Tag Archives: MP ASI

Jangan Beri Makanan Ini Pada Bayi < 1 Tahun

Saat ananda sudah berumur 6 bulan, ibu dan ayah sudah perlu mengenalkan makanan padat secara bertahap padanya. Namun, ternyata tidak semua makanan atau minuman boleh diberikan sebelum anak berusia 1 tahun. Apa saja ya daftarnya?

1. Makanan yang keras atau lengket

foods-choking-hazardsBayi yang belum bisa mengunyah secara sempurna amat mudah tersedak bila mengkonsumsi makanan yang terlalu padat. Sehingga, hindari memberi kacang, anggur utuh, wortel mentah atau permen demi keamanan buah hati. Makanan lunak tapi lengket seperti marshmallow, jelly atau permen karet juga bisa menyangkut di tenggorokan bayi dan membuat tersedak.1,2

2. Makanan mentah

6a00d83451f83a69e201156fbf0ca1970c-500wiDaging sapi, ayam, ikan yang setengah matang, kerang mentah, salad atau sayur mentah tidak boleh diberikan pada bayi karena beresiko menyebabkan keracunan makanan. Sedangkan telur setengah matang dapat menyebabkan infeksi Salmonella. Pastikan makanan dimasak sempurna sebelum diberikan pada bayi. 3,4

3. Madu

HoneySebagian orangtua mungkin kaget ternyata madu tidak disarankan untuk bayi kurang dari 1 tahun. Padahal, manfaat madu sudah banyak diketahui secara ilmiah. Ternyata, alasan di balik ini ialah adanya peningkatan resiko infant botulism (infeksi botulismus) bila bayi mengkonsumsi madu. Madu dapat mengandung spora bakteri Clostridium botulinum. Spora ini apabila tertelan dapat berkoloni dalam usus dan menghasilkan toksin. Pada bayi yang saluran pencernaannya belum sempurna, reaksi toksin ini dapat berakibat fatal. Otot bayi akan menjadi lemas, refleks berkurang, konstipasi, dehidrasi bahkan menyebabkan kematian.5

4. Susu Sapi Murni

Fresh_Milk+jpgSusu sapi murni tidak disarankan untuk diberikan bayi sebelum 12 bulan karena kandungan nutrisi yang kurang lengkap dan dapat meningkatkan resiko kekurangan zat besi pada bayi. Protein pada susu murni juga lebih sulit dicerna bayi dan dapat meningkatkan beban ginjal. Sehingga susu murni tidak cocok diberikan apalagi menggantikan ASI atau susu formula sebelum bayi berusia 1 tahun. 6–8

5. Susu nabati

milk-versus-plant-based-milksSusu nabati seperti susu kedelai, beras, almond atau santan secara umum perlu dihindari karena kadar nutrisi yang tidak memenuhi kebutuhan bayi di bawah 1 tahun. Namun, pada bayi yang alergi susu hewani, susu nabati dapat menjadi alternatif di bawah konsultasi dokter atau ahli gizi.9

6. Gula

543ab6f44216dPenelitian membuktikan bahwa bayi yang diberikan minuman manis dapat meningkatkan risiko obesitas saat usia 6 tahun. Selain itu, gula dapat menyebabkan gigi berlubang. Sehingga amat penting untuk menghindari pemberian gula pada bayi. Orang tua tidak perlu khawatir karena bayi sebelum 1 tahun tidak membutuhkan gula dapur. Bila Anda ingin menambah rasa manis pada makanan bayi, cukup berikan ASI, pisang yang dilumatkan atau susu formula. 3,7,9

7. Garam dan gula sebagai bumbu

Salt-reduction-and-social-inequality-UK-reduction-policies-have-not-reached-those-most-in-needNah, ini sering sekali menjadi perdebatan di kalangan para ibu. Biasanya orangtua ingin menambah rasa gurih supaya bayi makan dengan lahap. Namun, sebaiknya orangtua bersabar. Karena konsumsi garam berlebihan dapat berpotensi menimbulkan gangguan ginjal dan hipertensi nantinya. Pemberian garam atau gula juga tidak meningkatkan penerimaan bayi terhadap makanan. Sehingga makanan bayi mestilah terasa ‘hambar’. Meskipun terasa hambar, garam juga sebenarnya sudah terkandung dalam makanan. Keuntungan lain membatasi pemberian bumbu ialah menurunkan ambang batas rasa manis dan asin saat ia besar. Bila ibu menggunakan makanan instan bayi, pilih makanan dengan kandungan sodium (natrium) <0.1 gram per 100 gram. Beberapa makanan tinggi garam misalnya :

  • Snack
  • Biskuit
  • Mi dan sup instan
  • Pizza
  • Saus botolan
  • Makanan kaleng yang ditambahkan garam
  • Kecap asin, MSG
  • Sereal untuk dewasa.10–12

7. Diet vegan

GTY_vegetarian_meal_nt_131007_16x9_608Bayi tidak disarankan untuk melakukan diet vegetarian murni (hanya mengkonsumsi produk nabati). Hal ini disebabkan bayi menjadi rentan kekurangan nutrisi. Penelitian dari Belanda membuktikan bahwa bayi dan anak yang berdiet vegan mengalami kekurangan energi, protein, vitamin B12, vitamin D, kalsium, riboflavin sehingga tumbuh kembangnya terhambat. Bila orangtua menghendaki bayinya berdiet vegan, pastikan beri ia susu (ASI atau formula), produk turunannya yang cukup. Pemberian ikan secara berkala juga amat penting.7

8. Minuman rendah nutrisi

downloadTeh, kopi, dan minuman kaleng (soda) tidak baik dikonsumsi bayi karena nutrisinya yang rendah. Selain itu, minuman ini dapat menurunkan nafsu makan bayi terhadap makanan sehat.1

Agustina Kadaristiana, dr.

2015-07-31

Referensi :

1. PAHO. GUIDING PRINCIPLES FOR COMPLEMENTARY FEEDING OF THE BREASTFED CHILD [Internet]. WHO; 2003. Available from: http://www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/a85622/en/
2. Board the BMA. Foods that can be unsafe for your baby [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.babycenter.com/0_foods-that-can-be-unsafe-for-your-baby_9195.bc
3. Choices NHS. Foods to avoid giving your baby – Pregnancy and baby guide – NHS Choices [Internet]. 2014 [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/pages/foods-to-avoid-baby.aspx#close
4. Foods not suitable for babies under 12 months of age [Internet]. Ngala; Available from: www.ngala.co.au
5. NADINE COX, M.D RH, D.O. Infant Botulism. AAFP. 2002;65(7):1388–93.
6. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
7. Agostoni C, Decsi T, Fewtrell M, Goulet O, Kolacek S, Koletzko B, et al. Complementary feeding: a commentary by the ESPGHAN Committee on Nutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2008 Jan;46(1):99–110.
8. Nicolas Stettler, Virginia A. Stallings, Jatinder Bhatia, Anjali Parish. Feeding Healthy Infants, Children, and Adolescents. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; 2011. p. 161.
9. Teresa K Duryea, MD. Introducing solid foods and vitamin and mineral supplementation during infancy. Uptodate [Internet]. 2015; Available from: http://www.uptodate.com/contents/introducing-solid-foods-and-vitamin-and-mineral-supplementation-during-infancy
10. Can I put salt in my baby’s food? [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.babycenter.in/x555836/can-i-put-salt-in-my-babys-food
11. Cribb VL, Warren JM, Emmett PM. Contribution of inappropriate complementary foods to the salt intake of 8-month-old infants. Eur J Clin Nutr. 2012 Jan;66(1):104–10.
12. “Forbidden” Baby Foods – Wholesome Baby Food [Internet]. Wholesome Homemade Baby Food Recipes. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://wholesomebabyfood.momtastic.com/forbiddenbabyfood.htm

5 Resep MPASI Praktis untuk Bayi 6 Bulan

Halo ibu-ibu, ketika anak memasuki usia enam bulan, inilah saat krusial pemberian makan perdana. Sebagai orang tua, kita akan penasaran seperti apakah pola makan anak kita, yang susah atau yang gampang ya, suka sayur atau tidak ya, pemilih atau tidak, dan lain sebagainya. Segala persiapan pastinya telah dipersiapkan, tak lupa ketinggalan tentang resep MPASI perdana si buah hati. Berikut ini akan kami bagikan resep MPASI 6 bulan yang praktis tetapi tetap bergizi tentunya. Yuk dicoba !

  1. Nasi Lumat

    rice poridge 2

    sumber : www.flavorexplosion.com
    Bahan :
    1 mangkok (sekitar 200 cc atau 1 gelas) nasi yang sudah matang

    Cara membuat :
    1. Masukkan 1 mangkok nasi ke dalam panci
    2. Campurkan dengan 2 gelas air putih matang
    3. Aduk rata perlahan hingga air habis dan mengering
    4. Saring nasi lumat dgn menggunakan saringan besi dan sendok stainless steel hingga nasi tersaring semua.

    Fakta !
    sendok

    Tekstur nasi yang disebut nasi lumat adalah nasi yang ketika sendok dijatuhkan tidak langsung mengalir.
    Nasi lumat dapat juga ditambahkan bahan makanan lain yang dilumatkan seperti hati ayam kukus lumat, sayuran kukus yang dilumatkan, minyak, dll.

  2. Pure Ubi Jalar Kuning


    pure ubi

    sumber : rasamalaysia.com
    untuk : 2 porsi

    Bahan :
    – 50 gr ubi kuning, kupas, cuci, potong dadu kecil kecil
    – 150 ml ASI/MPASI

    Cara membuat :
    1. Kukus ubi kuning di dalam dandang panas hingga lunak. Angkat
    2. Haluskan ubi bersama 100 ml air bekas mengukusnya
    3. Tambahkan ASI/PASI. Aduk hingga tercampur rata. Tuang ke mangkuk
    4. Sajikan hangat

    Fakta menarik!
    Ubi jalar kuning mengandung karbohidrat, beta karoten, vitamin D, vitamin B, dan vitamin E

  3. Bubur Beras


    bubur beras

    sumber : weelicious.com
    untuk : 2 porsi

    Bahan :
    – 1 sendok makan (10 gr) tepung beras putih/beras merah
    – 150 ml air
    – 100 ml ASI/PASI

    Cara membuat :
    1. Larutkan tepung beras dengan air secukupnya. Rebus sisa air di dalam panci hingga mendidih
    2. Masukkan larutan tepung beras ke dalam air mendidih. Masak dengan api kecil, sambil diaduk agar tidak menggumpal.
    3. Angkat jika sudah mendidih kembali dan mengental. Biarkan hingga hangat
    4. Tuang ASI/PASI, aduk hingga rata
    5. Sajikan hangat

    Fakta menarik!
    Anda dapat membuat tepung sendiri loh dari beras. Prosesnya mudah dan cepat seperti ini :
    – Cuci beras hingga bersih, tiriskan
    – Jemur hingga kering
    – Masukkan ke dalam blender kering/food processor. Haluskan
    – Ayak atau saring tepung yang sudah halus
    – Sangrai tepung diatas api kecil sambil diaduk-aduk hingga kering, tapi tidak berubah warna
    – Simpan di wadah kedap udara

  4. Pure Pisang

    banana-puree1

    sumber : www.babybullet.org
    untuk 1 porsi

    Bahan :
    – 25 gr pisang ambon, kupas, potong-potong
    – 100 ml ASI/MPASI

    Cara membuat :
    1. Haluskan pisang bersama ASI/PASI menggunakan garpu, atau kawat penyaring khusus untuk makanan bayi
    2. Tuang ke dalam mangkuk kecil
    3. Sajikan segera

    Fakta !
    Pisang kaya karbohidrat dalam bentuk pati dan gula. Selain itu, pisang mengandung cukup banyak vitamin A, serta sedikit vitamin B1 dan C. Kandungan mineral paling menonjol pada buah pisang adalah kalium atau potassium.
    Jenis pisang yang dapat dimakan langsung setelah langsung adalah ambon, ambon lumut, raja, kepok, barangan, dan cavendish.

  5. Pure Alpukat

    pure alpukat

    sumber : www.galleryhip.com
    untuk 1 porsi

    Bahan :
    – 50 gr buah alpukat, keruk daging buahnya
    – 100 ml air matang
    – 100 ml ASI/PASI

    Cara membuat :
    1. Haluskan avokad bersama air matang dengan blender. Tuang ke dalam mangkuk
    2. Tambahkan ASI/PASI. Aduk hingga tercampur rata
    3. Sajikan segera

    Fakta !
    Alpukat mengandung banyak lemak yang umumnya dalam bentuk lemak tidak jenuh sehingga dapat memberikan manfaat untuk anak. Selain itu juga mengandung vitamin B, C, dan E. Buah ini juga membantu dalam mencegah anemia karena mengandung zat besi dan kalium.

    Sekian resep mpasi 6 bulan yang praktis dan tetap bergizi . Segala serba serbi MPASI sebelumnya bisa dibaca di sini . Selamat mencoba ya !

Rara Pramudita, dr

Sumber :
1. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi. Sehat lezat olah saji dr. Tiwi. Kompas Gramedia, 2013
2. Slide makanan pendamping ASI
3. WHO. Complementary feeding : family food for breastfed children.

Mengatasi Anak Susah Makan

Perilaku anak yang menolak makanan seringkali membuat orangtua panik . Sehingga, dalam prakteknya orangtua sering berkreasi sendiri agar anak mau makan. Mulai dari menyetel TV, mengajak jalan-jalan, makan sambil bermain, mengiming-imingi dengan hadiah, bahkan mencekok. Tetapi sayangnya, praktik tersebut malah bisa membuat anak susah makan. Lalu bagaimana solusinya mengatasi anak susah makan? Bagaimana supaya anak bisa menerima makanan dengan rasa suka cita?

Tetapkan tujuan dalam memberi makan anak

Selama ini, orangtua sering terfokus pada porsi makan yang harus masuk ke dalam tubuh anak. Namun, hal itu ternyata tidak cukup. Tujuan memberi makan anak ialah agar ia menjadi “competent eater” atau anak yang kompeten untuk makan. 

Anak yang kompeten dalam kegiatan makan ialah anak yang bisa menikmati berbagai makanan, tahu bagaimana menyukai makanan baru, bisa mengontrol jumlah makanan yang sesuai dengan kebutuhannya dan bisa berlaku sopan serta sesuai di meja makan. Baik di lingkungan rumahnya maupun di lingkungan baru. Mungkinkah hal ini diraih? Tentu saja mungkin.

competent eater

mengatasi anak susah makan

Kenali dan dukung perkembangan normal makan anak

Agar anak tumbuh menjadi mandiri dan kompeten dalam kegiatan makan, penting bagi orangtua untuk mendukung perkembangan normal makan anak sesuai usianya, yaitu :

Usia

Perkembangan makan

Lahir-6 bulan

Bisa menyusui dari puting, payudara atau botol

Bisa memegang botol saat menyusui (2-4 bulan)

Bisa menjaga postur separuh bungkuk saat menyusui

Adanya interaksi antara bayi dengan orangtua

6-9 bulan (transisi menyusui)

Makan lebih dalam posisi tegak

Mulai makan MP ASI yang lunak, berupa puree dengan sendok

Kedua tangan bisa memegang botol

Mulai dikenalkan makan lewat tangan

Mengunyah makanan padat mudah lunak secara vertikal

Lebih banyak disuapi

9-12 bulan

Minum dari gelas

Makan MP ASI yang lebih kental

Mulai makan dengan tangan untuk makanan padat yang mudah lunak

Mulai mengunyah dengan gerakan rahang memutar

12-18 bulan

Mulai makan sendiri, memegang sendok dengan seluruh tangan

Memegang gelas dengan kedua tangan

Minum 4-5 teguk yang berurutan

Menggenggam dan membalikkan botol

>18-24 bulan

Menelan dengan mulut tertutup

Lebih dominan makan sendiri

Mengunyah dengan makanan yang lebih banyak

Bisa menggerakan lidah naik-turun secara tepat

24-26 bulan

Bisa menggerakan rahang secara memutar

Mengunyah dengan mulut tertutup

Memegang gelas dengan 1 tangan dan membuka tutup minum tanpa tumpah

Menggunakan jari untuk memenuhi isi sendok

Makan berbagai jenis makanan padat

Makan sendiri secara total, bisa menggunakan garpu

Pahami “Pembagian Tanggung Jawab” dalam kegiatan makan

bigstock-family-smiling-around-a-health-40896751Pada kegiatan makan, ternyata orangtua tidak perlu melakukan semuanya sendiri. Dalam setiap tahapan usia anak, orangtua berperan sebagai pemimpin kegiatan makan namun membiarkan anak untuk makan sendiri.

 

Pembagian tanggung jawab untuk bayi

Pembagian tanggung jawab untuk anak

Orangtua bertanggung jawab untuk menentukan jenis makanan

Anak bertanggung jawab untuk menentukan porsi makan

Orang tua tetap bertanggung jawab untuk menentukan “apa”, “kapan” dan “di mana” anak diberi makan

Anak tetap dan selalu bertanggung jawab untuk menentukan porsi dan “apakah hendak memakan” yang disediakan orangtua.

Panduan Umum Memberi Makan Anak

Setelah paham mengenai tanggung jawab orangtua dalam memberi makan anak, orangtua perlu ketahui panduan umum cara memberi makan anak yang benar yaitu:

  • Hindari bersikap terlalu melarang terhadap makanan yang kurang sehat karena anak cenderung makan makanan tersebut secara tidak terkontrol saat orang tua tidak ada

  • Hindari mengiming-imingi sesuatu (misalnya es krim) agar anak mau makan makanan sehat (sayur/buah) karena malah menyebabkan anak lebih suka dengan makanan “hadiah”nya yang seringkali kurang sehat.

  • Membuat jadwal/rutinitas makan yaitu menyediakan 3 makan besar dan 2 cemilan perhari dan tidak memperbolehkan anak makan atau minum (kecuali air putih) diluar waktu makan besar dan cemilan

  • Menciptakan suasana makan yang tidak penuh tekanan dan tetap positif. Tekanan untuk memakan jenis makanan tertentu (biasanya sayur) malah akan menambah ketidaksukaan anak pada makanan tersebut.

  • Menjadi model makan yang baik untuk anaknya (ikut mengkonsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayur)

  • Menjadikan waktu makan menjadi waktu keluarga

  • Mendudukkan anak di highchair bila anak sudah bisa duduk atau di kursi makan

  • Hindari distraksi seperti makan sambil TV, bermain, jalan-jalan, atau di tempat yang orangtua sulit mengontrol (seperti di mobil).

  • Memahami bahwa anak memang biasa menolak makanan baru, atau makanan yang bukan favoritnya (terutama sayur dan buah). Cobalah memberi makanan yang sama berulangkali (8-10x) baru berkesimpulan anak menerima/menolak makanan tersebut

  • Mengajari kemampuan makan pada anak seperti menggunakan sendok, minum dari gelas atau mendorong anak makan sendiri

  • Biarkan anak-anak tumbuh untuk mendapatkan tubuh yang tepat bagi mereka

  • Biarkan anak mengeksplorasi. Perilaku eksplorasi makanan dengan cara memegang, mencium, memasukkan makanan kemulut dan melepehnya kembali bisa menjadi tanda anak mulai menerima atau mencoba makanan baru.

Cara Memberi Makan Anak Sesuai Usia

Usia

Cara Memberi Makan

0-6bulan

Bayi anda membutuhkan suasana yang tenang, nyaman dan tetap terbangun ketika menyusui. Untuk membantunya, biarkan anda memberi ASI kapanpun dan dengan cara apapun yang ia inginkan. Berhentikan kegiatan menyusui saat bayi ingin berhenti. Letakkan ia dalam tempat tidurnya saat ia tenang dan mengantuk sampai ia tertidur sendiri. Saat usia 2-3 bulan, anak mulai belajar tentang kasih sayang. Ia selalu berusaha meraih perhatian kita. Agar ia terbiasa, ajak bayi di dekat kita saat kita makan supaya ia mulai belajar tentang makan.

5-9 bulan

Saat ini bayi anda mulai senang memperhatikan lingkungan. Seringkali ia berhenti untuk memperhatikan sesuatu ketika ia sedang menyusui. Ketika bayi menginjak 6 bulan dan ia telah siap, mulai kenalkan ia dengan makanan pendamping. Tanda bayi siap ialah ia duduk dan membuka mulut ketika diberi sendok, ia menutup mulut ketika sendok masuk, dan menjaga makanan tetap dimulutnya. Cara memulai MP ASI :

– Dudukkan ia di kursi tinggi (highchair)

– Tahan sendok beberapa inchi di depan mulutnya dan tunggu ia membuka mulut sebelum anda menyuapinya

– Beri makan sesuai dengan kecepatan dan jumlah yang ia mau

– Hentikan makan jika ia terlihat ingin berhenti (meskipun hanya satu suap)

– Berikan ia kesempatan yang banyak untuk belajar

7-15 bulan

Saat ini, anak mulai transisi dari disuapi lewat sendok ke makan sendiri pakai tangan. Jangan kaget bila kadang anak mau disuapi tetapi besoknya anak menolak. Yang bisa anda lakukan untuk mengatasi penolakan makanan tiba-tiba oleh anak:

– Tawari anak makanan yang bisa diambil olehnya, mudah dikunyah dan ditelan

– Biarkan dulu ia makan sendiri sesuai kecepatannya

– Tawarkan ASI/susu di gelas, bukan di botol

– Berikan ia sesendok makan dulu, biarkan ia makan atau tidak

– Berikan ia banyak kesempatan untuk mencoba makanan baru dan belajar untuk menyukainya

– Tawarkan cemilan 2-3 jam sebelum makan besar jadi saat waktu makan ia dalam keadaan lapar dan siap memakan makanan yang disediakan. Jangan tawarkan apapun selain waktu cemilan/makan besar kecuali air putih.

11-36 bulan

Pada usia ini, anak bisa berubah menjadi sangat pemilih, tidak menentu dan berubah-ubah. Solusinya, beri arahan dan kontrol yang jelas dengan cara :

– Makan di meja makan bersama keluarga

– Tawari makan dengan waktu yang teratur

– Biarkan ia makan dengan cara dan takarannya sendiri (dengan sendok/tangan, cepat/lambat)

– Biarkan ia turun dari kursi makan saat ia kehilangan nafsu untuk makan atau mulai berulah tidak baik

– Ajari ia untuk bermain dengan tenang sampai anda selesai makan

– Katakan ‘tidak’ saat ia meminta makan diluar waktu makan

3-5 tahun

Memberi makan diusia ini cendeerung mudah. Anak prasekolah cenderung ingin membuat orangtua senang termasuk saat makan. Namun, tetap biarkan ia makan sesuai porsinya sendiri agar ia tidak kehilangan kesenangan untuk belajar makan. Ia juga perlu untuk belajar konsep kenyang dan lapar sendiri. Tetap berikan makanan sesuai jadwal, di kursi makan bersama keluarga (temani ia makan) dan tetap realistis menghadapi table manner anak (maklumi saat ia berganti makan dengan tangan atau sendok karena lama kelamaan kebiasaan ini akan semakin baik)

Dengan menciptakan budaya makan positif dan mandiri, orangtua dapat mengatasi anak susah makan dengan sendirinya. Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr

Publikasi : 10/19/2014

Modifikasi Terakhir:11/14/2015

Sumber :

  1. Nicklas T, Johnson R, American Dietetic A. Position of the American Dietetic Association: Dietary guidance for healthy children ages 2 to 11 years. Journal of the American Dietetic Association. 2004;104(4):660-77.
  2. Satter E. How Children Become Competent Eaters2014. Available from: http://ellynsatterinstitute.org/htf/howchildrenbecomecompetenteaters.php.
  3. Udall JN, Jr. Infant feeding: initiation, problems, approaches. Current problems in pediatric and adolescent health care. 2007;37(10):374-99.
  4. Satter E. Ellyn Satter’s Division of Responsibility in Feeding2014. Available from: http://ellynsatterinstitute.org/dor/divisionofresponsibilityinfeeding.php#sthash.6qN1IR6b.dpuf.
  5. AAPCommitteeonNutrition. Pediatric Nutrition Handbook 6ed. Elk Grove Village: AAP; 2008.
  6. Robert M. Kliegman M, Bonita F. Stanton M, Joseph W. St. Geme III M, Nina F. Schor M, PhD, Richard E. Behrman M. FEEDING TODDLERS AND PRESCHOOL-AGE CHILDREN. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier; 2011. p. 165-8.
  7. Faith MS, Scanlon KS, Birch LL, Francis LA, Sherry B. Parent-child feeding strategies and their relationships to child eating and weight status. Obesity research. 2004;12(11):1711-22.
  8. Birch LL, Marlin DW. I don’t like it; I never tried it: effects of exposure on two-year-old children’s food preferences. Appetite. 1982;3(4):353-60.
  9. Johnson SL, Bellows L, Beckstrom L, Anderson J. Evaluation of a social marketing campaign targeting preschool children. American journal of health behavior. 2007;31(1):44-55.
  10. Satter E. Child Feeding Ages And Stages2014. Available from: http://ellynsatterinstitute.org/htf/howtofeed.php.

Mengapa Anak Sulit Makan?

Siapa sih yang tidak mau si kecil makannya lahap & mudah? Tapi pada kenyataannya seringkali waktu makan menjadi waktu yang menjengkelkan. Sebenarnya normal tidak ya perilaku anak yang suka melepeh atau menolak makanan?

Yang Mempengaruhi Perilaku Makan Anak…

Perilaku makan anak seperti pemilihan makan yang disukai ataupun tidak oleh anak dipengaruhi oleh 2 faktor utama: genetik dan lingkungan. Faktor genetik meliputi insting dasar anak juga gen yang mengatur kebutuhan energi anak. Sedangkan lingkungan meliputi kondisi ibu saat hamil, proses menyusui sampai gaya pengasuhan orang tua.1

Naluri alamiah dan Genetik

sweets10c

Pernahkan ibu mendengar keluhan anak yang senang hanya makanan manis dan menolak sayur? Ternyata, salah satu penyebabnya ialah naluri alamiah yang dimiliki anak. Insting alami yang membuat anak menyukai rasa manis ini sebenarnya bertujuan untuk bertahan hidup. Rasa manis cenderung identik dengan makanan berenergi tinggi dan mengenyangkan, sedangkan rasa pahit atau asam bisa menjadi tanda dari racun.2, 3 Sehingga tidak perlu heran bila pada umumnya anak lebih mudah menerima makanan manis seperti buah, yoghurt beraneka rasa, dan jus sedangkan anak cenderung menolak sayuran karena ada komponen pahit didalamnya.3 Bila anak memakan sayur pun, biasanya anak memilih yang cenderung berkalori tinggi dan berasa manis seperti kentang dan wortel. 4

Selain itu, faktor genetik ternyata mempengaruhi nafsu makan anak. Beberapa gen bahkan telah ditemukan terlibat dalam pengaturan kebutuhan energi juga asupan makanan. 5, 6 Namun, tidak perlu khawatir, beberapa penelitian menyebutkan bahwa paparan berulang terhadap makanan meningkatkan penerimaan makanan tersebut pada anak. Bukan sekedar menyediakan makanan saja ya, tetapi proses mencicipi makanan pertama kali, itulah yang penting. 6

Proses Pengenalan Rasa Dimulai dari Kandungan

Tahukah Anda bahwa bayi mulai belajar untuk mengenal rasa makanan dari sejak dalam kandungan? Faktanya, penelitian menyebutkan bahwa pemilihan makanan oleh ibu sejak hamil bisa mempengaruhi kemudahan penerimaan makanan padat oleh anak saat sudah lepas dari periode ASI ekslusif. Cairan amnion/ketuban yang mengelilingi bayi di kandungan ternyata kaya akan paparan rasa untuk bayi. Banyak rasa makanan yang dikonsumsi ibu muncul di air ketuban. Jadi, bila ibu memakan bawang, kunyit, kari atau makanan pedas, bau dan komponen rasa tersebut terdeteksi di ketuban. 7-9 Saat di dalam kandungan, anak secara konstan menelan cairan ketuban. Karena fungsi penciuman dan pengecap bayi sudah berfungsi sejak dini, paparan terhadap rasa makanan yang dikonsumsi ibu saat hamil, mempengaruhi penerimaan rasa makanan ini oleh anak saat sudah lahir.  Sehingga, perlu diingat bahwa konsumsi ibu saat hamil bisa menjadi jembatan rasa makanan bagi anak.

100452751-630x353anemia

ASI ekslusif juga berpengaruh lho terhadap perilaku makan anak

Banyak manfaat memberikan ASI eksklusif pada bayi dari segi perkembangan proses makan pada anak. Sama seperti air ketuban, ASI juga dapat mengantarkan rasa makanan yang dikonsumsi ibu saat menyusui.(7) Ibu menyusui yang mengkonsumsi bawang putih, alkohol, dan vanila, pada ASI-nya terdeteksi bau makanan tersebut. Penelitian lain juga menemukan bahwa variasi rasa yang terdapat di ASI mempengaruhi waktu menyusui. ASI yang diberi rasa bawang putih dan vanila memperlama waktu menyusui bayi dibandingkan dengan yang tidak.7, 10, 11 Berbeda dengan ASI, susu formula hanya memberikan rasa yang sama. Sullivan menemukan hasil bahwa setelah paparan 10x terhadap sayur, anak yang diberi ASI ekslusif cenderung asupan sayurnya lebih pesat dibandingkan dengan yang diberi susu formula. 12

Keunggulan lain dari ASI ialah bayi lebih bisa mengatur asupan kalorinya dengan cara mengatur volume ASI yang diminum dibandingkan dengan yang diberikan susu botol. Sehingga, menurut beberapa ahli, proses menyusui lewat ASI mungkin bisa melindungi dari obesitas 5

Perilaku makan anak ini ternyata normal

Pada dasarnya, anak menyukai makanan yang ia familiar dan rasanya ia suka. Salah satu cara anak mengenal makanan baru ialah bermain dengan makanan. Perilaku eksplorasi makanan dengan cara memegang, mencium, memasukkan makanan kemulut dan melepehnya kembali bisa menjadi tanda anak mulai menerima atau mencoba makanan baru.13 Dr. Damayanti juga berpendapat bahwa orang tua tidak perlu melarang bayi dalam usia lima bulan pertama saat ia memasukkan tangannya ke mulut karena proses ini akan melatih dan mepersiapkan bayi untuk mengolah makanan padat. Cukup menjaga tangan bayi tetap bersih. 14

Perilaku merespon makanan yang tidak ia suka biasanya dilakukan dengan berbagai cara mulai dari rewel (fussiness), memilih-milih (pickinesss) sampai neophobia (menolak makanan baru).1 Dari ketiga respon ini, biasanya neophobia yang lebih mengkhawatirkan orang tua. Namun, faktanya Skinner dkk menemukan bahwa neophobia pada usia dini berhubungan dengan jumlah makanan yang tidak disuka atau tidak pernah dicoba sampai usia 8 tahun.13 Terkadang, orangtua juga suka menyerah memberi makanan baru dan hanya memberi makanan favorit anak. Padahal, proses belajar anak untuk menyukai makanan perlu waktu. Bahkan, seringkali dibutuhkan paparan 5-10 kali sampai anak menyukai makanan yang baru. 6

Pengaruh Orang tua dan Lingkungan Sekitar Terhadap Penerimaan makan anak

Selain dari faktor bawaan lahir, ternyata lingkungan di sekitar anak, terutama perilaku orangtua/pengasu, sangat berpengaruh terhadap adaptasi anak pada makanan. Apa sajakah pengaruhnya?

  • Orangtua sebagai model. Anak ternyata belajar tentang makanan dari eksplorasinya sendiri juga pengamatannya terhadap kebiasaan makan di sekitarnya. Orangtua yang memberi contoh mengkonsumsi sayur dan buah berbanding lurus dengan asupan jus buah dan sayur yang lebih tinggi pada anak pra-sekolah.15 Remaja perempuan yang melihat ayahnya mengkonsumsi susu juga memiliki asupan kalsium lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak. 16 Jadi, penting sekali ya orangtua memberi contoh makan yang baik pada anak.

  • Orang lain sebagai model. Hasil penelitian dari Birch menemukan bahwa asupan sayur pada anak pra sekolah dipengaruhi oleh teman sebayanya juga orang dewasa.17 Sama halnya dengan penelitian Hendy dan Bryan yang melaporkan bahwa konsumsi anak terhadap makanan yang baru lebih tinggi ketika melihat gurunya secara antusias mengkonsumsi makanan tersebut. 18

  • Perlakuan orang tua terhadap anak. Perilaku orang tua dalam memberi kebebasan sampai membatasi makan anak sangatlah berpengaruh terhadap pembentukan makanan kesukaan anak, pola asupan makan anak, kualitas makanan dan pertumbuhan anak Namun sayangnya banyak orang tua yang tidak menyadari kesalahan dalam memberi makan anak. Orang tua yang terlalu melarang anak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat (seperti junk food/permen) malah menyebabkan hasil yang sebaliknya. Anak cenderung mengkonsumsi makanan yang dilarang saat orang tua tidak mengawasi secara tidak terkontrol (misal di rumah teman/di pesta ulang tahun). Selain itu, orang tua kadang suka mengiming-imingi sesuatu (misalnya es krim) agar anak mau makan sayur/buah. Kalau dilihat sekilas memang tujuannya baik, ternyata hasil riset membuktikan bahwa tindakan seperti ini malah menyebabkan anak lebih suka dengan makanan “hadiah”nya yang seringkali kurang sehat. 19

  • Gaya Parenting. Heather Patrick dkk melakukan riset mengenai hubungan gaya parenting dengan konsumsi makanan anak. Ternyata, hasil riset menyebutkan bahwa orang tua dengan gaya parenting authoritative (otoritatif) berhubungan positif dengan ketersediaan berbagai jenis buah dan sayur juga ketertarikan anak dalam mengkonsumsi makanan tersebut. Sebaliknya, gaya parenting authoritarian (otoriter) berbanding terbalik dengan konsumsi sayur pada anak. Gaya pengasuhan otoriter dicirikan dengan tekanan dan paksaan yang lebih tinggi dalam memberi makan anak juga memberikan larangan yang lebih tinggi pada makanan yang tidak sehat. Gaya mengasuh yang mungkin memiliki pengaruh lebih buruk pada anak ialah neglectful (cuek, selebor atau lalai). Orangtua yang tidak konsisten, tidak menentu jadwal pemberian makannya, dan sulit menilai mana pola makan yang sehat dan yang tidak menghasilkan efek yang buruk pada anak ketika suatu saat orang tua tersebut menggunakan larangan. Anak menjadi jauh lebih sulit mengontrol takaran makanan yang dilarang. 20-22

  • Kegiatan Makan Bersama. Makan bersama keluarga ternyata bisa jadi salah satu momen penting untuk berinteraksi dan mengontrol pola makan anak. Makan bersama dengan minimal salah satu orang tua saat makan malam menurunkan resiko konsumsi buah, sayur dan susu yang rendah juga menurunkan resiko remaja melewati sarapan. Pearson dkk juga menunjukkan bahwa remaja yang ikut makan bersama mendapat dorongan orang tua untuk konsumsi makanan sehat lebih tinggi, lebih sedikit paparannya pengguaan TV, dan lebih banyak tersedia sayur dan buah di rumah setiap hari. 23, 24bigstock-family-smiling-around-a-health-40896751

Pengaruh TV terhadap pemilihan makanan kesukaan anak

Ternyata, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa permintaan anak terhadap makanan sesuai dengan frekuensi anak melihat iklan di TV. Sayangnya, 80% dari iklan yang ditayangkan berupa makanan yang memiliki nutrisi rendah atau makanan kurang sehat. Goldberg dkk juga melihat bahwa anak yang sering melihat TV lebih memilih makanan yang tinggi gula daripada yang tidak terpapar iklan. Sehingga, penting sekali orangtua waspada dan bijaksana dalam memberi jam menonton TV pada anak. 25, 26

Jadi, perilaku makan anak mulai dari menolak makanan, menyukai makanan yang manis sampai bermain-main dengan makanan ternyata dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Orangtua atau pengasuh juga sangat berperan membentuk ketertarikan anak terhadap makanan sehat. Sehingga, penting sekali orangtua memberikan kondisi rumah yang positif dan ruang untuk eksplorasi anak agar pemenuhan nutrisi anak tercapai.

Agustina Kadaristiana, dr

Sumber

1. Scaglioni S, Arrizza C, Vecchi F, Tedeschi S. Determinants of children’s eating behavior. The American journal of clinical nutrition. 2011;94(6 Suppl):2006S-11S.
2. Desor JA, Maller O, Andrews K. Ingestive responses of human newborns to salty, sour, and bitter stimuli. Journal of comparative and physiological psychology. 1975;89(8):966-70.
3. Kern DL, McPhee L, Fisher J, Johnson S, Birch LL. The postingestive consequences of fat condition preferences for flavors associated with high dietary fat. Physiology & behavior. 1993;54(1):71-6.
4. Gibson EL, Wardle J. Energy density predicts preferences for fruit and vegetables in 4-year-old children. Appetite. 2003;41(1):97-8.
5. Savage JS, Fisher JO, Birch LL. Parental influence on eating behavior: conception to adolescence. The Journal of law, medicine & ethics : a journal of the American Society of Law, Medicine & Ethics. 2007;35(1):22-34.
6. Birch LL, Marlin DW. I don’t like it; I never tried it: effects of exposure on two-year-old children’s food preferences. Appetite. 1982;3(4):353-60.
7. Mennella JA, Johnson A, Beauchamp GK. Garlic ingestion by pregnant women alters the odor of amniotic fluid. Chemical senses. 1995;20(2):207-9.
8. Schaal B, Marlier L, Soussignan R. Human foetuses learn odours from their pregnant mother’s diet. Chemical senses. 2000;25(6):729-37.
9. Hauser GJ, Chitayat D, Berns L, Braver D, Muhlbauer B. Peculiar odours in newborns and maternal prenatal ingestion of spicy food. European journal of pediatrics. 1985;144(4):403.
10. Mennella JA, Jagnow CP, Beauchamp GK. Prenatal and postnatal flavor learning by human infants. Pediatrics. 2001;107(6):E88.
11. Mennella JA, Beauchamp GK. The transfer of alcohol to human milk. Effects on flavor and the infant’s behavior. The New England journal of medicine. 1991;325(14):981-5.
12. Sullivan SA, Birch LL. Infant dietary experience and acceptance of solid foods. Pediatrics. 1994;93(2):271-7.
13. Johnson SL, Bellows L, Beckstrom L, Anderson J. Evaluation of a social marketing campaign targeting preschool children. American journal of health behavior. 2007;31(1):44-55.
14. Sari RF. Penyebab Anak Sulit Makan2011. Available from: http://www.tempo.co/read/news/2011/04/25/060329786/Penyebab-Anak-Sulit-Makan.
15. Young EM, Fors SW, Hayes DM. Associations between perceived parent behaviors and middle school student fruit and vegetable consumption. Journal of nutrition education and behavior. 2004;36(1):2-8.
16. Lee S, Reicks M. Environmental and behavioral factors are associated with the calcium intake of low-income adolescent girls. Journal of the American Dietetic Association. 2003;103(11):1526-9.
17. Birch LL. Effects of Peer Models’ Food Choices and Eating Behaviors on Preschoolers’ Food Preference. Child Development. 1980;51:489–96.
18. Hendy HM. Effectiveness of trained peer models to encourage food acceptance in preschool children. Appetite. 2002;39(3):217-25.
19. Faith MS, Scanlon KS, Birch LL, Francis LA, Sherry B. Parent-child feeding strategies and their relationships to child eating and weight status. Obesity research. 2004;12(11):1711-22.
20. Birch LL, Fisher JO, Grimm-Thomas K, Markey CN, Sawyer R, Johnson SL. Confirmatory factor analysis of the Child Feeding Questionnaire: a measure of parental attitudes, beliefs and practices about child feeding and obesity proneness. Appetite. 2001;36(3):201-10.
21. Hughes SO, Power TG, Orlet Fisher J, Mueller S, Nicklas TA. Revisiting a neglected construct: parenting styles in a child-feeding context. Appetite. 2005;44(1):83-92.
22. Patrick H, Nicklas TA, Hughes SO, Morales M. The benefits of authoritative feeding style: caregiver feeding styles and children’s food consumption patterns. Appetite. 2005;44(2):243-9.
23. Rhee KE, Coleman SM, Appugliese DP, Kaciroti NA, Corwyn RF, Davidson NS, et al. Maternal feeding practices become more controlling after and not before excessive rates of weight gain. Obesity. 2009;17(9):1724-9.
24. Pearson N, Atkin AJ, Biddle SJ, Gorely T, Edwardson C. Parenting styles, family structure and adolescent dietary behaviour. Public health nutrition. 2010;13(8):1245-53.
25. Birch LL, Fisher JO. Development of eating behaviors among children and adolescents. Pediatrics. 1998;101(3 Pt 2):539-49.
26. Goldberg ME, Gorn GG, Gibson W. TV messages for snack and breakfast
foods: do they influence children’s preferences? Journal of Consumer Research. 1978;5(2):73-81.

Serba Serbi MPASI

Kapan Saat yang Tepat Memberikan MPASI?

Ibu-ibu yang hebat, apa kabar si kecil? Sudahkah si kecil memulai petualangan baru mengkonsumsi makanan padat pertamanya? Mungkin banyak ibu-ibu yang masih bingung, kapan sebaiknya memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) pertama kali. Hal ini tak jarang menjadi perdebatan di keluarga dan di kalangan ibu-ibu lainnya. Namun, sebaiknya para ibu bersabar menunggu sampai usia bayi mencapai 6 bulan, mengapa?

  1. Bayi di bawah usia 6 bulan, keterampilan motorik kasarnya yaitu duduk tegak masih belum sempurna. Sementara bayi usia 6 bulan ke atas sudah bisa duduk dan menopang lehernya sehingga mengurangi resiko tersedak. Hati-hati bila memberikan makanan dalam posisi tidur, hal ini bisa membahayakan karena beresiko membuat bayi tersedak atau makanan terhisap ke hidung.
  2. Adanya refleks penolakan lidah bayi di bawah usia 6 bulan. Refleks ini menyebabkan lidah bayi spontan menjulur ke luar saat ada sesuatu yang ditaruh di lidahnya. Refleks ini menurun pada usia 4-6 bulan.
  3. Pemberian MPASI di bawah usia 6 bulan beresiko mengundang berbagai macam penyakit ke dalam tubuh, dikarenakan sistem imunitas / kekebalan tubuh bayi yang belum sempurna. Apalagi jika MPASI tidak disajikan secara higienis.
  4. Pemberian MPASI setelah usia 6 bulan mengurangi resiko terhadap makanan yang potensial menimbulkan alergi. Pada bulan-bulan awal, kadar IgA pada usus bayi masih rendah sehingga beresiko mengalami alergi.
  5. Pada usia 6 bulan ke atas bayi memerlukan tambahan energi dan zat gizi yang lebih banyak, terutama zat besi, yang sudah tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja.

Mengapa Membuat MPASI Rumahan?

Hal ini sering juga menjadi pertanyaan seputar MPASI, kenapa harus repot menyiapkan sendiri makanan bayi, sementara ada cara praktis dengan memberikan makanan kemasan untuk bayi yang banyak dijual di pasaran. Berikut beberapa alasan yang menjadi pertimbangan bahwa MPASI terbaik adalah buatan rumahan:

  • Makanan yang kita buat sendiri, dapat kita pantau dari segi kebersihan, penyediaan dan pengolahan makanan, serta pemilihan berbagai jenis makanan dari mulai buah-buahan, sayuran, sereal, hingga aneka protein yang bervariasi untuk bayi kita. Hal ini mempermudah saat peralihan dari makanan bayi ke table food nantinya.
  • Makanan bayi instan / cepat saji dari pabrik mengandung zat tambahan seperti gula, garam, penambah rasa, dan bahan lain untuk membentuk tekstur makanan, yang walaupun sudah diizinkan untuk dijual di pasaran, tapi tidak disarankan untuk diberikan pada bayi, apalagi  diberikan setiap hari. Dalam makanan instan juga terdapat bahan pengawet yang bila diberikan dalam jumlah banyak tentu tidak baik untuk kesehatan bayi. Hati-hati juga terhadap resiko alergi yang dipicu oleh bahan-bahan yang terkandung di dalam makanan instan tersebut. Makanan instan diberikan hanya dalam keadaan yang benar-benar darurat saja.
  • Sebelum area pengecapan bayi terbiasa dengan cita rasa makanan siap santap yang gurih dan manis, sebaiknya orangtua lebih dulu membiasakan bayi dengan rasa yang alami. Lebih amannya hindari makanan yang berperisa tambahan, pewarna, pengawet, dalam menu bayi sehari-hari.

Mulai dari Makanan Apa?

Pertanyaan berikutnya yang sering membuat ibu-ibu galau adalah ‘memulai dari mana’ MPASI perdana ini. Beberapa pihak menganjurkan untuk lebih dulu mengenalkan sayuran daripada buah-buahan untuk mengurangi rasa tidak suka bayi pada sayuran. Namun, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa pengenalan buah lebih dulu membuat bayi tidak menyukai sayur. Jadi, hak dan keputusan ada pada sang ibu untuk memutuskan makanan perdana untuk si buah hati.

Sementara itu, panduan terbaru dari WHO menganjurkan makanan dari serealia (beras) menjadi makanan pertama untuk bayi, karena rendah kemungkinan terjadinya alergi. Namun, beberapa bayi malah mengalami sembelit saat mengkonsumsi bubur dari beras karena terlalu pekat atau karena terlalu banyak mengandung zat besi (terutama beras merah). Jadi, pastikan untuk mencukupi kebutuhan cairannya melalui ASI, air putih, atau sari buah.

Anjuran dari WHO dan UNICEF adalah langsung memberikan makanan dalam bentuk pekat, tetapi boleh saja mengenalkan makanan padat pertama untuk bayi berupa bubur yang dilarutkan dalam ASI. Mulai dari tekstur yang sangat encer hingga mengental secara bertahap. Satu minggu pertama biasanya ditujukan untuk membiasakan anak mengenal jenis makanan baru, setelah itu boleh bereksperimen dengan tekstur dan rasa secara bertahap.

Jadi kesimpulannya, pilihan makanan pertama tidak berlaku secara umum. Setiap anak memilki keadaan yang berbeda-beda, sehingga trial and error adalah hal yang biasa terjadi pada masa-masa awal pemberian MPASI. Namun pastikan bayi mendapat semua makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral) secara seimbang setiap harinya.

1_baby-pureee

Bagaimana dan Seberapa Banyak Bayi Makan?

Usia Jenis Makanan Contoh Frekuensi Jumlah
6 bulan makanan lumat, bubur halus / encer bubur tepung beras yang dibuat encer dan disaring, puree buah / sayur dicampur ASI mulai dari 1 kali sehari meningkat bertahap menjadi 2-3 kali sehari, satu macam menu diganti setiap 3-4 hari, tujuannya agar bayi mengenali rasa makanan tersebut 2-3 sendok makan (30-45 ml) setiap waktu makan
7-9 bulan makanan bertekstur lembut bubur dari beras utuh, ubi atau kentang kukus dilumatkan dengan cairan, nasi tim saring 2-3 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari 2-3 sendok makan (30-45 ml) sampai setengah cup (100-120 ml) setiap waktu makan
10-12 bulan makanan lembut yang lebih padat nasi tim biasa yang dilembutkan, nasi lunak, makanan yang bisa digenggam bayi sebagai cemilan, seperti buah / sayuran kukus 3-4 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari Sedikitnya setengah cup (100-120 ml) setiap waktu makan
12 bulan-2 tahun makanan yang biasa dimakan keluarga dengan bumbu yang tidak terlalu tajam, dihaluskan seperlunya, atau dipotong ukuran kecil 3-4 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari 3/4 sampai 1 cup (200-250 ml) setiap waktu makan

mpasiPerlu diingat bahwa keterangan di atas adalah panduan yang berlaku umum, namun tidak mutlak. Bisa jadi bayi anda makan lebih banyak, atau mungkin lebih sedikit. Selama masih dalam range normal pada grafik dan berat badan bayi naik terus setiap bulannya, tidak perlu khawatir.

Daftar Makanan Bayi Sesuai Usia

Karbohidrat Sayuran Protein Buah
6-7 bulan tepung beras merah, tepung beras putih, tepung maizena, tepung arrowroot labu kuning, labu siam, bayam, brokoli, kacang polong ASI (protein dari produk hewani ditunda dulu pemberiannya) alpukat, apel, pir, pisang, pepaya, jeruk bayi
7-9 bulan beras putih, beras merah, kentang, jagung, oatmeal, tepung hunkwe brokoli, bayam, tomat, wortel, bit, labu kuning hewani : daging sapi tanpa lemak, daging ayam organik tanpa kulit, hati ayam, ikan (gurami, lele, salmon, kakap, gindara, tenggiri, dll) nabati : tahu putih, tempe, kedelai, kacang merah, kacang hijau, kacang polong pisang, melon, pepaya, alpukat, jeruk bayi, apel, pir, mangga, anggur manis
9-12 bulan beras putih, beras merah, kentang, jagung, makaroni, roti gandum, oatmeal, mie, bihun, soun bisa ditambahkan aneka sayuran berserat seperti kangkung, caisim, kacang panjang, kailan hewani :daging ayam tanpa kulit, daging sapi, hati ayam, aneka jenis ikan, telur, keju nabati : tahu, tempe, kacang merah, kacang hijau, kacang polong pepaya, apel, pir, mangga, anggur manis, jambu biji merah, alpukat, melon, pisang, jeruk bayi
12-24 bulan beras putih, beras merah, tepung terigu, kentang, jagung, pasta, cornflakes, mie, bihun, soun semua jenis sayuran sudah bisa diberikan kecuali sayuran yang banyak mengandung gas seperti; lobak, kembang kol, rebung hewani: daging sapi, daging ayam, aneka jenis ikan, telur, keju, hati ayamProtein nabati: tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, susu kedelai Semua jenis buah kecuali yang terlalu asam (kedondong, sirsak, mangga mengkal) atau yang mengandung gas (durian, nangka, cempedak) karena bisa menyebabkan kembung

1001323shutterstock-94931887780x390Tantangan dalam Pemberian MPASI

  1. Bayi menolak makanan padat. Hal ini adalah wajar terjadi, karena bayi perlu menyesuaikan dengan kebiasaan sebelumnya yang hanya makan dari susu / ASI yang bentuknya cair. Bila bayi menolak sendok, coba gunakan tangan, namun jangan dibiasakan. Apabila masih menolak, mungkin teksturnya terlalu kental. Apabila teksturnya sudah cair namun bayi masih menolak, jangan khawatir. Teruslah menyusui bayi dan coba lagi hari berikutnya. Proses pengenalan MPASI tidak perlu terburu-buru dan memang butuh waktu yang panjang.
  2. Bayi mengalami sembelit / konstipasi. Masalah ini biasa terjadi pada bayi di awal memulai makanan padat. BAB pada bayi yang biasa mengkonsumsi ASI akan berubah, bila sebelumnya berwarna kekuningan dan lembek, setelah MPASI bisa menjadi lebih pekat dan berwarna kecoklatan dan lebih berbau. Untuk bayi yang minum sufor biasanya tidak terlalu berbeda keadaannya. Sembelit biasanya jarang terjadi bila cara makannya benar, dan sebaiknya mulai diberikan tambahan air putih untuk memperlancar pencernaan. Memijat perut bayi dengan gerakan lembut membentuk huruf ILU atau gerakan kaki seperti mengayuh sepeda juga dapat membantu. Namun apabila sembelit berlangsung lama dan bayi tampak kesakitan, saatnya memeriksakan bayi kita ke dokter.
  3. Bayi hanya menyukai rasa makanan tertentu. Kadang para ibu merasa makanan si kecil kurang bervariasi, tapi tujuan utama pengenalan makanan padat pada bayi adalah membiasakannya dengan jenis makanan baru, bukan mengharuskan makanan yang bervariasi. Masalah ini bisa diakali dengan mencampur jenis makanan yang disukai bayi dengan makanan yang ingin kita kenalkan.
  4. Problem lanjutan: GTM (Gerakan Tutup Mulut). Bayi melepeh, mengemut makanan, atau menutup mulutnya rapat-rapat biasa terjadi saat usia bayi bertambah besar, umumnya mulai terjadi usia 8-12 bulan. Dan penyebabnya biasanya pergantian pengasuh, pergantian suasana atau traveling, ketertarikan pada hal-hal baru sehingga tidak fokus pada makanan, dan adanya problem kesehatan yang membuat bayi sulit makan. Rata-rata di usia ini juga gigi-gigi mungil mulai tumbuh dan proses ini ‘menyakitkan’ buat si kecil, sehingga ia jadi enggan membuka mulut. Banyak faktor yang membuat bayi GTM, namun para ibu harus tetap sabar, tidak cemas, dan terus mencoba memberikan asupan makanan yang baik. Makan sedikit-sedikit berkali-kali lebih baik daripada memaksanya untuk memakan 3 kali dalam porsi besar sekaligus. Selera makan bayi yang berkurang bisa disiasati dengan membuat MPASI dalam bentuk dan wadah penyajian yang menarik. Menu MPASI juga bisa diganti-ganti agar bayi tidak bosan.
  5. Alergi makanan. Alergi ini terkadang muncul pada awal belajar makanan padat. Sampai usia dua tahun, imaturitas saluran cerna akan membaik sehingga gangguan saluran cerna karena alergi makanan ikut berkurang.

78200x200-tips-menyiapkan-makanan-balita-selama-perjalanan-mudik-130806p_thumbnail

Tips Mengolah MPASI

  1. Sebelum mengolah MPASI, memasak, atau menyuapi bayi, hendaknya cuci tangan dulu dengan sabun hingga bersih.
  2. Jangan membiarkan bahan makanan mentah berada terlalu lama di suhu ruangan. Jika terlalu lama, bakteri patogen yang menyebabkan penyakit bisa menempel pada bahan makanan.
  3. Pastikan bahan makanan, alat masak dan alat makan bayi sudah bersih sebelum digunakan. Cuci bersih kembali alat-alat tersebut setelah selesai digunakan.
  4. Sebaiknya gunakan talenan yang berbeda untuk memotong sayuran / buah dan daging / ikan.
  5. Jangan memanaskan makanan berkali-kali. Apabila ingin masak dalam jumlah banyak, taruh dalam wadah tertutup, simpan dalam freezer, dan ambil secukupnya untuk dipanaskan.
  6. Buang makanan yang masih tersisa di mangkuk bayi, jangan memberikannya lagi untuk waktu makan yang berbeda, karena makanan yang sudah terkena ludah bayi membuatnya lebih cepat basi.
  7. Untuk makanan yang dibekukan, berilah tanggal, dan gunakan prinsip first in first out.
  8. Jangan lupa menutup makanan di meja makan dengan tudung saji.

Nela Fitria Yeral, dr

Daftar Pustaka

  1. Zahrial, Dian Prima & Mangiri, Yudith. MPASI Perdana Cihuy! Asha Book: Jakarta. 2013.
  2. Sutomo, Budi. Makanan Sehat Pandamping ASI. Demedia: Jakarta. 2010.
  3. Damayanti, Diana & Setyarini, Lies. 365 Hari MP-ASI Plus. Kompas: Jakarta. 2012.
  4. Brown, Amy. Understanding Food Principles & Preparation. 2010.
  5. Karmel, Annabel. First Meals. 1999.
  6. Dr. Sears. The Baby Books. 1999.
  7. Lansky, Vicky. Feed me, I’m Yours. 2004.
  8. Seri Ayahbunda. Makanan untuk Tumbuh Kembang Otak. PT Grafika Multi Warna: Jakarta. 2003.
  9. Sastroasmoro, Sudigdo. Membina Tumbuh Kembang Bayi dan Balita. Badan Penerbit IDAI: Jakarta. 2007.
  10. Pandi Wirakusumah, Emma. Panduan Lengkap Makanan Bayi & Balita. Penebar Plus: Jakarta. 2008.

* Gambar diambil dari: mamasoyaku.blogspot.com, eckapunyacerita.blogspot.com, health.kompas.com, esensi.co.id, zainabpekanbaru