Tag Archives: bayi

Apa Saja yang Dilakukan Janin Dalam Rahim?

Janin di perut Anda juga beraktivitas, lho! Selain tidur, hari-hari si kecil di perut Anda diisi dengan berbagai hal, mulai dari mimpi dan mengeksplorasi sekelilingnya sampai dengan berlatih peregangan dan mendengarkan suara-suara di dunia si kecil.

Menguap besar

Si kecil mulai bisa menguap di usia 11 minggu, dan ia menguap dua kali lebih sering daripada orang dewasa. Seperti halnya orang dewasa, janin menguap disertai gerakan meregang. Janin akan lebih sering menguap saat ia berada dalam periode aktif, yang sebenarnya ia sedang menguji coba proses membangunkan diri.

Berlatih akan menyempurnakan

Saat Anda berjuang agar bisa tidur cukup nyaman, si kecil justru tidak mengalami masalah tidur, bahkan ia menghabiskan rata-rata 90-95% waktunya untuk tidur. Ia akan mengalami tahap tidur dan periode bangun yang berbeda, dan hal itu berarti merangsang semua bagian otak dan melatih sistem sarafnya. Si kecil siap menghadapi tantangan yang akan segera datang.

Bangun bangun!

Selama ia terbangun, bayi Anda akan mengeksplorasi lingkungannya dengan menyentuh, menegangkan dan memanjangkan tubuh, menggerakkan tangan dan kakinya, dan bahkan memeluk erat tali pusarnya. Beruntunglah adik-adik si janin nantinya karena mereka akan mempunya ruang yang lebih besar untuk berjungkir balik karena rahim yang sudah pernah membesar.

Bunda dan aku

Si kecil ‘dimandikan’ oleh hormon Anda, sehingga emosi dan kebiasaan Anda akan memengaruhi ritme hidupnya. Kadar tinggi hormon stres akan memacu aktivitas si kecil. Sebaliknya, si kecil akan secara otomatis merasa rileks (detak jantungnya akan melambat) ketika ia mendengar suara Anda.

Bermimpilah pemimpi

Mulai awal trimester ketiga, si kecil memiliki pola tidur dan bangun yang teratur, termasuk di dalamnya adalah periode REM (rapid eye movement) yang menandai bahwa ia tengah bermimpi. Apa mimpi si kecil? Itu masih sebuah misteri, tapi ia mungkin melatih gerakan-gerakan yang ia pelajari atau ia mungkin membayangkan sensasi kehidupan di dalam rahim.

Tidak sinkron

Mungkin Anda merasa si kecil justru mulai menendang-nendang saat Anda ingin istirahat. Penjelasannya begini, si kecil sedang meregangkan tubuhnya karena saat Anda berbaring dan merasa nyaman serta otot perut Anda menjadi rileks, ia mendapat ruang lebih besar untuk bermanuver.

Siap keluar

Dengan semakin dekatnya masa persalinan, si janin akan memangkas waktu tidurnya, menjadi hanya sekitar 85%, seperti halnya bayi baru lahir. Di usia 32 minggu, otak dan sistem sarafnya sudah sematang sistem yang akan ia miliki di saat lahir nanti.

Sesuai jadwal

Begitu Anda berjumpa dengan si kecil, Anda dapat mulai menanamkan kebiasaan. Membiasakan si kecil terkena banyak cahaya di siang hari dan membiarkannya dalam gelap di malam hari akan memberi ide secara umum pada tubuh si kecil. Jadwal dan kebiasaan tersebut belum merefleksikan siklus siang dan malam sampai sekitar satu atau dua bulan setelah ia dilahirkan.

Apa saja aktivitas organ dalam tubuh janin?

Ginjal. Sejak minggu ke-21, si kecil mulai menelan cairan amniotik. Ginjal si kecil akan menyaring cairan itu dan menghasilkan air seni, yang kemudian ia keluarkan lagi ke cairan amniotik. Proses itu akan berlangsung terus.

Paru-paru. Sejak minggu ke-17, si kecil melatih pernapasannya dengan menghirup cairan amniotik, bukan udara. Sekitar minggu ke-26, paru-parunya menghasilkan surfaktan yang akan menggelembungkan paru-paru saat ia lahir.

Usus. Sejak trimester kedua, usus si kecil sudah berfungsi, memproduksi mekonium campuran berwarna hijau kehitaman yang berasal dari rambut, sel kulit mati, empedu, dan cairan amniotik.

Otak. Jumlah koneksi dalam otaknya selalu bertambah setiap saat. Dan kini si kecil mengembangkan refleks dan pola aktivitas serta istirahat.

Mata. Begitu kelopak mata si kecil terbentuk sempurna di minggu ke-27, ia akan mulai membuka matanya saat aktif dan menutupnya selama tidur.

Tangan dan kaki. Saat ia terbangun, si kecil sibuk merasai wajah dan tubuhnya, memegang tali pusar, dan menghisap jempolnya. Selain tendangan dan gerakan menekuk-meregang, ia juga menikmati seolah berjalan-jalan dalam rahim.

 

Depok, 7 Januari 2017

Reqgi First Trasia, dr.

 

Referensi :

  1. Giuseppe Misumeci, et al. Pregnancy, Embrio-Fetal Development and Nutrition: physiology around fetal Programming. Journal of Histology. University of Catania. Italia.
  2. Keith L Moore, et al. Fetal Growth and Development. The South Dakota Departement of Health. London.
  3. 2015. Prenatal Development: How Your Baby Grows During Pregnancy. Frequency Ask Question. The American College of Obstetrician and Gynecologist.
  4. J A DiPitreo. 2008. Prenatal Development. Elsevier Journal. Johns Hopkins University. USA.
  5. Sarwono Prawiroharjo. 2008. Buku Ajar Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono. Jakarta.

Virus Zika dan Serba-serbinya

Akhir-akhir ini informasi mengenai virus zika mulai menyebar luas, membuat kita semua khawatir terutama karena virus ini disinyalir merupakan penyebab mikrosephali pada bayi baru lahir di wilayah Amerika Selatan. Mums, mari kita kenali fakta-fakta unik mengenai virus zika untuk menghindari penyakit yang disebabkannya.

Penyebaran

Seperti halnya demam berdarah atau chikungunya yang telah lebih dulu menjadi endemik di beberapa wilayah di Indonesia selama musim tertentu, virus zika merupakan golongan flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Di wilayah tropis, nyamuk Aedes Aegypti menjadi jenis nyamuk yang menyebarkan virus ini. Oleh karena itu, salah satu poin penting pencegahan penyakit ini adalah melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Penularan

Selain melalui nyamuk, virus zika juga menular secara kongenital, perinatal (saat kelahiran), dan juga seksual. Kemungkinan cara penyebaran yang lainnya antara lain karena gigitan binatang seperti monyet, melalui transfusi darah, dan juga akibat paparan di laboratorium. Virus zika pernah terdeteksi terdapat pada ASI penderitanya namun belum dapat dibuktikan apakah virus ini juga menyebar melalui pemberian ASI.

Gejala

Virus ini juga menyebabkan gejala yang mirip dengan demam berdarah atau penyakit akibat virus lainnya. Gejala tersebut antara lain; demam, nyeri otot, konjunctivitis pada mata, ruam kemerahan, nyeri sendi, dan nyeri kepala. Gejala umumnya ringan dan bahkan pada kebanyakan kasus (80%) tidak bergejala sama sekali. Gejala yang terjadi juga dapat sembuh sendiri dalam rentang waktu maksimal 2 minggu.

Mikrosephali

Berita yang paling menggemparkan mengenai virus zika adalah kejadian microcephaly (kondisi dimana ukuran lingkar kepala bayi di bawah rata-rata ukuran kepala bayi dengan usia dan jenis kelamin yang sama) pada bayi di Brazil yang diduga disebabkan karena virus zika yang menginfeksi ibu hamil. Meski masih terus diteliti mengenai keterkaitan virus zika dan efeknya pada kehamilan, ibu hamil menjadi salah satu golongan yang harus waspada terhadap infeksi virus zika. Jika seorang ibu hamil baru pergi berpergian dari wilayah yang terkena wabah virus, sebaiknya  memeriksakan diri apakah terinfeksi atau tidak.

Pada orang dewasa, virus zika dapat mengakibatkan komplikasi neurologis seperti Guillain-Barre Syndrome, meningitis, dan meningoencephalitis. Virus ini jarang sekali mengakibatkan kematian.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang khusus untuk menyembuhkan virus zika. Istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, serta obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol merupakan terapi yang cukup efektif untuk mengurangi gejala yang terjadi.

Pencegahan

Pencegahan terutama dengan cara menghindari gigitan nyamuk. Gunakan lotion atau spray anti nyamuk, baju lengan panjang, dan juga pelindung saat tidur. Ibu hamil hendaknya berhati-hati dalam melakukan perjalanan, hindari mengunjungi wilayah yang terkena wabah.

Pada orang yang tinggal di daerah wabah sebaiknya menghindari hubungan seksual saat hamil atau menggunakan pelindung seperti kondom.

Irma Susan Kurnia, dr.

Sumber:

  1. Plourde, Anna M & Bloch, Evan M. 2016. A Literature Review of Zika Virus. EID Journal Vol 22 No 7 Cited Dec 2016. Available at wwwnc.cdc.gov
  2. World Health Organization. 2016. Zika Virus. Cited Dec 2016. www.who.int
  3. Meaney Delman et al.2016. Zika Virus and Pregnancy: What Obstetric Health Care Providers Need to Know. Obstetrics & Gynecology: April 2016 – Volume 127 – Issue 4 – p 642–648

 

Probiotik untuk Bayi?

Saya menjadi semakin percaya terhadap pemberian probiotik pada anak. Bukan karena apa-apa dan juga bukan karena saya mendukung pihak tertentu. Probiotik, pada dasarnya adalah bakteri “baik” hidup yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan (biasanya Lactobacillus Acidophilus di Amerika Serikat). Saat ini probiotik semakin banyak tersedia dan semakin sering direkomendasikan oleh para dokter.

Peran Probiotik Untuk Bayi

Peran mikroba di dalam kesehatan kita adalah topik yang seru. Probiotik diduga dapat meningkatkan kesehatan usus dengan cara mengembalikan atau meningkatkan jumlah bakteri baik sementara secara bersamaan dia juga menurunkan populasi bakteri yang berbahaya.

Bakteri di dalam usus merupakan bagian normal dari kesehatan saluran pencernaan, tetapi jumlah populasi bakteri dalam usus kita dapat berubah karena penyakit, penggunaan antibiotik, makanan yang dimakan/ dimodifikasi, ataupun perubahan-perubahan lain dalam hidup kita. Apa yang kita makan dan kemana kita pergi untuk minum air, mengubah apa yang hidup di usus kita. Penelitian juga menemukan dimana bakteri yang hidup bersama di tubuh kita dapat mempengaruhi penyakit-penyakit lain di luar usus seperti eksema, alergi, dan/atau asma.

Probiotik

Probiotik sebagai Bakteri ‘Baik’

Pada anak-anak, suplemen probiotik dapat mendukung penyembuhan dari diare akut dengan cara menurunkan jumlah episode diare dan lamanya waktu diare. Probiotik juga dapat mencegah munculnya diare pada anak-anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik. Kenyataannya adalah banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi populasi bakteri dalam tubuh kita. Hal ini dimulai sejak seseorang lahir. Kita mengetahui contoh pada bayi-bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar memiliki populasi bakteri yang berbeda pada tinja mereka ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara normal, dalam waktu seminggu setelah dilahirkan. Jadi sejak dari awal, pilihan-pilihan yang kita buat (atau yang orang tua kita buat) dapat mengubah lingkungan di dalam tubuh kita. Hal ini pada akhirnya dapat mengubah kesehatan kita. Sejumlah dokter mempelajari efek probiotik pada bayi kolik…

Probiotik sering ditemukan secara alami pada makanan (yogurt dengan kultur aktif) sementara beberapa yogurt dan makanan yang diperdagangkan (termasuk susu formula bayi) memiliki kultur probiotik tambahan (fortified by additional cultures). Anda juga dapat membeli kapsul Lactobacillus (atau probiotik lain) di toko obat dan makanan sehat. Seberapa aktif, dan seberapa banyak probiotik yang tersisa di dalam produk-produk ini? Ini masih menjadi perdebatan.

Di Amerika Serikat, suplemen probiotik (dan makanan yang difortifikasi dengan kultur) tidak diregulasi oleh FDA. Tidak diketahui berapa banyak bakteri yang ada di dalam sebuah kapsul probiotik dan mungkin juga ada perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya dari hari ke hari. Dan jika kultur probiotik mati, mereka hanya sedikit berpengaruh untuk mendorong perubahan di dalam tubuh. Sebagai konsumen, adalah mustahil untuk mengetahui apakah suplemen tersebut masih hidup.

Seperti yang telah dikatakan, walaupun pilihan probiotik di Amerika Serikat terbatas, literatur dan penelitian tentang mengubah bakteri pada seorang anak untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka merupakan hal yang sangat menarik dan menjanjikan. Selain Lactobacillus, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat mengenai probiotik. Tapi, kami belajar sangat banyak dari rekan kami di Eropa. Risiko pemberian suplemen bakteri baik ini terbukti sangat rendah pada anak-anak dengan sistem imun yang sehat. Namun seperti hal lainnya dalam ilmu kesehatan anak, secara teoritis, selalu ada resiko ketika kita mencoba untuk mengintervensi hasil penelitian ini.

Sebuah penelitian Italia pada jurnal Pediatrics menguji keuntungan probiotik untuk bayi yang rewel atau kolik. Para peneliti menemukan hasil positif pada bayi-bayi ASI yang menerima dosis harian Lactobacillus reuteri. Di Eropa, probiotik diregulasi dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan di Amerika Serikat (dan juga Indonesia). Jadi, terdapat kemungkinan data/ penelitian ini tidak dapat diaplikasikan kepada bayi-bayi kita karena kita tidak memiliki akses kepada suplemen yang sama. Tapi bacalah apa yang mereka temukan.

Pada penelitian tersebut:

  • Kolik ditetapkan menggunakan aturan 3 (rule of 3’s). Bayi kolik didefinisikan dengan usia dibawah 3 bulan yang menangis lebih dari 3 jam sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama paling sedikit 3 minggu.
  • Sekitar 50 bayi kolik yang ASI eksklusif dikelompokkan secara acak ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok bayi diberi suplemen plasebo/inert tanpa probiotik, sementara kelompok yang lain mendapatkan Lactobacillus setiap hari. Para orang tua dan peneliti tidak mengetahui bayi mana yang mendapatkan bakteri (penelitian double blind).
  • Diantara bayi kolik yang menerima probiotik, terdapat pengurangan yang bermakna terhadap lamanya waktu menangis harian pada akhir penelitian (21 hari) dibandingkan dengan kelompok plasebo.
  • Tangisan semakin membaik pada akhir penelitian di kedua kelompok, seperti yang diharapkan dengan kolik.
  • Peneliti juga menganalisa tinja dari kedua kelompok bayi dan menemukan populasi bakteri yang berbeda antara kelompok bayi. Mereka yang diberi probiotik memiliki jauh lebih banyak Lactobacillus di tinja mereka.
  • Para peneliti berteori bahwa perubahan lingkungan usus (bakteri, amonia) mungkin telah mengubah pengalaman sensorik pada bayi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perilaku menangis mereka.

Sulit membuktikan bahwa bakteri yang diberikan kepada bayi-bayi inilah yang bertanggung jawab langsung terhadap perbaikan tangisan tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok benar-benar terlihat. Dan walaupun terasa “aneh” bagi orang tua untuk memberi makan anak mereka dengan bakteri, setelah kami mendiskusikan keuntungannya, banyak orang tua yang memilih memberikan suplemen Lactobacillus kepada anak-anak mereka karena biayanya yang rendah dan mudah diberikan (dapat ditaburkan pada apa saja).

Jika bayi anda sering menangis dan anda mulai khawatir akan kolik, anda bisa berdiskusi dengan dokter anak anda untuk memulai pemberian suplemen Lactobacillus. Dengan risiko yang rendah, pemberian probiotik akan meredakan tangisan anak anda dan itu hal yang bagus bagi semua orang. Intinya adalah saya tidak berpikir probiotik akan berbahaya bagi bayi yang rewel, dan ini adalah penelitian baru yang mengindikasikan hal tersebut dapat benar-benar membantu.
Kalau begitu, berilah sesendok bakteri untuk bayi Anda!

DoctorMums Headshot

Written by Dr. Wendy Sue Swanson, pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and author of the Seattle Mama Doc Blog & Mama Doc Medicine. Learn more by following her onTwitter (@SeattleMamaDoc) and Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel diterjemahkan oleh Farah Suraya, dr. dengan izin dari Seattle Mama Doc. Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/a-spoonful-of-bacteria-for-baby/

Referensi

Savino F, Cordisco L, Tarasco V, Palumeri E, Calabrese R, Oggero R, et al. Lactobacillus reuteri DSM 17938 in Infantile Colic: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Pediatrics. 2010 Sep 1;126(3):e526–33.

Bolehkah Bayi Minum Air Putih?

Tidak jarang kita temui orangtua atau pengasuh yang sering mencicipi air putih pada bayi. Mungkin karena khawatir bayi masih haus dan ASI belum keluar banyak. Padahal, pada bayi yang diberikan ASI ekslusif tidak disarankan untuk diberi air putih. Hati-hati ya, ayah bunda, pemberian air putih pada bayi kurang dari 6 bulan bisa berbahaya untuk bayi.

Mengapa bayi minum air putih berbahaya?

Berbeda dengan anak atau orang dewasa, bayi yang diberi ASI tidak perlu air putih sebagai minuman tambahan meskipun cuaca panas atau anak sedang sakit. Memberi air putih pada bayi dapat meningkatkan resiko terkena diare, keracunan air atau malnutrisi. Air putih yang Anda berikan bisa saja mengandung kuman yang membawa penyakit pada bayi. Karena sistem kekebalan tubuh bayi masih rentan, bayi menjadi lebih mudah terkena diare atau muntah.

Selain itu, bila Anda memberi air terlalu banyak, bayi bisa mengalami ‘keracunan air’. Hal ini disebabkan ginjal bayi belum berkembang secara sempurna. Air putih yang terlalu banyak dapat menurunkan konsentrasi Natrium di dalam tubuh. Penurunan konsentrasi Natrium ini akan mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh dan menyebabkan sel menjadi bengkak. Sebagai akibatnya, aktivitas di otak bisa terganggu yang ditandai bayi menjadi gelisah, mudah mengantuk, kejang-kejang bahkan koma.

Air putih terlalu banyak dapat membuat sel bengkak

Air putih yang terlalu banyak dapat menyebabkan sel bengkak

Pemberian air putih pada bayi juga dapat membuat perut bayi kembung dan terasa penuh. Hal ini dapat membuat bayi menjadi kurang semangat untuk minum ASI. Bila bayi menjadi lebih jarang minum ASI, produksi ASI dari ibu juga bisa menurun. Selain itu, minum air terlalu banyak juga dapat mengganggu penyerapan nutrisi bayi dari ASI. Lama-kelamaan, bayi dapat mengalami malnutrisi atau kurang gizi.

ASI saja sudah cukup

Nutrisi pertama dan utama bagi bayi 0-6 bulan ialah ASI. Ayah bunda tidak perlu khawatir karena bayi tidak akan dehidrasi apabila hanya diberi ASI. Ayah bunda juga perlu ingat bahwa 80% kandungan ASI ialah air. Jadi, ia tidak perlu diberi minuman tambahan seperti air putih atau jus. Keuntungan lain dari memberi ASI ialah bayi akan mendapat sistem kekebalan tubuh dari ibu melalui ASI.

Pada kondisi di mana bayi tidak bisa minum ASI, susu formula bisa menjadi alternatif. Namun, pemberian susu formula juga tidak bisa sembarangan. Ayah ibu perlu perhatikan betul mengenai kebersihan air dan botol. Pemberian air putih untuk melarutkan susu formula juga harus sesuai dengan petunjuk masing-masing produk.

Bila bayi ibu sakit seperti diare atau kurang gizi, dokter mungkin akan memberi obat tetes, sirup vitamin atau mineral, atau cairan rehidrasi oral seperti oralit. Cairan-cairan ini aman diberikan untuk bayi namun hanya pada kondisi tertentu dengan petunjuk dokter dan dengan tetap meneruskan ASI.

Kapan bayi boleh minum air putih?

Bayi bisa diberikan air putih bila sudah memasuki usia 6 bulan. Saat ini bayi sudah semakin besar dan kebutuhan nutrisinya semakin meningkat. Sehingga pada usia ini, bayi sudah boleh diberi makanan atau minuman sebagai tambahan dari ASI.

Semoga informasi ini bermanfaat ya Ayah Bunda..

Agustina Kadaristiana, dr.

11/30/2015

Referensi

1. Drinking water can be harmful to smallest babies. Reuters [Internet]. 2008 May 21 [cited 2015 Nov 30]; Available from: http://www.reuters.com/article/2008/05/21/us-water-babies-idUSCOL16728820080521
2. Giving Water to a Baby [Internet]. [cited 2015 Nov 30]. Available from: http://www.whattoexpect.com/first-year/feeding-your-baby/giving-water-to-baby.aspx
3. pediatrician SRD. When can babies drink water? [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Nov 30]. Available from: http://www.babycenter.com/408_when-can-babies-drink-water_1368488.bc
4. WHO | Why can’t we give water to a breastfeeding baby before the 6 months, even when it is hot? [Internet]. WHO. [cited 2015 Nov 30]. Available from: http://www.who.int/features/qa/breastfeeding/en/

Tanda Bayi Cukup ASI

Saat pertama menyusui, ibu mungkin pernah merasa khawatir apakah ASI yang ibu berikan cukup. Terlebih lagi saat produksi ASI belum terlalu banyak di hari-hari pertama ia lahir. Lalu, bagaimana tanda bayi cukup ASI?

Tanda Bayi Cukup ASI

Tanda Bayi Cukup ASI

Tanda Bayi Cukup ASI

Menilai cukup atau tidaknya buah hati Anda mendapat ASI sebenarnya amat mudah. Secara kasat mata, bayi yang cukup ASI akan terlihat aktif, ceria, sehat, kulit yang segar dan kencang juga tumbuh dengan baik. Namun, untuk penilaian yang lebih pasti, Ayah bunda perlu memperhatikan produksi ASI, kondisi bayi, pola ia menyusu, berat badan serta pola buang air kecil dan besar. Berikut ini uraian mengenai tanda bayi cukup ASI yang perlu ayah bunda ketahui.

  1. Produksi ASI. Ayah ibu tidak perlu khawatir apabila hari pertama ASI Anda tidak banyak karena kebutuhan nutrisi bayi Anda juga masih sedikit. Teruslah berusaha menyusui saat bayi terlihat lapar. Selang 2-4 hari setelah melahirkan biasanya produksi ASI akan mulai melimpah. Payudara Ibu akan bertambah besar, berat, lebih hangat dan seringkali ASI menetes dengan sendirinya. Ini merupakan salah satu ciri produksi ASI cukup.
  2. Pola menyusui bayi. ASI ialah nutrisi pertama dan utama pada bayi. Sehingga, pada minggu pertama wajar bila bayi Anda sering menyusui. Salah satu tanda bayi cukup ASI ialah bayi menyusui 8-12 kali sehari dengan perlekatan yang benar secara teratur minimal 10 menit pada tiap payudara. Bayi juga akan tampak puas setelah menyusu dan seringkali tertidur saat menyusu terutama pada payudara yang kedua. Setelah bayi semakin besar, ia semakin handal untuk mengisap ASI. Jadi wajar apabila setelah minggu pertama frekuensi menyusui semakin berkurang menjadi 7-9 kali sehari dengan durasi yang lebih sebentar.
  3. Buang Air Kecil. Tanda bayi cukup ASI juga bisa dilihat dari apa yang ia keluarkan. Normalnya, bayi baru lahir akan buang air kecil >6x sehari dengan kencing berwarna jernih dan tidak kekuningan. Kencing yang berwarna pekat atau keluar butiran halus kemerahan bisa jadi menjadi tanda bayi Anda mengalami dehidrasi karena kurang ASI. Pee-Chart
  4. Buang Air Besar. Pola buang air besar juga bisa menjadi tanda bayi cukup ASI atau tidak. Bayi di bawah 1 bulan yang sehat umumnya akan buang air besar >4x sehari dengan volume paling tidak 1 sendok makan dan bukan hanya berupa noda membekas pada popok bayi. Feses berwarna kekuningan dengan terdapat butiran-butiran putih susu (seedy milk). Bila setelah hari ke 5 feses bayi masih hitam seperti ter (mekonium) atau hijau kecoklatan, mungkin ini tanda salah satu bayi kurang mendapat ASI. Anda tidak perlu khawatir bila bayi Anda buang air besar setiap kali menyusui. Hal ini merupakan perkara normal dan biasa terjadi. poo-changes
  5. Berat badan. Pada hari-hari pertama kehidupan bayi, normal apabila berat badan bayi turun sekitar 5-7% dari berat badan lahir. Namun, penurunan berat badan ini biasanya akan terhenti pada hari ke lima. Setelah itu, berat badan bayi akan perlahan naik dan kembali seperti berat lahir pada usia 10-14 hari setelah lahir. Bila bayi Anda mendapatkan cukup ASI, berat badannya tidak akan turun lebih dari 10% di hari-hari awal. Selain itu, berat badan bayi akan naik 15-40 gram per hari dengan ASI setelah minggu pertama.
  6. Hati-hati dengan nyeri puting. Puting payudara akan terasa sedikit sakit pada hari-hari pertama menyusui. Apabila sakit ini bertambah setelah 5-7 hari disertai dengan lecet, ibu perlu berhati-hati. Pasalnya, ini merupakan tanda bahwa bayi tidak melekat dengan baik saat menyusui. Apabila tidak segera ditangani, maka hal ini dapat menurunkan produksi ASI dan mengurangi kecukupan ASI pada bayi. Segera atasi dengan membetulkan posisi dan perlekatan bayi. Bila perlu, konsultasikan dengan konselor ASI atau tenaga kesehatan.

Semoga bermanfaat ya ayah bunda..

Agustina Kadaristiana, dr.

11/29/2015

Referensi

1. How can I tell if my baby is getting enough milk? Leche Leag Int [Internet]. 2006 Oct 29; Available from: http://www.llli.org/faq/enough.html
2. Maria Mexitalia. Air Susu Ibu dan Menyusui. In: Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. I. IDAI; 2011. p. 85.
3. Richard J Schanler, MD, Debra C Potak, RN, BSN, IBCLC. Initiation of Breastfeeding. Uptodate. 2015 Sep 9;

Tanda tanda Vital Bayi dan Anak

Tanda tanda vital ialah tanda yang menunjukkan fungsi penting tubuh manusia. Dari tanda-tanda ini bisa diketahui apakah seseorang relatif sehat, mengalami penyakit serius, atau menderita gangguan yang mengancam jiwa. Ada empat tanda tanda vital yang umum diperiksa oleh tenaga kesehatan yaitu denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan kondisi nafas. Semua orang yang masih hidup tentu memiliki tanda tanda vital. Namun, nilai tanda tanda vital ini bisa berbeda sesuai dengan usia, jenis kelamin, berat badan, dan kesehatan tubuh pada umumnya.

Pada anak, pemeriksaan tanda tanda vital ini amat penting dipelajari karena dapat mendeteksi dini adanya penyakit serius pada anak atau tidak. Hal ini amat bermanfaat karena anak bisa mendapatkan pertolongan segera dari dokter ketika sakitnya cukup serius. Pemeriksaan tanda tanda vital pada anak juga sebenarnya cukup mudah untuk dipelajari oleh orangtua atau pengasuh. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh hendaknya tahu dan paham cara pemeriksaan ini.

Tanda Tanda Vital 1 : Denyut Nadi

Denyut nadi yang dihitung menunjukkan berapa kali jantung berdetak dalam satu menit. Jumlah denyut nadi ini bisa berubah sesuai usia, jenis kelamin, aktivitas bahkan perubahan stress pada anak. Selain menghitung jumlah, dokter juga biasa menilai apakah irama nadi ini teratur atau tidak.

Pada bayi, denyut nadi biasanya diukur dengan meletakkan jari secara lembut di lipatan siku atau lipatan lutut dalam. Sedangkan pada anak yang lebih besar, denyut nadi bisa dihitung dari nadi pergelangan tangan. Setelah itu, denyut nadi dihitung selama satu menit menggunakan jam yang memiliki jarum atau stopwatch.

c5f001be2817adfc6f43064baafeeeb8

Tanda Tanda Vital 1 : Nadi

Berikut ini denyut nadi normal selama satu menit pada anak sesuai usia.

Usia Nadi saat anak bangun (kali/menit) Nadi saat anak tidur (kali/menit)
Bayi baru lahir s/d 3 bulan 85-205 80-160
3 bulan s/d 2 tahun 100-190 75-160
2 s/d 10 tahun 60-140 60- 90
>10 tahun 60-100 50-90

Pemeriksaan denyut nadi ini sebenarnya tidak perlu rutin dilakukan orangtua. Terkecuali bila memang buah hati Anda memiliki kondisi penyakit yang membutuhkan pemantauan denyut nadi secara berkala. Namun, ada kalanya pemeriksaan ini penting untuk dilakukan seperti saat :

  • anak mengeluhkan jantung berdebar-debar, nyeri dada
  • pingsan
  • kulit mendadak pucat atau bibir menjadi biru
  • sulit bernafas mendadak seperti pada asthma

Bila ada kondisi seperti ini, Anda sebaiknya segera membawa ke dokter.

Tanda Tanda Vital 2: Tekanan darah/Tensi

Pemeriksaan tekanan atau tensi darah pada anak cukup sulit dilakukan bagi awam. Selain itu, untuk mengukur tekanan darah anak dibutuhkan manset yang ukuran khusus sesuai usia mereka. Sehingga, tidak seperti pemeriksaan tanda tanda vital yang lain, pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Namun, mungkin pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu, dokter akan melatih orangtua untuk memeriksa tekanan darah anak.

pediatric's office nurse with patients

Tanda tanda vital 2 : Tekanan darah

Tidak seperti orang dewasa, pemeriksaan tekanan darah anak baru rutin dilakukan setiap tahun pada anak usia diatas 3 tahun. Pasalnya, tensi pada batita cukup sulit dinilai secara akurat. Terkecuali bila batita mengalami penyakit jantung atau ginjal yang cukup serius. Berikut ini ialah tekanan darah normal anak sesuai usia.

Perkiraan Usia Batas normal tekanan sistolik (mmHG) Batas normal tekanan diastolik (mmHg)
1-12 bulan 75-100 50-70
1-4 tahun 80-110 50-80
3-5 tahun 80-110 50-80
6-13 tahun 85-120 55-80
13-18 tahun 95-140 60-90

Tanda Tanda Vital 3 : Pernafasan

Masalah pernafasan ternyata menjadi penyebab nomer satu kegawatdaruratan pada bayi dan anak. Sehingga amat penting bagi orangtua untuk bisa menilai pernafasan yang normal dan tidak. Menilai pernafasan yang akurat paling baik dilakukan saat anak tidur atau istirahat. Anak sebaiknya tidak menyadari bahwa pernafasarnnya sedang dihitung. Sebab, bila ia sadar, anak bisa mengatur nafasnya seperti yang ia inginkan.

Pernafasan normal pada bayi dengan anak lebih besar ternyata berbeda. Bayi bernafas lebih cepat dan lebih tidak teratur. Terkadang bayi baru lahir bernafas cepat dan dalam lalu tiba-tiba nafasnya menjadi lambat dan dangkal. Jangan heran juga bila sewaktu-waktu ia menahan nafas selama beberapa detik. Hal ini disebut juga nafas periodik (periodic breathing) dan normal ditemukan pada bayi. Selain itu, bayi juga suka mengeluaran dengkuran halus saat ia tidur. Orangtua tidak perlu khawatir bila bayi bernafas seperti itu karena lambat laun pernafasannya akan menjadi matang dan teratur.

Cara menilai pernafasan

Menilai pernafasan anak amat mudah dilakukan. Caranya ialah dengan mengamati langsung atau memegang dada anak saat ia bernafas. Sementara itu, hitung seberapa banyak ia bernafas selama satu menit menggunakan jam dengan jarum atau stopwatch. Hal pertama pernafasan yang dinilai ialah upaya nafas. Apakah anak sulit bernafas atau tidak. Tanda anak sulit bernafas misalnya :

  • Wajah anak bisa seperti ketakutan dan terlihat panik
  • Anak bernafas melalui mulut. Hal ini bisa saja saluran nafas anak tersumbat atau anak sudah terlalu sesak.
  • Anak mengeluarkan suara yang tidak lazim saat bernafas seperti mendengkur atau mengi (bengek)
  • Hidung anak kembang kempis
  • Otot leher dan dada sangat terangkat saat bernafas. Bahkan terlihat cekungan yang nyata di leher, sela tulang iga dan perut. Dalam istilah kedokteran hal ini disebut retraksi.
  • Kulit anak menjadi pucat dan membiru di sekitar hidung dan mulut. Hal ini menandakan darah anak tidak mengangkut cukup oksigen dari paru-paru.
  • Nafas anak menjadi lebih cepat atau lambat dari yang normal.
60999-0550x0475

Tanda kesulitan bernafas

Adapun kecepatan bernafas anak yang normal sesuai usia ialah:

Umur Kecepatan nafas normal (kali/menit)
0-1 tahun 30 s/d 60
1-3 tahun 24 s/d 40
3-5 tahun 22 s/d 34
5-12 tahun 18 s/d 30
>13 tahun 12 s/d 16

Selain itu, lihat juga pola pernafasannya. Apakah teratur atau tidak. Bila orangtua atau pengasuh menemukan tanda-tanda sulit bernafas atau khawatir pola pernafasan anak tidak seperti biasanya, silakan hubungi tenaga kesehatan. Ada kemungkinan anak Anda butuh pertolongan segera.

Tanda Tanda Vital 4 : Suhu tubuh

Suhu pusat tubuh anak rata-rata antara 36.6oC – 37oC saat diukur lewat mulut dan 0.5oC lebih tinggi saat diukur dari dubur. Mengukur suhu tubuh penting dilakukan saat curiga anak mengalami demam. Pasalnya, demam bisa jadi pertanda anak Anda terkena infeksi, gangguan metabolisme atau penyakit lain. Ada beberapa cara mengukur suhu tubuh anak. Paling akurat ialah dari dubur meskipun cara ini terasa kurang nyaman. Selain itu, pengukuran dari mulut (di bawah lidah) juga bisa mendapatkan hasil akurat bila dilakukan dengan teknik yang benar. Cara ini berguna terutama pada anak lebih dari 4 tahun yang bisa kooperatif.

4343_image

Tanda tanda vital 4 : Suhu

Sebaliknya, pengukuran dari ketiak ternyata kurang akurat. Namun, cara ini masih bisa digunakan sebagai pemeriksaan awal pada bayi kurang dari tiga bulan atau pada anak yang lebih besar tetapi belum bisa menahan termometer dari bawah lidah. Demikian pula pemeriksaan suhu lewat telinga atau dahi, dimana hasil yang didapatkan kurang akurat. Orangtua tidak disarankan untuk menilai suhu anak hanya dari memegang kulit anak. Hal ini disebabkan hasil yang didapatkan tergantung dari suhu pemeriksanya.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/22/2015

Referensi

1. How To Take Your Child’s Pulse. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/firstaid_safe/emergencies/take-pulse.html
2. Normal Vital Signs: Normal Vital Signs. 2015 Sep 18 [cited 2015 Nov 22]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2172054-overview
3. Mark A Ward, MD. Patient information: Fever in children (Beyond the Basics). Uptodate. 2015 Aug 31;
4. Pediatric Vital Signs: Normal Heart Rate Chart [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Nov 22]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/pediatric_vital_signs/article_em.htm
5. Jan E Drutz, MD. The pediatric physical examination: General principles and standard measurements. Uptodate. 2015 Nov 18;
6. Vital Sign in Children. US Dep Health Hum Serv [Internet]. 2011 Jun 26; Available from: http://chemm.nlm.nih.gov/pals.htm#sec2
7. Your baby’s breathing: what’s normal. Babycenter [Internet]. 2012 Apr; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a558559/your-babys-breathing-whats-normala

Tanda Balita Sehat dan Balita Sakit

Kondisi balita yang senantiasa sehat tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Dengan begitu proses tumbuh kembang bayi dan balita dapat berlangsung lebih optimal. Sementara jika sang buah hati dirundung sakit, terlebih lagi jika sering, proses tumbuh kembangnya pun akan terganggu. Berikut ini tanda balita sehat dan sakit yang perlu orangtua ketahui.

Tanda Bayi dan Balita Sehat

Bayi dan balita sehat umumnya ditandai oleh:

  • Matanya yang cemerlang saat menatap
  • Bergerak aktif, di mana gerakannya itu melibatkan tubuh, kepala, kaki, dan tangan secara seimbang. Terlihat lincah dan antusias jika diajak bermain.
  • Nafsu makannya baik
  • Tangisannya cukup bertenaga dan mudah ditenangkan lagi
  • Senantiasa responsif (tersenyum dan tertawa) ketika diajak bicara
  • Suhu tubuh normal yaitu 36,5-37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut
  • Kulitnya bersih. Jika terjadi luka goresan mudah sembuh
  • Giginya putih cemerlang. Warna gusinya merah muda dan tidak mudah berdarah
  • Kukunya kuat dan berwarna agak kemerahan
  • Rambut tidak kusam dan rontok
  • Tidurnya nyenyak dalam waktu yang cukup
  • Buang air besar dan kecil lancar

Tanda Bayi dan Balita Sakit

Sementara pada bayi dan balita yang sakit umumnya ditandai oleh:

  • Matanya tidak cemerlang dan terlihat sayu
  • Terlihat lemas dan malas bergerak
  • Lebih banyak tidur dari biasanya dan sulit untuk dibangunkan
  • Kurang respon terhadap lingkungan
  • Malas menyusui, minum dan makan
  • Suhu tubuh lebih dari 37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut. Hati-hati bila saat anak demam kulit teraba dingin atau anak menjadi diam dan lesu
  • Anak kesulitan bernafas yang ditandai nafas menjadi cepat, nafas berbunyi, dan usaha nafas anak meningkat (sampai terlihat anak nafas dari mulut, anak mengangkat pundak saat bernafas atau terlihat cekungan pada perut).
  • Menjadi rewel dan sulit ditenangkan
  • Kulit terlihat pucat, membiru atau berbintik-bintik
  • Muncul ruam-ruam di kulit yang biasanya tidak ada
  • Diikuti gejala susulan seperti hidung berair, batuk, muntah, mencret, kejang dan lain-lain, tergantung dari penyakit yang dialaminya.

Memang bayi dan balita umumnya sangat rentan terhadap beragam penyakit. Apalagi jika orangtua kurang optimal mencurahkan perhatian pada kesehatannya. Kecukupan asupan gizi yang tepat dan berimbang, jadwal imunisasi yang terpenuhi dengan baik, perawatan keseharian yang memadai, serta pembiasaan sikap hidup bersih dan sehat dalam keluarga, sangat menentukan kualitas kesehatan bayi dan balita Anda.

Namun, ada kalanya bayi dan balita tetap mengalami gangguan kesehatan, padahal perawatan telah diberikan secara optimal. Hal itu dapat terjadi karena beragam faktor. Misalnya penularan penyakit oleh virus atau bakteri yang terbawa melalui air atau udara, sistem kekebalan tubuh bayi yang sedang menurun, adanya faktor bawaan (genetik) dari orangtua, adanya wabah tertentu yang menyerang suatu daerah, dan sebagainya.

Untuk itu, kepekaan dan kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit yang diderita anak menjadi sangat penting. Di samping itu, moto mencegah lebih baik daripada mengobati kian relevan bagi keluarga dalam merawat dan membesarkan anak. Jangan lupa untuk membawa bayi balita anda ke tenaga kesehatan untuk diperiksa. Hindari mengobati anak sendiri tanpa informasi keamanan cara dan produk yang jelas. Semoga bermanfaat

Depok, 17 September 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi:

  1. J Robinson, et al. 2014. Evidence-Based Child Health: A Cochrane Review Journal. USA
  2. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 118
  3. Does your child have a serious illness?. NHS UK. 22/04/2014 http://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/pages/spotting-signs-serious-illness.aspx#close

Menyanyi Dapat Membuat Bayi Tenang Lebih Lama

Apa yang Anda lakukan bila bayi kecil anda mulai gelisah dan hendak menangis? Secara naluri tentu kita ingin menghibur dengan cepat-cepat menghampiri, mengajaknya bicara, bermain, bernyanyi atau menggendong. Tapi pernahkah terpikir oleh ayah bunda manakah cara yang paling efektif membuat bayi tenang lebih lama?

Menyanyi dan Emosi Bayi

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Isabelle Peretz dari Universitas Montreal menyebutkan bahwa menyanyi di dekat bayi membuat bayi tenang lebih lama daripada sekedar bicara. Dalam penelitian ini dilakukan dua eksperimen pada 30 bayi sehat usia 6-9 bulan.

Pada eksperimen pertama, saat bayi tenang, bayi diperdengarkan rekaman suara orang dewasa atau nyanyian dari bahasa yang mereka tidak kenal (Bahasa Turki). Meskipun berada di ruangan yang sama, orangtua juga berdiri di belakang bayi saat eksperimen berlangsung. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan respon si kecil tidak dipengaruhi oleh kepekaan terhadap suara orang tua dan bahasa. Setelah itu, respon direkam sampai terlihat ekspresi negatif atau gelisah pada wajah. Sedangkan eksperimen kedua, dilakukan perlakuan yang hampir sama kecuali bayi diperdengarkan rekaman ibunya menyanyi dalam bahasa yang familiar bagi mereka (dalam penelitian ini bahasa Perancis).

Ternyata, hasil eksperimen menunjukkan bahwa bayi lebih lama tenang saat mereka mendengarkan musik meskipun saat itu bayi berada dalam ruangan yang steril, tanpa mainan, tanpa rangsangan visual atau sentuhan. Hal ini disebabkan perasaan bayi positif dan terhindar dari stress lebih lama saat mendengarkan suara wanita bernyanyi. Yang menarik, bayi justru lebih lama tenang saat mendengarkan suara nyanyian dari suara dan bahasa yang tidak familiar seperti eksperimen pertama. Saat eksperimen pertama, bayi lebih tenang selama 9 menit sedangkan pada eksperimen kedua bayi bertahan untuk tenang selama 6 menit.

gambar

Dari eksperimen ini, peneliti menyarankan untuk memperdengarkan lagu untuk bayi dengan irama dan tempo yang teratur bila ingin membuat mereka tenang lebih lama. Hal ini diduga dapat membuat bayi terhibur dan merangsang bayi untuk dapat memprediksi apa yang mereka dengar.Jadi, sudah siap mencoba menghibur bayi Anda dengan menyanyi? 🙂

Untitled

Agustina Kadaristiana, dr.

10/31/2015

Referensi

Corbeil M, Trehub SE, Peretz I. Singing Delays the Onset of Infant Distress. Infancy [Internet]. 2015 Sep 1 [cited 2015 Oct 31]; Available from: http://onlinelibrary.wiley.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/doi/10.1111/infa.12114/abstract

Gambar di unduh dari : http://mediafiles.parentscanada.com/Images/Articles/mom-playing-guitar-baby-620×400.jpg

Gendongan Bayi yang Aman seperti apa ya?

Gendongan bayi atau baby carrier juga menjadi salah satu kebutuhan yang dipersiapkan menjelang kelahiran buah hati. Ada beragam merk dan tipe alat bantu gendong yang tak ayal sering membuat orang tua kebingungan. Pada bayi kecil (newborn) masih banyak digunakan gendongan bayi tradisional seperti jarik, maupun alat gendong lain dalam posisi melintang. Sedangkan pada bayi yang lebih besar gendongan bayi ala kangguru seringkali menjadi pilihan para orang tua. Namun tidak semua gendongan bayi ala kangguru itu bagus. Desain dan penggunaan yang tidak tepat bukan hanya akan membuat orangtua dan bayi tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko displasia panggul (hip dysplasia).

Tips Memilih Gendongan Bayi

Lalu bagaimana memilih dan menggunakan gendongan bayi ala kangguru (baby carrier) yang tepat? Berikut ini tipsnya :

  • Pilih gendongan yang berkualitas baik, aman, telah teruji dan kuat
  • Nyaman untuk orang tua.
  • Pilih gendongan bayi yang membuat distribusi berat badan bayi merata sehingga tidak membuat bahu, leher maupun punggung Anda nyeri. Selain itu pilih juga gendongan yang mudah digunakan dan Anda dapat menggunakannya tanpa bantuan orang lain.
  • Nyaman untuk bayi.
  • Pastikan bahannya lembut dan tidak membuat bayi kepanasan.
  • Nursing-friendly. Pilih gendongan yang dapat juga digunakan untuk menyusui
  • Mudah digunakan dan dibersihkan
  • Baca petunjuk pemakaian, serta mematuhi usia dan berat minimal bayi yang direkomendasikan.
  • Sebelum menggunakan, bacalah petunjuk pemakaian terlebih dahulu dan lakukan simulasi sebelum mempraktekannya langsung pada bayi. Beberapa merk gendongan ala kangguru yang dilengkapi bagian tambahan berupa infant insert dapat digunakan sejak newborn dengan ketentuan berat bayi minimal tertentu. Infant insert ini akan membuat bayi kecil tetap dalam posisi ergonomis di dalam gendongan. Pastikan juga leher dan punggung bayi tersangga dengan baik serta kaki dalam bentuk frog position. Namun TIDAK SEMUA gendongan ala kangguru didesain untuk bisa digunakan sejak lahir, jadi jangan lupa baca petunjuknya dengan benar.  Untuk bayi yang belum dapat menegakkan kepala, gendongan juga harus dapat mensupport kepalanya dengan baik.
  • Posisi bayi di dalam gendongan.
    Dagu penggendong harus cukup dekat dengan kepala bayi sehingga dapat mudah mencium kepala bayi. Selain itu perhatikan posisi yang sehat untuk panggul bayi. Posisi yang direkomendasikan pada gendongan ala kangguru yaitu bayi seperti duduk dengan kaki terbuka lebar dan bukan menggantung.

Mengapa tidak boleh menggantung? 

Sejak di dalam kandungan bayi sudah terbiasa dalam posisi kaki yang menekuk (fleksi). Selama beberapa bulan awal kelahiran posisi kaki bayi secara natural adalah fleksi. Jika kaki bayi dipaksa untuk lurus terlalu dini, dapat menyebabkan displasia bahkan dislokasi panggul. Sehingga posisi terbaik saat menggendong adalah membiarkan panggul (hip) dengan posisi lebar yang disangga oleh paha. Posisi ini disebut juga jockey position, straddle position, frog position, spread-squat position atau human position. Posisi tersebut penting untuk menyokong perkembangan normal panggul bayi.

Sedangkan posisi yang sangat tidak sehat untuk panggul bayi dan balita adalah kebalikan dari posisi alami janin yakni ketika kaki lurus (ekstensi) dengan panggul dan lutut yang juga lurus. Jika posisi ini dilakukan dalam waktu lama, maka risiko terjadinya displasia dan dislokasi panggul semakin besar.

  • Pastikan jalan nafas bayi lancar saat menggunakan gendongan.
    Wajah bayi tidak boleh tertekan oleh gendongan, tubuh penggendong maupun pada baju. Saat bayi di dalam gendongan, orang tua harus dapat melihat mata dan wajah bayi, begitu juga sebaliknya. Dagu bayi juga tidak tertekan ke arah dada dan kaki bayi tidak boleh menekan perutnya. Hal ini dapat mengganggu pernafasan bayi.
  • Untuk bayi prematur atau dalam pengobatan medis konsultasikan ke dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan menggendong ala kangguru karena risiko kurang oksigen akibat sesak pada gendongan lebih besar. Selain itu pemakaian pada bayi yang berusia kurang dari 4 bulan juga harus lebih hati-hati.
  • Selama menggendong pastikan posisi bayi telah sesuai dan ergonomis.
  • Cek posisi dan keadaan bayi secara berkala.
  • Selalu pastikan semua perangkat gendongan (kancing, buckles, dsb) dalam kondisi yang baik saat digunakan.
  • Jangan gunakan gendongan bayi yang terlalu ketat yang dapat menyebabkan sesak dan bayi kepanasan (overheating)
  • Jangan gunakan gendongan bayi yang terlalu longgar yang berisiko menyebabkan bayi jatuh.
  • Segera kenali tanda tidak nyaman dan sesak pada bayi Anda.
  • Saat melepas gendongan, bayi harus terposisi dan tersangga dengan baik.
  • Hati-hati terhadap risiko jatuh, sesak nafas, kepanasan dan displasia panggul pada penggunaan gendongan yang tidak tepat.

Apapun merknya, pilihlah gendongan bayi yang sesuai dengan syarat kesehatan serta selalu membaca petunjuk pemakaian dengan benar.

Semoga bermanfaat.
Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/15/2015

Sumber:
1. Baby carriers, slings and backpacks: safety guide.
http://m.raisingchildren.net.au/articles/baby_slings_carriers_safety.html [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://m.raisingchildren.net.au/articles/baby_slings_carriers_safety.html
2. Baby slings and carriers. [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://healthycanadians.gc.ca/healthy-living-vie-saine/infant-care-soins-bebe/slings-porte_bebes-eng.php
3. How to buy a baby carrier. [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://www.babycenter.com/how-to-buy-a-baby-carrier?page=2
4. Infant and Child Hip Dysplasia ; Baby Carriers, Seats, & Other Equipment. [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://hipdysplasia.org/developmental-dysplasia-of-the-hip/prevention/baby-carriers-seats-and-other-equipment/

Gambar :
http://hipdysplasia.org/developmental-dysplasia-of-the-hip/prevention/baby-carriers-seats-and-other-equipment/

5 Perilaku Normal Bayi Menyusui

Setiap bayi terlahir dengan keunikannya sendiri. Bahkan gaya menyusuinya pun berbeda-beda. Perilaku menyusui bayi pertama kali dideskripsikan oleh Barner (1953).1,2 Ternyata, mengetahui tipe menyusui ini penting untuk mengatasi tantangan ASI juga mencapai kesuksesan menyusui. Apa saja ya tipenya?

1. Barracudas

Bayi dengan gaya Barracudas menyusui dengan tangan memegang putting sambil menyusu kuat selama 10-20 menit. Berdasarkan penelitian, mayoritas bayi menyusui dengan tipe Barracudas. Tetapi, tipe ini juga yang paling banyak menyebabkan ibu berhenti menyusui. Hal ini disebabkan bayi tipe ini terlalu bersemangat menyusui sampai menyakiti putting ibu. Sehingga ibu perlu pahami posisi menyusui dan latching (perlekatan puting) yang benar. Ada baiknya juga bila ibu mulai “pemanasan” memberi ASI sebelum ia benar-benar lapar. 2-4

2. Excited ineffective

Pada tipe ini bayi ingin sekali secara aktif untuk menyusui dengan putting yang dikeluarkan dan dimasukkan secara berulang-ulang ke dalam mulut. Bila usahanya tidak berhasil karena ASI tidak keluar, ia akan menangis atau mulai menjerit. Sehingga ibu perlu memeluk bayi dan menenangkannya sambil mendekatkan bayi ke payudara. Masalah lain yang mungkin muncul pada bayi tipe ini ialah sering kembung dan ASI yang tercecer. Kunci sukses menyusui bayi tipe ini ialah memberi ASI segera setelah ia bangun (agar ia tidak terlalu gelisah) dan sering membuatnya sendawa setelah manyusui. 2,4

3. Procastinators

Bayi procastinators menyusui dengan lambat dan terkesan enggan. Mereka terkesan tidak semangat menyusui dan menunda-nunda beberapa hari setelah lahir. Bayi ini mungkin yang paling “menguji kesabaran” ibu karena ingin cepat-cepat susu ASI (bukan kolostrum). Sehingga ibu sering tergoda memberinya susu botol. Tapi tenang saja, pada hari keempat atau kelima mereka baru menunjukkan kemampuan menyusui yang sebenarnya sudah bisa ia lakukan sejak awal. Kuncinya ialah sabar dan jangan cepat-cepat memberi susu formula.2-4

Mother breast feeding her baby with closed eyes

4. Gourmerts

Bayi yang menjilat dan merasakan ASI yang menetes terlebih dahulu sebelum benar-benar melekat pada putting. Apabila bayi dipaksa untuk cepat-cepat menyusui, maka bayi justru menolak dan mulai berteriak. Tetapi setelah beberapa menit merasa nyaman, bayi akan menyusui dengan baik. Berdasarkan penelitian, bayi Gourmerts paling jarang menyebabkan ibu berhenti memberi ASI. Kunci sukses menyusui bayi tipe ini ialah pengertian. Biarkan ia menikmati ASI tanpa bersikap tergesa-gesa.2-4

5. Resters

Bayi ini tidak melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Mereka menyusui bukan sekedar untuk “makan” tetapi ingin merasa “nyaman”. Tipe bayi yang lebih suka menyusu beberapa menit kemudian berhenti beberapa menit sehingga membutuhkan waktu menyusui yang lama. Bila ia tidak terburu-buru, seringkali bayi menyusui dengan baik meskipun lebih lama dari tipe menyusui yang lain. Ibu mungkin merasa bosan karena bayi resters menyusui dengan waktu yang lama. Tetapi ibu perlu bersabar, karena semakin besar, secara alami ia akan menyusu semakin cepat.2-4

Jadi, termasuk tipe menyusui manakah buah hati anda?

Agustina Kadaristiana, dr.

09/04/2015

Referensi

1. Maria Mexitalia. Air Susu Ibu dan Menyusui. In: Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. I. IDAI; 2011. p. 85.
2. Barnes GR, Lethin AN, Jackson EB, Shea N. Management of breast feeding. J Am Med Assoc. 1953 Jan 17;151(3):192–9.
3. Mizuno K, Fujimaki K, Sawada M. Sucking behavior at breast during the early newborn period affects later breast-feeding rate and duration of breast-feeding. Pediatr Int. 2004 Feb 1;46(1):15–20.
4. What Newborn Nursing Personality is Your Infant? [Internet]. [cited 2015 Sep 4]. Available from: http://www.the-essential-infant-resource-for-moms.com/Newborn-Nursing.html

Gambar di unduh dari :

http://www.pregnancyandbaby.com/the-hatch-blog/articles/968083/cdc-releases-2014-breastfeeding-stats

http://themominmemd.com/tag/breastfeeding-baby-that-bites/

Tanya Jawab Seputar Imunisasi

Saat praktek sering sekali muncul pertanyaan dari orangtua seputar imunisasi. Dalam kesempatan kali ini, kami coba rangkumkan pertanyaan umum seputar jadwal, cara pemberian dan keluhan umum saat imunisasi. Mari disimak ya 🙂

Apakah boleh imunisasi saat sedang batuk dan pilek?

Boleh, sakit ringan seperti batuk, pilek, demam yang tidak tinggi (low grade fever), sebenarnya bukan penghalang atau kontraindikasi untuk imunisasi.  Namun jika anak Anda terlihat sakit sedang atau berat, imunisasi dapat ditunda.

Anak saya sudah mendapatkan suntikan kedua hepatitis B pada usia 1 bulan, dokter menjadwalkan suntikan selanjutnya usia 6 bulan. Namun karena lupa, suntikan kedua belum dilakukan, sekarang anak saya berusia 11 bulan. Apakah harus mengulang suntikan hepatitis B dari awal dan tetap efektif?
Imunisasi tidak perlu diulang, segera lanjutkan imunisasi yang sudah dilakukan. Interval yang memanjang ini juga tidak mengurangi keefektifan dari vaksin setelah seri dosis terlengkapi.

Suntikan DPT pertama tanggal 10 Februari 2014, suntikan kedua dijadwalkan 20 Maret 2014. Apakah boleh datang sebelum atau setelah tanggal 20 Maret?
Boleh, minimal jeda antar vaksin yang sama 4minggu (28 hari).

Anak saya mendapatkan suntikan Hib kedua hanya berjarak 26 hari dari suntikan Hib sebelumnya, haruskah diulang?

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan bahwa dosis vaksin yang diberikan hingga 4 hari sebelum usia minimum dan interval minimum tidak perlu diulang ( kecuali vaksin rabies). Namun jika >4 hari, tidak akan dihitung sebagai dosis yang valid dan harus diulang. Pada kasus ini karena merupakan vaksin inaktif dan jaraknya 26 hari tetap dihitung sebagai dosis ke 2. Namun ketika melakukan imunisasi harus selalu memperhatikan usia minimum dan jeda minimum ( 28 hari). Untuk vaksin hidup pastikan jeda yang diberikan 28 hari ya Ayah Bunda.

Untuk bayi dengan berat BB 2,3 kg apakah boleh diberikan vaksin hepatitis B?
Boleh, untuk hepatitis B minimal berat badan bayi 2 kg agar didapatkan respon imun yang bagus.

Anak saya mendapatkan imunisasi Hepatitis B hingga 4x, apakah berbahaya?
Tidak berbahaya.

Untuk imunisasi MMR apakah dapat menyebabkan autis dan harus menunggu anak bisa bicara dulu? 
MMR tidak menyebabkan autis dan tidak perlu menunggu anak lancar berbicara. Jadwal yang direkomendasikan IDAI yakni usia 15 bulan dan dosis kedua pada usia 5 tahun.

Apakah boleh menggunakan vaksin dengan merk-merk berbeda-beda, misalnya DPT pertama dengan infarix, DPT ke 2 dengan pentabio?
Sebisa mungkin sebaiknya menggunakan merk yang sama, namun jika merk vaksin yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak tersedia, merk vaksin yang berbeda dapat digunakan melengkapi seri dosis. Prinsip vaksin secara umum : ketidaktahuan atau ketidaksediaan merek yang sama bukan alasan menunda imunisasi.  Vaksin Hib sediaan tunggal ( bukan kombo), hepatitis B dan hepatitis A boleh berganti merk.

Apakah boleh dan aman menyuntikan beberapa vaksin di waktu kunjungan yang aman?
Ya, aman. Semua vaksin dapat diberikan secara bersamaan (simultan) dengan vaksin lain. Hanya pada keadaan khusus yaitu asplenia fungsional atau anatomi, vaksin PCV 13 dan meningococcal conjugate vaccine diberikan secara terpisah dengan selang 4 minggu.

Jika vaksin disuntikkan tidak pada kunjungan yang sama, berapa jeda minimal antar vaksin? 
Untuk vaksin inaktif ( hepatitis B, PCV, Hib, DPT-IPV) dapat diberikan kapanpun setelah suntikan vaksin mati maupun vaksin hidup. Misalnya tanggal 1 Agustus diberikan vaksin PCV, selanjutnya boleh diberikan tanggal berapapun untuk vaksin inaktif lainnya atau vaksin hidup.

Untuk jenis vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan intranasal influenza dapat diberikan bersamaan di hari yang sama. Jika diberikan di hari yang berbeda minimal jeda antar vaksin hidup adalah 4 minggu (28hari). Misal tanggal 1 Agustus diberikan vaksin varicella, jika ingin diberikan vaksin MMR dihari yang berbeda minimal jeda 28 hari, yakni 29 Agustus atau setelahnya. Namun jika vaksin selanjutnya yang diberikan adalah jenis vaksin inaktif dapat diberikan kapanpun misal tanggal 2 Agustus.

Berat badan anak saya saat ini sudah 5 kg, apakah saat ini sudah boleh imunisasi DPT yang ke 2?
Boleh tidaknya bergantung pada jadwal imunisasi, usia dan keadaan bayi. Bukan berat badan si bayi harus mencapai angka tertentu untuk mendapatkan imunisasi ke 2, ke 3, dst.

Apabila sebelumnya menggunakan vaksin PCV 7, selanjutnya menggunakan PCV 10 atau PCV13?
Saat ini PCV 7 (prevenar 7) telah diganti menjadi PCV 13( prevenar 13) yang lebih banyak strain kumannya, sedangkan PCV 10 merupakan merk yang berbeda (synflorix) dengan prevenar 13. Jika sebelumnya menggunakan PCV 7 selanjutnya dapat menggunakan PCV13.

Anak saya sekarang berusia 1 tahun dan belum pernah diimunisasi sama sekali, apakah masih bisa diimunisasi sekarang?
Masih, segera konsultasi ke dokter ya Bu untuk mengejar (catch up) imunisasi yang tertinggal.

Semoga bermanfaat.

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Imunisasi Anak Terbaru Menurut IDAI

Seiring mendekati waktu persalinan, Ayah Bunda semakin sibuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan bagi sang buah hati, nama yang indah dan terbaik, mempelajari berbagai ilmu merawat bayi, menyusui, ASI ekslusif . Namun jangan lupa mempelajari jadwal imunisasi juga ya. Setelah kelahiran si kecil, akan ada rutinitas baru yang Ayah Bunda akan sering lakukan yakni imunisasi.

Apa itu imunisasi?

Imunisasi aktif atau yang disebut juga vaksinasi berarti memasukkan zat (vaksin) untuk merangsang tubuh untuk membentuk antibodi atau kekebalan. Selain melalui vaksinasi, kekebalan aktif ini dapat timbul secara alami jika terkena penyakit tertentu.

Vaksin Aktif vs Vaksin Inaktif

Secari garis besar, terdapat jenis vaksin aktif atau kuman hidup yang dilemahkan seperti vaksin BCG, polio oral, rotavirus, tifoid, varicella (cacar air), campak, MMR ( campak, gondong, rubella) dan vaksin inaktif seperti vaksin DPT, Polio suntik (IPV), PCV, Hib, Hepatitis B, Hepatitis A.

Untuk vaksin inaktif (inactivated vaccines), jangan heran bila si kecil akan diberikan beberapa kali suntik dalam jeda waktu tertentu untuk jenis vaksin yang sama. Biasanya dosis pertama belumlah memberikan efek perlindungan (kecuali untuk vaksin hepatitis A). Respon imun perlindungan baru akan timbul setelah dosis ke 2 atau ke 3.

Vaksin inaktif seperti vaksin DPT, titer atau kadar antibodi dapat berkurang ke level tidak protektif setelah beberapa tahun sehingga diperlukan booster (tambahan dosis) dalam periode tertentu untuk meningkatkan kadar antibodi agar bersifat protektif. Namun tidak semua vaksin inaktif memerlukan booster, misalnya saja hepatitis B yang tidak memerlukan booster setelah 3 dosis terlengkapi, atau vaksin Hib yang hanya memerlukan 3x suntikan primer dan 1 kali booster pada usia 12-15 bulan, karena penyakit Hib sangat jarang diderita anak usia lebih dari 5 tahun.

Berbeda dengan vaksin inaktif, untuk vaksin hidup yang disuntikkan (live injected vaccines) akan bersifat tahan lama dan tidak memerlukan booster. Biasanya pada suntikan pertama telah mampu membentuk kekebalan pada tubuh, namun beberapa vaksin hidup seperti MMR direkomendasikan diberikan 2 dosis karena sekitar 2-5% orang tidak membentuk kekebalan sehingga diharapkan pada suntikan ke 2 akan terbentuk kekebalan atau antibodi.

Vaksin Subsidi vs Vaksin Berbayar

Dari segi biaya, ada dua macam imunisasi yakni disubsidi dan yang berbayar. Imunisasi yang gratis ini disubsidi pemerintah dan bisa Ayah Bunda dapatkan di puskesmas atau posyandu setempat. Sedangkan untuk imunisasi yang berbayar bisa didapatkan di rumah sakit atau klinik. Imunisasi yang saat ini disubsidi pemerintah antara lain BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, Hib, dan Campak.

Imunisasi yang tidak disubsidi bukan berarti tidak penting ya, karena saat ini hampir semua imunisasi direkomendasikan. Tak jarang ada yang mengatakan , `imunisasi yang wajib atau penting hanya imunisasi yang disubsidi`, padahal anggapan itu salah. Vaksin yang berbeda tentu akan mencegah penyakit yang juga berbeda. Meskipun imunisasi tidak mencegah 100% penyakit, namun jika terkena akan mengurangi keparahan penyakit tersebut. Yuk kita lihat apa saja dan kapan sih jadwal untuk imunisasi si kecil.

Tabel Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2014

Jadwal Imunisasi Anak

Usia 0 bulan : Hepatitis B-1, Polio-0, BCG
Usia 1 bulan : Hepatitis B-2
Usia 2 bulan : Polio-1, DPT-1, PCV-1, Hib-1, Rotavirus-1
Usia 4 bulan : Polio-2, DPT-2, PCV-2, Hib-2, Rotavirus-2
Usia 6 bulan : Polio-3, DPT-3, PCV-3, Hib-3, Rotavirus-3. Untuk vaksin rotavirus diberikan 3x jika vaksin yang digunakan merk rotateq, jika merk rotarix cukup 2x.
Usia 9 bulan : Campak-1
Usia 12 bulan : PCV-4, Varicella
Usia 15 bulan : Hib-4, MMR-1
Usia 18 bulan : Polio-4, DPT-4
Usia 24 bulan : Campak-2
Usia 2 tahun : Hepatitis A (diberikan 2x selang 6-12 bulan), Tifoid ( ulangan setiap 3 tahun)
Usia 5 tahun : DPT-5, Polio-5, MMR-2
Usia 10 tahun : Td, HPV (diberikan 3 kali)
Usia 18 tahun : Td

Bagaimana jika imunisasi terlalu cepat atau tidak sama dengan jadwal?

Pada dasarnya setiap jenis vaksin memiliki jeda/ interval minimal maupun yang direkomendasikan serta usia minimum dan direkomendasikan. Minimal jeda antar vaksin yang sama adalah 4 minggu (28 hari), sedangkan usia minimum berbeda-beda bergantung pada jenis dan jadwal imunisasi ke berapa.

Setiap vaksin sebaiknya diberikan tidak jauh dari jadwal yang direkomendasikan, serta tidak diberikan pada kurang dari minimal interval/jeda dan usia minimumnya. Pemberian vaksin yang kurang dari minimal interval akan membuat respon antibodi kurang optimal bahkan menjadi dosis yang invalid.

Pemberian Simultan

Beberapa vaksin dapat diberikan pada kunjungan yang sama atau disebut juga pemberian simultan (kecuali pada anak tertentu dengan kelainan anatomi). Pemberian simultan ini tidak akan mengurangi respon antibodi, jadi tidak perlu ragu untuk memberikan si kecil beberapa imunisasi bersamaan. Namun jika tidak diberikan bersamaan ada sedikit peraturan ya Ayah Bunda.

  • Bila vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin aktif influenza intranasal tidak diberikan pada kunjungan yang sama, maka harus menunggu jeda 4 minggu sebelum vaksin hidup yang lain disuntikkan. Jika jeda kurang dari 4 minggu, vaksin kedua yang disuntikan tidak dihitung (tidak valid) dan harus diulang lagi.
  • Antar dua vaksin inaktif atau antara vaksin inaktif dan vaksin hidup yang tidak diberikan pada kunjungan yang sama, boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda).
  • Antar vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin hidup oral ( tifoid, polio oral. rotavirus) juga boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda)

Semoga bermanfaat..

Arfenda Puntia Mustikawati,dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Kiat Aman Bermain Air bagi Bayi dan Anak

Si kecil yang lucu pasti senang sekali bila main air dengan segala bentuk permainannya yang menyenangkan. Kolam renang, air mancur, pantai, bahkan di kamar mandi pun sudah bisa membuat anak-anak menikmatinya sebagai permainan yang seru. Namun, anak tetap harus mendapat pengawasan dari orang dewasa saat ia main air. Pasalnya, anak-anak bisa saja tenggelam di air yang menggenang dengan kedalaman minimal 5-6 cm.

Memang sebagian anak-anak senang main air, namun ada juga yang mengalami ketakutan dengan air atau aquaphobia. Belajar berenang dan melatih anak merasa nyaman di air adalah cara terbaik untuk mengatasi ketakutan ini. Kemampuan berenang penting dan juga sangat berguna untuk dimiliki semua anak-anak. Banyak orangtua yang mulai mengajari anaknya berenang di usia sedini mungkin. Namun walaupun anak-anak sudah bisa berenang, ketika melakukan aktivitas di air tetap harus mendapatkan pengawasan dari orang dewasa.

Untuk itu, orangtua hendaknya mengetahui hal-hal penting yang mungkin dapat menyebabkan bahaya ketika si kecil sedang di dekat atau di dalam air, dan beberapa tips yang akan diuraikan berikut ini.

Di Rumah

Mungkin rumah tampak sebagai tempat paling aman untuk anak-anak main, namun hendak selalu diperhatikan adanya bak mandi, westafel, toilet bowl, dapat menjadi sumber bahaya di rumah. Jangan tinggalkan anak-anak sendiri tanpa pengawasan terutama ketika ia mandi. Jauhkan hairdryer dan segala peralatan elektronik lainnya untuk menghindari risiko tersengat listrik. Ingat bahwa kulit anak-anak sangat sensitif terhadap suhu, air panas dapat berbahaya terutama pada anak-anak di bawah 5 tahun. Bayi dan balita dapat mengalami luka bakar bila suhu air terlalu panas (bila 3 detik anak terpapar suhu air 60o celcius dapat menyebabkan luka bakar derajat tiga). Untuk itu penting untuk mengetes air sebelum anak bersentuhan dengan air.

Di Pekarangan

Bila di rumah terdapat kolam renang pribadi di halaman, hendaknya dilengkapi dengan peralatan keselamatan. Memasang pagar di sekitar kolam renang dapat menjadi pelengkap keselamatan yang baik. Tinggi pagar sebaiknya berukuran minimal 130 cm tanpa adanya pegangan atau tempat berpijak yang bisa dipanjat anak-anak. Hendaknya terdapat pintu yang dapat dibuka-tutup dengan kunci yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak.

Di Kolam Renang

Orangtua harus mengajarkan anak-anak peraturan di kolam renang, seperti; tidak boleh berlarian, tidak boleh mendorong orang lain ke dasar kolam, tidak menyelam di daerah yang bukan untuk menyelam, keluar dari kolam saat hujan dan atau adanya petir, serta hubungi petugas keselamatan di sekitar kolam atau orang dewasa lainnya bila dalam bahaya. Ada baiknya juga menjauhkan mainan anak-anak dari kolam renang, bila tanpa pengawasan orang dewasa, karena dapat menjadi salah satu penyebab anak tenggelam ketika berusaha mengambil atau mengangkat mainannya dari dalam air.

Jangan tinggalkan anak-anak di kolam renang tanpa pengawasan orang dewasa (yang bisa melakukan resusitasi jantung paru/RJP) walaupun anak-anak sudah diajarkan berenang sejak kecil. Karena menurut American Academy of Pediatrics (AAP), latihan kemampuan berenang sejak dini tidak sepenuhnya mencegah terjadinya kasus tenggelam pada anak. Kemampuan berenang tiap anak dapat dibedakan dari seberapa sering ia ‘kontak’ dengan air, perkembangan emosi, kemampuan fisik, dan kondisi kesehatan berkaitan dengan penyakit yang dapat ditularkan di air dan bahan kimia di kolam renang.

Di Danau

Anak-anak sebaiknya diajarkan untuk tidak berenang sendirian di danau. Air yang kelihatan tenang sebenarnya tetap mengalir ke tempat yang dalam. Tepian danau tampak dangkal namun semakin ke tengah akan semakin dalam. Untuk itulah anak-anak yang berenang harus selalu dalam pengawasan. Mungkin juga terdapat bebatuan yang tersembunyi, pecahan kaca, dan sampah sehingga lebih baik menggunakan alas kaki khusus untuk di air, dan berhati-hati juga terhadap akar-akar pohon atau rerumputan yang mungkin dapat menjerat kaki.

Di Pantai

Ketika bermain di pantai bersama anak-anak lainnya, orangtua atau dewasa lainnya tetap harus memantau. Anak-anak harus diajarkan untuk berenang di tempat-tempat yang terdapat penjaga pantai dan petugas keselamatan. Jauhi dermaga atau tiang pancang di laut apabila pergerakan air membawa anak-anak ke arahnya. Dan selalu cek arus di pantai karena arus yang pasang dan kuat berbahaya untuk bermain air atau berenang. Jangan biarkan anak berenang ketika ombak besar. Pastikan anak-anak tetap memakai jaket keselamatan saat naik perahu atau permainan air lainnya.

Main di pantai juga tak luput dari panas matahari. Untuk bayi dan anak-anak, AAP merekomendasikan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung, dengan menggunakan pakaian yang tertutup, yang menutupi lengan dan kaki serta memakai topi yang menutupi wajah. Bila tidak ada, dapat menggunakan sunscreen minimal 15 SPF (Sun Protection Factor) untuk mencegah terjadinya sunburn.

Di Taman Air

Taman air atau waterparks tentu merupakan wahana yang seru untuk anak-anak bermain. Namun pastikan setiap taman air ini disertai petugas keselamatan yang selalu mengawasi. Pastikan wahana mana yang sesuai untuk usia anak, karena anak-anak yang lebih kecil biasanya akan terintimidasi oleh anak-anak yang lebih besar.

Dalam Keadaan Bahaya

Ketika anak hilang  saat bermain di dalam air, pertama kali cek lah ke dalam kolam. Karena kesempatan hidup bergantung pada seberapa cepat upaya penyelamatan dan kembalinya kemampuan bernafas secepat mungkin. Ketika menemukan anak di dalam air, segera angkat keluar dan mintalah bantuan. Cek jalan nafas apakah lancar atau tidak, dan apabila anak tidak bernafas segeralah lakukan RJP. Jika anak bernafas, posisikan miring untuk mempertahankan jalan nafas dan menghindari tersedak. Jika mungkin terdapat trauma leher, tetap pertahankan posisi telentang, dan letakkan lengan untuk menjaga posisi leher dan bahu stabil, sampai pertolongan datang.

Tips Bermain yang Aman untuk Bayi

Kapanpun bayi berenang atau bermain di air, basuhlah bayi dengan sabun lembut dan shampoo untuk menghilangkan bahan-bahan kimia yang ada di kolam. Bayi lebih mudah untuk terkena penyakit yang ditularkan melalui air. Setelah selesai mandi, keringkan juga bagian telinga bayi dengan menggunakan handuk, untuk mencegah swimmer’s ear yaitu infeksi telinga yang disebabkan oleh adanya air yang terperangkap di rongga telinga.

Bayi juga dapat menularkan penyakit di kolam renang. Parasit Cryptosporodium yang ditemukan di feses, dapat terlepas ke dalam air dari popok yang bocor. Bila tertelan oleh anak-anak yang sedang berenang, dapat menyebabkan diare, mual, muntah, penurunan berat badan, dan dehidrasi. Untuk itu, sebaiknya tidak melepaskan bayi ke kolam sebelum ia terlatih untuk ke toilet.

Bila bayi mendadak panas, atau bibir membiru, angkat dari kolam sesegera mungkin, keringkan dan selimuti agar hangat. Suhu air di bawah 29 derajat celcius dapat menyebabkan bayi kehilangan panas dengan cepat, yang beresiko hypothermia.

*****

Nela Fitria Yeral, dr. 

08/19/2015

Referensi

  1. Water Safety [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/firstaid_safe/outdoor/water_safety.html
  2. Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5, 6th Edition 2015. American Academy of Pediatrics. Available from: http://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-play/Pages/Water-Safety-And-Young-Children.aspx
  3. Dr. Lai Fon Min. ET AL. Pregnancy & Babycare Guide Vol.13 (Page 214-216): Splash Safety. March 2012.
  4. Sun and Water Safety Tips [Internet]. American Academy of Pediatrics. Available from: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/news-features-and-safety-tips/pages/Sun-and-Water-Safety-Tips.aspx
  5. Recreational Water Illnesses [Internet]. Available from: http://www.cdc.gov/healthywater/swimming/rwi/

Demam dan Ruam Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mengalami betapa pusingnya bila buah hati demam. Terlebih lagi jika muncul ruam kemerahan yang meluas pada kulit. Amat mungkin orangtua panik dan bertanya-tanya : apakah penyakit ini berbahaya? Menular? Ini campak atau bukan? Dan kegalauan lain yang sering disampaikan kepada dokter. Sebagai orangtua cerdas tentu ingin tahu, apa saja sih yang dapat membuat anak saya demam dan ruam?

Munculnya ruam kulit mendadak yang diikuti dengan demam atau gejala sistemik yang lain disebut dengan exanthema. Penyebab exanthem ini bermacam-macam, mulai dari infeksi, reaksi obat atau kombinasi dari keduanya. Namun, beberapa penyakit klasik yang dikenal ialah campak, demam skarlet, rubella, erythema infectiosum dan roseola infantum.1

Campak (Measles/Rubeola)

Campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus, famili Paramyxodiviridae. Penyakit campak menular lewat droplet atau tetesan air liur saat anak bersin dan batuk. Selain itu campak bisa ditularkan lewat udara meskipun lebih jarang.

Gejala
Demam, pilek, konjungitivits (peradangan pada selaput mata), bruntus merah dan bercak koplik’s (bintik-bintik putih di pipi bagian dalam)

Perjalanan penyakit
Masa inkubasi campak (Pertama kali anak terkena infeksi sampai timbul gejala) berlangsung sekitar 8-12 hari. Sedangkan masa penularan dimulai dari 5 hari sebelum muncul ruam sampai 4 hari setelahnya. Pertama kali timbul gejala anak biasanya mengalami demam, tidak enak badan, dan tidak nafsu makan. Kemudian diikuti dengan konjungtivitis, batuk, pilek dan munculnya bercak Koplik. Saat bercak Koplik memudar, muncul ruam merah disertai bruntus.

measles-boy-blotchyface

Campak (https://www.aap.org/en-us/PublishingImages/measles-boy-blotchyface.jpg)

Urutan bercak ini dimulai dari wajah, kepala, leher, sampai ke seluruh tubuh diikuti dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah 3-4 hari, ruam ini menjadi kecoklatan dan semakin lama-semakin hilang sesuai dengan urutan munculnya ruam. Ruam akan hilang dalam 6-7 hari sedangkan batuk masih bisa bertahan sampai 1-2 minggu.

Terapi :
Tidak ada terapi khusus untuk campak. Terapi hanya bersifat suportif misalnya obat penurun panas. Vitamin A biasanya diberikan untuk mencegah komplikasi defisiensi vitamin A dan xerophtalmia (selaput mata kering akibat kekurangan vitamin A).

Komplikasi :
Diare, infeksi salura nafas, otitis media (radang telinga tengah) dan radang otak (ensefalitis).

Pencegahan :
vaksin MMR.2–4

Demam Skarlet/Scarlatina

Demam skarlet merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri grup A Streptococcus. Penyakit ini sering dijumpai pada anak usia 5-12 tahun. Biasanya gejala demam skarlet relatif ringan namun perlu diobati dengan antibiotik untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Penyebaran :
Paling sering lewat droplet saat orang yang terinfeksi batuk, pilek atau berbagi alat makan yang sama. Bisa juga melalui kontak dengan infeksi kulit grup A streptococcus.

Gejala :
Tenggorokan yang radang dan sangat merah, demam tinggi, ruam merah kasar seperti amplas, ruam merah terang di lipatan kulit, lidah “strawberry” (merah dan berbintil), lapisan putih di lidah dan tenggorokan, sakit kepala, mual muntah, nyeri perut, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit badan.

Perjalanan penyakit :
Masa inkubasi berlangsung 2-5 hari. Gejala dimulai dari demam, muntah nyeri perut, lidah bengkak, memerah dan berbintil “strawberry tongue” disertai lapisan putih. Ruam muncul 1-2 hari setelahnya dari leher, ketiak, selangkangan lalu seluruh tubuh. Awalnya bercak berupa ruam mulus kemerahan lalu berangsur muncul bruntus kasar seperti amplas. Bercak ini biasanya akan hilang selama 7 hari sampai beberapa minggu.

Terapi :
Antibiotik

Komplikasi :
Demam rematik, penyakit ginjal, otitis media (radang telinga tengah), infeksi kulit, abses tenggorokan, pneumonia (infeksi paru), arthritis (radang sendi).

Pencegahan :
cuci tangan dan jangan berbagi alat pribadi seperti alat makan, handuk, atau kain. Anak yang terkena demam skarlet harus izin sekolah paling tidak 24 jam setelah dimulai antibiotik.4,5

Rubella (Campak Jerman/ Campak 3 Hari)

Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan Togaviridae. Penyakit ini ditularkan melalui droplet cairan hidung dan mulut. Masa inkubasi berlangsung 2-3 minggu.

Pada anak gejala yang dialami biasanya ringan dan dicirikan oleh ruam merah disertai bruntus seluruh tubuh, pembengkakan kelenjar getah bening dan demam ringan. Ruam dimulai dari wajah, langsung menyebar di seluruh badan dalam 24 jam dan bertahan sekitar 3 hari. Oleh sebab itu, Rubella disebut campak 3 hari. Masa penularan yaitu 1 minggu sebelum ruam muncul sampai 1 minggu setelah ruam hilang.

Rash_of_rubella_on_back_(crop)

Rubella (CDC)

Terapi :
Suportif
Komplikasi :
Ensefalitis (radang otak), trombositopenia (trombosit rendah)
Pencegahan :
Vaksin MMR (Measles, Mumps, and Rubella)4,6,7

Erythema Infectiosum/Fifth Disease

Erythema Infectiosum ialah penyakit ruam ringan akibat infeksi dari Parvovirus B19. Penyakit ini ditularkan melalui kontak cairan saluran nafas, darah, dan transmisi vertikal dari ibu ke janin.Saat paling menular justru sebelum muncul ruam atau nyeri sendi. Masa inkubasi rata-rata 4-14 hari sampai 21 hari.

Perjalanan penyakit :
Biasanya gejala dimulai dari demam sumeng-sumeng, lemas, nyeri otot, sendi, dan sakit kepala. Sekitar 7-10 hari kemudian muncul ruam merah terang pada pipi yang dinamakan “slapped cheek” karena mirip seperti pipi habis ditampar. Ruam ini disertai pucat disekeliling bibir, ruam merah seperti renda yang gatal di badan lalu menyebar ke lengan, bokong dan paha. Warna merah pada ruam dipengaruhi oleh panas dan cahaya matahari.

Terapi

Terapi hanya bersifat suportif untuk meringankan gejala seperti menurunkan demam, mengurangi nyeri dan gatal.

Pencegahan :
Tidak ada vaksin yang dapat mencegah infeksi ini. Cuci tangan, menggunakan masker, menghindari orang yang sakit atau tinggal dirumah selama sakit dapat mengurangi penularan. 4,8,9

Roseola Infantum (Exanthem Subitum)

Penyebab penyakit ini ialah Human Herpesvirus 6 (HHV-6). Gejala muncul 9 sampai 10 hari setelah anak terinfeksi. Khasnya Roseola ialah demam tinggi 3-5 hari (bisa lebih dari 40oC) yang tiba-tiba turun lalu diikuti ruam merah. Ruam dimulai dari leher dan badan lalu meluas ke wajah serta ekstrimitas. Gejala lain yang mungkin muncul misalnya pembengkakan kelenjar getah bening, keluhan saluran cerna atau saluran nafas, dan radang gendang telinga.

Roseola_rash_edt

Roseola Infantum

Penularan HHV-6 paling sering dari peluruhan virus di sekresi cairan penderita saat tidak bergejala. Saat anak terkena Roseola dan menunjukkan gejala justru tidak menular. Sehingga tidak ada rekomendasi khusus untuk melarang anak ke luar rumah saat gejala timbul dengan alasan takut menularkan.

Terapi :
Bersifat suportif

Pencegahan :
Menjaga higiene dan cuci tangan. Tidak ada vaksin untuk Roseola.

Komplikasi :
Paling sering ialah kejang demam. Komplikasi lain ialah radang otak (ensefalitis), meningitis, dan penurunan trombosit. 4,10

Agustina Kadaristiana, dr. 

08/10/2015

Referensi
1. Lam JM. Characterizing viral exanthems. Pediatr Health. 2010;4(6):623–35.
2. Hayley Gans, MD, Yvonne A Maldonado, MD. Clinical manifestations and diagnosis of measles. 2015 Jul 8;
3. About Measles. CDC [Internet]. 2015 Feb 20; Available from: http://www.cdc.gov/measles/about/index.html
4. Carol J Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Pediatric Infectious Diseases. 2nd ed. USA: American Academy of Pediatrics; 2013.
5. CDC Features – Scarlet Fever [Internet]. [cited 2015 Aug 10]. Available from: http://www.cdc.gov/features/scarletfever/
6. Morven S Edwards, MD. Rubella. Uptodate. 2015 Jul;
7. About Rubella. CDC [Internet]. 2014 Dec 17; Available from: http://www.cdc.gov/rubella/about/index.html
8. Fifth Disease. CDC [Internet]. 2012 Feb 14; Available from: http://www.cdc.gov/parvovirusb19/fifth-disease.html
9. Jeanne A Jordan, PhD. Clinical manifestations and diagnosis of parvovirus B19 infection. Uptodate. 2014 Dec 15;
10. Cécile Tremblay, MD, Michael T Brady, MD. Roseola infantum (exanthem subitum). Uptodate. 2015 Jun 4;

Jangan Beri Makanan Ini Pada Bayi < 1 Tahun

Saat ananda sudah berumur 6 bulan, ibu dan ayah sudah perlu mengenalkan makanan padat secara bertahap padanya. Namun, ternyata tidak semua makanan atau minuman boleh diberikan sebelum anak berusia 1 tahun. Apa saja ya daftarnya?

1. Makanan yang keras atau lengket

foods-choking-hazardsBayi yang belum bisa mengunyah secara sempurna amat mudah tersedak bila mengkonsumsi makanan yang terlalu padat. Sehingga, hindari memberi kacang, anggur utuh, wortel mentah atau permen demi keamanan buah hati. Makanan lunak tapi lengket seperti marshmallow, jelly atau permen karet juga bisa menyangkut di tenggorokan bayi dan membuat tersedak.1,2

2. Makanan mentah

6a00d83451f83a69e201156fbf0ca1970c-500wiDaging sapi, ayam, ikan yang setengah matang, kerang mentah, salad atau sayur mentah tidak boleh diberikan pada bayi karena beresiko menyebabkan keracunan makanan. Sedangkan telur setengah matang dapat menyebabkan infeksi Salmonella. Pastikan makanan dimasak sempurna sebelum diberikan pada bayi. 3,4

3. Madu

HoneySebagian orangtua mungkin kaget ternyata madu tidak disarankan untuk bayi kurang dari 1 tahun. Padahal, manfaat madu sudah banyak diketahui secara ilmiah. Ternyata, alasan di balik ini ialah adanya peningkatan resiko infant botulism (infeksi botulismus) bila bayi mengkonsumsi madu. Madu dapat mengandung spora bakteri Clostridium botulinum. Spora ini apabila tertelan dapat berkoloni dalam usus dan menghasilkan toksin. Pada bayi yang saluran pencernaannya belum sempurna, reaksi toksin ini dapat berakibat fatal. Otot bayi akan menjadi lemas, refleks berkurang, konstipasi, dehidrasi bahkan menyebabkan kematian.5

4. Susu Sapi Murni

Fresh_Milk+jpgSusu sapi murni tidak disarankan untuk diberikan bayi sebelum 12 bulan karena kandungan nutrisi yang kurang lengkap dan dapat meningkatkan resiko kekurangan zat besi pada bayi. Protein pada susu murni juga lebih sulit dicerna bayi dan dapat meningkatkan beban ginjal. Sehingga susu murni tidak cocok diberikan apalagi menggantikan ASI atau susu formula sebelum bayi berusia 1 tahun. 6–8

5. Susu nabati

milk-versus-plant-based-milksSusu nabati seperti susu kedelai, beras, almond atau santan secara umum perlu dihindari karena kadar nutrisi yang tidak memenuhi kebutuhan bayi di bawah 1 tahun. Namun, pada bayi yang alergi susu hewani, susu nabati dapat menjadi alternatif di bawah konsultasi dokter atau ahli gizi.9

6. Gula

543ab6f44216dPenelitian membuktikan bahwa bayi yang diberikan minuman manis dapat meningkatkan risiko obesitas saat usia 6 tahun. Selain itu, gula dapat menyebabkan gigi berlubang. Sehingga amat penting untuk menghindari pemberian gula pada bayi. Orang tua tidak perlu khawatir karena bayi sebelum 1 tahun tidak membutuhkan gula dapur. Bila Anda ingin menambah rasa manis pada makanan bayi, cukup berikan ASI, pisang yang dilumatkan atau susu formula. 3,7,9

7. Garam dan gula sebagai bumbu

Salt-reduction-and-social-inequality-UK-reduction-policies-have-not-reached-those-most-in-needNah, ini sering sekali menjadi perdebatan di kalangan para ibu. Biasanya orangtua ingin menambah rasa gurih supaya bayi makan dengan lahap. Namun, sebaiknya orangtua bersabar. Karena konsumsi garam berlebihan dapat berpotensi menimbulkan gangguan ginjal dan hipertensi nantinya. Pemberian garam atau gula juga tidak meningkatkan penerimaan bayi terhadap makanan. Sehingga makanan bayi mestilah terasa ‘hambar’. Meskipun terasa hambar, garam juga sebenarnya sudah terkandung dalam makanan. Keuntungan lain membatasi pemberian bumbu ialah menurunkan ambang batas rasa manis dan asin saat ia besar. Bila ibu menggunakan makanan instan bayi, pilih makanan dengan kandungan sodium (natrium) <0.1 gram per 100 gram. Beberapa makanan tinggi garam misalnya :

  • Snack
  • Biskuit
  • Mi dan sup instan
  • Pizza
  • Saus botolan
  • Makanan kaleng yang ditambahkan garam
  • Kecap asin, MSG
  • Sereal untuk dewasa.10–12

7. Diet vegan

GTY_vegetarian_meal_nt_131007_16x9_608Bayi tidak disarankan untuk melakukan diet vegetarian murni (hanya mengkonsumsi produk nabati). Hal ini disebabkan bayi menjadi rentan kekurangan nutrisi. Penelitian dari Belanda membuktikan bahwa bayi dan anak yang berdiet vegan mengalami kekurangan energi, protein, vitamin B12, vitamin D, kalsium, riboflavin sehingga tumbuh kembangnya terhambat. Bila orangtua menghendaki bayinya berdiet vegan, pastikan beri ia susu (ASI atau formula), produk turunannya yang cukup. Pemberian ikan secara berkala juga amat penting.7

8. Minuman rendah nutrisi

downloadTeh, kopi, dan minuman kaleng (soda) tidak baik dikonsumsi bayi karena nutrisinya yang rendah. Selain itu, minuman ini dapat menurunkan nafsu makan bayi terhadap makanan sehat.1

Agustina Kadaristiana, dr.

2015-07-31

Referensi :

1. PAHO. GUIDING PRINCIPLES FOR COMPLEMENTARY FEEDING OF THE BREASTFED CHILD [Internet]. WHO; 2003. Available from: http://www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/a85622/en/
2. Board the BMA. Foods that can be unsafe for your baby [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.babycenter.com/0_foods-that-can-be-unsafe-for-your-baby_9195.bc
3. Choices NHS. Foods to avoid giving your baby – Pregnancy and baby guide – NHS Choices [Internet]. 2014 [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/pages/foods-to-avoid-baby.aspx#close
4. Foods not suitable for babies under 12 months of age [Internet]. Ngala; Available from: www.ngala.co.au
5. NADINE COX, M.D RH, D.O. Infant Botulism. AAFP. 2002;65(7):1388–93.
6. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
7. Agostoni C, Decsi T, Fewtrell M, Goulet O, Kolacek S, Koletzko B, et al. Complementary feeding: a commentary by the ESPGHAN Committee on Nutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2008 Jan;46(1):99–110.
8. Nicolas Stettler, Virginia A. Stallings, Jatinder Bhatia, Anjali Parish. Feeding Healthy Infants, Children, and Adolescents. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; 2011. p. 161.
9. Teresa K Duryea, MD. Introducing solid foods and vitamin and mineral supplementation during infancy. Uptodate [Internet]. 2015; Available from: http://www.uptodate.com/contents/introducing-solid-foods-and-vitamin-and-mineral-supplementation-during-infancy
10. Can I put salt in my baby’s food? [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.babycenter.in/x555836/can-i-put-salt-in-my-babys-food
11. Cribb VL, Warren JM, Emmett PM. Contribution of inappropriate complementary foods to the salt intake of 8-month-old infants. Eur J Clin Nutr. 2012 Jan;66(1):104–10.
12. “Forbidden” Baby Foods – Wholesome Baby Food [Internet]. Wholesome Homemade Baby Food Recipes. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://wholesomebabyfood.momtastic.com/forbiddenbabyfood.htm

IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

Awali pemberian ASI dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Apa itu IMD? Ketika persalinan berlangsung, ada perubahan dramatis yang terjadi dalam psikologis ibu. Pada masa yang sangat singkat ini, ibu ingin segera mendekap bayinya yang masih basah oleh ketuban. IMD adalah membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir. Bayi manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk merangkak mencari payudara, menemukan putingnya, dan mulai menyusu. Hal ini terjadi apabila bayi mengalami kontak kulit langsung dengan ibunya.

Langkah-langkah IMD adalah:

  1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
  2. Tali pusat dipotong.
  3. Bayi kemudian ditengkurapkan di perut ibu, dan diselimuti di atas tubuh bayi. Dengan demikian, terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi.
  4. Bayi dibiarkan dalam posisi demikian sampai menemukan payudara dan kemudian menyusu. Waktu yang dibutuhkan bayi untuk menemukan putting brevariasi, namun pada umumnya tidak lebih dari 1 jam.

inisiasi_dini

Manfaat dilakukan IMD:

  1. Mencegah hipotermia (kedinginan), karena dada ibu merupakan inkubator yang terbaik. Bahkan suhu badan ibu akan meningkat untuk memberikan kehangatan kepada bayinya.
  2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi cenderung tenang dan jarang menangis, karena mendengar detak jantung ibu membuatnya merasa di dalam rahim.
  3. Saat bayi merangkak dan menjilat-jilat kulit ibunya, pada saat itulah terjadi pemindahan ‘bakteri baik’ dari kulit ibu yang ditelan bayi. ‘Bakteri baik’ ini akan berkembang biak membentuk koloni di usus bayi yang akan melindungi bayi dari bakteri jahat.
  4. Bonding (ikatan) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama pasca kelahirannya, bayi dalam kondisi siaga.
  5. Bayi yang berkesempatan IMD akan lebih berhasil dalam program ASI eksklusif dan lebih lama disusui.
  6. Sentuhan tangan dan jilatan bayi pada putting susu dan sekitarnya akan merangsang pengeluaran hormon oksitosin. Oksitosin ini membuat rahim berkontraksi, sehingga membantu terlepasnya plasenta dan mencegah perdarahan pasca persalinan.
  7. Bayi yang mengalami IMD akan mendapatkan kolostrum lebih dini pula. Kolostrum ini adalah ASI yang pertama kali keluar, mempunyai kadar immunoglobulin yang tinggi. Immunoglobulin penting untuk memberikan daya tahan tubuh bayi terhadap infeksi.

Namun, dalam pelaksanaannya, proses IMD terkadang terkendala dengan hal-hal berikut:

Dari pihak ibu

  1. Ibu merasa lelah dan ingin istirahat saat proses persalinan selesai, termasuk proses perbaikan jalan lahir. Tak jarang memang, sebelum proses persalinan yang sebenarnya, ibu sudah merasa kesakitan, yang meski dalam skala ringan, namun cukup bisa mengganggu kepulasan tidur. Karenanya, baru sesaat memeluk bayi yang dilahirkannya (proses IMD), mereka pun sudah meminta agar bayi segera diangkat.
  2. Ibu merasa kesulitan memosisikan bayi di dadanya. Apalagi kalau di tangannya ada selang infuse.
  3. Merasa hopeless dengan pengalaman anak terdahulu, ketika ASI baru keluar setelah hari ketiga, atau para ibu yang memiliki putting payudara datar atau masuk ke dalam.

Dari pihak suami atau keluarga ibu bersalin

Mereka ingin segera tahu data-data bayi yang baru lahir. Misalnya, berat berapa? Panjang berapa? Mereka ingin segera memberikan kabar gembira ini kepada sanak keluarga yang lain. Tidak jarang, saat mendampingi istrinya, sang suami masih disibukkan dengan ponsel. Karena itu, persiapkan diri dan suami apabila memang menginginkan IMD atau bersalin di tempat yang melaksanakan IMD.

Depok, 10 Juli 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

1. Chescheir, C. Nancy¸ et al. 2000. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. The Americal College of Obstetricians and Gynecology. Washington.
2. Cunningham, G, et al. 2010. William Obstetrics. 23rd edition. Mc Graw Hill. New York.
3. Evans, A. 2007. Manual Obstetrics. Lippincot Williams and Wilkins. Philadelphia.
4. Novak, Patricia D. 1995. Dorland’s Pocket and Medical Dictionary. 25th edition. WB Saunders Company. Philadelphia.
5. Oats J, Abraham S, Lwellyn. 2010. Jones Fundamentals of Obstetrics and Gynecology. Mosby Elsevier. Edinburgh.
6. Kusumaningsih, Prita. 2011. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Qultum Media: Jakarta.

Senam Otak untuk Bayi

Senam otak dapat diterapkan pada bayi. Senam ini merupakan latihan pola gerakan tertentu yang sangat sederhana. Namun, bermanfaat membuka bagian-bagian otak bayi yang sebelumnya tertutup atau terhambat. Agar menyenangkan, lakukan dengan bantuan mainan yang disukai dan sesuai usia bayi, seperti bola, kerincingan, boneka, dan sebagainya.

Cara melakukan senam ini dengan menggerakkan anggota badan bayi secara menyilang melalui bantuan mainan-mainan itu. Gerakan yang dibuat merupakan gerakan yang menciptakan efek persilangan, melewati garis tengah tubuh bagian kiri dan bagian kanan bayi. Pertemuan dari gerakan yang bersilang itulah inti dari senam otak bayi.

Libatkan sebanyak-banyaknya indra dan organ tubuh bayi dalam senam ini. Libatkan kedua mata, telinga, tangan, dan kakinya sehingga kedua belahan otaknya pun menjadi aktif. Anda sebagai instruktur pribadinya, perlu terus mengajaknya bicara selama latihan. Semakin sering senam otak ini dilakukan, akan semakin cepat proses pembentukan dan persambungan neuron-neuron pada otaknya. Dengan begitu, akan semakin cerdas bayi Anda.

Dalam pelaksanaannya, sebaiknya senam otak melibatkan tiga aspek yang saling menunjang. Anda perlu memasukkan ketiga aspek itu dalam sebuah kombinasi yang berimbang. Ketiga aspek itu antara lain:

Gerakan ke kiri dan kanan
Gerakan ini bila dipadu dengan rangsangan pada indra penglihatan dan pendengarannya, bertujuan menyerap kemampuan komunikasi yang lebih cepat dan mengoptimalkan kemampuan belajarnya. Di sini, terlibat aktivitas melihat, mendengar, dan bergerak ke kiri dan kanan secara seimbang. Semuanya mengaktifkan kedua belahan otak bayi. Telentangkan bayi Anda di atas tempat tidur. Lalu gerakkan bola ke kiri dan kanan di hadapan bayi secara berulang-ulang. Biarlah bayi melirik ke kiri dan kanan ketika bola itu tertangkap matanya.

Gerakan ke depan dan belakang

Gerakan ini merupakan gerakan peregangan otot. Kegunaannya untuk menyiapkan bayi menerima hal-hal baru dan mengekspresikan segala yang telah diketahuinya. Gerakan peregangan ini pun membantu bayi dalam hal konsentrasi dan pemahaman pada hal-hal baru.

Bentuk latihan gerakan ini misalnya melipat, lalu meluruskan persendian bayi, seperti lutut dan sikunya. Lakukan berulang-ulang sambil tiduran. Bisa pula dengan mengangkat tangannya ke depan dan ke belakang berulang-ulang secara seimbang. Lalu lanjutkan dengan gerakan ke atas dan bawah yang juga berulan dan seimbang.

Gerakan ke atas dan bawah
Gerakan ini merupakan gerakan pemusatan pengaturan tubuh. Manfaatnya, mengatur energi, membantu seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki, serta latihan mengontrol emosi. Contoh gerakan yang dapat dilakukan misalnya, menggerakkan kepala ke atas dan ke bawah beberapa kali, atau mengangkat benda yang ringan ke atas – ke bawah (seperti latihan barbell pada orang dewasa). Sebelum melakukan gerakan-gerakan itu, tentu Anda perlu membantunya berdiri dan menyangga tubuhnya dengan hati-hati.

Depok, 6 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Lucinda S Spaulding. 2010. Is Brain Gym an Effective Educational Intervention? Liberty University, Faculty Publications and Presentations.
  2. Committee on Children with Disabilities. 1999. The Treatment of Neurologically Impaired Children Using Patterning. American Academy of Pediatrics. http://pediatrics.aappublications.org/content/104/5/1149.full.
  3. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 201

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Puasa bagi ibu menyusui seringkali menjadi dilema tersendiri bagi para ibu. Satu sisi ibu menyusui ingin ikut beribadah puasa di bulan Ramadan.  Namun, di sisi lain ibu sering khawatir bila puasa dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Alhamdulillah, Allah SWT sendiri memberi keringanan ibu menyusui untuk membayar puasa atau fidyah di hari lain. Sehingga alangkah baiknya bila ibu mempertimbangkan kesehatan ibu dan bayi sebelum memutuskan untuk berpuasa. 1–3

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Efek Puasa Bagi Ibu Menyusui pada ASI dan Janin

Sebenarnya telah cukup banyak penelitian tentang efek puasa terhadap kesehatan ibu menyusui, kualitas ASI dan janin. Namun, hasil yang didapatkan juga bervariasi sehingga keputusan boleh atau tidaknya berpuasa pada ibu menyusui dikembalikan pada kondisi kesehatan ibu masing-masing. Beberapa hasil penelitian yang menyebutkan puasa relatif aman misalnya :

  • Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap volume, kandungan lemak, protein, laktosa, trigliserida dan kolesterol ASI sesaat dan sesudah Ramadhan4
  • Penelitian yang melibatkan 116 bayi usia 15 hari-6 bulan yang diberikan ASI ekslusif, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna pada kurva pertumbuhan bayi antara bayi ASI esklusif yang ibunya berpuasa Ramadhan dengan yang tidak5
  • Tidak ada efek samping buteki yang berpuasa terhadap parameter pertumbuhan bayi ASI eksklusif secara jangka pendek6

Sebaliknya, ada peneliti yang kurang menyarankan puasa pada ibu menyusui sebab :

  • Meskipun kandungan makronutrien (laktosa, lemak dan protein) relatif sama, kandungan mineral zinc, magnessium dan kalium pada ASI yang ibunya berpuasa berkurang secara signifikan.7
  • Berpuasa dapat mempengaruhi kondisi psikologis seperti mudah mengantuk, kurang konsentrasi, merasa lemah, sensitif mudah merasa gugup sampai cenderung agresif. Respon emosi seperti ini mungkin saja bisa mempengaruhi interaksi antara ibu dan bayi saat berpuasa meskipun sampai saat ini belum ada penelitian yang melihat hubungan tersebut.8

Amankah Puasa Bagi Ibu Menyusui?

Dari segi medis, sebenarnya tidak ada halangan puasa bagi ibu menyusui asalkan memenuhi ketentuan berikut ini:

  1. Berat badan ibu normal (Indeks masa tubuh: 20-25 kg/m2)
  2. Kebutuhan terhadap makanan bergizi dapat terpenuhi
  3. Sudah melampaui masa pemberian ASI eksklusif (bayi sudah berusia di atas 6 bulan)

Jika syarat-syarat di atas terpenuhi, seorang ibu menyusui bisa menjalankan ibadah puasa sebagaimana biasanya. Sebaliknya, Ibu menyusui tidak disarankan berpuasa apabila:

  1. Indeks masa tubuh kurang dari 20 kg/m2
  2. Sedang dalam masa pemberian ASI eksklusif
  3. Sudah menjalankan puasa untuk beberapa waktu, tetapi ternyata mengalami penurunan berat badan sampai lebih dari 5%9,10

Bila Ibu Ingin Berpuasa

Keputusan untuk berpuasa tetaplah di tangan ibu. Bila ibu ingin berpuasa, ada beberapa hal yang perlu ibu ketahui agar kondisi ibu dan bayi tetap aman :

http://www.islamicity.com/global/images/photo/IC-Articles/nutrition_diet_planIC__600x399.JPG

http://www.islamicity.com/global/images/photo/IC-Articles/nutrition_diet_planIC__600x399.JPG

  1. Konsultasi dan periksakan diri ke dokter atau bidan terlebih dahulu. Saat syarat-syarat untuk melaksanakan puasa Ramadhan sudah terpenuhi, dan dokter pun sudah memberikan rekomendasi, ibu insyaAllah aman untuk berpuasa
  2. Konsumsi makanan yang cukup saat sahur dan berbuka. Ibu menyusui membutuhkan kalori tambahan sebesar 330 kal di periode 6 periode pertama ASI dan 400 kal di periode setelah ASI ekslusif setiap harinya.(AKG, 2013)11
  3. Hati-hati dengan hipoglikemia (gula darah rendah) seperti keluar keringat dingin, gemetar, pingsan, dan pandangan berkunang-kunang. Segera berbuka dengan yang manis bila merasa hal demikian. Cegah hipoglikemia dengan melambatkan waktu makan sahur (mendekati waktu imsak).10
  4. Tetap jaga keseimbangan cairan tubuh dengan cara minum yang cukup saat sahur dan berbuka. Bila saat berpuasa ibu merasa sangat haus, pipis berwarna gelap atau berbau tajam, merasa pusing, lemah atau sakit kepala sebaiknya segera berbuka. Idealnya ganti cairan tubuh dengan oralit lalu istirahat. Bila dalam satu setengah jam tidak ada perbaikan, hubungi tenaga kesehatan terdekat. 12
  5. Tetap minum vitamin yang diberikan bidan atau dokter sebelum makan sahur12
  6. Istirahat yang cukup dan hindari stress atau kerja berlebihan.
  7. Hubungi dokter bila ibu turun berat badan >1 kg dalam seminggu, bayi turun berat badan, mudah rewel, pipis bayi menjadi sedikit.13

Reqgi First Trasia, dr., Agustina Kadaristiana, dr.

2015-06-09

Referensi

  1. Ibrahim Muhammad Al Jamal. Fiqih Wanita. Semarang: Asy Syifa; 1999.
  2. Panduan Pintar Kehamilan untuk Muslimah. Jakarta: Qultum Media; 2009.
  3. Prita Kusumaningsih. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Jakarta: Qultum Media; 2001.
  4. Bener A, Galadari S, Gillett M, Osman N, Al-Taneiji H, Al-Kuwaiti MHH, et al. Fasting during the holy month of Ramadan does not change the composition of breast milk. Nutr Res. 6;21(6):859–64.
  5. Khoshdel, Najafi M, Kheiri S, Taheri E, Nasiri J, Yousofi H, et al. Impact of Maternal Ramadan Fasting on Growth Parameters in Exclusively Breast-fed Infants. Iran J Pediatr. 2007;17(4):345–52.
  6. Haratipour H, Sohrabi MB, Ghasemi E, Karimi A, Zolfaghari P, Yahyaei E. Impact of maternal fasting during Ramadan on growth parameters of exclusively breastfed infants in Shahroud, 2012. J Fasting Health. 2013;1(2):66–9.
  7. Rakicioglu N, Samur G, Topcu A, Topcu AA. The effect of Ramadan on maternal nutrition and composition of breast milk. Pediatr Int. 2006 Jun;48(3):278–83.
  8. Afifi ZE. Daily practices, study performance and health during the Ramadan fast. J R Soc Health. 1997 Aug;117(4):231–5.
  9. Bajaj S, Khan A, Fathima FN, Jaleel MA, Sheikh A, Azad K, et al. South Asian consensus statement on women’s health and Ramadan. Indian J Endocrinol Metab. 2012 Jul;16(4):508–11.
  10. Nancy Chescheir, et al. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. Washington: The American College of Obstetricians and Gynecologyst; 2000.
  11. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2013 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN BAGI BANGSA INDONESIA [Internet]. MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA; Available from: http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_permenkes/PMK%20No.%2075%20ttg%20Angka%20Kecukupan%20Gizi%20Bangsa%20Indonesia.pdf
  12. Breastfeeding and fasting. 2012; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a1028957/breastfeeding-and-fasting
  13. Amorim AR, Linne YM, Lourenco PM. Diet or exercise, or both, for weight reduction in women after childbirth. Cochrane Database Syst Rev. 2007;(3):CD005627

Ibu Hamil Berpuasa, Amankah?

Assalamualaikum Bunda.. Adakah yang berniat berpuasa Ramadan sementara sedang hamil? Meskipun telah diberi keringanan untuk mengganti puasa di hari lain atau membayar fidyah, banyak ibu hamil yang ingin turut serta beribadah puasa di bulan suci ini. Tapi di sisi lain ibu sering dilema tentang keamanan berpuasa dari segi medis. Lalu, sejauh mana ibu hamil bisa berpuasa di bulan Ramadan?

Pro dan Kontra Puasa Ibu Hamil

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui efek puasa terhadap kehamilan. Secara umum tidak ditemukan efek samping serius pada janin bagi ibu hamil sehat yang berpuasa. Namun, ada pula penelitian yang menemukan dampak negatif puasa pada ibu hamil. Sehingga, sampai saat ini batas aman tidaknya berpuasa bersifat individual.

puasa_ibu_hamil

Puasa Ibu Hamil

Hasil penelitian yang menyebutkan puasa pada ibu hamil relatif aman misalnya :

  • Ibu yang berpuasa saat hamil tidak mempengaruhi berat badan bayi saat lahir. 1,2
  • Ibu hamil yang berpuasa di trimester kedua tidak meningkatkan kadar stres oksidatif ibu juga tidak mempengaruhi perkembangan dan berat badan janin.3
  • Tidak ditemukan penumpukan zat keton didalam darah ataupun urin pada ibu hamil yang berpuasa.4
  • Tidak ada pengaruh puasa saat hamil dengan perkembangan janin atau kesehatan janin. Tidak juga ditemukan perbedaan ukuran arteri rahim atau ari-ari, parameter pertumbuhan atau cairan amnion antara ibu hamil yang berpuasa dan yang tidak.4
  • Tidak ada perbedaan IQ yang signifikan pada anak yang ibunya berpuasa saat hamil5
  • Tidak ditemukan peningkatan resiko kelahiran prematur pada ibu yang berpuasa saat hamil6

Sedangkan beberapa efek samping puasa yang ditemukan saat hamil contohnya :

  • Bayi yang ibunya berpuasa saat Ramadhan lebih kecil dan kurus serta plasentanya lebih kecil dibandingkan dengan ibu yang tidak berpuasa berdasarkan penelitian yang melibatkan 1.321 bayi di Tunisia 7
  • Adanya penurunan kadar gula darah, insulin dan karnitin serta peningkatan asam lemak. Gula darah dan insulin berperan penting sebagai sumber nutrisi ibu dan janin. Begitu pula dengan karnitin yang berfugsi sebagai pengantar asam lemak ke dalam sel. 8
  • Terdapat penurunan kadar hormon LH, FSH, estrogen, progesteron dan leptin secara signifikan pada ibu hamil yang berpuasa. Hormon-hormon ini sangat penting karena bertugas untuk menjaga dan mempertahankan kehamilan serta mempengaruhi metabolisme tubuh saat kehamilan.9
  • Penelitian efek jangka panjang puasa pada kehamilan dari data Survey Kehidupan Keluarga Indonesia (Indonesian Family Life Survey, 2000) menyebutkan bahwa muslim dewasa yang ibunya berpuasa saat hamil sedikit lebih kurus dan pendek daripada yang tidak. 10
  • Adanya penurunan pergerakan nafas bayi saat ibu berpuasa akibat penurunan gula darah ibu11

Menyikapi perbedaan hasil penelitian ini, sebaiknya para ibu bijaksana dalam memutuskan untuk berpuasa. Penting sekali untuk paham kondisi ibu dan janin sendiri juga melibatkan tenaga kesehatan sebelum memutuskan berpuasa.

Bila Ibu Hamil ingin Berpuasa

Keputusan untuk berpuasa sepenuhnya dari ibu itu sendiri. Bila ibu diperbolehkan dan merasa sanggup berpuasa ada beberapa hal yang harus diperhatikan :2,12–14

  • Pantau kondisi kesehatan ibu dan janin ke dokter atau bidan sebelum dan selama berpuasa
  • Sebaiknya hindari berpuasa saat trimester pertama kehamilan karena ada kemungkinan berat badan bayi lebih rendah meskipun penelitian lain menemukan perbedaan ini kurang signifikan
  • Sebaiknya hindari juga berpuasa di trimester tiga kehamilan karena saat ini ibu membutuhkan asupan kalori yang lebih banyak
  • Coba berpuasa selang-seling
  • Makan dan minum sesuai takaran yang dianjurkan untuk ibu hamil.
  • Jangan tinggalkan sahur. Sebaiknya makan sahur dekat dengan waktu imsak. Agar tidak cepat lapar, konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks saat sahur. Misalnya beras merah, gandum, oat, beras basamati, kacang-kacangan, dll

  • Berbuka dengan makanan karbohidrat sederhana seperti kurma, madu, sirup, gula, kentang, nasi putih, dll. Gula sederhana ini amat mudah diserap tubuh untuk mengembalikan energi
  • Segera berbuka dan temui dokter bila ada tanda-tanda berikut :
    • Sangat haus
    • Buang air kecil lebih sering sampai berbau kuat atau berwarna pekat (tanda dehidrasi)
    • Sakit kepala, pusing atau pingsan
    • Merasa letih dan lemah
    • Demam
    • Mual sampai muntah
    • Pergerakan bayi menurun
    • Terasa kontraksi (bisa jadi tanda-tanda persalinan prematur)

Mudah-mudahan bermanfaat ya bunda..

Waalaikumsalam wr wb

Agustina Kadaristiana, dr. 

Publikasi pertama 9 Juli 2014

Modifikasi terakhir : 7 Juni 2015

Referensi

  1. Cross JH, Eminson J, Wharton BA. Ramadan and birth weight at full term in Asian Moslem pregnant women in Birmingham. Arch Child. 1990 Oct;65(10 Spec No):1053–6.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1590265/
  2. Kavehmanesh Z, Abolghasemi H. Maternal Ramadan fasting and neonatal health. J Perinatol. 2004 Dec;24(12):748–50. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15343350
  3. Ozturk E, Balat O, Ugur MG, Yazicioglu C, Pence S, Erel O, et al. Effect of Ramadan fasting on maternal oxidative stress during the second trimester: a preliminary study. J Obstet Gynaecol Res. 2011 Jul;37(7):729–33. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21736666
  4. Dikensoy E, Balat O, Cebesoy B, Ozkur A, Cicek H, Can G. Effect of fasting during Ramadan on fetal development and maternal health. J Obstet Gynaecol Res. 2008 Aug;34(4):494–8. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18937702
  5. Azizi F, Sadeghipour H, Siahkolah B, Rezaei-Ghaleh N. Intellectual development of children born of mothers who fasted in Ramadan during pregnancy. Int J Vitam Nutr Res Int Z Für Vitam- Ernährungsforschung J Int Vitaminol Nutr. 2004 Sep;74(5):374–80. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15628676
  6. Awwad J, Usta IM, Succar J, Musallam KM, Ghazeeri G, Nassar AH. The effect of maternal fasting during Ramadan on preterm delivery: a prospective cohort study. BJOG Int J Obstet Gynaecol. 2012 Oct;119(11):1379–86.
  7. Alwasel SH, Harrath A, Aljarallah JS, Abotalib Z, Osmond C, Al Omar SY, et al. Intergenerational effects of in utero exposure to Ramadan in Tunisia. Am J Hum Biol. 2013 May;25(3):341–3.
  8. Malhotra A, Scott PH, Scott J, Gee H, Wharton BA. Metabolic changes in Asian Muslim pregnant mothers observing the Ramadan fast in Britain. Br J Nutr. 1989 May;61(3):663–72.
  9. Khoshdel A, Kheiri S, Hashemi-Dehkordi E, Nasiri J, Shabanian-Borujeni S, Saedi E. The effect of Ramadan fasting on LH, FSH, oestrogen, progesterone and leptin in pregnant women. J Obstet Gynaecol. 2014 Jun 10;1–5.
  10. Van Ewijk RJ, Painter RC, Roseboom TJ. Associations of prenatal exposure to Ramadan with small stature and thinness in adulthood: results from a large Indonesian population-based study. Am J Epidemiol. 2013 Apr 15;177(8):729–36.
  11. Mirghani HM, Weerasinghe SD, Smith JR, Ezimokhai M. The effect of intermittent maternal fasting on human fetal breathing movements. J Obstet Gynaecol. 2004 Sep;24(6):635–7.
  12. Bajaj S, Khan A. Women’s Health in Ramadan. Medical Update 2013 [Internet]. The Association of Physicians of India; 2013. p. 332–4. Available from: http://www.apiindia.org/medicine_update_2013/chap175.pdf
  13. Ziaee V, Kihanidoost Z, Younesian M, Akhavirad MB, Bateni F, Kazemianfar Z, et al. The effect of ramadan fasting on outcome of pregnancy. Iran J Pediatr. 2010 Jun;20(2):181–6.
  14. Bajaj S, Khan A, Fathima FN, Jaleel MA, Sheikh A, Azad K, et al. South Asian consensus statement on women’s health and Ramadan. Indian J Endocrinol Metab. 2012 Jul;16(4):508–11.

Cara Mudah Mencerdaskan Bayi dan Balita

Banyak yang mengira, mencerdaskan bayi dan balita akan melibatkan metode rumit dan berbiaya mahal. Sebenarnya, mencerdaskan bayi dan balita itu sangat sederhana dan mudah dilakukan. Rahasianya antara lain:

digantikan-oleh-vitamin-mencerdaskan-bayi-semahal

Menggendong itu mencerdaskan

Mengapa anak yang digendong akan menjadi cerdas?

  1. Dengan digendong, bayi akan jarang menangis. Hal itu akan semakin banyak waktu dan tenaganya digunakan untuk proses tumbuh kembang.
  2. Secara neurologis membuat bayi berada pada posisi yang memungkinkannya bergerak dan merespon dekapan yang diterima.
  3. Bayi semakin banyak berinteraksi dengan lingkungannya.
  4. Bayi akan belajar terlibat pada aktivitas yang dilakukan orang tuanya.
  5. Bayi mempunyai kebebasan memilih tentang apa yang ingin maupun tidak ingin dilihatnya.

poedfh2k4c

Berbicara itu mencerdaskan

Agar kegiatan berbicara dengan bayi dapat merangsang kecerdasannya, hal ini perlu dilakukan:

  1. Sapalah namanya setiap kali bicara padanya
  2. Tatap dan senyumlah padanya
  3. Pergunakan kata-kata atau kalimat pendek
  4. Buatlah gerakan tubuh yang sesuai dengan isi pembicaraan
  5. Lafalkan setiap kata dengan lafal yang benar
  6. Bicaralah dengan kelembutan dan kesopanan. Jangan dengan hardikan.
  7. Bicaralah tentang segala hal yang sedang Anda lakukan di hadapannya.
  8. Selingi pembicaraan dengan kalimat pertanyaan
  9. Bersikap peka terhadap isyarat-isyarat anak

e4ac2da82389b29e_baby-talk.jpg.xxxlarge_2x

Bernyanyi dan mendengarkan musik itu mencerdaskan

Walau Anda bukan penyanyi, bernyanyilah lagu apapun yang menurut Anda enak dinyanyikan. Anak usia berapa pun pasti menyukai lagu. Bernyanyilah di hadapannya. Para peneliti perkembangan anak percaya, bernyayi lewat musik, berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan berbahasanya, dibandingkan dengan kata-kata tanpa musik.

Bermain itu mencerdaskan

Berikut manfaat yang bisa dipetik dari aktivitas bermain:

  1. Mengembangkan kemampuan motorik anak
  2. Membantu perkembangan tubuh (fisik) anak
  3. Mengembangkan koordinasi antar anggota tubuh
  4. Mengembangkan kemampuan sosialisasi
  5. Mengembangkan sportivitas
  6. Menstimulasi kemampuan diri

download

Tidur itu mencerdaskan

Bayi yang cukup tidur, sistem kekebalan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan yang kurang tidur. Fisik bayi berkembang lebih optimal saat tidur. Jumlah hormon pertumbuhan saat tidur 3 kali lipat dibandingkan saat bangun. Saat tidur pun berlangsung perbaikan sel-sel tubuhnya yang rusak. Berkembangnya fisik bayi melalui aktivitas tidur akan memberi peluang bagi pematangan lebih lanjut fungsi-fungsi organ tubuhnya. Hal itu menandai kemampuan dan kecerdasan semakin bertambah.

Depok, 8 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 06/05/2015

Referensi:

  1. Joan Hanafin. 2014. Multiple Intelligences Theory, Action Research, and Teacher Professional Development: The Irish MI Project. Australian Journal of Teacher Education
  2. Katie Davis, et al. 2005. The Theory of Multiple Intelligences. Harvard Graduate School of Education.
  3. Sonia Mehta. 2002. Multiple Intelligences and How Children Learn: An Investigation in one Preschool Classroom. Virginia Polytechnic Institute and State University
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 219

Peran Ayah ASI dalam Keberhasilan Menyusui

Ayah asi adalah paduan pola pikir dan tindakan seorang ayah yang mendukung proses menyusui dari istri (ibu) ke anaknya. Bukan label, julukan, apalagi pangkat yang bisa dicapai dengan target tertentu, karena penerapannya bisa sangat relatif, bahkan sulit dirumuskan.

“Siklus kehidupan di mulai dari bersatunya energi feminin dan maskulin, dalam bentuk hubungan seks. Proses itu berlanjut pada kehamilan, lalu persalinan, menyusui, dan menjadi orangtua. Satu bagian dari proses tersebut tidak bisa terputus, karena menentukan kualitas mata rantai berikutnya.” (Reza Gunawan, Pakar Holistik)

Penjelasan di atas menjadi modal pertama untuk menetapkan pola pikir ayah yang sudah berkomitmen menjalani kehidupan berkeluarga. Artinya, seorang ayah harus siap menghadapi setiap prosesnya dengan sadar. Ketika istri memasuki masa kehamilan, seorang ayah pun relatif paham untuk menjadi suami siaga. Ayah sebaiknya mengisi kepala dengan pengetahuan, dan rasa ingin tahu saat berhadapan dengan dokter kandungan, demi kelancaran dan kesempurnaan bayi yang berada di dalam kandungan istri.

Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Masa persalinan, kebanyakan dari ayah sudah tangkas menghadapi situasi menegangkan ini. Begadang mendampingi istri di salah satu momen terpenting ini seperti perkara mudah, karena ayah tampak sudah terlatih untuk bertoleransi dengan kemampuan fisik, melalui pekerjaan, hingga pertandingan futsal.

Berikutnya, menyusui pun, sebetulnya tak sulit buat seorang ayah terlibat penuh dalam prosesnya. Bahkan, seorang laki-laki tidak perlu dilatih untuk menjadi ayah yang pro ASI. Ia hanya perlu sadar, bahwa ini adalah konsekuensi logis yang terbaik untuk istri dan anaknya, seperti saat menjalani tahapan-tahapan sebelumnya. Saat hal ini terjadi, seorang ayah akan mendorong seluruh kualitas kelaki-lakiannya untuk beradaptasi, menaklukkan situasi, dan (otomatis) memberikan kontribusi.

Pada tahap berkontribusi, ia akan dengan sadar memberi dukungan kepada istri, mendengarkan keluhannya dan menghiburnya, menjadi partner yang bersedia mengurangi beban berat seorang ibu yang menyusui, dengan berpartisipasi pada kegiatan yang bisa dilakukannya. Entah menggendong si anak, menyendawakan setelah menyusui, memandikan anak, membuat makanan pendamping ASI, dan lainnya.

fahter-of-breastfed-baby-Aug2009-iStock

Mengapa Menjadi Ayah Asi itu Penting?

Keterlibatan suami, adanya pasangan di samping istri, yang membantunya mengatasi kelelahan fisik, cenderung membuat istri senang. Apalagi jika suami jadi lebih sering melakukan hal-hal yang membuat istri senang dengan cara meningkatkan kualitas hubungan mereka; karena koneksi setiap pasangan itu khas. Rasa senang istri, akan berdampak sangat positif pada kelancaran proses menyusui. Dan pada titik ini, kesiapan sepasang suami-istri diuji untuk menjadi orang tua. Penelitian juga membuktikan bahwa mengajarkan ayah untuk mencegah dan menangani kesulitan laktasi berhubungan erat dengan kesuksesan ASI esklusif 6 bulan pertama.

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

Ketika seorang laki-laki melewati setiap bagian di atas, ia sudah bertindak. Mungkin ada yang menyadari sejak awal, tapi banyak juga menjalaninya saja tanpa memikirkan caranya. Ada yang menjalaninya dengan baik dari pertama, tak sedikit pula yang mengejar ketinggalan di tengah prosesnya. Bagaimanapun itu jika seorang ayah meyakini di alam pikirannya bahwa menyusui adalah proses yang tidak bisa dilewatkan dan ASI adalah yang terbaik untuk keluarganya, dia sepatutnya memberikan kontribusi nyata dengan caranya.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi Ayah ASI:

poedfh2k4c

  1. Jadilah ‘cheerleader’ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk produksi ASI akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil ataupun sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri.
  2. Jadilah juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi ‘benteng’ pertahanan bunda dari ‘serangan’ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasannya agar istri diberikan waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang menyusui.
  3. Jadilah manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur persediaan ASI perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer. Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah adalah manajer logistik ASIP.
  4. Tunjukkan Anda adalah orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau pencari nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari mengurusi anak hingga belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih 15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah.
  5. Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika Ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu.
  6. Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi. Dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM berjalan.
  7. Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari dan beri pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll. Tempelkan kertas-kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung mereka juga bisa membacanya. Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat agar mereka bisa ikut membacanya.
  8. Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami kesulitan istri, ajak istirahat sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah hati. Bisikan kata-kata lembut sambil tersenyum.
  9. Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.
  10. Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya. Sharing membuat  Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal dengan dimensi dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan Anda mengambil langkah yang tepat.

Depok, 2 Mei 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 06/04/2015

Referensi:

  1. Lynn A. Rempel, John K. 2011. The Breastfeeding Team: The Role of Involved Fathers in the Breastfeeding Family. International Lactation Consultant Association
  2. Naomi Bromberg, et al. 1997. Fathers and Breastfeeding: A Review of the Literature. International Lactation Consultant Association
  3. Lulie, et al. 2008. Inclusion of Fathers in an Intervention to Promote Breastfeeding: Impact on Breastfeeding Rates. International Lactation Consultant Association
  4. Bruce Maycock, et al. 2013. Education and Support for Fathers Improves Breastfeeding Rates: A Randomized Controlled Trial. International Lactation Consultant Association.
  5. Tim Ayah ASI. 2012. Breastfeeding father. Diakses dari: www.ayahasi.org
  6. Tim AyahBunda. 2013. Tips Menyusui Ayah ASI. Diakses dari: www.ayahbunda.co.id
  7. Pisacane A, Continisio GI, Aldinucci M, D’Amora S, Continisio P. A Controlled Trial of the Father’s Role in Breastfeeding Promotion. Pediatrics. 2005 Oct 1;116(4):e494–8.