Tag Archives: gigi

8 Cara Mengajak Anak Menyikat Gigi

Mengajak anak untuk menyikat gigi adalah tantangan tersendiri. Anak seringkali malas dan sulit untuk diajak membersihkan gigi. Padahal, American Academy of Pedodontics dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan untuk menyikat gigi anak menggunakan pasta gigi berfluoride sejak gigi pertama muncul. Perlu diingat, penggunaan pasta gigi berfluoride tidak perlu banyak-banyak. Cukup gunakan sebesar beras atau sekedar apusan (sekitar 0,1 mg fluoride) pada anak kurang dari 3 tahun. Pada anak yang lebih besar (3-6 tahun) pasta gigi yang digunakan ialah sebesar kacang (sekitar 0,25 mg fluoride). (1,2)  Beberapa tips ini mungkin bisa dicoba supaya kegiatan rutin ini menjadi menyenangkan bagi orang tua dan anak (3-5) :

Sebesar goresan vs Sebesar kacang

Sebesar goresan vs Sebesar kacang

  1. Biarkan anak untuk memilih sikat gigi dan pasta gigi yang menarik. Bawalah anak anda ke toko untuk memilih alat kebersihan giginya. Saat ini sudah banyak dijual sikat gigi dengan karakter menarik juga pasta gigi dengan berbagai rasa. Dengan begitu, diharapkan anak tertarik untuk mencoba menyikat gigi sendiri.
  2. Turunkan ekspektasi anda. Anak anda mungkin belum sempurna dalam menyikat giginya. Maklumi saja karena ini adalah proses belajar. Semakin banyak anak belajar, akan semakin cepat teknik yang ia kuasai.
  3. Bicara pada anak anda saat ia menyikat gigi. Beri tahu apa yang harus anak lakukan saat menyikat gigi dan biarkan ia coba terlebih dahulu.
  4. Lakukan secara bergantian. Jika anda khawatir anak anda belum membersihkan giginya secara sempurna, anda boleh meminta anak anda membuka mulutnya dan membersihkan sisi-sisi yang sulit. Jika anak anda menolak, coba ajak anda sambil bermain peran seperti singa dan minta anak untuk mengaum. Untuk membersihkan gigi depan, coba minta anak anda berpura-pura menggeram seperti macan.
  5. Lakukan bersama-sama. Sikat gigi bersama-sama anak dapat membuat anak semangat untuk menyikat gigi lebih lama. Coba ajak bermain tantangan siapa yang bisa menyikat semua gigi ia yang menang.
  6. Bernyanyi. Untuk memastikan anak menyikat gigi cukup lama, anda bisa menyanyikan lagu favoritnya.
  7. Minta bantuan orang lain. Anda boleh meminta dokter gigi anak anda untuk memuji usahanya sudah sikat gigi sendiri. Mendapatkan acungan jempol dari dokter gigi berjaket putih bisa membuat anak lebih semangat untuk melakukan lebih baik lagi.
  8. Ajak anak anda belajar sambil bermain tentang kotoran dan kuman gigi. Anda bisa bercerita lewat buku gambar, video edukasi menarik sehingga anak mengetahui alasan kenapa ia menyikat gigi. (Misalnya website edukasi http://healthyteeth.org/)

Bila ibu ingin mengetahui apa pentingnya merawat gigi anak, bisa membuka informasi di link ini. Semoga berhasil ya bunda 🙂

Agustina Kadaristiana, dr

Sumber :

  1. Policy on Early Childhood Caries (ECC): Classifications, Consequences, and Preventive Strategies, (2014).
  2. Section on Pediatric D, Oral H. Preventive oral health intervention for pediatricians. Pediatrics. 2008;122(6):1387-94
  3. Teaching Your Child to Clean Their Teeth2012. Available from: www.dentalhealthweek.com.au
  4. Learning to Brush Teeth: Six Toddler Training Tips2014. Available from: http://www.whattoexpect.com/toddler-health/learning-to-brush-teeth.aspx
  5. www.healthyteeth.org

Lindungi Buah Hati Anda dari Penyakit Gigi

Kita semua tahu ya bagaimana rasanya bila ada gigi berlubang yang nyerinya tidak mengenal ampun. Atau bagaimana khawatirnya bila gigi kita goyang, keropos atau tanggal sebelum waktunya. Begitupun rasanya pada anak. Masalah kesehatan gigi anak seringkali terabaikan karena merasa akan ada gigi permanen yang mengganti gigi susu. Padahal kegagalan dalam mendeteksi dan mecegah penyakit gigi yang dimulai dari gigi berlubang menyebabkan dampak negatif pada kesehatan anak jangka panjang. Mulai dari nyeri gigi, berkurangnya selera makan, infeksi sampai gangguan bicara, nutrisi, dan kualitas hidup anak di masa depan.

Penyebaran infeksi dari gigi juga bisa meluas sampai ke organ sekitarnya seperti telinga sampai otak! Namun, tidak perlu khawatir, penyakit gigi anak yang merupakan masalah kronis ini sangat dapat dicegah. Bahkan perawatan gigi saat ibu hamil sangat membantu melindungi anak dari penyakit gigi. Apa saja sih cara agar menjaga gigi anak tetap bersih dan sehat? Yuk kita simak ulasannya..


Sekilas Tentang Kerusakan Gigi Pada Anak

Saat gigi pertama anak muncul, gigi sangat rentan terhadap kerusakan. Terlebih lagi dengan mulai dikenalkannya sang buah hati pada makanan dan minuman padat. Masalah yang paling sering muncul pada gigi anak ialah karies gigi (gigi berlubang). Karies gigi muncul karena adanya metabolisme antara bakteri di mulut (terutama Streptococcus mutans) dan makanan bergula pada permukaan gigi. Hasil metabolisme dari koloni bakteri dan gula ini adalah zat yang bersifat asam yang lama-kelamaan dapat melunturkan mineral gigi. (1)

Koloni bakteri dan pembentukan karies ini sebenarnya bisa dicegah. Namun, seringkali masalah ini luput dari perhatian orang tua. Hasilnya, seiring dengan waktu gigi anak bisa habis karena karies yang umumnya disebut gigi gigis bahkan mungkin sampai anak perlu kehilangan gigi sebelum waktunya. Istilah kerusakan gigi pada anak termasuk gigi gigis dalam dunia kedokteran dinamakan “Early Childhood Carries” (ECC) atau karies dini pada anak. Menurut American Dental Association (ADA), ECC ditandai dengan adanya satu atau lebih kerusakan gigi, kehilangan gigi karena karies, atau penambalan permukaan gigi sulung antara usia lahir sampai 71 bulan. ECC ringan dapat terjadi saat gigi pertama muncul namun dapat berkembang menjadi parah bila tidak ditangani sejak dini.(1, 2)

Picture

http://www.beaconcovedental.com.au/wp-content/uploads/2012/08/bacteria-sugar.jpg

Apa sih dampak karies dini pada anak?

Dampak karies gigi yang tidak ditangani pada anak sangat beragam. Mulai dari dampak jangka pendek-jangka panjang dan ringan sampai berat. Saat anak mengalami gigi berlubang, anak mungkin akan merasa nyeri, kehilangan nafsu makan, sulit tidur, infeksi, bahkan dapat kehilangan gigi molar prematur yang nantinya dapat mengganggu susunan gigi yang disebut maloklusi. Penelitian juga menyebutkan bahwa kehilangan gigi akibat karies gigi pada anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak,gangguan bicara, kurangnya konsentrasi sampai rasa percaya diri. Masalah gigi pada anak bila tidak ditangani sejak awal dapat terbawa sampai ke usia remaja dan dewasa. Hal ini tentunya dapat memperberat biaya pengobatan dan perawatan khususnya bagi orang tua. Selain itu, karies gigi anak, meskipun jarang, dapat menyebar dan berakibat fatal. Misalnya, demam berlanjut yang tidak jelas sebabnya, infeksi telinga (otitis media) dan abses otak. (1)
Picture

http://www.summitdentalcenter.com/wp-content/uploads/2013/09/decaymain.jpg

Siapa sajakah anak yang beresiko tinggi mengalami masalah gigi dini?

Pada umumnya, setiap anak memiliki resiko untuk mengalami karies gigi setelah gigi susu mulai erupsi. Namun, pada kelompok ini, anak memiliki resiko yang lebih tinggi sehingga perlu perhatian khusus dan segera di periksa ke dokter gigi. Kelompok tersebut adalah:

  • Anak yang ibunya memiliki gigi berlubang yang aktif
  • Orangtua atau pengasuh dengan ekonomi lemah
  • Anak yang mendapat ASI atau susu botol jangka panjang (>12 bulan)
  • Anak yang mengkonsumsi makanan dan minuman tinggi gula
  • Penggunaan training cup sepanjang hari
  • Anak yang menggunakan botol susu di waktu tidur dengan minuman yang manis
  • Penggunaan obat sirup lebih dari 3 minggu
  • Perokok pasif (paparan terhadap rokok)
  • Anak dengan kebutuhan khusus
  • Kekurangan paparan fluoride
  • Terlihatnya karang gigi pada gigi atas depan
  • Terlihatnya lubang atau kerusakan pada permukaan gigi(3)

 

Bagaimana melindungi anak dari penyakit gigi ini?

Banyak cara yang perlu dilakukan orang tua untuk menjaga kesehatan mulut anak. Sehingga perlu ketelatenan dan kesabaran ekstra dari orangtua untuk mencapai tujuan yang memuaskan. Langkah pertama dalam menjaga kesehatan gigi anak ternyata bukan dari sejak munculnya gigi. Namun, menjaga kesehatan gigi ibu saat kehamilan ternyata sangat berhubungan dengan koloni bakteri pada anak.(4)
Mulai dari kebersihan mulut ibu saat hamil
Banyak orang tua (terutama ibu) yang belum menyadari pentingnya kesehatan mulut ibu terhadap dirinya, kehamilannya dan bayinya. Padahal, penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan antara penyakit gigi dan gusi ibu terhadap kelahiran prematur, berat badan bayi rendah, dan pre eklamsia. Selain itu, ibu dengan kesehatan gigi yang buruk dan jumlah bakteri penyebab karies di mulut yang tinggi dapat menginfeksi bayinya dan meningkatkan resiko anak mengalami karies di usia dini. Hal ini dikenal sebagai transmisi vertikal, dimana ibu menurunkan koloni bakteri MS (Streptococcus mutans) pada anak. Sehingga, penting sekali merawat gigi ibu saat hamil terutama di periode perinatal, antara 20-28 minggu kehamilan sampai 1-4 minggu setelah bayi lahir. (4)
Picture

Transmisi vertikal (http://www.summitdentalcenter.com/wp-content/uploads/2014/03/pregnancy-dentalhealth.jpg)
Perawatan yang dapat dilakukan ibu hamil ialah sikat gigi 2x sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, benang gigi (dental floss) pada sela-sela gigi dan berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan yang berpotensi menyebabkan karies (kariogenesis) seperti makanan dan minuman bergula tinggi. Pada ibu yang mengalami muntah yang sering saat hamil, berkumur menggunakan segelas air yang dicampur 1 sdt soda kue (baking soda) lalu ditunggu satu jam sebelum menyikat gigi dapat membantu mengurangi erosi pada gigi. Sikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride, mengunyah permen karet mengandung xylitol dan makan sedikit tapi sering makanan yang bergizi sepanjang hari dapat meminimalisir pembentukan karies.(4)Kunjungan ke dokter gigi untuk perawatan dan terapi gigi juga perlu dilakukan saat hamil. Hal ini dilakukan untuk mengurangi plak koloni bakteri MS yang bisa ditransfer pada anak. Waktu yang paling aman untuk perawatan atau terapi gigi ialah trimester kedua atau dari 14-20 minggu. Meskipun saat ini adalah saat yang paling optimal, perawatan gigi kapanpun saat kehamilan aman dilakukan. (4)
Merawat mulut bayi sebelum tumbuh gigi
Meskipun belum tumbuh gigi, orang tua tidak boleh mengabaikan kebersihan mulut bayi. Penelitian dari Universitas Illinois yang dipimpin oleh Profesor Kelly Swanson menyebutkan bahwa air liur bayi yang belum tumbuh gigi mengandung bakteri yang dapat menyebabkan karies gigi dini pada anak. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknologi DNA dalam menganalisa jumlah bakteri dalam air liur bayi. American Academic of Pediatric Dentistry merekomendasikan untuk membersihkan gusi dan mulut bayi dengan kain lembut, kain kasa yang dibasahkan atau sikat gigi khusus minimal 2x sehari saat mandi tanpa menggunakan pasta gigi. Selain itu bersihkan juga gusi bayi setelah menyusui dan sebelum tidur untuk mengurangi resiko timbulnya karies gigi saat gigi pertama nanti muncul. (5, 6)
Merawat gigi anak saat gigi pertama muncul
Saat gigi pertama mulai muncul (sekitar usia 6 bulan), serangan dari kuman dan makanan manis mulai mengganggu keutuhan gigi anak. Sehingga, perlu perhatian ekstra dari orangtua dalam menjaga kesehatan mulut anak. Hal yang perlu diperhatikan orang tua saat gigi anak mulai muncul ialah:
1. Sikatlah gigi anak secara benar dan teratur menggunakan pasta gigi berfluoride
Orangtua perlu menyikat gigi anaknya 2x sehari menggunakan sikat gigi kecil berbulu halus dan pasta gigi berfluoride. Sampai usia anak 5-6 tahun, orang tua perlu mengawasi dan mengajari anaknya sikat gigi. Fluoride merupakan zat alami yang bermanfaat untuk mencegah dan menghambat terbentuknya karies gigi. Fluoride juga befungsi mengurangi peluruhan enamel gigi akibat asam dan meningkatkan pembentukan mineral gigi. Efek antimikroba dari fluouride pada pH rendah juga signifikan. Namun, fluoride tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Konsumsi fluoride >0,05 mg/kg berat badan/hari dapat menyebabkan fluorosis atau hipomineralisasi pada enamel gigi.(3, 7)
Setelah mempertimbangkan resiko dan manfaat dari penggunaan fluoride, American Academy of Pedodontics dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan perlunya penggunaan pasta gigi berfluoride sebesar beras atau sekedar apusan (sekitar 0,1 mg fluoride) pada anak kurang dari 3 tahun. Pada anak yang lebih besar (3-6 tahun) pasta gigi yang digunakan ialah sebesar kacang (sekitar 0,25 mg fluoride). Untuk memaksimalkan manfaat dari fluoride di pasta gigi, berkumur-kumur setelah menyikat gigi harus dilakukan secara minimal atau dihilangkan sama sekali. Adapun cara menyikat gigi anak yang benar adalah :(3, 7, 8)

  • Tempatkan sikat gigi pada sudut 45 derajat ke gusi.
  • Secara lembut gosokan sikat gigi secara maju mundur
  • Sikat permukaan luar, permukaan bagian dalam, dan permukaan gigi pengunyah.
  • Untuk membersihkan bagian dalam permukaan gigi depan, miringkan sikat secara vertikal dan gosokan sikat gigi secara naik dan turun
  • Sikat lidah anak anda untuk menghilangkan bakteri dan menjaga napas tetap segar. (9)
  • Bila buah hati anda sulit untuk menyikat gigi, bujuklah dengan cara seperti di halaman ini :
Picture

Brushing your teeth (http://www.mouthhealthy.org/~/media/MouthHealthy/Files/Kids_Section/ADAHowToBrush_Eng.ashx)
2. Perhatikan kebiasaan makan dan minum anak
Gula merupakan faktor utama dalam perkembangan karies. Resiko karies meningkat bila gula dikonsumsi secara sering dan tertinggal lama di mulut. Sukrosa merupakan gula yang sangat bersifat kariogenik (potensial membentuk karies) karena sukrosa dapat membentuk glukan yang memungkinkan bakteri menempel pada gigi dan menghambat proses difusi dan penetralisir asam (contohnya selai kacang dan kismis). Meskipun makanan tinggi tepung memiliki resiko yang rendah dalam pembentukan karies, campuran antara pati dan sukrosa (misalnya sereal, kentang atau keripik jagung) juga bersifat kariogenik. (3, 8)

  • Menurut AAP (American Academy of Pediatrics) makanan dan minuman bergula ini tidak perlu dihindari, namun cukup berikan sebagai penutup saat waktu makan daripada sebagai cemilan sepanjang hari.(3, 8, 10)
  • Minuman manis juga sebaiknya diberikan hanya dari training cup. Saat anak menganjak usia 1 tahun, ganti botol atau training cup dengan gelas biasa (5, 8)
  • Jus buah boleh hanya boleh dikonsumsi saat waktu makan dengan takaran untuk anak usia 1-6 tidak lebih dari 4-6 ons per hari dari gelas (bukan botol).(8, 11)
  • Hindari minuman atau minuman yang diberi pemanis gula atau sirup jagung selama 30 bulan pertama(8)
  • Biasakan anak meminum air putih dan susu saja diantara makan(8)
  • Biasakan anak mengkonsumsi buah(8)
  • Hindari perilaku bertukar air-liur seperti berbagi alat makan atau sikat gigi pada orang lain untuk mengurangi penularan bakteri kariogenik (8)
  • Saat tidur, hindari memberikan botol berisi jus atau susu karena meningkatkan resiko terjadinya karies. Cukup berikan botol berisi air putih bila daripada minuman tersebut bila perlu. (8, 10)
  • ASI sendiri secara epidemiologis tidak berhubungan dengan karies. Namun, menyusu ASI secara ad-libitum (sesuai keinginan bayi) pada malam hari secara sering dapat berhubungan dengan ECC (Early Childhood Carries/Karies dini pada anak). ASI lebih dari 7x/hari setelah 12 bulan dapat meningkatkan resiko ECC karena pada usia ini sudah ada interaksi antara ASI dengan makanan bergula lain. Supaya anak tetap mendapatkan ASI secara optimal sekaligus terhindari dari resiko karies, AAP tidak membatasi ASI ekslusif pada bayi namun ibu perlu membersihkan gigi, gusi, dan mulut bayi setelah menyusui. Juga menyusui ASI secara ad-libitum setelah gigi pertama muncul dan bayi sudah diberi MP ASI perlu dihindari. (3, 8, 10, 11)

3. Perhatikan kebiasaan mengempeng
Mengempeng (nonnutritive sucking) merupakan bagian dari perilaku perkembangan anak diusia dini. Perilaku ini bertujuan untuk menenangkan diri bayi dan terjadi pada 70-90% bayi di berbagai populasi. Kebiasaan mengisap jari atau mengempeng semakin sering sejalan dengan pertambahan usia. Namun, menginjak usia 4-5 tahun, kebiasaan ini biasanya digantikan dengan perilaku penyesuaian yang lain. Sisi negatif dari mengempeng sampai di usia pertumbuhan gigi permanen ialah dapat menyebabkan maloklusi (ketidakselarasan pertumbuhan gigi rahang atas dengan rahang bawah). Sehingga, perlu diperhatikan untuk melepaskan anak dari mengempeng sebelum terjadi maloklusi atau gangguan pertumbuhan kerangka wajah. (3, 8, 11)

4. Waspada terhadap trauma wajah pada anak
Trauma wajah pada anak yang menyebabkan patah tulang atau gigi tanggal bisa berdampak negatif pada fungsional, estetika dan psikologis anak. Kejadian trauma wajah paling sering terjadi di usia 2-3 tahun seiring dengan peningkatan mobilitas anak dan perkembangan koordinasi tubuh. Trauma wajah paling sering disebabkan karena jatuh, kecelakaan dalam berkendara, kekerasan dan olah raga. Sebagai tindak pencegahan orang tua dapat berhati-hati untuk menghindari jatuh saat anak belajar berjalan dan juga mempertimbangkan penggunaan masker/pelindung gigi saat berolahraga. Bila trauma telah terjadi, pertolongan pertama dan merujuk ke rumah sakit secara cepat dapat memberikan hasil yang baik. (3, 8, 11)

5. Kontrol ke dokter gigi secara berkala
Setiap bayi perlu dilakukan skrining gigi pertama sesaat setelah gigi pertama muncul oleh petugas medis pelayanan primer (misalnya dokter umum). Hal ini bertujuan untuk memilah mana kelompok anak yang beresiko untuk mengalami karies dan mana yang perlu dirujuk ke dokter gigi. AAPD (American Academic of Pediatric Dentistry), ADA ( American Dental Association) , APHA (American Public Health Association), dan AAP (American Academy of Pediatrics) sepakat untuk merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi pada saat anak ulang tahun yang pertama. Selanjutnya, AAPD menganjurkan kesehatan gigi anak tetap dikontrol oleh dokter gigi 2x/tahun sehingga kesehatan gigi anak tetap terjaga secara optimal. Pada beberapa anak tertentu, dokter gigi mungkin menyarankan untuk berkunjung lebih sering karena resiko gigi rusak yang tinggi, higiene gigi yang buruk atau pertumbuhan gigi yang tidak biasa.(3, 8, 11, 13)

 

Agustina Kadaristiana, dr.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Colak H, Dulgergil CT, Dalli M, Hamidi MM. Early childhood caries update: A review of causes, diagnoses, and treatments. Journal of natural science, biology, and medicine. 2013;4(1):29-38.
  2. Statement on Early Childhood Caries, (2000). American Dental Association. http://www.ada.org/en/about-the-ada/ada-positions-policies-and-statements/statement-on-early-childhood-caries
  3. Nowak AJ, Warren JJ. Preventive dental care and counseling for infants and young children. Uptodate. 2014.
  4. Guideline on Perinatal Oral Health Care, (2011). The American Academic of Pediatric Dentitstry (AAPD). http://www.aapd.org/media/Policies_Guidelines/G_PerinatalOralHealthCare.pdf
  5. Cephas KD, Kim J, Mathai RA, Barry KA, Dowd SE, Meline BS, et al. Comparative analysis of salivary bacterial microbiome diversity in edentulous infants and their mothers or primary care givers using pyrosequencing. PloS one. 2011;6(8):e23503.
  6. FAST FACTS [press release]. AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRIC DENTISTRY 2014. http://www.aapd.org/assets/1/7/FastFacts.pdf
  7. Policy on Early Childhood Caries (ECC): Classifications, Consequences, and Preventive Strategies, (2014).
  8. Section on Pediatric D, Oral H. Preventive oral health intervention for pediatricians. Pediatrics. 2008;122(6):1387-94.
  9. Brushing Your Teeth2012. Available from: http://www.mouthhealthy.org/~/media/MouthHealthy/Files/Kids_Section/ADAHowToBrush_Eng.ashx
  10. Guideline on Periodicity of Examination, Preventive Dental Services, Anticipatory Guidance/Counseling, and Oral Treatment for Infants, Children, and Adolescents V 35 / NO 6 13 / 14 (2013).
  11. Guideline on Infant Oral Health Care (2014). The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). http://www.aapd.org/media/Policies_Guidelines/G_infantOralHealthCare.pdf
  12.  Teaching Your Child to Clean Their Teeth2012. Available from: www.dentalhealthweek.com.au.
  13. Regular Dental Visit. In: Dentistry AADP, editor. 2011. http://digital.ipcprintservices.com/publication/?m=17249&l=1

Empeng itu Baik atau Tidak ya?

Kebiasaan bayi mengempeng merupakan satu isu yang kontroversial di kalangan orang tua baru belakangan ini. Para ahlipun berbeda pendapat tentang masalah ini. Kabar yang beredar menyatakan bahwa empeng itu berbahaya karena bisa merusak pembentukan rahang dan gigi. Empeng juga disinyalir bisa menghambat pembelajaran bayi untuk menyusui langsung kepada ibu.


Kenapa Bayi Mengempeng?

Umumnya bayi mempunyai insting untuk mengempeng untuk menenangkan dirinya sendiri sejak berada di dalam kandungan (sekitar 29 minggu). Bayi yang sedang mengempeng terkadang teramati melewati USG pada masa pemeriksaan prenatal. Kebiasaan ini berlanjut terutama dalam 6 bulan pertama kehidupan bayi pada lebih dari 80% bayi yang mengempeng walaupun mereka tidak lapar. Bayi biasanya mengempeng jempolnya, jari-jarinya yang lain, tangan, empeng (pacifier), atau benda lain seperti mainan dan selimut. Bayi cenderung mengempeng ketika dia lelah, takut, bosan, sakit atau menghadapi lingkungan baru seperti tempat penitipan anak. Bayi juga biasanya mengempeng ketika dia hendak tidur atau berusaha tidur kembali ketika terbangun tengah malam. Sebenernya, kemampuan menenangkan dirinya sendiri dengan mengempeng merupakan salah satu hal yang mendorong kemandiriannya untuk mampu mengatur perilaku dan emosinya sendiri. Kemampuan ini sangat penting bagi perkembangan bayi. Dengan mengempeng, bayi dapat membantu dirinya sendiri untuk merasa tenang tanpa bantuan. Bayi akan berhenti mengempeng ketika dia siap dan sudah menemukan hal lain untuk membuat dirinya tenang.

Apakah Mengempeng Berbahaya?

Asosiasi dokter gigi Amerika (ADA) menyatakan bahwa sebagian besar anak bisa mengempeng baik empeng (pacifier) atau jempolnya tanpa mempengaruhi susunan gigi atau rahangnya jika kebiasaan tersebut berhenti sebelum pembentukan gigi permanen (sekitar 6 tahun). Namun, kebiasaan mengempeng yang berkelanjutan dapat mempengaruhi perkembangan rahang dan susunan gigi (malocclusion). Anak yang mengempeng juga mengalami masalah dalam berbicara seperti salah pengucapan Ts dan Ds atau mendorong lidah keluar ketika berbicara. Efek kebiasaan mengempeng pada gigi dipengaruhi oleh frekuensi, kekuatan, dan lama mengempeng. Resiko kerusakan susunan gigi diperbesar oleh kebiasaan bayi yang menghisap empeng (pacifier) atau jempolnya dengan kuat. Anak yang hanya meletakkan jempolnya atau empengnya di mulut dengan pasif mempunyai resiko masalah gigi yang lebih rendah di kemudian hari.Efek yang ditimbulkan kebiasaan mengempeng pada gigi umumnya tidak permanen dan tidak menyebabkan masalah pada jangka panjang jika kebiasaan mengempeng dapat dihentikan pada usia dini. Oleh karena itu, sangat penting untuk menghentikan kebiasaan mengempeng ini sebelum gigi permanen tumbuh, para ahli merekomendasikan untuk mulai mengurangi kebiasaan ini ketika anak sudah berusia 3-4 tahun. Jika anak anda tergolong tipe yang mengempeng dengan kuat, anda bisa menghentikan kebiasaannya ketika anak anda berusia 3 tahun. JIka anda mengamati perubahan pada mulut atau gigi anak karena kebiasaan ini, segera hubungi dokter gigi anda.Jika jari anak terpengaruh oleh kebiasaan mengempeng ini, anda bisa mengoleskan pelembab pada jari ketika anak anda tidur.

Mana yang lebih baik, menghisap empeng (pacifier) atau jari?

Anak yang mengempeng empeng (pacifier) umumnya menghentikan kebiasaannya lebih cepat daripada anak yang mengempeng jari Anda bisa lebih mudah menghentikan kebiasaan mengempengnya dengan menjauhkan empeng (pacifier) dari anak jika anak sudah berusia di atas 1 tahun untuk memperkecil resiko anak mengempeng jempolnya. Akan tetapi, mengempeng jari memberi bayi kemandirian karena anak bisa langsung menghisap jarinya kapanpun dia merasa butuh untuk menenangkan dirinya sementara penggunaan empeng (pacifier) mengharuskan anda untuk terus menerus meletakkan empeng pada mulut bayi. Menaruh empeng (pacifier) pada mulut bayi terus menerus pada waktu yang lama diduga menyebabkan anak ketagihan empeng (pacifier) dan kebiasaan mengempeng makin sulit dihentikan.Pada tahun 2005, American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan hasil riset mereka yang merekomendasikan penggunaan empeng (pacifier) pada tahun pertama bayi untuk mengurangi resiko bayi mati mendadak (SIDS). Panduan penggunaan empeng (pacifier) menurut AAP:

  • Empeng hanya digunakan ketika bayi hendak tidur dan dilepaskan ketika bayi sudah tidur
  • Empeng tidak boleh dilapisi cairan manis
  • Empeng harus dibersihkan dan diganti secara teratur
  • Untuk bayi yang menyusui, penggunaan empeng sebaiknya ditunda hingga bayi berusia sebulan agar tidak mengganggu proses penyusuan
  • Empeng tidak boleh digunakan sebagai pengganti makanan ataupun susu, empeng hanya boleh digunakan ketika bayi tidak dalam keadaan lapar
  • Empeng yang digunakan harus mempunyai lubang ventilasi dan mempunyai dasar yang lebih besar dari mulut bayi untuk mencegah resiko tertelan
  • Empeng harus terbuat dari material yang aman, dan harus diganti ketika sudah ada tanda kerusakan. Jangan pernah menalikan empeng ke tali di boks bayi atau tali di sekitar leher atau tanga bayi.

Ketika mengenalkan empeng, carilah waktu ketika anda yakin bahwa bayi anda tidak lapar. Anda tidak perlu merasa khawatir jika bayi anda tidak menyukai empeng (pacifier) dan lebih memilih jarinya. Perlu diingat juga bahwa tidak semua bayi butuh mengempeng. Beberapa bayi sudah cukup puas dengan menyusu langsung atau menggunakan botol.

Bagaimana memberhentikan kebiasaan mengempeng?

Sebagian besar anak akan menghentikan kebiasaan mengempengnya ketika mereka sudah menemukan cara lain untuk menenangkan dirinya. Sebagai contoh, pada awal-awal kehadirannya, bayi akan menghisap jempolnya ketika merasa lapar. Semakin dia berkembang, dia bisa menyatakan keinginannya atau langsung mengambil makanan yang bisa diraihnya. Pada sebuah penelitian yang dilakuan Dr. T. Berry Brazelton, hanya 6% bayi yang masih mengempeng pada usia 1 tahun dan hanya 3% pada usia 2 tahun. Anak lain pada umumnya akan berhenti mengempeng ketika sudah bersekolah akibat tekanan teman-temannya.Anda bisa membantu anak anda untuk meninggalkan kebiasaan mengempeng ini. Kuncinya adalah mengetahui kapan dan penyebab kebiasaan ini sehingga anak bisa dialihkan perhatiannya ke hal lain. Ketika anda sudah bisa mengidentifikasi situasi dan kondisi yang mendorong anak anda mengempeng, alihkanlah perhatiannya dengan mainan yang menggunakan tangan secara aktif seperti bermain bola atau bermain boneka. Anda juga bisa berusaha menenangkan anak anda dengan mendekapnya, mengayunnya, bernyanyi untuknya, atau mendengarkan lagu yang menenangkan.Jika anak anda mengempeng ketika dia lelah, biarkanlah dia tidur siang lebih lama. Atau ketika anak anda mengempeng ketika merasa gelisah atau frustasi ajarilah mengungkapkan emosinya dengan kata-kata atau buatlah dia merasa lebih baik dengan mendekapnya.

Bersikap keras dan menghukum anak anda untuk menghentikan kebiasaan mengempengnya tidak akan membantu karena anak anda umumnya mengempeng dengan tidak sadar. Lagipula, bersikap terlalu keras juga bisa membuat anak anda merasa tidak nyaman dan mendorongnya untuk mengempeng lebih kuat. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang masih mengempeng pada usia 4 tahun sempat dilarang keras mengempeng oleh orang tuanya sebelumnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa menarik paksa jari dari mulut anak ketika dia sedang mengempeng bisa mendorong anak anda mengempeng berkelanjutan hingga berusia lebih dari 5 tahun. Komentar negatif, bentakan, hukuman, pukulan juga hanya membuat anak anda semakin kuat mengempeng.

Jika kebiasaan mengempeng masih berlanjut sampai usia 4 tahun, anda mungkin harus berkonsultasi dengan dokter gigi anda untuk untuk mengevaluasi efek kebiasaan mengempeng pada gigi anak dan strategi untuk menghentikannya. Dokter gigi anak bisa merekomendasikan alat yang bisa digunakan di mulut sehingga anak akan merasa tidak nyaman untuk mengempeng.

Hanifah Widiastuti, PhD

SUMBER:

  1. www.babycenter.com/0_thumb-sucking_11574.bc
  2. www2.aap.org/ORALHEALTH/pact/ch8_sect1c.cfm
  3. www.childrenshealthnetwork.org/CRS/CRS/pa_thumbsuc_hhg.htm
  4. www.mayoclinic.org/healthy-living/childrens-health/in-depth/thumb-sucking/art-20047038?pg=2
  5. http://www.webmd.com/parenting/how-to-stop-thumb-sucking
  6. http://www.webmd.com/parenting/how-to-stop-thumb-sucking#