anak di atas 1 tahun dapat diberikan susu hewan full cream sebagai susu rekreasi sebanyak 2 gelas. Setelah 2 tahun, beri anak susu rendah lemak sebanyak 2-3 gelas. Untuk orang dewasa, konsumsi kalsium dan produk susu yang cukup (1-2 gelas) bermanfaat untuk kesehatan tulang, menurunkan resiko darah tinggi dan kanker kolon sebagai bagian dari diet seimbang.18

HEPApr2013-1024x800

Bagi anak atau dewasa yang tidak dapat mengkonsumsi susu hewani karena alergi atau masalah pencernaan, Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dari sumber makanan lain. Susu hipoalergenik dapat menjadi pilihan untuk anak yang alergi. Kalsium dapat ditemukan di sayuran hijau, kacang-kacangan, jus dan susu kedelai yang difortifikasi kalsium. Jangan lupa penuhi kebutuhan protein, lemak dan mikronutrien dari daging, ikan, ayam serta sayur dan buah. 18

Agustina Kadaristiana, dr. 

09/12/2015

Referensi

1. Barger-Lux, M.J, Heaney, R.P., Packard, P.T., Lappe, J.M., & Recker, R.R. Nutritional correlations of low calcium intake. Clin Appl Nutr. 1992;2:39–44.
2. Fulgoni V, Nicholls J, Reed A, Buckley R, Kafer K, Huth P, et al. Dairy consumption and related nutrient intake in African-American adults and children in the United States: continuing survey of food intakes by individuals 1994-1996, 1998, and the National Health And Nutrition Examination Survey 1999-2000. J Am Diet Assoc. 2007 Feb;107(2):256–64.
3. Michaelsen KF, Nielsen A-LH, Roos N, Friis H, Mølgaard C. Cow’s milk in treatment of moderate and severe undernutrition in low-income countries. Nestlé Nutr Workshop Ser Paediatr Programme. 2011;67:99–111.
4. Hoppe C, Mølgaard C, Michaelsen KF. Cow’s milk and linear growth in industrialized and developing countries. Annu Rev Nutr. 2006;26:131–73.
5. De Beer H. Dairy products and physical stature: a systematic review and meta-analysis of controlled trials. Econ Hum Biol. 2012 Jul;10(3):299–309.
6. Parodi PW. Cows’ milk fat components as potential anticarcinogenic agents. J Nutr. 1997 Jun;127(6):1055–60.
7. Parodi PW. Conjugated linoleic acid and other anticarcinogenic agents of bovine milk fat. J Dairy Sci. 1999 Jun;82(6):1339–49.
8. Parodi PW. Dairy product consumption and the risk of breast cancer. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):556S – 68S.
9. Parodi PW. A role for milk proteins and their peptides in cancer prevention. Curr Pharm Des. 2007;13(8):813–28.
10. Garland CF, Garland FC, Gorham ED, Lipkin M, Newmark H, Mohr SB, et al. The Role of Vitamin D in Cancer Prevention. Am J Public Health. 2006 Feb;96(2):252–61.
11. German JB, Dillard CJ. Composition, structure and absorption of milk lipids: a source of energy, fat-soluble nutrients and bioactive molecules. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(1):57–92.
12. Holt PR, Bresalier RS, Ma CK, Liu K-F, Lipkin M, Byrd JC, et al. Calcium plus vitamin D alters preneoplastic features of colorectal adenomas and rectal mucosa. Cancer. 2006 Jan 15;106(2):287–96.
13. Van der Pols JC, Bain C, Gunnell D, Smith GD, Frobisher C, Martin RM. Childhood dairy intake and adult cancer risk: 65-y follow-up of the Boyd Orr cohort. Am J Clin Nutr. 2007 Dec;86(6):1722–9.
14. Genkinger JM, Hunter DJ, Spiegelman D, Anderson KE, Arslan A, Beeson WL, et al. Dairy products and ovarian cancer: a pooled analysis of 12 cohort studies. Cancer Epidemiol Biomark Prev Publ Am Assoc Cancer Res Cosponsored Am Soc Prev Oncol. 2006 Feb;15(2):364–72.
15. Edward Giovannucci, Eric B. Rimiti, Alicja Wolk, Alberto Ascherio, Meir J. Stampfer, Graham A. Colditz, Walter C. WilleÂ. Calcium and fructose intake in relation to risk of prostate cancer. CANCER Res. 1998;(58):442–7.
16. Food, nutrition, physical activity, and the prevention of cancer: a global perspective. Washington: World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research; 2007.
17. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
18. Calcium and Milk: What’s Best for Your Bones and Health? Harv Sch Public Health [Internet]. Available from: http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/calcium-full-story/#ref15

Gizi dan Kemampuan Kognitif Anak

Perkembangan kognitif meliputi perkembagan dalam hal intelegensia dan bahasa. Kemampuan kognitif seorang anak dipengaruhi oleh faktor herediter dan non herediter. Faktor herediter bersifat statis dan sulit untuk diubah, seperti keturunan. Sedangkan faktor non herediter termasuk peran gizi, pola asuh keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Zat gizi yang dibutuhkan otak sama halnya dengan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh secara keseluruhan. Otak membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, elektrolit, dan oksigen untuk bekerja. Jadi semua zat gizi penting untuk perkembangan dan kerja otak, namun ada beberapa zat gizi yang menjadi perhatian dalam perkembangan kemampuan kognitif.

Asam Lemak Omega 3

DHA merupakan asam lemak yang termasuk dalam omega 3 telah diakui dapat membantu kecerdasan anak. DHA penting untuk membrane saraf dan kerja neurotransmitter. Penelitian menunjukkan bahwa DHA dapat menjaga kemampuan kognitif di usia lanjut pula.Makanan sumber omega 3 adalah ikan salmon, ikan tuna, ikan tenggiri, sarden, udang, kerang, minyak ikan, kepiting, kacang-kacangan (flaxeeds, walnut, kedelai), kembang kol, dsb.

sources-of-omega-3

http://www.whfoods.com/

Yodium

Yodium sangat penting untuk perkembangan otak. Yodium adalah zat gizi mikro yang paling penting dalam mencegah gangguan otak yang dapat menimbulkan penurunan kemampuan intelektual, melambatnya psikomotor, dan menyebabkan keterbelakangan mental.

Studi menunjukkan bahwa defisiensi yodium memiliki efek negatif pada kinerja kognitif anak sekolah. Gejala defisiensi yodium dapat diatasi dengan suplementasi yodium. Kemampuan kognitif anak membaik pada anak yang mendapat intervensi perbaikan status yodium. Sehingga penting memberikan anak zat gizi ini dalam garam beryodium, rumput laut, skalop, ikan cod, sarden, salmon, daging, udang, tofu, kembang kol, dsb.

iodine

http://www.whfoods.com/

Zat Besi

Otak sensitif terhadap penurunan besi yang berasal dari diet. Beberapa area otak yang penting untuk kemampuan kognitif seperti korteks, hipokampus, dan striatum lebih sensitif terhadap defisiensi besi daripada area yang lain. Besi mempengaruhi mielinisasi saraf, merupakan kofaktor sejumlah enzim yang terlibat dalam sintesis neurotransmitter, termasuk serotonin, norepinefrin, dan dopamin.

Kadar hemoglobin yang normal akan memungkinkan seseorang mempunyai ketahanan dalam berkonsentrasi pada sesuatu, terutama belajar. Studi menunjukkan nilai anak yang kurang besi lebih rendah dibandingkan nilai anak dengan zat besi yang cukup. Agar anak Anda tidak kekurangan zat besi, penuhi kebutuhannya dari daging merah, makanan laut, bayam, brokoli, ubi, dan buah-buahan seperti stroberi, semangka, kurma, dsb.

iron

http://www.whfoods.com/

Depok, 7 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 09/08/2015

Referensi:
1. Bryan J, et al. 2004. Nutrient for Cognitive Development in School Aged Children. The Journal of Nutrition Reviews, Volume 26, no 8, pg 295-306
2. Gewa AC, et al. 2009. Dietary Micronutrients are Associated with Higher Cognitive Function Gains among Primary School Children in Rural Kenya. British Journal of Nutrition, volume 101, pg 1378-1387
3. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
4. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
5. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.

Tanya Jawab Seputar Imunisasi

Saat praktek sering sekali muncul pertanyaan dari orangtua seputar imunisasi. Dalam kesempatan kali ini, kami coba rangkumkan pertanyaan umum seputar jadwal, cara pemberian dan keluhan umum saat imunisasi. Mari disimak ya 🙂

Apakah boleh imunisasi saat sedang batuk dan pilek?

Boleh, sakit ringan seperti batuk, pilek, demam yang tidak tinggi (low grade fever), sebenarnya bukan penghalang atau kontraindikasi untuk imunisasi.  Namun jika anak Anda terlihat sakit sedang atau berat, imunisasi dapat ditunda.

Anak saya sudah mendapatkan suntikan kedua hepatitis B pada usia 1 bulan, dokter menjadwalkan suntikan selanjutnya usia 6 bulan. Namun karena lupa, suntikan kedua belum dilakukan, sekarang anak saya berusia 11 bulan. Apakah harus mengulang suntikan hepatitis B dari awal dan tetap efektif?
Imunisasi tidak perlu diulang, segera lanjutkan imunisasi yang sudah dilakukan. Interval yang memanjang ini juga tidak mengurangi keefektifan dari vaksin setelah seri dosis terlengkapi.

Suntikan DPT pertama tanggal 10 Februari 2014, suntikan kedua dijadwalkan 20 Maret 2014. Apakah boleh datang sebelum atau setelah tanggal 20 Maret?
Boleh, minimal jeda antar vaksin yang sama 4minggu (28 hari).

Anak saya mendapatkan suntikan Hib kedua hanya berjarak 26 hari dari suntikan Hib sebelumnya, haruskah diulang?

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan bahwa dosis vaksin yang diberikan hingga 4 hari sebelum usia minimum dan interval minimum tidak perlu diulang ( kecuali vaksin rabies). Namun jika >4 hari, tidak akan dihitung sebagai dosis yang valid dan harus diulang. Pada kasus ini karena merupakan vaksin inaktif dan jaraknya 26 hari tetap dihitung sebagai dosis ke 2. Namun ketika melakukan imunisasi harus selalu memperhatikan usia minimum dan jeda minimum ( 28 hari). Untuk vaksin hidup pastikan jeda yang diberikan 28 hari ya Ayah Bunda.

Untuk bayi dengan berat BB 2,3 kg apakah boleh diberikan vaksin hepatitis B?
Boleh, untuk hepatitis B minimal berat badan bayi 2 kg agar didapatkan respon imun yang bagus.

Anak saya mendapatkan imunisasi Hepatitis B hingga 4x, apakah berbahaya?
Tidak berbahaya.

Untuk imunisasi MMR apakah dapat menyebabkan autis dan harus menunggu anak bisa bicara dulu? 
MMR tidak menyebabkan autis dan tidak perlu menunggu anak lancar berbicara. Jadwal yang direkomendasikan IDAI yakni usia 15 bulan dan dosis kedua pada usia 5 tahun.

Apakah boleh menggunakan vaksin dengan merk-merk berbeda-beda, misalnya DPT pertama dengan infarix, DPT ke 2 dengan pentabio?
Sebisa mungkin sebaiknya menggunakan merk yang sama, namun jika merk vaksin yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak tersedia, merk vaksin yang berbeda dapat digunakan melengkapi seri dosis. Prinsip vaksin secara umum : ketidaktahuan atau ketidaksediaan merek yang sama bukan alasan menunda imunisasi.  Vaksin Hib sediaan tunggal ( bukan kombo), hepatitis B dan hepatitis A boleh berganti merk.

Apakah boleh dan aman menyuntikan beberapa vaksin di waktu kunjungan yang aman?
Ya, aman. Semua vaksin dapat diberikan secara bersamaan (simultan) dengan vaksin lain. Hanya pada keadaan khusus yaitu asplenia fungsional atau anatomi, vaksin PCV 13 dan meningococcal conjugate vaccine diberikan secara terpisah dengan selang 4 minggu.

Jika vaksin disuntikkan tidak pada kunjungan yang sama, berapa jeda minimal antar vaksin? 
Untuk vaksin inaktif ( hepatitis B, PCV, Hib, DPT-IPV) dapat diberikan kapanpun setelah suntikan vaksin mati maupun vaksin hidup. Misalnya tanggal 1 Agustus diberikan vaksin PCV, selanjutnya boleh diberikan tanggal berapapun untuk vaksin inaktif lainnya atau vaksin hidup.

Untuk jenis vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan intranasal influenza dapat diberikan bersamaan di hari yang sama. Jika diberikan di hari yang berbeda minimal jeda antar vaksin hidup adalah 4 minggu (28hari). Misal tanggal 1 Agustus diberikan vaksin varicella, jika ingin diberikan vaksin MMR dihari yang berbeda minimal jeda 28 hari, yakni 29 Agustus atau setelahnya. Namun jika vaksin selanjutnya yang diberikan adalah jenis vaksin inaktif dapat diberikan kapanpun misal tanggal 2 Agustus.

Berat badan anak saya saat ini sudah 5 kg, apakah saat ini sudah boleh imunisasi DPT yang ke 2?
Boleh tidaknya bergantung pada jadwal imunisasi, usia dan keadaan bayi. Bukan berat badan si bayi harus mencapai angka tertentu untuk mendapatkan imunisasi ke 2, ke 3, dst.

Apabila sebelumnya menggunakan vaksin PCV 7, selanjutnya menggunakan PCV 10 atau PCV13?
Saat ini PCV 7 (prevenar 7) telah diganti menjadi PCV 13( prevenar 13) yang lebih banyak strain kumannya, sedangkan PCV 10 merupakan merk yang berbeda (synflorix) dengan prevenar 13. Jika sebelumnya menggunakan PCV 7 selanjutnya dapat menggunakan PCV13.

Anak saya sekarang berusia 1 tahun dan belum pernah diimunisasi sama sekali, apakah masih bisa diimunisasi sekarang?
Masih, segera konsultasi ke dokter ya Bu untuk mengejar (catch up) imunisasi yang tertinggal.

Semoga bermanfaat.

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Imunisasi Anak Terbaru Menurut IDAI

Seiring mendekati waktu persalinan, Ayah Bunda semakin sibuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan bagi sang buah hati, nama yang indah dan terbaik, mempelajari berbagai ilmu merawat bayi, menyusui, ASI ekslusif . Namun jangan lupa mempelajari jadwal imunisasi juga ya. Setelah kelahiran si kecil, akan ada rutinitas baru yang Ayah Bunda akan sering lakukan yakni imunisasi.

Apa itu imunisasi?

Imunisasi aktif atau yang disebut juga vaksinasi berarti memasukkan zat (vaksin) untuk merangsang tubuh untuk membentuk antibodi atau kekebalan. Selain melalui vaksinasi, kekebalan aktif ini dapat timbul secara alami jika terkena penyakit tertentu.

Vaksin Aktif vs Vaksin Inaktif

Secari garis besar, terdapat jenis vaksin aktif atau kuman hidup yang dilemahkan seperti vaksin BCG, polio oral, rotavirus, tifoid, varicella (cacar air), campak, MMR ( campak, gondong, rubella) dan vaksin inaktif seperti vaksin DPT, Polio suntik (IPV), PCV, Hib, Hepatitis B, Hepatitis A.

Untuk vaksin inaktif (inactivated vaccines), jangan heran bila si kecil akan diberikan beberapa kali suntik dalam jeda waktu tertentu untuk jenis vaksin yang sama. Biasanya dosis pertama belumlah memberikan efek perlindungan (kecuali untuk vaksin hepatitis A). Respon imun perlindungan baru akan timbul setelah dosis ke 2 atau ke 3.

Vaksin inaktif seperti vaksin DPT, titer atau kadar antibodi dapat berkurang ke level tidak protektif setelah beberapa tahun sehingga diperlukan booster (tambahan dosis) dalam periode tertentu untuk meningkatkan kadar antibodi agar bersifat protektif. Namun tidak semua vaksin inaktif memerlukan booster, misalnya saja hepatitis B yang tidak memerlukan booster setelah 3 dosis terlengkapi, atau vaksin Hib yang hanya memerlukan 3x suntikan primer dan 1 kali booster pada usia 12-15 bulan, karena penyakit Hib sangat jarang diderita anak usia lebih dari 5 tahun.

Berbeda dengan vaksin inaktif, untuk vaksin hidup yang disuntikkan (live injected vaccines) akan bersifat tahan lama dan tidak memerlukan booster. Biasanya pada suntikan pertama telah mampu membentuk kekebalan pada tubuh, namun beberapa vaksin hidup seperti MMR direkomendasikan diberikan 2 dosis karena sekitar 2-5% orang tidak membentuk kekebalan sehingga diharapkan pada suntikan ke 2 akan terbentuk kekebalan atau antibodi.

Vaksin Subsidi vs Vaksin Berbayar

Dari segi biaya, ada dua macam imunisasi yakni disubsidi dan yang berbayar. Imunisasi yang gratis ini disubsidi pemerintah dan bisa Ayah Bunda dapatkan di puskesmas atau posyandu setempat. Sedangkan untuk imunisasi yang berbayar bisa didapatkan di rumah sakit atau klinik. Imunisasi yang saat ini disubsidi pemerintah antara lain BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, Hib, dan Campak.

Imunisasi yang tidak disubsidi bukan berarti tidak penting ya, karena saat ini hampir semua imunisasi direkomendasikan. Tak jarang ada yang mengatakan , `imunisasi yang wajib atau penting hanya imunisasi yang disubsidi`, padahal anggapan itu salah. Vaksin yang berbeda tentu akan mencegah penyakit yang juga berbeda. Meskipun imunisasi tidak mencegah 100% penyakit, namun jika terkena akan mengurangi keparahan penyakit tersebut. Yuk kita lihat apa saja dan kapan sih jadwal untuk imunisasi si kecil.

Tabel Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2014

Jadwal Imunisasi Anak

Usia 0 bulan : Hepatitis B-1, Polio-0, BCG
Usia 1 bulan : Hepatitis B-2
Usia 2 bulan : Polio-1, DPT-1, PCV-1, Hib-1, Rotavirus-1
Usia 4 bulan : Polio-2, DPT-2, PCV-2, Hib-2, Rotavirus-2
Usia 6 bulan : Polio-3, DPT-3, PCV-3, Hib-3, Rotavirus-3. Untuk vaksin rotavirus diberikan 3x jika vaksin yang digunakan merk rotateq, jika merk rotarix cukup 2x.
Usia 9 bulan : Campak-1
Usia 12 bulan : PCV-4, Varicella
Usia 15 bulan : Hib-4, MMR-1
Usia 18 bulan : Polio-4, DPT-4
Usia 24 bulan : Campak-2
Usia 2 tahun : Hepatitis A (diberikan 2x selang 6-12 bulan), Tifoid ( ulangan setiap 3 tahun)
Usia 5 tahun : DPT-5, Polio-5, MMR-2
Usia 10 tahun : Td, HPV (diberikan 3 kali)
Usia 18 tahun : Td

Bagaimana jika imunisasi terlalu cepat atau tidak sama dengan jadwal?

Pada dasarnya setiap jenis vaksin memiliki jeda/ interval minimal maupun yang direkomendasikan serta usia minimum dan direkomendasikan. Minimal jeda antar vaksin yang sama adalah 4 minggu (28 hari), sedangkan usia minimum berbeda-beda bergantung pada jenis dan jadwal imunisasi ke berapa.

Setiap vaksin sebaiknya diberikan tidak jauh dari jadwal yang direkomendasikan, serta tidak diberikan pada kurang dari minimal interval/jeda dan usia minimumnya. Pemberian vaksin yang kurang dari minimal interval akan membuat respon antibodi kurang optimal bahkan menjadi dosis yang invalid.

Pemberian Simultan

Beberapa vaksin dapat diberikan pada kunjungan yang sama atau disebut juga pemberian simultan (kecuali pada anak tertentu dengan kelainan anatomi). Pemberian simultan ini tidak akan mengurangi respon antibodi, jadi tidak perlu ragu untuk memberikan si kecil beberapa imunisasi bersamaan. Namun jika tidak diberikan bersamaan ada sedikit peraturan ya Ayah Bunda.

  • Bila vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin aktif influenza intranasal tidak diberikan pada kunjungan yang sama, maka harus menunggu jeda 4 minggu sebelum vaksin hidup yang lain disuntikkan. Jika jeda kurang dari 4 minggu, vaksin kedua yang disuntikan tidak dihitung (tidak valid) dan harus diulang lagi.
  • Antar dua vaksin inaktif atau antara vaksin inaktif dan vaksin hidup yang tidak diberikan pada kunjungan yang sama, boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda).
  • Antar vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin hidup oral ( tifoid, polio oral. rotavirus) juga boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda)

Semoga bermanfaat..

Arfenda Puntia Mustikawati,dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Bulan Vitamin A, Bulan Februari dan Agustus

Selain mengajak buah hati merayakan HUT RI, ayah bunda jangan lupa ya membawa anaknya ke Posyandu atau Puskesmas. Loh, memangnya ada apa? Pasalnya, setiap bulan Agustus dan Februari pemerintah membagikan kapsul vitamin A lewat Posyandu dan Puskesmas untuk diberikan kepada bayi dan balita. Sehingga tidak heran bila bulan-bulan ini disebut Bulan Vitamin A. Pemberian kapsul ini juga gratis! Tapi, apa pentingnya ya?

Manfaat Vitamin A

Kita mungkin sering mendengar bahwa Vitamin A (retinol) bagus untuk kesehatan mata. Ya, ini memang benar. Sel batang (rod cell) pada retina yang bertugas untuk penglihatan di malam hari dan mendeteksi gerakan, membutuhkan vitamin A untuk dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, vitamin A amat penting untuk menjaga integritas sel mata. Sehingga, apabila kekurangan dapat menyebabkan Xerophtalmia (kekeringan pada kornea dan konjungtiva) yang bisa berlanjut pada kebutaan (rabun senja). 1

figure2

Vitamin A juga berperan dalam tumbuh kembang, menjaga keutuhan sel epitel, fungsi imun dan reproduksi. Sehingga, pada anak yang kekurangan vitamin, resiko kecatatan akibat campak dan diare juga meningkat. Bahkan, riset membuktikan bahwa defisiensi vitamin A menyumbangkan 6% kematian balita di Afrika dan 8% di Asia Tenggara. Mengingat vitamin A tidak bisa diproduksi tubuh, penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin A dari makanan. Alternatifnya ialah suplementasi bagi negara berkembang yang memiliki masalah defisiensi vitamin A.1–3

Kondisi Kecukupan Vitamin A di Indonesia

Sejak tahun 1970-an, pemerintah Indonesia rutin mengadakan program suplementasi vitamin A. Sebabnya, kekurangan vitamin A sempat menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut WHO, defisiensi vitamin A menjadi masalah apabila:

  • Persentasi retinol < 20 µg/dl lebih dari 15%
  • Persentasi Xerophtalmia (X1B) lebih dari 0,5%.

Perlu disyukuri bahwa berdasarkan hasil riset SEANUTS (South East Asian Nutrition Survey, 2011), defisiensi vitamin A tidak lagi menjadi masalah kesehatan. Namun, program pemberian vitamin A tetap penting dilakukan karena banyak anak-anak di Indonesia yang kadar serum retinol (vitamin A) berada di ambang batas kekurangan. 4–7

Kemenkes, 2013

Kemenkes, 2013

Seperti Apa Vitamin A yang diberikan Puskesmas?

Suplementasi yang diberikan ialah vitamin A dosis tinggi. Terdapat 2 jenis kapsul vitamin A yang diberikan sesuai dengan usia yaitu:5

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

sasaran

Sumber : Depkes, 2009

Kapan Suplementasi ini diberikan?

Suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara serentak :5

  • Bayi usia 6-11 bulan diberikan pada bulan Februari atau Agustus (1x dalam setahun)
  • Balita usia 12-59 bulan diberikan pada bulan Februari dan Agustus (2x dalam setahun)
Bulan Vitamin A

Pemberian kapsul di Bulan Vitamin A

Apa Efek Sampingnya?

Efek samping pemberian vitamin A dosis tinggi bisa saja muncul dalam 48 jam setelah pemberian. Namun, efek sampingnya ringan, bersifat sementara dan tidak ada dampak jangka panjang. Diantaranya ubun-ubun menonjol pada bayi, mual, muntah atau sakit kepala pada anak lebih besar yang ubun-ubunnya sudah tertutup. 3

Apakah bayi kurang dari 6 bulan dan ibu nifas perlu suplementasi?

Saat ini WHO tidak lagi merekomendasikan suplementasi vitamin A rutin bagi bayi muda dan ibu nifas. Pasalnya, dari tiga penelitian  tidak ditemukan manfaat yang berarti dari pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi muda. Sebaliknya, ditemukan efek samping seperti diare dan ubun-ubun menonjol pada bayi kurang dari 6 bulan.

Mirip halnya pada ibu nifas, pemberian retinol dosis tinggi tidak menurunkan resiko kematian ibu dan bayi. Sehingga, ibu nifas lebih disarankan untuk makan bergizi yang seimbang. Pada bayi muda juga disarankan untuk terus diberikan ASI dengan catatan ibu memperhatikan kebutuhan gizinya dan buah hati. 8,9

Apakah ibu hamil perlu suplementasi vitamin A?

Ibu hamil yang tinggal di negara dengan tingkat kekurangan vitamin A yang sangat berat baru perlu diberi suplementasi. Namun, vitamin A yang diberikan hanya dosis kecil (25000 IU/minggu selama minimal 12 minggu). Hal ini disebabkan, vitamin A dosis tinggi berpotensi menyebabkan pada janin.1

Di Indonesia sendiri ibu hamil tidak di wajibkan mendapatkan suplementasi vitamin A. Ibu hamil bisa memenuhi kebutuhan vitamin A nya dari nutrisi. Penggunaan suplementasi vitamin A saat hamil perlu dibawah anjuran dokter atau bidan.

Sumber Vitamin A

Selain mengikuti program suplementasi vitamin A dari Puskesmas, orangtua juga perlu tahu makanan kaya akan vitamin A. Karena nutrisi alami, sehat dan seimbang ialah kunci dari pemenuhan gizi. Sumber vitamin A yang sehat misalnya :

  • Produk hewani : keju, telur, ikan, susu dan yoghurt
  • Nabati : bayam merah atau hijau, wortel, ubi, paprika merah, mangga, pepaya, aprikot.

http://visionsource-auburnfamilyoptometry.com/wp-content/uploads/sites/1645/2014/09/Vitamin-A.jpg

Hati hewan memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Artinya, terdapat resiko konsumsi retinol yang berlebihan bila dikonsumsi lebih dari 1x dalam seminggu. Hal ini perlu jadi perhatian terutama bagi ibu hamil. 10

Yuk, tunggu apalagi. Mari kita sukseskan Bulan Vitamin A ini yah. 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

08/20/2015

Referensi

1. Sassan Pazirandeh, MD, David L Burns, MD. Overview of vitamin A. Uptodate. 2015 Apr 21;
2. Chapter 7. Vitamin A. FAO [Internet]. Available from: http://www.fao.org/docrep/004/y2809e/y2809e0d.htm
3. Guideline: Vitamin A supplementation in infants and children 6–59 months of age [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44664/1/9789241501767_eng.pdf?ua=1&ua=1
4. Vitamin A Supplementation A DECADE OF PROGRESS. Unicef; p. 2007.
5. PANDUAN MANAJEMEN SUPLEMENTASI VITAMIN A. DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN; 2009.
6. Dr. Sandjaja. South East Asian Nutrition Surveys Regional Overview on Nutrition & Health Trends. PERSAGI;
7. PERKEMBANGAN MASALAH GIZI DAN PENGUATAN PELAYANAN GIZI DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI INDONESIA. Jakarta: Direktur Bina Gizi Ditjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI; 2013 Oktober.
8. Guideline: Neonatal vitamin A supplementation [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44626/1/9789241501798_eng.pdf?ua=1&ua=1
9. WHO | Vitamin A supplementation in postpartum women [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.who.int/elena/titles/vitamina_postpartum/en/
10. Choices NHS. Vitamins and minerals – Vitamin A – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/vitamins-minerals/Pages/Vitamin-A.aspx