Tag Archives: hidup sehat

Daging Merah Menyebabkan Kanker?

Baru-baru ini, lembaga kesehatan dunia (WHO) mengumumkan bahwa daging merah dan olahannya dapat menyebabkan kanker (usus). Keputusan ini dibuat oleh lembaga penelitian kanker internasional (IARC) berdasarkan tinjauan terhadap 800 penelitian. Lantas apakah kita harus berhenti mengkonsumsi daging merah dan daging olahan?

Sekilas mengenai jenis-jenis daging

Daging merah yang dimaksud adalah daging yang berwarna merah sebelum dimasak (termasuk sapi, kambing, dan babi). Sementara yang dimaksud dengan daging olahan adalah daging (merah) yang dijual tidak dalam keadaan segar dan setelah mengalami proses seperti diasinkan, diasap, difermentasi, dikeringkan, ditambahkan pengawet atau bahan lain. Contoh daging olahan adalah sosis, ham, bacon, salami, dendeng. Daging cincang maupun daging cincang yang dipadatkan menjadi patty untuk hamburger tanpa tambahan pengawet tidak termasuk ke dalam golongan ini.

Daging putih berupa ayam, ikan, ataupun kalkun juga tidak termasuk ke dalam dua golongan di atas (tidak ada bukti bahwa daging putih ini bisa meningkatkan resiko terkena kanker).

Bagaimana daging merah menyebabkan kanker?

Para peneliti masih terus memelajari bagaimana tepatnya daging merah dan olahannya dapat menyebabkan kanker. Beberapa teorinya ialah :

  1. Efek dari pemecahan senyawa heme (yang membentuk haemoglobin dan menyebabkan darah berwarna merah) dipecah oleh sistem pencernaan menjadi kelompok senyawa N-nitroso. Senyawa N-nitroso telah terbukti dapat merusak sel-sel pelapis usus, sehingga sel-sel dinding usus harus lebih banyak membelah diri dan meningkatkan peluang mutasi DNA
  2. Daging olahan mengandung bahan-bahan yang dapat mengakibatkan terbentuknya senyawa N-nitroso dan polisiklik aromatik hidrokarbon di dalam perut, contohnya pengawet yang mengandung nitrit.
  3. Proses memasak. Memasak daging pada temperatur tinggi (dibakar atau dipanggang) bisa menyebabkan terbentuknya senyawa-senyawa kimia seperti heterosiklik aromatik amina dan polisiklik aromatik hidrokarbon yang diduga dapat meningkatkan resiko kanker. Daging merah dan olahannya menghasilkan senyawa-senyawa ini dalam jumlah yang lebih besar dibanding golongan daging lain (daging putih).
  4. Kandungan besi dalam daging merah bisa meningkatkan resiko kanker.
  5. Koloni bakteri dalam perut memainkan peran dalam pembentukan kanker.

Dengan demikian, terlepas dari kualitas daging atau sumber daging (lokal atau impor), kandungan alami dari daginglah dan cara memasaknya yang dapat meningkatkan resiko kanker.

Terlepas dari mekanisme pengaruh konsumsi daging terhadap pembentukan kanker, IARC mempunyai bukti yang cukup untuk dapat memutuskan bahwa daging olahan dapat dipastikan (definitely) meningkatkan resiko kanker sementara daging merah kemungkinan (probably) meningkatkan resiko terjadinya kanker.

Seberapa besar derajat keyakinan daging merah menyebabkan kanker?

Berdasarkan penggolongan IARC, daging olahan termasuk dalam group 1 karsinogen (dapat dipastikan menyebabkan kanker) bersama dengan alkohol, tembakau, arsenik, asbestos dan pestisida. Sementara daging merah termasuk group 2a (kemungkinan menyebabkan kanker) bersama dengan kerja shift (diduga mengacaukan ritme sirkadia dan metabolisme).

151026-IARC-Meat-rating-TWITTER

Faktor-faktor resiko karsinogen yang tergolong di dalam group lain dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

A-Rough-Guide-to-IARC-Carcinogen-Classifications-724x1024.0
Dengan mengkonsumsi 50 gram daging olahan (2 lembar bacon) per hari, resiko terkena kanker usus meningkat 18%. Resiko terkena kanker usus saat ini adalah sekitar 5%, peningkatan 18% menyebabkan resiko terkena kanker usus menjadi 5,9% seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

bacon-risk

Namun, perlu diingat bahwa penggolongan oleh IARC tersebut didasarkan pada seberapa yakinnya sesuatu hal dapat menyebabkan kanker berdasarkan data yang ada, bukan seberapa banyak atau seberapa parah kanker yang bisa disebabkan. Pengelompokan tersebut tidak didasari pada level kekuatan karsinogen sehingga tidaklah tepat jika dikatakan konsumsi daging merah sama berbahayanya dengan merokok. Untuk lebih jelasnya, kita bisa melihat dari perbandingan data kanker yang disebabkan oleh konsumsi daging merah dan olahannya dengan kanker yang disebabkan oleh rokok.

151026-Tobacco-vs-Meat-UPDATE

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa resiko terkena kanker akibat merokok lebih besar beberapa kali lipat dibandingkan konsumsi daging merah dan olahannya. Diperkirakan sekitar 8.800 kasus kanker tiap tahun di Inggris disebabkan oleh konsumsi daging merah dan olahannya dalam jumlah yang berlebihan sementara 64.500 kasus kanker tiap tahun disebabkan oleh merokok. Selain itu, merokok merupakan penyebab 86% kasus kanker paru-paru dan 19% kanker jenis lain.

Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan paling penting: haruskah kita berhenti mengkonsumsi daging merah dan olahannya?

Daging merah merupakan sumber nutrisi yang penting untuk manusia karena mengandung protein, vitamin, dan mineral seperti besi dan zinc. Dengan demikian, konsumsi daging merah tidak harus dihentikan, hanya harus dibatasi baik jumlah maupun frekuensinya.

Batas konsumsi daging merah dan olahannya yang dianggap aman adalah 70 gram daging merah (dan olahannya) per hari.

Gambar di bawah ini bisa memberikan gambaran berapa banyak konsumsi daging merah dan daging olahan yang direkomendasikan.

151026-How-much-meat-spag

Dengan demikian, jika anda terbiasa mengkonsumsi daging dalam jumlah yang besar, anda mungkin harus menguranginya atau menggantinya dengan ayam, ikan, atau kalkun. Anda juga bisa mengurangi porsi daging dengan mencampur sayuran dan kacang-kacangan ke dalam masakan anda.

Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup yang seimbang. Konsumsi lebih banyak serat, buah, dan sayur; kurangi konsumsi garam, daging merah dan olahannya. Aktif bergerak, berolahraga secara teratur, jauhi konsumsi alkohol dan jangan merokok.

Hanifah Widiastuti, PhD.

10/29/2015

References:

1. Interest C. A Rough Guide to the IARC’s Carcinogen Classifications [Internet]. Compound Interest. [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://www.compoundchem.com/2015/10/26/carcinogens/

2. Véronique Bouvard, Dana Loomis, Kathryn Z Guyton, Yann Grosse, Fatiha El Ghissassi, Lamia Benbrahim-Tallaa, et al. Carcinogenicity of consumption of red and processed meat. The Lancet. 2015 Oct 26;

3. Choices NHS. Eating meat and staying healthy – Live Well – NHS Choices [Internet]. 2014 [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/meat.aspx#cooking

4. Ijssennagger N, Belzer C, Hooiveld GJ, Dekker J, van Mil SWC, Müller M, et al. Gut microbiota facilitates dietary heme-induced epithelial hyperproliferation by opening the mucus barrier in colon. Proc Natl Acad Sci. 2015 Aug 11;112(32):10038–43.

5. Radulescu S, Brookes MJ, Salgueiro P, Ridgway RA, McGhee E, Anderson K, et al. Luminal Iron Levels Govern Intestinal Tumorigenesis after Apc Loss In Vivo. Cell Rep. 2012 Aug;2(2):270–82.

6. Processed meat and cancer – what you need to know [Internet]. Cancer Research UK – Science blog. [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://scienceblog.cancerresearchuk.org/2015/10/26/processed-meat-and-cancer-what-you-need-to-know/

7. So processed meat has been classified as carcinogenic. Here’s what you need to know. [Internet]. ScienceAlert. [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://www.sciencealert.com/so-processed-meat-has-been-classified-as-carcinogenic-here-s-what-you-need-to-know

8. Choices NHS. The eatwell plate – Live Well – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/eatwell-plate.aspx

Anjuran Kesehatan Menghadapi Kabut Asap

Kebakaran hutan saat kemarau selalu membawa petaka bagi saudara kita di Riau. Tahun ini, bukan hanya Riau, provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan juga terkena musibah yang sama. Aktivitas rutin di sekolah maupun perkantoran menjadi lumpuh. Lebih mengkhawatirkan lagi karena kabut asap ini bisa berbahaya bagi kesehatan manusia

Bahaya Asap sebagai Polutan

Asap termasuk polutan udara karena mengandung debu, partikel asap, Sulfur Dioxida (SO2), Nitrogen Dioxida (NO2), Carbon monoxida (MO) dan partikulat. Dikarenakan ukurannya yang amat kecil, zat partikulat ini bisa lolos sistem pertahanan saluran nafas manusia menuju paru-paru sampai pembuluh darah. Bila hal ini terjadi, zat partikulat bisa merusak alveolus dan mengganggu kesehatan. Adapun pengaruh asap terhadap kesehatan ialah:

  • Jangka pendek (dalam hitungan jam sampai hari):

    Dapat mencetuskan bronkitis akut, asthma, dan infeksi pada penderita penyakit paru kronis

    Pada penderita penyakit jantung dapat mencetuskan aritmia dan serangan jantung

    Pada anak-anak atau dewasa sehat dapat terjadi iritasi ringan

  • Jangka panjang (tinggal bertahun-tahun di daerah dengan bencana asap): dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular (misalnya serangan jantung), penyakit paru kronis (seperti asthma pada anak), kanker sampai kematian dini.1–4

Siapa yang paling rentan terhadap bencana asap?

Dampak negatif asap paling dirasakan oleh :1–5

  1. Anak-anak. Anak termasuk kelompok rentan karena paru-parunya masih berkembang juga nafas yang lebih cepat dari orang dewasa.

  2. Orangtua. Hal ini disebabkan orangtua paling besar kemungkinan memiliki riwayat penyakit kronis

  3. Pengidap penyakit kronis :

    -Saluran nafas seperti alergi, sinusitis, asthma, PPOK (Penyakit paru obstruktif kronis)

    -Penyakit jantung (koroner, gagal jantung)

    -Diabetes mellitus

Bagaimana mendeteksi kualitas udara saat bencana asap?

Saat ini Indeks standar kualitas udara yang dipergunakan secara resmi di Indonesia adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Pollutant Standard Index (PSI). Parameter yang diukur dari ISPU ialah Partolia Partikulat (PM10), Karbondioksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2) dan Ozon (O3).6

Capture

Bagaimana mengurangi dampak negatif akibat asap?

Bila Anda berada di tempat yang terkena bencana asap, berikut ini beberapa saran untuk mengurangi kejadian penyakit akibat asap :2,7–11

  1. Pantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Pollutant Standard Index (PSI) 24 jam di situs BMKG. Sesuaikan aktivitas Anda berdasarkan level ISPU.
Untitled

*Aktivitas berat : aktivitas yang membutuhkan energi atau usaha yang tinggi, Lama : aktivitas berlangsung selama berjam-jam

  1. Gunakan masker N95 apabila keluar rumah. Masker bedah biasa tidak cukup menyaring partikel udara kecil akibat asap. Meskipun N95 bersifat protektif terhadap partikel asap, masker ini bisa meningkatkan usaha nafas. Sehingga, hindari penggunaan masker N95 dalam jangka waktu lama terutama bagi ibu hamil, orang tua, penderita penyakit paru dan jantung kronik serta stroke.

  2. Karena masker N95 tidak tersedia untuk bayi dan anak, sebaiknya anak tidak dibawa keluar rumah saat bencana asap

  3. Terapkan pola hidup sehat dengan makan yang seimbang dan tidur cukup

  4. Minum lebih banyak dari biasanya

  5. Cuci tangan atau mandi setelah keluar dari rumah atau terpapar asap

  6. Hindari merokok, alkohol dan kopi

  7. Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah atau ruang tertutup lainnya

  8. Tutup jendela saat berkendara

  9. Gunakan AC di dalam rumah untuk membantu membuang zat polutan

  10. Gunakan air ioniser atau air purifier (penyaring udara) untuk menangkap polutan yang amat kecil

  11. Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain.

Untitled Banner

Agustina Kadaristiana, dr.

09/19/2015

Referensi

1. FAQ: Impact of Haze on Health (Updated 20 March 2015) | Ministry of Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: https://www.moh.gov.sg/content/moh_web/home/pressRoom/Current_Issues/2014/haze/faq–impact-of-haze-on-health.html

2. Haze and Health Effects [Internet]. Raffles Medical Group. 2014 [cited 2015 Sep 19]. Available from: https://www.rafflesmedicalgroup.com/docs/default-source/health-advisories/advisory-haze-220914.pdf?sfvrsn=2

3. Impact of Haze on Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.hpb.gov.sg/HOPPortal/health-article/HPB051226

4. Particle Pollution and Your Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://airnow.gov/index.cfm?action=particle_health.index

5. MOH Haze Microsite | Ministry of Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: https://www.moh.gov.sg/content/moh_web/home/pressRoom/Current_Issues/2014/haze.html

6. INDEX KUALITAS UDARA. Available from: http://personal.its.ac.id/files/material/3796-assomadi-PU-V-%28A%29INDEX%20KUALITAS%20UDARA.pdf

7. Impact of Haze on Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.hpb.gov.sg/HOPPortal/health-article/HPB051226

8. Anjuran Kemenkes Hadapi Dampak Kesehatan Akibat Kabut Asap Riau [Internet]. detikHealth. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://health.detik.com/read/2013/06/23/105627/2281425/763/anjuran-kemenkes-hadapi-dampak-kesehatan-akibat-kabut-asap-riau

9. Children and the Haze in Singapore [Internet]. www.healthxchange.com.sg. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.healthxchange.com.sg/healthyliving/childrenhealth/Pages/children-and-the-haze-in-singapore.aspx

10. E101 Haze: Media Centre [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.e101.gov.sg/haze/media.htm

11. How to Protect Yourself From the Haze in Singapore [Internet]. www.healthxchange.com.sg. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.healthxchange.com.sg/healthyliving/ManagingChronicIllnesses/Pages/how-to-protect-yourself-from-the-haze-in-singapore.aspx

Cara Memelihara Otak Untuk Fungsi yang Optimal

Otak merupakan organ vital tubuh karena seluruh aktivitas kita dikendalikan oleh otak. Tidaklah berlebihan bila kita harus memelihara dan menyayangi otak kita. Bila dilihat dari fungsinya, otak kita terbagi menjadi dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kanan berfungsi untuk kreativitas, konseptual, inovasi, gagasan, gambar, warna, musik, irama, melodi, dan bermimpi. Sedangkan otak kiri berfungsi dalam bidang matematika, bahasa, membaca, menulis, logika, urutan, sistematis, analitis. Berikut ini beberapa cara memelihara otak untuk fungsi yang optimal

Hindari hal-hal yang dapat merusak otak, yaitu:

  • Tidak sarapan pagi, karena otak memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi otak
  • Makan berlebih, akibatnya terjadi penimbunan asam lemak jenuh yang akan membebani pembuluh darah otak saat menyuplai glukosa dan oksigen ke sel-sel otak.
  • Konsumsi gula berlebih yang akan mengganggu penyerapan protein, sehingga otak tidak berkembang dengan sehat
  • Rokok dan asap rokok dapat membuat sel otak rusak, serta mempercepat degenerasi
  • seperti pada penyakit Alzheimer
  • Polusi udara menyebabkan oksigen ke otak berkurang
  • Tidur berlebih dapat menyebabkan sel otak menurun fungsinya
  • Jarang berpikir akan menyebabkan otak tidak berkembang

Jagalah kinerja otak dengan :

  1. Olahraga teratur, seminggu tiga kali untuk meningkatkan suplai darah ke otak, sehingga otak akan lebih banyak menerima oksigen. Olahraga juga dapat menurunkan kadar garam dalam otak yang mampu memperbaiki suasana hati. Olahraga akan meningkatkan produksi keringat dan produksi air kencing, sehingga menurunkan kadar garam dalam
  2. Istirahatkan otak setelah berpikir. Berpikir keras tanpa istirahat memperparah ketidakefektifan otak, serta dapat merusak otak.
  3. Kurangi stres karena stres yang berlebihan akan memicu hormon kortisol yang ternyata berpengaruh pada tes memori. Peneliti dari University of Carolina melakukan studi dengan hasil bahwa jika seseorang membiarkan stres dalam otaknya selama bertahun- tahun, akan mengalami penurunan fungsi otak tanpa disadarinya. Sebanyak 100 responden yang mengikuti tes memori membuktikannya. Partisipan diberi instruksi untuk mengingat nama orang, benda, dan angka oleh peneliti. Hasilnya mereka yang gagal dalam tes tersebut, terdeteksi mengalami stres selama bertahun-tahun. Namun, beberapa responden mengaku mereka tidak merasa stres. Para ahli saraf percaya, kemampuan kita untuk mengendalikan emosi dan stres adalah cara untuk melindungi jaringan otak. Sebab emosi adalah pemicu bagi rusaknya banyak area dalam otak, mulai dari memori, kemampuan berpikir logis, hingga kemampuan berekspresi.
  4. Berpikirlah positif, hal ini sangat menguntungkan karena dapat menstimulasi otak untuk mengolah informasi lebih baik sehingga otak kita akan selalu berada dalam kondisi prima. Penelitian pada tahun 2007 menemukan responden yang selalu mengelilingi dirinya dengan energy positif mampu menekan risiko kemunduran fungsi kognitif otak hingga 60%. Sementara pada responden yang sering stres dan emosional mengalami kemunduran daya ingat atau demensia.
  5. Tidur cukup 6-8 jam sehari. Tidur yang cukup berfungsi untuk:
  • Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak
  • Memperlancar produksi hormon pertumbuhan yang penting untuk meningkatkan kualitas, ukuran, efisiensi otak, dan meningkatkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak. Kebanyakan hormon pertumbuhan diproduksi pada saat kita tidur dengan tenang, tanpa beban.
  • Meningkatkan konsentrasi berpikir.

Reqgi First Trasia, dr. 

Depok, 9 Agustus 2015

Referensi

1. Amen GD. 2005. Seven Nutrition Tips for Increasing Brain Power Healthier, Longer Living and Your Food Choices.

2. Dangour DA, Uauy R. 2008. N-3 non chain Polyunsaturated Fatty Acids for Optimal Function During Brain Development and Aging. Asia Pacific Journal Clinical Nutrition. Volume 17 pg 185-188

3. Science of Today. 2009. Memori Otak yang Rusak Akibat Stress. www.solar-aid.org

4. Eastern Idaho Public Health District. 2005. Breakfast Boosts Brain Power. www.phd7.idaho.gov

5. Herdata. 2010. Zat Besi Optimalkan Perkembangan Otak. Ebook FK Unsyiah

6. Lipson E. 1999. Continuing Education Module : Brain Nutrient. New Hope Institute Natural

7. Clandinin and Jumpsen. 1995. Brain Development : Relationship to Dietary Lipid and Lipid Metabolism. AOCS Press. Champain. Illinois

Waspada Infeksi MERS

Melepas kepergian Haji memang bukan perkara mudah. Selain umat Islam perlu berserah diri meninggalkan rutinitas semata-mata untuk ibadah, ditambah dengan tantangan yang mungkin dihadapi di tanah suci. Salah satu tantangan jamaah haji tahun ini ialah infeksi MERS.

Dalam seminggu terakhir dilaporkan 49 kasus positif MERS di Arab Saudi. Peningkatan kasus ini cukup menggelisahkan mengingat rombongan Haji sudah mulai berdatangan termasuk jamaah dari Indonesia. Tapi tidak perlu panik, bila Anda atau keluarga akan menjalankan Haji tahun ini, tidak ada salahnya bila kita persiapkan yang terbaik untuk tetap fit dan terbebas dari MERS.1,2

Apa itu MERS?

MERS (Middle East Respiratory Syndrome) merupakan penyakit gangguan pernafasan yang disebabkan oleh coronavirus yang disebut MERS-CoV. Penyakit ini pertama kali di laporkan di Saudi Arabia tahun 2012.3,4

Apa gejala MERS?

Gejala MERS bervariasi dari yang ringan sampai berat. Namun, mayoritas pasien yang terinfeksi virus MERS-CoV mengalami gangguan saluran pernafasan berat seperti demam tinggi, menggigil, batuk, batuk darah nyeri tenggorokan dan sesak nafas dimana 30% diantaranya meninggal dunia. Keluhan lain bisa berupa diare, muntah dan nyeri perut.3

Bagaimana cara penularan MERS?

Saat ini diduga kuat penularan infeksi MERS dapat melalui manusia atau hewan. Yaitu :

  • Kontak langsung dengan penderita MERS (berada dalam jarak 2 meter dalam satu ruangan dengan periode yang lama)
  • Terkena tetesan bersin atau droplet batuk
  • Memegang hidung, mulut atau mata setelah kontak dengan perlengkapan pasien yang terinfeksi
  • Kontak langsung dengan unta terutama yang berpunuk satu.3,5

Adakah terapi atau vaksin untuk MERS?

Sampai saat ini belum ada antivirus dan vaksin untuk mengatasi MERS. Terapi hanya bersifat meringankan gejala. 3,5

Perlukah kita membatalkan perjalanan ke semenanjung Arab dengan tujuan apapun?

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) tidak merekomendasikan untuk membatalkan rencana perjalanan ke Timur Tengah (termasuk Saudi Arabia) karena MERS. Namun, penting diketahui langkah-langkah pencegahan MERS bagi yang akan berkunjung ke daerah ini.3

Bagaimana mencegah penularan penyakit MERS?

mersinfographic

Pencegahan penyakit MERS tidaklah sulit. Caranya adalah :

  • Seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air. Jika tidak ada sabun dan air, gunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol.
  • Hindari menyeka mata, hidung dan mulut karena kuman menyebar dengan cara ini.
  • Hindari kontak dekat dengan orang sakit.
  • Gunakan masker (direkomendasikan masker jenis N95)
  • Lakukan vaksin dasar sebelum umroh/haji (vaksin influenza dan meningitis). Meskipun belum ada vaksin untuk MERS, kedua vaksin ini membantu mencegah infeksi lain yang gejalanya menyerupai MERS.
  • Jamaah yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, bronkitis, dll harus konsutlasi terlebih dahulu dengan petugas medis sebelum berangkat.
  • Hindari kontak dengan unta atau hewan lain selama di Arab. Bila terjadi kontak, langsung cuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer.
  • Hindari konsumsi daging yang tidak matang sempurna atau susu yang belum dipasteurisasi.
  • Lakukan pola hidup sehat dan bersih seperti selalu menjaga kebersihan badan dan makanan/minuman. 2-5

Jika kita sakit :

  • Tutup mulut dengan tisu ketika batuk atau bersin dan buanglah tisu ini langsung pada tempat sampah. Jangan gunakan tisu yang sama lebih dari sekali. Jangan bersin langsung ke kulit tangan karena virus akan tetap hidup dan berpindah ke tangan. Bila tidak ada tisu, bersin atau batuklah ke kain lengan baju karena virus tidak bisa hidup di serat kain.
  • Hindari kontak yang dekat dengan orang lain untuk mengurangi penularan
  • Bila sakit saat bepergian, temui sarana medis terdekat.
  • Temui dokter bila mengalami demam, batuk, sesak nafas dalam 14 hari setelah mengunjungi Timur Tengah. 2,3,6

Semoga bermanfaat.. Selamat menjalankan ibadah Haji bagi yang melaksanakannya..

Agustina Kadaristiana,dr.

Publikasi pertama Jun 2, 2014,  revisi terakhir 27 Agustus 2015

Referensi :
1. Why worries about a MERS virus outbreak at the Hajj are probably overblown [Internet]. Vox. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.vox.com/2015/8/25/9207157/mers-hajj
2. Kingdom of Saudi Arabia – Ministry of Health Portal [Internet]. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.moh.gov.sa/en/
3. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). CDC [Internet]. 2015 Jul 6; Available from: http://www.cdc.gov/coronavirus/mers/about/index.html
4. WHO | Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.who.int/emergencies/mers-cov/en/
5. Kenneth McIntosh, MD. Middle East respiratory syndrome coronavirus. Uptodate. 2015 Aug 24;
6. WHO | Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/mers-cov/en/