Tag Archives: nutrisi

Probiotik untuk Bayi?

Saya menjadi semakin percaya terhadap pemberian probiotik pada anak. Bukan karena apa-apa dan juga bukan karena saya mendukung pihak tertentu. Probiotik, pada dasarnya adalah bakteri “baik” hidup yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan (biasanya Lactobacillus Acidophilus di Amerika Serikat). Saat ini probiotik semakin banyak tersedia dan semakin sering direkomendasikan oleh para dokter.

Peran Probiotik Untuk Bayi

Peran mikroba di dalam kesehatan kita adalah topik yang seru. Probiotik diduga dapat meningkatkan kesehatan usus dengan cara mengembalikan atau meningkatkan jumlah bakteri baik sementara secara bersamaan dia juga menurunkan populasi bakteri yang berbahaya.

Bakteri di dalam usus merupakan bagian normal dari kesehatan saluran pencernaan, tetapi jumlah populasi bakteri dalam usus kita dapat berubah karena penyakit, penggunaan antibiotik, makanan yang dimakan/ dimodifikasi, ataupun perubahan-perubahan lain dalam hidup kita. Apa yang kita makan dan kemana kita pergi untuk minum air, mengubah apa yang hidup di usus kita. Penelitian juga menemukan dimana bakteri yang hidup bersama di tubuh kita dapat mempengaruhi penyakit-penyakit lain di luar usus seperti eksema, alergi, dan/atau asma.

Probiotik

Probiotik sebagai Bakteri ‘Baik’

Pada anak-anak, suplemen probiotik dapat mendukung penyembuhan dari diare akut dengan cara menurunkan jumlah episode diare dan lamanya waktu diare. Probiotik juga dapat mencegah munculnya diare pada anak-anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik. Kenyataannya adalah banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi populasi bakteri dalam tubuh kita. Hal ini dimulai sejak seseorang lahir. Kita mengetahui contoh pada bayi-bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar memiliki populasi bakteri yang berbeda pada tinja mereka ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara normal, dalam waktu seminggu setelah dilahirkan. Jadi sejak dari awal, pilihan-pilihan yang kita buat (atau yang orang tua kita buat) dapat mengubah lingkungan di dalam tubuh kita. Hal ini pada akhirnya dapat mengubah kesehatan kita. Sejumlah dokter mempelajari efek probiotik pada bayi kolik…

Probiotik sering ditemukan secara alami pada makanan (yogurt dengan kultur aktif) sementara beberapa yogurt dan makanan yang diperdagangkan (termasuk susu formula bayi) memiliki kultur probiotik tambahan (fortified by additional cultures). Anda juga dapat membeli kapsul Lactobacillus (atau probiotik lain) di toko obat dan makanan sehat. Seberapa aktif, dan seberapa banyak probiotik yang tersisa di dalam produk-produk ini? Ini masih menjadi perdebatan.

Di Amerika Serikat, suplemen probiotik (dan makanan yang difortifikasi dengan kultur) tidak diregulasi oleh FDA. Tidak diketahui berapa banyak bakteri yang ada di dalam sebuah kapsul probiotik dan mungkin juga ada perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya dari hari ke hari. Dan jika kultur probiotik mati, mereka hanya sedikit berpengaruh untuk mendorong perubahan di dalam tubuh. Sebagai konsumen, adalah mustahil untuk mengetahui apakah suplemen tersebut masih hidup.

Seperti yang telah dikatakan, walaupun pilihan probiotik di Amerika Serikat terbatas, literatur dan penelitian tentang mengubah bakteri pada seorang anak untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka merupakan hal yang sangat menarik dan menjanjikan. Selain Lactobacillus, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat mengenai probiotik. Tapi, kami belajar sangat banyak dari rekan kami di Eropa. Risiko pemberian suplemen bakteri baik ini terbukti sangat rendah pada anak-anak dengan sistem imun yang sehat. Namun seperti hal lainnya dalam ilmu kesehatan anak, secara teoritis, selalu ada resiko ketika kita mencoba untuk mengintervensi hasil penelitian ini.

Sebuah penelitian Italia pada jurnal Pediatrics menguji keuntungan probiotik untuk bayi yang rewel atau kolik. Para peneliti menemukan hasil positif pada bayi-bayi ASI yang menerima dosis harian Lactobacillus reuteri. Di Eropa, probiotik diregulasi dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan di Amerika Serikat (dan juga Indonesia). Jadi, terdapat kemungkinan data/ penelitian ini tidak dapat diaplikasikan kepada bayi-bayi kita karena kita tidak memiliki akses kepada suplemen yang sama. Tapi bacalah apa yang mereka temukan.

Pada penelitian tersebut:

  • Kolik ditetapkan menggunakan aturan 3 (rule of 3’s). Bayi kolik didefinisikan dengan usia dibawah 3 bulan yang menangis lebih dari 3 jam sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama paling sedikit 3 minggu.
  • Sekitar 50 bayi kolik yang ASI eksklusif dikelompokkan secara acak ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok bayi diberi suplemen plasebo/inert tanpa probiotik, sementara kelompok yang lain mendapatkan Lactobacillus setiap hari. Para orang tua dan peneliti tidak mengetahui bayi mana yang mendapatkan bakteri (penelitian double blind).
  • Diantara bayi kolik yang menerima probiotik, terdapat pengurangan yang bermakna terhadap lamanya waktu menangis harian pada akhir penelitian (21 hari) dibandingkan dengan kelompok plasebo.
  • Tangisan semakin membaik pada akhir penelitian di kedua kelompok, seperti yang diharapkan dengan kolik.
  • Peneliti juga menganalisa tinja dari kedua kelompok bayi dan menemukan populasi bakteri yang berbeda antara kelompok bayi. Mereka yang diberi probiotik memiliki jauh lebih banyak Lactobacillus di tinja mereka.
  • Para peneliti berteori bahwa perubahan lingkungan usus (bakteri, amonia) mungkin telah mengubah pengalaman sensorik pada bayi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perilaku menangis mereka.

Sulit membuktikan bahwa bakteri yang diberikan kepada bayi-bayi inilah yang bertanggung jawab langsung terhadap perbaikan tangisan tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok benar-benar terlihat. Dan walaupun terasa “aneh” bagi orang tua untuk memberi makan anak mereka dengan bakteri, setelah kami mendiskusikan keuntungannya, banyak orang tua yang memilih memberikan suplemen Lactobacillus kepada anak-anak mereka karena biayanya yang rendah dan mudah diberikan (dapat ditaburkan pada apa saja).

Jika bayi anda sering menangis dan anda mulai khawatir akan kolik, anda bisa berdiskusi dengan dokter anak anda untuk memulai pemberian suplemen Lactobacillus. Dengan risiko yang rendah, pemberian probiotik akan meredakan tangisan anak anda dan itu hal yang bagus bagi semua orang. Intinya adalah saya tidak berpikir probiotik akan berbahaya bagi bayi yang rewel, dan ini adalah penelitian baru yang mengindikasikan hal tersebut dapat benar-benar membantu.
Kalau begitu, berilah sesendok bakteri untuk bayi Anda!

DoctorMums Headshot

Written by Dr. Wendy Sue Swanson, pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and author of the Seattle Mama Doc Blog & Mama Doc Medicine. Learn more by following her onTwitter (@SeattleMamaDoc) and Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel diterjemahkan oleh Farah Suraya, dr. dengan izin dari Seattle Mama Doc. Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/a-spoonful-of-bacteria-for-baby/

Referensi

Savino F, Cordisco L, Tarasco V, Palumeri E, Calabrese R, Oggero R, et al. Lactobacillus reuteri DSM 17938 in Infantile Colic: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Pediatrics. 2010 Sep 1;126(3):e526–33.

Gizi Anak Sekolah

7 Rekomendasi Gizi Untuk Anak Sekolah

Anak sekolah menurut WHO (World Health Organization) ialah anak yang berusia antara 7-15 tahun. Pada masa ini nafsu makan dan kebutuhan nutrisi anak meningkat secara alami. Hal ini disebabkan karena anak masih dalam masa pertumbuhan dan aktivitas anak semakin padat. Namun, dalam periode ini pemberian asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Anak mulai mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya termasuk dalam hal jajan dan pemilihan makanan. Bila orangtua kurang jeli memperhatikan konsumsi anak, dikhawatirkan makanan pilhan anak yang kurang sehat mungkin dapat mengakibatkan penyakit dan mengganggu perkembangan potensinya.

Tantangan Seputar Makan Pada Anak Sekolah

Saat anak mulai mengeksplorasi dunia sekolah, anak mulai ingin mencicip-cicipi sesuatu hal yang baru. Ia juga mulai punya selera sendiri tentang makanan kesukaan. Makanan yang ia pilih biasanya dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya sendiri (misal ada penyakit alergi tertentu) dan lingkungan sekitarnya. Tentu yang terdekat ialah kebiasaan di keluarga. Selain itu, pengaruh dari teman sebaya, iklan di media massa, atau tren sosial juga mempengaruhi apa yang ia hendak makanan. Sayangnya, tidak semua pengaruhi ini berdampak baik. Terkadang anak juga terjebak dalam memilih jajanan yang tidak sehat. 

Menurut Kepmenkes RI no 942, jajanan ialah :

Makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual kepada masyarakat selain yang disajikan jasa boga, rumah makan, atau hotel.

Anak yang terbiasa untuk jajan cenderung malas makan makanan yang bergizi. Selain itu, tidak jarang kita temukan anak yang menderita diare, sakit perut, bahkan dirawat karena demam tifoid. Tentu bukan hanya mempengaruhi performa sekolah dan kecerdasan anak. Jajanan yang kurang sehat bisa jadi menimbulkan dampak serius yang mengancam kesehatan. Beberapa penyebab anak suka jajan antara lain:

  • Faktor dalam keluarga, misalnya orangtua yang kurang jeli memperhatikan makanan anak, orangtua yang terlalu sibuk atau kebiasaan makan yang kurang baik di keluarga.
  • Faktor dari anak sendiri, seperti kejiwaan dan selera yang berbeda-beda.
  • Makanan itu sediri, seringkali bentuk dan rasa jajanan lebih menarik perhatian anak dan lebih gurih

Menanggapi hal ini, penting bagi orangtua untuk lebih jeli mengawasi pola makan anak sehari-hari. Pahami rekomendasi gizi untuk anak sekolah agar ia mendapatkan nutrisi yang optimal

Rekomendasi Gizi Anak Sekolah

Ada lima rekomendasi gizi yang perlu diperhatikan untuk anak sekolah, yaitu:

1. Konsumsi menu gizi seimbang.
Pada prinsipnya anak sekolah harus mengonsumsi menu gizi seimbang yang terdiri semua zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Untuk memenuhi gizi seimbang anak sekolah, konsumsi makanan pokok seperti nasi, pasta, kentang; sumber protein seperti ikan, ayam, daging; sayur dan buah; sumber lemak yang sehat; dan air.

gambar piramida makanan & pedoman gizi seimbang

Pedoman Gizi Seimbang

2. Sesuaikan konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi.

Kebutuhan gizi anak berbeda untuk setiap umur, jenis kelamin dan aktivitas. Secara garis besar, kebutuhan kalori anak sekolah berkisar antara :

  • 4-8 tahun : 1,200-1,400 kalori
  • 9-13 tahun (perempuan): 1,600 kalori
  • 9-13 tahun (laki-laki): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (perempuan): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (laki-laki): 2,200 kalori

Kebutuhan kalori ini didapatkan dari sumber karbohidrat, lemak dan protein. Karbohidrat merupakan sumber utama energi yang digunakan tubuh. Anak perlu mengkonsumsi karbohidrat 45-65% dari total kalori yang diperlukan.

Lemak juga diperlukan untuk sumber energi, mengangkut vitamin dan sumber asam lemak esensial (lemak yang tidak bisa dihasilkan dari tubuh). Sebanyak 60% dari otak anak ialah lemak. Kebutuhan lemak total untuk anak sekolah ialah 23-35% dari kebutuhan kalori.

Protein juga penting dipenuhi untuk pertumbuhan yang optimal, pengaturan hormon, sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Anak sekolah perlu mengkonsumsi 10-30% dari total kalori yang dibutuhkan.

Selain kalori, anak juga membutuhkan vitamin dan mineral seperti besi, zinc dan kalsium. Anak sekolah usia 7-15 tahun membutuhkan kalsium 1.000-1300 mg per hari. Itu merupakan kebutuhan tertinggi sepanjang hidup mereka karena pada usia tersebut anak dalam pertumbuhan tinggi badan yang pesat sehingga membutuhkan kalsium yang banyak untuk pertumbuhan tulangnya. Kebutuhan zat besi pada anak perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena zat besi dibutuhkan untuk persiapan periode mentruasi bagi wanita.

Berikut ini contoh takaran harian makanan anak sekolah:

anak skolah

Takaran piring setiap anak makan kira-kira memenuhi kaidah ini. 1/2 porsi diisi dengan sayuran, 1/4 sumber protein (tahu, tempe, ikan, ayam, daging, dsb), 1/4 piring lagi diisi sumber karbohidrat (misal nasi). Jadi bukan lebih banyak karbohidrat. Tentu takaran piring ini disesuaikan dengan kebutuhan anak yah, ayah ibu.

meal_plan3

Proporsi Piring Anak Sekolah

3. Selalu sarapan pagi.
Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi di sekolah. Hal ini disebabkan saat bangun pagi, gula darah dalam tubuh anak cenderung menurun karena metabolisme tubuh tetap bekerja saat anak tidur.

4. Sediakan cemilan

Cemilan ialah makanan selingan di antara sarapan, makan siang dan makan malam. Cemilan juga penting sebagai komponen gizi anak. Sehingga menyediakan cemilan sehat perlu direncanakan sebagai bagian dari kebutuhan kalori. Contoh cemilan sehat misalnya buah segar, keju, biskuit, susu, 100% jus buah, yoghurt, dl.

5. Hindari minuman manis

Minuman manis mengandung gula yang amat banyak. Sehingga bisa menyebabkan obesitas pada anak. Minuman manis juga mengurangi nafsu makan anak terhadap makanan/minuman sehat seperti susu. Contoh minuman mans misalnya sirup, minuman soda, teh, minuman kaleng/kemasan, minuman buah, dsb. Anak paling baik minum air putih dibandingkan minuman manis.

6. Makanan segar lebih baik

Makanan yang terlalu gurih karena penguat rasa atau pemanis buatan dapat menyebabkan rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan. Sehingga selera makan anak terhadap makanan sehat bisa saja berkurang. Meskipun masih kontrovesial, pengawet, pewarna atau pemanis buatan juga diduga kurang baik terhadap kesehatan anak.

 7. Pastikan keamanan makanan!

Ada dua hal yang penting orangtua perlu perhatikan terkait keamanan makanan, yaitu resiko tersedak dan infeksi. Pada anak yang lebih muda, hindari makanan yang mudah membuat tersedak. Ajari anak untuk duduk yang baik dan tidak bicara saat mengunyah makanan. Perhatikan juga kebersihan makanan. Selalu cuci tangan dan bersihkan alat makan sebelum menyajikan makanan pada anak. Biasakan juga untuk mengajaknya cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Hati-hati dengan jajanan di sekitar lingkungannya. Lebih aman membawakan anak bekal jika Anda tidak yakin dengan kebersihan jajanan di sekolah anak.

Semoga bermanfaat.
Reqgi First Trasia, dr.

11/26/2015

Referensi :

  1. Robert Russels, et al. 2001. Dietary Reference Intakes for Vitamin and Mineral. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington.
  2. United States Department of Agriculture and Health and Human Services. 2010. Dietary Guidelines for Americans. Washington DC.
  3. Vernon, R Young, et al. 1998. Dietary Reference Intakes of Vitamin and Minerals. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington DC.
  4. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
  5. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
  6. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
  7. Childhood Nutrition [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Childhood-Nutrition.aspx
  8. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
  9. The Truth about 7 Common Food Additives [Internet]. WebMD. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.webmd.com/diet/the-truth-about-seven-common-food-additives

Salah Kaprah Tentang Diet Bebas Gluten

Saat ini produk berlabel gluten-free atau bebas gluten mulai dilirik masyarkat. Apalagi setelah diet bebas gluten dipopulerkan oleh media dan para artis. Banyak orang yang salah kaprah bahwa diet bebas gluten bagus untuk siapa saja. Lebih esktrim lagi bila Gluten dianggap musuh untuk orang yang sehat. Padahal, diet ini hanya diperuntukkan bagi orang yang mengidap Celiac disease (penyakit celiac). Lalu, apa efeknya bila diet bebas gluten dijalani oleh orang yang sehat?

Sekilas tentang gluten

Gluten ialah protein yang ditemukan pada makanan seperti gandum, rye, barley dan triticale (campuran antara gandum dan rye). Selain itu, gluten bisa ditemukan di lip balm dan lem di belakang amplop atau perangko. Diet bebas gluten artinya menghindari makanan apapun yang mengandung gluten dan olahanya seperti tepung terigu, mie, pasta, kue, roti, dressing salad, snack, dll.

gluten

Makanan Mengandung Gluten

Siapa yang membutuhkan diet bebas gluten?

Diet bebas gluten amat diperlukan bagi penderita Celiac disease (Penyakit celiac). Hal ini disebabkan gluten dapat merusak usus penderitanya. Sistem imun seseorang akan menyerang sel tubuh sendiri (autoimun) saat penderita mengkonsumsi gluten meskipun dalam jumlah yang amat sedikit. Efek yang paling sering ialah gangguan pencernaan seperti nyeri perut, diare kronis, berat badan turun, kurang gizi, dan tidak nafsu makan.

Selain itu, beberapa kondisi di bawah ini akan terbantu dengan menghindari atau mengurangi gluten meskipun tidak terlalu ketat. Misalnya :

  1. Penderita Intoleransi Gluten. Mirip halnya dengan gejala penyakit celiac, seseorang yang mengalami intoleransi gluten akan muncul gangguan pencernaan saat mengkonsumsi gluten. Perbedaannya, pada Intoleransi Gluten tidak sampai menimbulkan kerusakan usus.
  2. Penderita alergi gluten dan protein gandum.  Pada penderita penyakit ini, konsumsi gluten akan mencetuskan reaksi alergi. Gejala bisa berupa gangguan pernafasan (bersin, pilek, sesak), saluran cerna (nyeri perut, diare, perut kembung), dan kulit (gatal-gatal, biduran, dsb).
  3. Penderita penyakit autoimun lain seperti Diabetes Mellitus Tipe 1, Rheumatoid Arthritis, sindroma iritabel usus.

Bagaimana bila diet bebas gluten dijalani oleh orang umum?

Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa diet bebas gluten bermanfaat bila dijalani orang umum tanpa penyakit-penyakit tadi. Bahkan Anda perlu waspada dengan kerugian diet gluten tanpa alasan medis yang jelas, karena :

  • Penyakit celiac jarang terjadi pada orang Asia termasuk Indonesia. Mayoritas penderitanya ialah ras kaukasian (orang Barat/ bule)
  • Adanya resiko kekurangan zat gizi. Dengan melakukan diet bebas gluten, Anda beresiko kekurangan vitamin dan mineral seperti vitamin B, kalsium, zat besi, magnesium dan serat. Terutama pada orang yang mengkonsumsi olahan gandum sebagai makanan pokok (seperti orang Barat pada umumnya).
  • Makanan yang mengandung gluten sendiri sebenarnya bermanfaat bagi orang yang sehat. Seperti menurunkan lemak trigliserida, mengontrol tekanan darah, meningkatkan fungsi imun, dan dapat melindungi usus dari kanker.
  • Membeli produk berlabel bebas gluten di pasaran bisa jadi lebih boros. Padahal, makanan sehari-hari orang Indonesia sendiri sudah bebas gluten. Contohnya, nasi, kentang, ubi, singkong, sayur, telur, ikan, daging, susu, dsb.
Gluten-free-list

Diet Bebas Gluten

Apakah diet bebas gluten bermanfaat untuk menurunkan berat badan?

Salah satu klaim kesehatan yang digembor-gemborkan media dan artis ialah diet bebas gluten bagus untuk menurunkan berat badan. Padahal, sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menyokong klaim ini. Bahkan, hasil dari beberapa studi menyebutkan bahwa diet bebas gluten malah dapat memperburuk status Indeks Masa Tubuh pada orang yang obesitas dan berat badan berlebih. Hal ini disebabkan olahan makanan bebas gluten malah tinggi lemak dan energi.

Apakah benar diet bebas gluten bermanfaat untuk anak autis?

Saat ini, diet bebas gluten juga populer dijalani oleh anak yang autis. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang cukup bahwa diet bebas gluten bermanfaat untuk anak dengan spektrum autis. Bahkan AAP (The American Academy of Pediatrics) tidak mendukung diet bebas gluten untuk terapi utama anak autis.

Jadi, tidak perlu termakan iklan dengan klaim berlebihan dari diet bebas gluten. Diet bebas gluten memang amat diperlukan hanya pada pengidap penyakit tertentu. Bila Anda curiga mengalami gangguan pencernaan atau alergi karena makanan mengandung gluten, silakan Anda hubungi dokter untuk mengecek kondisi Anda. Putuskan untuk melakukan diet bebas gluten hanya setelah Anda didiagnosis mengidap penyakit Celiac, intoleransi gluten, alergi gluten dan gandum serta penyakit autoimun lain (Diabetes Mellitus Tipe 1, Rheumatoid Arthritis, dll). Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/15/2015

Referensi

1. Gujral N, Freeman HJ, Thomson AB. Celiac disease: Prevalence, diagnosis, pathogenesis and treatment. World J Gastroenterol WJG. 2012 Nov 14;18(42):6036–59.
2. Celiac Sprue: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 17 [cited 2015 Nov 15]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/171805-overview
3. Gluten-Free/Casein-Free Diets [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Gluten-Free-Casein-Free-Diets.aspx
4. Gluten-free diet. Mayo Clin [Internet]. 2014 Nov 25; Available from: http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/gluten-free-diet/art-20048530
5. Gaesser GA, Angadi SS. Gluten-Free Diet: Imprudent Dietary Advice for the General Population? J Acad Nutr Diet. 2012 Sep 1;112(9):1330–3.
6. Gluten Free Diet: Learn About Benefits, Plans and Recipes [Internet]. MedicineNet. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.medicinenet.com/celiac_disease_gluten_free_diet/article.htm
7. Jaret P. The Truth About Gluten [Internet]. WebMD. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.webmd.com/diet/healthy-kitchen-11/truth-about-gluten
8. Alex ADA 1701 NBS, ria, 1-800-Diabetes V 22311. What Foods Have Gluten? [Internet]. American Diabetes Association. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.diabetes.org/food-and-fitness/food/planning-meals/gluten-free-diets/what-foods-have-gluten.html

Perilaku Makan

Perilaku Makan yang Salah Pada Anak Sekolah

Ketidaktahuan akan gizi yang baik pada anak ataupun orang tua menyebabkan anak sekolah sering berperilaku salah dalam mengonsumsi zat gizi. Berikut beberapa perilaku gizi yang salah pada anak sekolah.

Perilaku Makan yang Salah

  1. Tidak Mengonsumsi Menu Gizi Seimbang
    Menu gizi seimbang seharusnya menjadi pedoman bagi pola makan anak sekolah. Saat makan harus selalu tersedia:
    Sumber karbohidrat : nasi, roti, kentang, sereal
    Sumber protein : ikan, telur, daging, tempe, tahu
    Sumber lemak : margarine, minyak goreng
    Sumber vitamin-mineral : sayuran dan buah
    Untuk menyempurnakan ditambah dengan segelas susu.
  2. Tidak Sarapan Pagi  Makan pagi mempunyai peran penting bagi anak sekolah usia 6-14 tahun, yaitu untuk pemenuhan gizi di pagi hari dimana anak-anak berangkat sekolah dan memiliki aktivitas yang padat di sekolah. Apabila anak terbiasa makan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung prestasi belajar anak ke arah yang lebih baik.
  3. Jajan Tidak Sehat di Sekolah. Jajanan di sekolah bisa jadi kurang aman dari segi kebersihan atau produk kimianya. Apalagi beberapa pekan terakhir ini Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengungkapkan temuan tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia sekolah harus diperhatikan secara cermat dan serius.
  4. Kurang Mengonsumsi Buah dan Sayur. Anak sekolah di Indonesia umumnya kurang mengonsumsi sayuran. Ini disebabkan kurangnya kesadaran anak dan orang tua akan pentingnya zat gizi dari buah dan sayuran. Hal ini merupakan pola makan yang salah karena jelas tidak memenuhi gizi seimbang. Anak sekolah dapat mengalami kekurangan vitamin dan mineral yang berdampak pada tidak optimalnya pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak.
  5. Mengonsumsi Fast Food dan Junk Food. Makanan tersebut tidak memenuhi gizi seimbang, bahkan berbahaya bagi kesehatan karena padat kalori dan tingginya kandungan lemak, terutama asam lemak jenuh yang akan mengakibatkan kegemukan dan tingginya kolesterol dalam darah.
  6. Konsumsi Gula Berlebihan. Kelebihan konsumsi gula dapat mengakibatkan karies gigi dan diabetes. Karies gigi berasal dari mikroba yang mengfermentasi karbohidrat, sehingga terbentuk asam yang menyebabkan demineralisasi gigi. Hasil Riskesdas 2007, prevalensi anak usia di atas 10 tahun mengonsumsi makanan manis sebanyak 68,1%.
  7. Konsumsi Garam Berlebihan. Kelebihan konsumsi garam dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah meningkat. Akibatnya, volume dan tekanan darah naik sehingga mempermudah terjadinya hipertensi.
  8. Konsumsi Lemak Berlebihan. Bukti yang kuat menunjukkan bahwa asupan yang berlebihan dari asam lemak jenuh, asam lemak trans, dan kolesterol dapat menjadi plak yang menghambat aliran darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Depok, 4 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 11/14/2015

Referensi :
1. Girard M, et al. 2009. Breakfast Skipping is Associated with Differences in Meal Patterns Macronutrients Intakes and Overweight Among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume 12, Issue 1, pg 19-28. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18346309
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Judarwanto. 2006. Antisipasi Perilaku Makan Anak Sekolah. Rumah Sakit Bunda. Jakarta.

6 Langkah Mengatasi Masalah Gizi Anak

Masalah gizi anak, baik gizi kurang atau lebih, termasuk masalah yang sering dialami orangtua. Tentu perkara gizi tidak bisa diabaikan begitu saja. Gizi menjadi salah satu fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut poin-poin penting cara mengatasi masalah gizi pada anak yang perlu orangtua ketahui:

  1. Lakukan secara terus menerus evaluasi status gizi anak dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi anak, serta membandingkannya dengan diagram dari WHO. Bila anak berada dalam status gizi kurang atau lebih, segera konsultasikan dengan petugas kesehatan. Selengkapnya tentang cara membaca kurva WHO di sini.
  2. Perbanyak pengetahuan gizi bagi orang tua. Orang tua harus punya pengetahuan gizi karena gizi anak sangat ditentukan oleh orang tua sebagai pengasuh anak. Biasakan membaca buku-buku tentang gizi dan kesehatan anak, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dan kesehatan.
  3. Beri anak pendidikan gizi. Biasakan untuk memberikan informasi tentang makanan sehat dan bergizi pada anak. Orang tua bisa memberikan contoh makanan sehat dan makanan tidak sehat.
  4. Berikan anak menu gizi seimbang. Pilih makanan yang sehat buat anak, biasakan memasak sendiri makanan untuk anak agar bisa diketahui nilai gizinya.
  5. Hindari kebiasaan memberi makanan siap saji pada anak karena biasanya tidak segar, zat gizinya kurang lengkap karena tidak memenuhi syarat gizi seimbang, bahkan banyak mengandung zat berbahaya seperti pengawet, pewarna, dan penguat rasa.
  6. Latih anak untuk selalu mengonsumsi sayuran dan buah. Hindari jajanan yang mengandung banyak gula karena akan membuat anak merasa kenyang sebelum makan.

Selamat mencoba!

10/21/2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
2. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
3. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
4. Kementerian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Menteri tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta.
5. Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Gizi dan Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Tulang berfungsi menopang badan, melindungi alat tubuh yang vital seperti otak dan paru-paru. Tulang juga merupakan parameter penentu tinggi badan. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya memiliki tinggi badan yang ideal.

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa penting pertumbuhan dan pembangunan tulang. Sebesar 45% pertumbuhan massa tulang terjadi pada usia 0-10 tahun. Pada masa itu, tulang tumbuh memanjang. Ketika remaja, sekitar 45% massa tulang dewasa terbentuk sampai usia 18 tahun. Anak disebut pendek apabila tinggi per umur di bawah normal.

Gizi adalah batu bata penopang pertambahan tinggi badan yang merupakan salah satu indikator status gizi anak. Anak yang terbiasa memilih makanan kesukaan tanpa mempertimbangkan kandungan gizi, akan mengakibatkan terhambatnya pertambahan tinggi badan. Penelitian menunjukkan bahwa protein, vitamin, dan mineral mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan tinggi badan.

Protein
Setiap sel dalam tubuh kita mengandung protein. Pada tulang, protein berfungsi dalam pembentukan jaringan tulang yang baru dan penggantian jaringan tulang yang rusak. Protein juga berfungsi memperkuat otot sekitar tulang, sehingga tulang terpelihara.

Kalsium
Kalsium merupakan mineral terbanyak dalam tubuh dan 99% terdapat dalam tulang dan gigi. Sisanya terdapat dalam darah dan jaringan lunak. Kalsium berperan sebagai penyusun sel tulang, mendukung kerja sel osteoblas (pembentuk tulang), mengeraskan dan menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.

Fosfor
Fosfor berfungsi dalam mineralisasi tulang dan gigi. Sebanyak 80% fosfor tersimpan dalam tulang. Kristal mineral dibentuk selama kalsifikasi (pengerasan) tulang yang terdiri dari kalsium fosfat, komponen utama mineral kompleks yang membentuk struktur dan kekuatan pada tulang.

Vitamin D
Vitamin D membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta mineral. Vitamin D berfungsi membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.

Magnesium dan Seng
Magnesium berfungsi untuk mineralisasi dalam tulang. 50% magnesium tubuh terdapat dalam tulang. Seng berperan dalam pertumbuhan sel dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan tinggi badan. Keduanya berperan dalam pelekatan kalsium dan mineral lain di antara serat protein, sehingga memberikan kekuatan pada tulang.

Yodium
Bagian dari hormon tiroid ini berfungsi mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretinisme yang ditandai dengan tubuh yang kerdil, serta retardasi mental.

Depok, 6 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Kalkwarf et al. 2010. Tracking of Bone Mass and Density During Childhood and Adolescence. The Endocrine Society.
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
5. Bataviase. 2010. Protein dan Olahraga Cegah Patah Tulang. Bataviase. Jakarta

6 Akibat Gizi Lebih Pada Anak

Dulu banyak orang tua menyenangi anak gemuk karena dianggap lucu dan menggemaskan. Kini diketahui bahwa kegemukan pada anak merupakan faktor pencetus terjadinya penyakit dan menurunkan usia harapan hidup. Gizi lebih akan berakibat timbulnya berbagai penyakit degeneratif.

Akibat Negatif Gizi Lebih Pada Anak

1. Memicu Depresi
Anak akan depresi karena bentuk tubuhnya tidak ideal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada pandangan buruk terhadap anak yang mengalami kegemukan. Anak sering diejek, susah berteman, dan tidak diikutsertakan dalam aktivitas tertentu, seperti olahraga, karena dipandang lamban yang akan menjadi titik lemah dalam tim.

2. Merusak Liver (Hati)
Saat lemak mulai menumpuk dalam tubuh, maka hati akan mendapatkan pengaruhnya. Penelitian mencatat kasus penyakit liver yang dapat menyebabkan sirosis, gagal hati, atau kanker hati kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak di negara maju seperti Amerika, Eropa, Australia, dan bahkan ada pula di beberapa negara berkembang.

3. Penyakit Jantung Koroner
Gizi lebih mengakibatkan kelebihan kalori dalam tubuh disimpan dalam bentuk lemak. Bila lemak dalam darah tinggi, biasanya dalam bentuk kolesterol dan trigliserida, maka akan terbentuk plak sehingga aliran darah dalam pembuluh tidak lancar. Akibatnya, jantung harus bekerja keras untuk memompa darah. Bila kondisi ini berjalan terus, akan memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

4. Diabetes
Diabetes dipicu oleh tingginya kadar gula dalam darah. Konsumsi sumber karbohidrat dan gula yang tinggi akan menyebabkan kadar gula darah naik. Akibatnya, insulin tidak mampu memetabolisme gula darah secara optimal sehingga sel kekurangan energy. Pada saat yang bersamaan, simpanan glikogen dalam hati akan dilepas ke pembuluh darah. Akibatnya, kadar gula darah semakin tinggi, tetapi tidak dapat dimetabolisme, sehingga orang yang bersangkutan makin kurus.

5. Stroke
Stroke diawali oleh profil lemak, seperti kolesterol dan trigliserida yang tinggi. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala defisit fungsi susunan saraf yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah di otak. Ditandai dengan kematian sebagian jaringan otak yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Gejalanya berupa kaku, menurunnya fungsi sensorik, kemampuan membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu, lidah lemah, daya ingat menurun, dan kebingungan.

6. Osteoarthritis
Kegemukan mengakibatkan gangguan pada sendi, terutama sendi lutut, karena lutut terbebani oleh berat badan yang berlebih. Hal ini dapat menyebabkan tulang rawan pada sendi menipis. Akibatnya, pergerakan sendi menjadi terbatas dan terasa nyeri, bahkan bisa menyebabkan peradangan. Inilah yang disebut osteoarthritis.

Depok, 2 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Dubois L, et al. 2007. Social Factors and Television Use During Meals and Snacks is Associated with Higher BMI among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume II, Issue 12, pg 1267-1279
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/08/Beban-ganda-masalah-gizi.pdf

Susu sapi berbahaya. Benarkah?

“Awas! Susu sapi hanya untuk sapi!”. Isu viral ini mungkin pernah kita dapat dari internet atau berita broadcast. Tidak tanggung-tanggung, para pakar anti-susu ini menyorot bahwa susu sapi dapat menyebabkan kanker, alergi, dan menghasilkan radikal bebas. Padahal, sejak dulu masyarakat selalu didorong untuk minum susu. Lalu, manakah sebenarnya pendapat yang benar?

Manfaat vs Resiko

Saat ini memang terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai manfaat susu dari para ahli. Di satu sisi, susu sapi sudah dikenal kaya nutrisi. Kandungan lemak susu sapi yang cukup tinggi (sekitar 50% dari total kalori) bermanfaat untuk anak terutama yang memiliki asupan lemak rendah. Susu juga memberi kontribusi yang signifikan untuk kalsium, zinc, magnesium, selenium, ribovlafin, vitamin B12 dan asam pantothenat. Meskipun perlu diingat bahwa susu sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah.1–4

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi anak Indonesia saat ini ialah stunting (postur pendek). Stunting dianggap masalah karena meningkatkan resiko kecatatan anak dan gangguan perkembangan kognitif. Postur pendek ditambah berat badan lahir rendah juga merupakan faktor resiko penyakit kronik saat dewasa. Penelitian menyebutkan bahwa memberi setiap pemberian 245 ml susu pada anak meningkatkan tinggi badan sebesar 0.4 cm. Susu sapi juga berperan penting dalam mengatasi gizi kurang dan buruk baik di negara berkembang maupun negara industri.3,5,6

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa susu sapi membawa resiko kesehatan bagi anak alergi, memiliki masalah pencernaan (misalnya intoleran laktosa) atau yang mengkonsumsi secara berlebihan. Diet tinggi lemak jenuh, seperti pada susu, disertai konsumsi makanan rendah serat dan olahraga dapat menyebabkan obesitas pada anak. Secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

Susu dan Kanker

Susu dan kalsium telah diduga memegang peran yang berbeda pada tiap-tiap kanker. Beberapa komponen dari susu seperti kalsium, vitamin D, sphingolipids, asam butirat dan protein diduga melindungi tubuh dari kanker. Secara khusus, kalsium dan vitamin D dalam susu bersifat protektif terhadap kanker kolorektal (WCRF dan AICR). 7–13

Konsumsi Susu Sejak Kecil dan Resiko Kanker

Pengaruh konsumsi susu sejak kecil berfokus pada efek susu terhadap IGF-1 (hormon pertumbuhan). Diet susu hewan yang tinggi telah diketahui dapat meningkatkan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang tinggi ini dapat meningkatkan resiko kanker prostat, payudara dan kolorektal. Studi Boyd Orr menemukan bahwa keluarga yang mengkonsumsi produk kaya susu sejak kecil memiliki resiko kanker kolorektal saat dewasa, berbeda dengan temuan dari WCRF. Namun, konsumsi susu saat anak-anak tidak berhubungan dengan kanker payudara dan lambung. 5,14

Konsumsi Susu Saat Dewasa dengan Resiko Kanker

Kadar galaktosa yang tinggi, gula yang dihasilkan dari pencernaan laktosa susu, diketahui berbahaya terhadap ovarium. Meskipun hubungan langsung antara susu dan kanker ovarium tidak serempak dilaporkan, namun ada potensi yang berbahaya mengkonsumsi laktosa yang tinggi. Penelitian yang melibatkan 500.000 wanita menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi laktosa yang tinggi (setara dengan 3 gelas susu per hari) mengalami resiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak.15

Diet tinggi kalsium juga diduga menjadi faktor resiko kanker prostat. Studi dari Harvard menemukan bahwa pria dewasa yang meminum 2 gelas atau lebih susu tiap hari beresiko mengalami kanker prostat dua kali lipat dibandingkan yang tidak. Hubungan ini lebih ditekankan pada konsumsi kalsiumnya daripada produk susu secara umum. 16,17

Kesimpulan

Agar masyarakat tidak bingung, Anda perlu pahami bahwa susu hewani bermanfaat sebagai bagian diet seimbang terutama pada anak di negara berkembang. Namun, konsumsi susu berlebihan secara jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa tidak disarankan karena dapat berpotensi menimbulkan obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, sampai kanker.

Susu hewani memang tidak dapat menggantikan manfaat dari ASI. Namun, anak di atas 1 tahun dapat diberikan susu hewan full cream sebagai susu rekreasi sebanyak 2 gelas. Setelah 2 tahun, beri anak susu rendah lemak sebanyak 2-3 gelas. Untuk orang dewasa, konsumsi kalsium dan produk susu yang cukup (1-2 gelas) bermanfaat untuk kesehatan tulang, menurunkan resiko darah tinggi dan kanker kolon sebagai bagian dari diet seimbang.18

HEPApr2013-1024x800

Bagi anak atau dewasa yang tidak dapat mengkonsumsi susu hewani karena alergi atau masalah pencernaan, Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dari sumber makanan lain. Susu hipoalergenik dapat menjadi pilihan untuk anak yang alergi. Kalsium dapat ditemukan di sayuran hijau, kacang-kacangan, jus dan susu kedelai yang difortifikasi kalsium. Jangan lupa penuhi kebutuhan protein, lemak dan mikronutrien dari daging, ikan, ayam serta sayur dan buah. 18

Agustina Kadaristiana, dr. 

09/12/2015

Referensi

1. Barger-Lux, M.J, Heaney, R.P., Packard, P.T., Lappe, J.M., & Recker, R.R. Nutritional correlations of low calcium intake. Clin Appl Nutr. 1992;2:39–44.
2. Fulgoni V, Nicholls J, Reed A, Buckley R, Kafer K, Huth P, et al. Dairy consumption and related nutrient intake in African-American adults and children in the United States: continuing survey of food intakes by individuals 1994-1996, 1998, and the National Health And Nutrition Examination Survey 1999-2000. J Am Diet Assoc. 2007 Feb;107(2):256–64.
3. Michaelsen KF, Nielsen A-LH, Roos N, Friis H, Mølgaard C. Cow’s milk in treatment of moderate and severe undernutrition in low-income countries. Nestlé Nutr Workshop Ser Paediatr Programme. 2011;67:99–111.
4. Hoppe C, Mølgaard C, Michaelsen KF. Cow’s milk and linear growth in industrialized and developing countries. Annu Rev Nutr. 2006;26:131–73.
5. De Beer H. Dairy products and physical stature: a systematic review and meta-analysis of controlled trials. Econ Hum Biol. 2012 Jul;10(3):299–309.
6. Parodi PW. Cows’ milk fat components as potential anticarcinogenic agents. J Nutr. 1997 Jun;127(6):1055–60.
7. Parodi PW. Conjugated linoleic acid and other anticarcinogenic agents of bovine milk fat. J Dairy Sci. 1999 Jun;82(6):1339–49.
8. Parodi PW. Dairy product consumption and the risk of breast cancer. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):556S – 68S.
9. Parodi PW. A role for milk proteins and their peptides in cancer prevention. Curr Pharm Des. 2007;13(8):813–28.
10. Garland CF, Garland FC, Gorham ED, Lipkin M, Newmark H, Mohr SB, et al. The Role of Vitamin D in Cancer Prevention. Am J Public Health. 2006 Feb;96(2):252–61.
11. German JB, Dillard CJ. Composition, structure and absorption of milk lipids: a source of energy, fat-soluble nutrients and bioactive molecules. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(1):57–92.
12. Holt PR, Bresalier RS, Ma CK, Liu K-F, Lipkin M, Byrd JC, et al. Calcium plus vitamin D alters preneoplastic features of colorectal adenomas and rectal mucosa. Cancer. 2006 Jan 15;106(2):287–96.
13. Van der Pols JC, Bain C, Gunnell D, Smith GD, Frobisher C, Martin RM. Childhood dairy intake and adult cancer risk: 65-y follow-up of the Boyd Orr cohort. Am J Clin Nutr. 2007 Dec;86(6):1722–9.
14. Genkinger JM, Hunter DJ, Spiegelman D, Anderson KE, Arslan A, Beeson WL, et al. Dairy products and ovarian cancer: a pooled analysis of 12 cohort studies. Cancer Epidemiol Biomark Prev Publ Am Assoc Cancer Res Cosponsored Am Soc Prev Oncol. 2006 Feb;15(2):364–72.
15. Edward Giovannucci, Eric B. Rimiti, Alicja Wolk, Alberto Ascherio, Meir J. Stampfer, Graham A. Colditz, Walter C. WilleÂ. Calcium and fructose intake in relation to risk of prostate cancer. CANCER Res. 1998;(58):442–7.
16. Food, nutrition, physical activity, and the prevention of cancer: a global perspective. Washington: World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research; 2007.
17. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
18. Calcium and Milk: What’s Best for Your Bones and Health? Harv Sch Public Health [Internet]. Available from: http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/calcium-full-story/#ref15

Gizi dan Kemampuan Kognitif Anak

Perkembangan kognitif meliputi perkembagan dalam hal intelegensia dan bahasa. Kemampuan kognitif seorang anak dipengaruhi oleh faktor herediter dan non herediter. Faktor herediter bersifat statis dan sulit untuk diubah, seperti keturunan. Sedangkan faktor non herediter termasuk peran gizi, pola asuh keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Zat gizi yang dibutuhkan otak sama halnya dengan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh secara keseluruhan. Otak membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, elektrolit, dan oksigen untuk bekerja. Jadi semua zat gizi penting untuk perkembangan dan kerja otak, namun ada beberapa zat gizi yang menjadi perhatian dalam perkembangan kemampuan kognitif.

Asam Lemak Omega 3

DHA merupakan asam lemak yang termasuk dalam omega 3 telah diakui dapat membantu kecerdasan anak. DHA penting untuk membrane saraf dan kerja neurotransmitter. Penelitian menunjukkan bahwa DHA dapat menjaga kemampuan kognitif di usia lanjut pula.Makanan sumber omega 3 adalah ikan salmon, ikan tuna, ikan tenggiri, sarden, udang, kerang, minyak ikan, kepiting, kacang-kacangan (flaxeeds, walnut, kedelai), kembang kol, dsb.

sources-of-omega-3

http://www.whfoods.com/

Yodium

Yodium sangat penting untuk perkembangan otak. Yodium adalah zat gizi mikro yang paling penting dalam mencegah gangguan otak yang dapat menimbulkan penurunan kemampuan intelektual, melambatnya psikomotor, dan menyebabkan keterbelakangan mental.

Studi menunjukkan bahwa defisiensi yodium memiliki efek negatif pada kinerja kognitif anak sekolah. Gejala defisiensi yodium dapat diatasi dengan suplementasi yodium. Kemampuan kognitif anak membaik pada anak yang mendapat intervensi perbaikan status yodium. Sehingga penting memberikan anak zat gizi ini dalam garam beryodium, rumput laut, skalop, ikan cod, sarden, salmon, daging, udang, tofu, kembang kol, dsb.

iodine

http://www.whfoods.com/

Zat Besi

Otak sensitif terhadap penurunan besi yang berasal dari diet. Beberapa area otak yang penting untuk kemampuan kognitif seperti korteks, hipokampus, dan striatum lebih sensitif terhadap defisiensi besi daripada area yang lain. Besi mempengaruhi mielinisasi saraf, merupakan kofaktor sejumlah enzim yang terlibat dalam sintesis neurotransmitter, termasuk serotonin, norepinefrin, dan dopamin.

Kadar hemoglobin yang normal akan memungkinkan seseorang mempunyai ketahanan dalam berkonsentrasi pada sesuatu, terutama belajar. Studi menunjukkan nilai anak yang kurang besi lebih rendah dibandingkan nilai anak dengan zat besi yang cukup. Agar anak Anda tidak kekurangan zat besi, penuhi kebutuhannya dari daging merah, makanan laut, bayam, brokoli, ubi, dan buah-buahan seperti stroberi, semangka, kurma, dsb.

iron

http://www.whfoods.com/

Depok, 7 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 09/08/2015

Referensi:
1. Bryan J, et al. 2004. Nutrient for Cognitive Development in School Aged Children. The Journal of Nutrition Reviews, Volume 26, no 8, pg 295-306
2. Gewa AC, et al. 2009. Dietary Micronutrients are Associated with Higher Cognitive Function Gains among Primary School Children in Rural Kenya. British Journal of Nutrition, volume 101, pg 1378-1387
3. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
4. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
5. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.

Bulan Vitamin A, Bulan Februari dan Agustus

Selain mengajak buah hati merayakan HUT RI, ayah bunda jangan lupa ya membawa anaknya ke Posyandu atau Puskesmas. Loh, memangnya ada apa? Pasalnya, setiap bulan Agustus dan Februari pemerintah membagikan kapsul vitamin A lewat Posyandu dan Puskesmas untuk diberikan kepada bayi dan balita. Sehingga tidak heran bila bulan-bulan ini disebut Bulan Vitamin A. Pemberian kapsul ini juga gratis! Tapi, apa pentingnya ya?

Manfaat Vitamin A

Kita mungkin sering mendengar bahwa Vitamin A (retinol) bagus untuk kesehatan mata. Ya, ini memang benar. Sel batang (rod cell) pada retina yang bertugas untuk penglihatan di malam hari dan mendeteksi gerakan, membutuhkan vitamin A untuk dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, vitamin A amat penting untuk menjaga integritas sel mata. Sehingga, apabila kekurangan dapat menyebabkan Xerophtalmia (kekeringan pada kornea dan konjungtiva) yang bisa berlanjut pada kebutaan (rabun senja). 1

figure2

Vitamin A juga berperan dalam tumbuh kembang, menjaga keutuhan sel epitel, fungsi imun dan reproduksi. Sehingga, pada anak yang kekurangan vitamin, resiko kecatatan akibat campak dan diare juga meningkat. Bahkan, riset membuktikan bahwa defisiensi vitamin A menyumbangkan 6% kematian balita di Afrika dan 8% di Asia Tenggara. Mengingat vitamin A tidak bisa diproduksi tubuh, penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin A dari makanan. Alternatifnya ialah suplementasi bagi negara berkembang yang memiliki masalah defisiensi vitamin A.1–3

Kondisi Kecukupan Vitamin A di Indonesia

Sejak tahun 1970-an, pemerintah Indonesia rutin mengadakan program suplementasi vitamin A. Sebabnya, kekurangan vitamin A sempat menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut WHO, defisiensi vitamin A menjadi masalah apabila:

  • Persentasi retinol < 20 µg/dl lebih dari 15%
  • Persentasi Xerophtalmia (X1B) lebih dari 0,5%.

Perlu disyukuri bahwa berdasarkan hasil riset SEANUTS (South East Asian Nutrition Survey, 2011), defisiensi vitamin A tidak lagi menjadi masalah kesehatan. Namun, program pemberian vitamin A tetap penting dilakukan karena banyak anak-anak di Indonesia yang kadar serum retinol (vitamin A) berada di ambang batas kekurangan. 4–7

Kemenkes, 2013

Kemenkes, 2013

Seperti Apa Vitamin A yang diberikan Puskesmas?

Suplementasi yang diberikan ialah vitamin A dosis tinggi. Terdapat 2 jenis kapsul vitamin A yang diberikan sesuai dengan usia yaitu:5

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

sasaran

Sumber : Depkes, 2009

Kapan Suplementasi ini diberikan?

Suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara serentak :5

  • Bayi usia 6-11 bulan diberikan pada bulan Februari atau Agustus (1x dalam setahun)
  • Balita usia 12-59 bulan diberikan pada bulan Februari dan Agustus (2x dalam setahun)
Bulan Vitamin A

Pemberian kapsul di Bulan Vitamin A

Apa Efek Sampingnya?

Efek samping pemberian vitamin A dosis tinggi bisa saja muncul dalam 48 jam setelah pemberian. Namun, efek sampingnya ringan, bersifat sementara dan tidak ada dampak jangka panjang. Diantaranya ubun-ubun menonjol pada bayi, mual, muntah atau sakit kepala pada anak lebih besar yang ubun-ubunnya sudah tertutup. 3

Apakah bayi kurang dari 6 bulan dan ibu nifas perlu suplementasi?

Saat ini WHO tidak lagi merekomendasikan suplementasi vitamin A rutin bagi bayi muda dan ibu nifas. Pasalnya, dari tiga penelitian  tidak ditemukan manfaat yang berarti dari pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi muda. Sebaliknya, ditemukan efek samping seperti diare dan ubun-ubun menonjol pada bayi kurang dari 6 bulan.

Mirip halnya pada ibu nifas, pemberian retinol dosis tinggi tidak menurunkan resiko kematian ibu dan bayi. Sehingga, ibu nifas lebih disarankan untuk makan bergizi yang seimbang. Pada bayi muda juga disarankan untuk terus diberikan ASI dengan catatan ibu memperhatikan kebutuhan gizinya dan buah hati. 8,9

Apakah ibu hamil perlu suplementasi vitamin A?

Ibu hamil yang tinggal di negara dengan tingkat kekurangan vitamin A yang sangat berat baru perlu diberi suplementasi. Namun, vitamin A yang diberikan hanya dosis kecil (25000 IU/minggu selama minimal 12 minggu). Hal ini disebabkan, vitamin A dosis tinggi berpotensi menyebabkan pada janin.1

Di Indonesia sendiri ibu hamil tidak di wajibkan mendapatkan suplementasi vitamin A. Ibu hamil bisa memenuhi kebutuhan vitamin A nya dari nutrisi. Penggunaan suplementasi vitamin A saat hamil perlu dibawah anjuran dokter atau bidan.

Sumber Vitamin A

Selain mengikuti program suplementasi vitamin A dari Puskesmas, orangtua juga perlu tahu makanan kaya akan vitamin A. Karena nutrisi alami, sehat dan seimbang ialah kunci dari pemenuhan gizi. Sumber vitamin A yang sehat misalnya :

  • Produk hewani : keju, telur, ikan, susu dan yoghurt
  • Nabati : bayam merah atau hijau, wortel, ubi, paprika merah, mangga, pepaya, aprikot.

http://visionsource-auburnfamilyoptometry.com/wp-content/uploads/sites/1645/2014/09/Vitamin-A.jpg

Hati hewan memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Artinya, terdapat resiko konsumsi retinol yang berlebihan bila dikonsumsi lebih dari 1x dalam seminggu. Hal ini perlu jadi perhatian terutama bagi ibu hamil. 10

Yuk, tunggu apalagi. Mari kita sukseskan Bulan Vitamin A ini yah. 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

08/20/2015

Referensi

1. Sassan Pazirandeh, MD, David L Burns, MD. Overview of vitamin A. Uptodate. 2015 Apr 21;
2. Chapter 7. Vitamin A. FAO [Internet]. Available from: http://www.fao.org/docrep/004/y2809e/y2809e0d.htm
3. Guideline: Vitamin A supplementation in infants and children 6–59 months of age [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44664/1/9789241501767_eng.pdf?ua=1&ua=1
4. Vitamin A Supplementation A DECADE OF PROGRESS. Unicef; p. 2007.
5. PANDUAN MANAJEMEN SUPLEMENTASI VITAMIN A. DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN; 2009.
6. Dr. Sandjaja. South East Asian Nutrition Surveys Regional Overview on Nutrition & Health Trends. PERSAGI;
7. PERKEMBANGAN MASALAH GIZI DAN PENGUATAN PELAYANAN GIZI DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI INDONESIA. Jakarta: Direktur Bina Gizi Ditjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI; 2013 Oktober.
8. Guideline: Neonatal vitamin A supplementation [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44626/1/9789241501798_eng.pdf?ua=1&ua=1
9. WHO | Vitamin A supplementation in postpartum women [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.who.int/elena/titles/vitamina_postpartum/en/
10. Choices NHS. Vitamins and minerals – Vitamin A – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/vitamins-minerals/Pages/Vitamin-A.aspx

Picky Eater Berhubungan Dengan Gangguan Cemas dan Depresi

Sering sekali kita dengar keluhan orang tua mengenai perilaku balita yang picky eater atau memilih-milih makanan. Setidaknya hal itu yang dilaporkan oleh 14-20% orang tua dari penelitian baru-baru ini. Sangking banyaknya keluhan ini, praktisi kesehatan dan ilmuwan menganggap hal ini lumrah sebagai kebiasaan yang akan hilang saat anak besar. Namun, tahukah Anda bahwa penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics ini menyebutkan bahwa picky eater sedang sampai berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan pada balita. Fakta ini tentu bisa membawa perubahan besar terhadap persepsi picky eater.

picky2

“Minimnya penelitian sistematik mengenai penyebab, dampak atau tatalaksana dari picky eating ini menyebabkan dokter mengalami dilema dalam memberikan saran yang tepat. Dalam penelitian ini kami ingin mengetahui adakah kaitan perilaku picky eater dengan gangguan mental pada anak serta faktor-faktor yang terkait.”,  Helen Egger, MD., Peneliti utama dari Departement of Psychiatry and Behavioural Science, Duke University.

Untuk mengetahui kaitan tersebut, peneliti dari Duke University ini menganalisa 917 anak usia 24-71 bulan. Orang tua atau pengasuh diwawancara mengenai kebiasaan makan, gejala gangguan kejiwaan, dan kondisi lingkungan rumah.

Perilaku picky eating atau Selective Eating (SE) sendiri dikategorikan menjadi 3 : ringan, sedang dan berat. Anak yang tidak suka makananan yang pada umumnya anak lain tidak suka (misalnya brokoli) dikatakan Selective Eating ringan. Untuk kategori sedang dikatakan bila anak hanya mengkonsumsi makanan tertentu yang ia suka. Sedangkan picky eater berat bila anak amat sulit makan karena pemilihan makanan yang terlalu ekstrim.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Selective Eating sedang dan berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan seperti gangguan cemas, depresi dan ADHD. Meskipun begitu, tingkat gejala kejiwaan tergantung pada derajat picky eater. Gangguan picky eater berat biasanya terjadi pada anak yang sebelumnya didiagnosis depresi, gangguan cemas sosial, atau gangguan motorik mulut yang mempengaruhi proses makan. Selain itu pada kedua derajat picky eater ini terdapat rasa sensitif yang berlebihan dan rasa penolakan pada anak terhadap makanan diluar yang ia bisa terima.

Adanya gangguan dalam fungsi keluarga juga dilaporkan pada perilaku ini. Anak yang picky eater sedang sampai berat dilaporkan memiliki ibu dengan kecemasan tinggi dan konflik keluarga seputar makanan. Namun, dibandingkan dengan picky eater berat, lebih banyak orang tua anak dengan picky eater sedang yang memiliki riwayat penggunaan narkoba dan ibu yang berobat ke psikiater.

Temuan ini bisa menjadi titik balik memahami dan menangani masalah selected eating atau picky eating pada anak. Persepsi bahwa kebiasaan picky eating akan hilang dengan sendirinya mungkin menjadi kurang tepat saat ini. Sebaiknya orangtua waspada dan berkonsultasi ke dokter bila menemukan perilaku picky eating sedang atau berat pada anak.

Agustina Kadaristiana, dr.

08/07/2015 

Referensi

Zucker N, Copeland W, Franz L, Carpenter K, Keeling L, Angold A, et al. Psychological and Psychosocial Impairment in Preschoolers With Selective Eating. Pediatrics. 2015 Aug 3;peds.2014–386.

Gambar di unduh dari :

http://edgyplate.com/wp-content/uploads/2015/06/Trade-secrets-feeding-picky-eaters-Jan06-istock.jpg

http://images.sciencedaily.com/2015/08/150803083343_1_900x600.jpg

IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

Awali pemberian ASI dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Apa itu IMD? Ketika persalinan berlangsung, ada perubahan dramatis yang terjadi dalam psikologis ibu. Pada masa yang sangat singkat ini, ibu ingin segera mendekap bayinya yang masih basah oleh ketuban. IMD adalah membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir. Bayi manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk merangkak mencari payudara, menemukan putingnya, dan mulai menyusu. Hal ini terjadi apabila bayi mengalami kontak kulit langsung dengan ibunya.

Langkah-langkah IMD adalah:

  1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
  2. Tali pusat dipotong.
  3. Bayi kemudian ditengkurapkan di perut ibu, dan diselimuti di atas tubuh bayi. Dengan demikian, terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi.
  4. Bayi dibiarkan dalam posisi demikian sampai menemukan payudara dan kemudian menyusu. Waktu yang dibutuhkan bayi untuk menemukan putting brevariasi, namun pada umumnya tidak lebih dari 1 jam.

inisiasi_dini

Manfaat dilakukan IMD:

  1. Mencegah hipotermia (kedinginan), karena dada ibu merupakan inkubator yang terbaik. Bahkan suhu badan ibu akan meningkat untuk memberikan kehangatan kepada bayinya.
  2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi cenderung tenang dan jarang menangis, karena mendengar detak jantung ibu membuatnya merasa di dalam rahim.
  3. Saat bayi merangkak dan menjilat-jilat kulit ibunya, pada saat itulah terjadi pemindahan ‘bakteri baik’ dari kulit ibu yang ditelan bayi. ‘Bakteri baik’ ini akan berkembang biak membentuk koloni di usus bayi yang akan melindungi bayi dari bakteri jahat.
  4. Bonding (ikatan) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama pasca kelahirannya, bayi dalam kondisi siaga.
  5. Bayi yang berkesempatan IMD akan lebih berhasil dalam program ASI eksklusif dan lebih lama disusui.
  6. Sentuhan tangan dan jilatan bayi pada putting susu dan sekitarnya akan merangsang pengeluaran hormon oksitosin. Oksitosin ini membuat rahim berkontraksi, sehingga membantu terlepasnya plasenta dan mencegah perdarahan pasca persalinan.
  7. Bayi yang mengalami IMD akan mendapatkan kolostrum lebih dini pula. Kolostrum ini adalah ASI yang pertama kali keluar, mempunyai kadar immunoglobulin yang tinggi. Immunoglobulin penting untuk memberikan daya tahan tubuh bayi terhadap infeksi.

Namun, dalam pelaksanaannya, proses IMD terkadang terkendala dengan hal-hal berikut:

Dari pihak ibu

  1. Ibu merasa lelah dan ingin istirahat saat proses persalinan selesai, termasuk proses perbaikan jalan lahir. Tak jarang memang, sebelum proses persalinan yang sebenarnya, ibu sudah merasa kesakitan, yang meski dalam skala ringan, namun cukup bisa mengganggu kepulasan tidur. Karenanya, baru sesaat memeluk bayi yang dilahirkannya (proses IMD), mereka pun sudah meminta agar bayi segera diangkat.
  2. Ibu merasa kesulitan memosisikan bayi di dadanya. Apalagi kalau di tangannya ada selang infuse.
  3. Merasa hopeless dengan pengalaman anak terdahulu, ketika ASI baru keluar setelah hari ketiga, atau para ibu yang memiliki putting payudara datar atau masuk ke dalam.

Dari pihak suami atau keluarga ibu bersalin

Mereka ingin segera tahu data-data bayi yang baru lahir. Misalnya, berat berapa? Panjang berapa? Mereka ingin segera memberikan kabar gembira ini kepada sanak keluarga yang lain. Tidak jarang, saat mendampingi istrinya, sang suami masih disibukkan dengan ponsel. Karena itu, persiapkan diri dan suami apabila memang menginginkan IMD atau bersalin di tempat yang melaksanakan IMD.

Depok, 10 Juli 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

1. Chescheir, C. Nancy¸ et al. 2000. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. The Americal College of Obstetricians and Gynecology. Washington.
2. Cunningham, G, et al. 2010. William Obstetrics. 23rd edition. Mc Graw Hill. New York.
3. Evans, A. 2007. Manual Obstetrics. Lippincot Williams and Wilkins. Philadelphia.
4. Novak, Patricia D. 1995. Dorland’s Pocket and Medical Dictionary. 25th edition. WB Saunders Company. Philadelphia.
5. Oats J, Abraham S, Lwellyn. 2010. Jones Fundamentals of Obstetrics and Gynecology. Mosby Elsevier. Edinburgh.
6. Kusumaningsih, Prita. 2011. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Qultum Media: Jakarta.

Tips Memasak Daging Sapi Agar Rendah Lemak

Ibu-ibu sebagai koki dirumah biasanya sudah mulai menyetok daging merah untuk persiapan lebaran. Hmmm.. siapa yang tidak kangen dengan menu spesial gulai, rendang, sate, sambal goreng ati dan sayur santan yang disiram di atas lontong? Apalagi bila dimakan saat bersilaturahim ke saudara atau kerabat. Tentu makin nikmat ya hidangan setelah berpuasa. 🙂

Daging sapi memang salah satu sumber gizi dalam diet seimbang. Namun, mengkonsumsi daging merah perlu hati-hati. Pasalnya, daging merah mengandung asam lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. LDL ini nantinya dapat menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan penyakit kardiovaskuler seperti stroke dan jantung koroner juga diabetes tipe 2.

Lalu bagaimana cara memasak daging merah agar lemaknya berkurang ya?

  1. Pilih potongan daging rendah lemak (lean). Contoh potongan daging ini ialah daging kelapa (round), sampil/paha depan (chuck), daging has luar (sirloin), has dalam (tenderloin), gandik (eye round). Sebaliknya, daging iga, sandung lamur, jeroan merupakan bagian yang cukup banyak lemak. 1–4

    Potongan Daging Sapi (https://id.wikipedia.org/wiki/Daging_sapi)

  2. Pilih potongan yang berkualitas “Choice” atau “Select” daripada “Prime” karena daging prime biasanya lebih banyak mengandung lemak.1 Lemak ini terlihat dari struktur marbling (lemak di antara serat) dari daging. Bagi yang belum familiar, istilah mutu daging ini dikenalkan oleh USDA (United State Department of Agriculture) berdasarkan keempukan, juiciness (kebasahan daging), dan rasa.Daging Prime ialah daging bermutu tinggi karena tekstur marbling yang banyak sehingga dagingnya amat empuk dan juicy.

    Mutu Daging USDA (http://www.livetradingnews.com/)

  3. Buang lemak yang terlihat sebelum dimasak1
  4. Bila anda mengolah daging giling, lakukan cara ini untuk mengurangi lemak :6
    • Tiriskan lemak setelah menumis daging
    • Pindahkan daging ke piring yang dilapisi tisu dapur selama satu menit lalu tutup juga bagian atas daging
    • Letakan daging di atas saringan
    • Siram 4 gelas air panas ke atas daging. Tiriskan selama 5 menit
    • Hasil tirisan daging dapat digunakan setelah lapisan lemak dibuang.beef_crumbles
  5. Sebaiknya Anda tidak menambahkan minyak saat mengolah daging. Bila Anda perlu menggunakan minyak misal untuk menumis bumbu, gunakan minyak dengan asam lemak tidak jenuh tunggal atau ganda (MUFA/PUFA) seperti minyak kanola, minyak bunga matahari (sunflower oil), minyak kedelai, minyak zaitun, minyak wijen atau minyak kacang. Gunakan spray atau sendok the saat menakar minyak. 1,7,8

    Oil Mister Spray

    Oil Spray

  6. Gunakan rak yang dapat mentiriskan lemak saat daging dipanggang atau dibakar. Sebaiknya sari lemak yang jatuh tidak dioleskan lagi ke permukaan daging.1

    puckoven25-e1399410549673

    Rak masak (the-gadgeteer.com)

  7. Setelah daging direbus, dikukus atau dibuat menjadi kaldu, masukkan ke dalam kulkas semalaman. Lemak yang keluar dari hasil pengolahan akan membeku di lapisan paling atas kuah. Buang lemak-lemak tersebut sebelum daging diolah kembali.1
  8. Bila ada resep yang menginstruksikan untuk browning (membuat permukaan daging menjadi coklat), sebaiknya lakukan dengan memanggang daging daripada memasaknya di teflon (pan-fry).1
  9. Sebaiknya ganti bahan penyerta masakan menjadi lebih rendah lemak. Misalnya ganti santan dengan atau susu rendah lemak saat membuat soto betawi atau gulai. Bila anda tidak biasa, bisa lakukan bertahap dengan menggunakan santan cair. Contoh lain ialah mengganti mentega dengan margarin rendah lemak jenuh dan nihil lemak trans atau minyak nabati. 8,9
  10. Batasi bahkan sebaiknya hindari penggunaan daging olahan seperti sosis, kornet, salami, dll meskipun pada label disebutkan “rendah lemak”. Hal ini disebabkan daging olahan memiliki kalori, lemak jenuh, dan kadang sodium yang tinggi. Penelitian dari Harvard juga membuktikan bahwa konsumsi daging olahan (misanya 1 hotdog atau 2 buah bacon) secara sering dapat meningkatkan risiko kematian sebanyak 20%.1,10

Perlu diingat meskipun kadar kolesterol dalam daging bisa dikurangi, tetapi kandungan lain dari daging merah dapat menyebabkan kanker bila dikonsumsi berlebihan. Zat karsinogenik ini, Heterocyclic amines (HCA) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), berasal dari reaksi temperatur tinggi dari proses memasak dengan asam amino, gula dan, kreatin pada daging merah.11Sehingga konsumsilah daging merah secukupnya yaitu kurang dari 500 gram per minggu atau 70 gram/hari. Patokannya kira-kira seukuran telapak tangan untuk daging 80 gram (3 ons).12 Jangan lupa perbanyak makan buah dan sayur untuk mengurangi kolesterol. 7,13. Semoga bermanfaat. 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

2015-07-13

Referensi :

1. Cooking for Lower Cholesterol. Amercan Heart Assoc [Internet]. 2014 Jul 16; Available from: http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/Cholestero/PreventionTreatmentofHighCholesterol/Cooking-for-Lower-Cholesterol_UCM_305630_Article.jsp
2. Mengenal nama bagian-bagian daging sapi – Welcome to my kitchen [Internet]. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://dapurpunyaku.blogspot.sg/2011/08/mengenal-nama-bagian-bagian-daging-sapi.html
3. Cuts of beef: A guide to the leanest selections. Mayoclinic [Internet]. Available from: http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/cuts-of-beef/art-20043833?pg=1
4. Heart disease and diet: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. [cited 2015 Jul 13]. Available from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002436.htm
5. Meadows L. What’s Your Beef – Prime, Choice or Select? USDA [Internet]. 2013 Jan 28; Available from: http://blogs.usda.gov/2013/01/28/what%E2%80%99s-your-beef-%E2%80%93-prime-choice-or-select/
6. How to prepare ground beef to reduce fat. Iowa State Univ [Internet]. Available from: http://www.extension.iastate.edu/foodsavings/page/how-prepare-ground-beef-reduce-fat
7. 11 foods that lower cholesterol [Internet]. Harvard Health. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.health.harvard.edu/heart-health/11-foods-that-lower-cholesterol
8. Smart Substitutions. Amercan Heart Assoc [Internet]. 2014 Oct 15; Available from: http://www.heart.org/HEARTORG/GettingHealthy/NutritionCenter/HealthyEating/Smart-Substitutions_UCM_302052_Article.jsp
9. Fats and Cholesterol [Internet]. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.heartfoundation.org.au/healthy-eating/fats/Pages/default.aspx
10. Red meat raises red flags [Internet]. Harvard Gazette. [cited 2015 Jul 13]. Available from: http://news.harvard.edu/gazette/story/2012/03/red-meat-raises-red-flags/
11. Chemicals in Meat Cooked at High Temperatures and Cancer Risk [Internet]. National Cancer Institute. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/diet/cooked-meats-fact-sheet
12. Cutting red meat-for a longer life [Internet]. Harvard Health. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.health.harvard.edu/staying-healthy/cutting-red-meat-for-a-longer-life
13. Choices NHS. Red meat and bowel cancer risk – Live Well – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Jul 13]. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/red-meat.aspx

Bisul Karena Makan Telur, Benarkah?

“Ehh jangan sering-sering beri makan anak makan telur! nanti bisul lho”. Mungkin ayah bunda sering mendengar nasihat seperti ini. Tapi tahukah Andah bahwa sebenarnya anggapan itu hanya mitos belaka 🙂

Secara medis, tidak ada hubungan antara anak yang suka telur dengan bisul yang dialaminya. Bisul sebenarnya sejenis peradangan pada kulit yang mengenai folikel rambut dan kelenjar minyak kulit. Penyebabnya infeksi kuman atau bakteri Staphylococcus aureus. Siapapun, usia berapapun, suka telur atau tidak, bisa terkena bisul. Namun, pada anak-anak, bisul lebih sering menyerang dibandingkan dengan orang dewasa.

webmd_rf_photo_of_boils_illustration

Proses Terjadinya Bisul (http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/ss/slideshow-boils)

Bisul dapat menular jika anak dengan luka goresan bersentuhan kulit dengan penderita bisul. Selain itu, kontak tidak langsung dengan penderita bisul juga bisa jadi penyebab. Misalnya, pemakaian handuk bersama, tempat tidur bersama, pakaian, permainan di area publik, kolam renang, dan sebagainya.
Bisul dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yakni: folikulitis, furunkel, furunkulosis, karbunkel, abses multipel, hidraadinitis, dan skrofuloderma. Meski banyak jenisnya, karena prosesnya mirip, orangpun menganggapnya sama. Yakni, sama-sama bisul. Adapun gejala-gejala bisul itu adalah:

  • Gatal di daerah benjolan dan sekitarnya.
  • Rasa nyeri yang menyertai gatal.
  • Berbentuk kerucut dan ‘bermata’. Biasanya mengeluarkan cairan setelah pecah.
  • Berbentuk bulat dan berkubah, tidak bermata, tanpa disertai rasa nyeri. Bisul jenis ini biasanya terdapat pada kelenjar keringat dan agak sulit pecah spontan.
  • Demam.
boils

Bisul (http://www.medicinenet.com/boils/article.htm)

Tiga faktor yang dapat memicu terjadinya bisul:

  1. Kebersihan lingkungan yang kurang baik. Hal ini menyebabkan banyak kuman beredar di sekitar anak. Selain itu, anak yang jarang dimandikan dan tidak dibiasakan membersihkan tubuh juga rentan terkena bisul.
  2. Udara panas. Sebenarnya bisul merupakan penyakit khas daerah tropis. Udara yang panas menjadikan produksi keringat berlebihan. Keringat inilah yang dapat merangsang tumbuhnya bisul, terutama pada bagian kelenjar keringat.
  3. Menurunnya daya tahan tubuh. Diantaranya disebabkan kurang gizi, menderita anemia, kanker, diabetes, dan beberapa kondisi imunodefisiensi.

Meskipun alergi dan bisul tidak punya kaitan langsung, namun alergi dapat memicu bisul. Anak yang alergi, biasanya gatal dan sering menggaruk-garuk. Akibat garukan itu, muncullah luka goresan yang mudah dimasuki kuman. Lalu timbul bisul.

Begitu anak Anda terkena bisul, segera tangani, jangan menunggu hingga bisulnya ‘matang’ dahulu. Jika bisul ditunggu sampai bernanah, dapat memperparah kerusakan jaringan, kulit pun menjadi berongga. Anda tidak dianjurkan memencet bisul, sebab akan membuat kulit ‘trauma’. Dengan perawatan yang benar selama proses pematangan, bisul biasanya akan pecah sendiri. Lakukanlah perawatan di rumah sebelum dan sesudah bisul pecah. Caranya adalah:

Perawatan sebelum bisul pecah:

  • Tetap jaga kebersihan tubuh anak dengan sering memandikan dan mengeramasi
  • Kompres bisul dengan kain bersih yang telah dicelup air hangat
  • Beri obat penahan nyeri dan penurun panas, seperti paracetamol sirup sesuai dosis. Jika perlu,
  • berikan salep hitam (ichtiol) pada bisulnya.
  • Untuk menghindari penularan, bersihkan tangan Anda setelah merawat bisulnya.
  • Jangan memecahkan bisul
670px-Treat-a-Boil-Step-2-Version-2

http://www.wikihow.com/Treat-a-Boil

Perawatan setelah bisul pecah:

  • Pastikan nanah dan mata bisul keluar semua
  • Berikan salep antiseptic
  • Jaga kebersihan kulit agar kuman dari nanahnya tidak merembet ke bagian tubuh lainnya.
  • Bersihkan tangan dan alat-alat yang terkontaminasi setelah merawat bisulnya.

Sebaiknya, segera bawa anak Anda ke dokter jika:

  •  Anak menderita diabetes
  • Bisul ada di wajah, anus, lipat paha, atau sekitar tulang belakang
  • Memicu demam tinggi dan nyeri yang menyiksa. Bengkak atau perubahan warna kulit dekat bisul.
  • Bisul belum pecah setelah seminggu perawatan
  • Terus kambuh beberapa kali dalam waktu singkat.

Depok, 26 Juni 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 12 Juni 2015

Referensi :
1. Ofir Artzi, et al. 2014. Recurrent Furunculosis in Returning Travelers : Newly Defined Entity. Journal of Travel Medicine
2. Selcuk, Aysegul, et al. 2015. Bacterial Skin Infection : Epidemiology and Latest Research. Turkish Journal of Family Medicine and Primary Care.
3. Serap Gunes, et al. 2013. The Prevalence of Pediatric Skin Diseases in Eastern Turkey. International Journal of Dermatology.
4. Balachandra, et al. 2105. Recurrent Furunculosis Caused by a Community Acquired Staphylococcus Aureus Strain. Microbial Drug Resistance Journal
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 143

Gambar awal diambil dari : http://www.webmd.boots.com/children/ss/slideshow-essential-nutrients

Ibu Hamil Berpuasa, Amankah?

Assalamualaikum Bunda.. Adakah yang berniat berpuasa Ramadan sementara sedang hamil? Meskipun telah diberi keringanan untuk mengganti puasa di hari lain atau membayar fidyah, banyak ibu hamil yang ingin turut serta beribadah puasa di bulan suci ini. Tapi di sisi lain ibu sering dilema tentang keamanan berpuasa dari segi medis. Lalu, sejauh mana ibu hamil bisa berpuasa di bulan Ramadan?

Pro dan Kontra Puasa Ibu Hamil

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui efek puasa terhadap kehamilan. Secara umum tidak ditemukan efek samping serius pada janin bagi ibu hamil sehat yang berpuasa. Namun, ada pula penelitian yang menemukan dampak negatif puasa pada ibu hamil. Sehingga, sampai saat ini batas aman tidaknya berpuasa bersifat individual.

puasa_ibu_hamil

Puasa Ibu Hamil

Hasil penelitian yang menyebutkan puasa pada ibu hamil relatif aman misalnya :

  • Ibu yang berpuasa saat hamil tidak mempengaruhi berat badan bayi saat lahir. 1,2
  • Ibu hamil yang berpuasa di trimester kedua tidak meningkatkan kadar stres oksidatif ibu juga tidak mempengaruhi perkembangan dan berat badan janin.3
  • Tidak ditemukan penumpukan zat keton didalam darah ataupun urin pada ibu hamil yang berpuasa.4
  • Tidak ada pengaruh puasa saat hamil dengan perkembangan janin atau kesehatan janin. Tidak juga ditemukan perbedaan ukuran arteri rahim atau ari-ari, parameter pertumbuhan atau cairan amnion antara ibu hamil yang berpuasa dan yang tidak.4
  • Tidak ada perbedaan IQ yang signifikan pada anak yang ibunya berpuasa saat hamil5
  • Tidak ditemukan peningkatan resiko kelahiran prematur pada ibu yang berpuasa saat hamil6

Sedangkan beberapa efek samping puasa yang ditemukan saat hamil contohnya :

  • Bayi yang ibunya berpuasa saat Ramadhan lebih kecil dan kurus serta plasentanya lebih kecil dibandingkan dengan ibu yang tidak berpuasa berdasarkan penelitian yang melibatkan 1.321 bayi di Tunisia 7
  • Adanya penurunan kadar gula darah, insulin dan karnitin serta peningkatan asam lemak. Gula darah dan insulin berperan penting sebagai sumber nutrisi ibu dan janin. Begitu pula dengan karnitin yang berfugsi sebagai pengantar asam lemak ke dalam sel. 8
  • Terdapat penurunan kadar hormon LH, FSH, estrogen, progesteron dan leptin secara signifikan pada ibu hamil yang berpuasa. Hormon-hormon ini sangat penting karena bertugas untuk menjaga dan mempertahankan kehamilan serta mempengaruhi metabolisme tubuh saat kehamilan.9
  • Penelitian efek jangka panjang puasa pada kehamilan dari data Survey Kehidupan Keluarga Indonesia (Indonesian Family Life Survey, 2000) menyebutkan bahwa muslim dewasa yang ibunya berpuasa saat hamil sedikit lebih kurus dan pendek daripada yang tidak. 10
  • Adanya penurunan pergerakan nafas bayi saat ibu berpuasa akibat penurunan gula darah ibu11

Menyikapi perbedaan hasil penelitian ini, sebaiknya para ibu bijaksana dalam memutuskan untuk berpuasa. Penting sekali untuk paham kondisi ibu dan janin sendiri juga melibatkan tenaga kesehatan sebelum memutuskan berpuasa.

Bila Ibu Hamil ingin Berpuasa

Keputusan untuk berpuasa sepenuhnya dari ibu itu sendiri. Bila ibu diperbolehkan dan merasa sanggup berpuasa ada beberapa hal yang harus diperhatikan :2,12–14

  • Pantau kondisi kesehatan ibu dan janin ke dokter atau bidan sebelum dan selama berpuasa
  • Sebaiknya hindari berpuasa saat trimester pertama kehamilan karena ada kemungkinan berat badan bayi lebih rendah meskipun penelitian lain menemukan perbedaan ini kurang signifikan
  • Sebaiknya hindari juga berpuasa di trimester tiga kehamilan karena saat ini ibu membutuhkan asupan kalori yang lebih banyak
  • Coba berpuasa selang-seling
  • Makan dan minum sesuai takaran yang dianjurkan untuk ibu hamil.
  • Jangan tinggalkan sahur. Sebaiknya makan sahur dekat dengan waktu imsak. Agar tidak cepat lapar, konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks saat sahur. Misalnya beras merah, gandum, oat, beras basamati, kacang-kacangan, dll

  • Berbuka dengan makanan karbohidrat sederhana seperti kurma, madu, sirup, gula, kentang, nasi putih, dll. Gula sederhana ini amat mudah diserap tubuh untuk mengembalikan energi
  • Segera berbuka dan temui dokter bila ada tanda-tanda berikut :
    • Sangat haus
    • Buang air kecil lebih sering sampai berbau kuat atau berwarna pekat (tanda dehidrasi)
    • Sakit kepala, pusing atau pingsan
    • Merasa letih dan lemah
    • Demam
    • Mual sampai muntah
    • Pergerakan bayi menurun
    • Terasa kontraksi (bisa jadi tanda-tanda persalinan prematur)

Mudah-mudahan bermanfaat ya bunda..

Waalaikumsalam wr wb

Agustina Kadaristiana, dr. 

Publikasi pertama 9 Juli 2014

Modifikasi terakhir : 7 Juni 2015

Referensi

  1. Cross JH, Eminson J, Wharton BA. Ramadan and birth weight at full term in Asian Moslem pregnant women in Birmingham. Arch Child. 1990 Oct;65(10 Spec No):1053–6.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1590265/
  2. Kavehmanesh Z, Abolghasemi H. Maternal Ramadan fasting and neonatal health. J Perinatol. 2004 Dec;24(12):748–50. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15343350
  3. Ozturk E, Balat O, Ugur MG, Yazicioglu C, Pence S, Erel O, et al. Effect of Ramadan fasting on maternal oxidative stress during the second trimester: a preliminary study. J Obstet Gynaecol Res. 2011 Jul;37(7):729–33. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21736666
  4. Dikensoy E, Balat O, Cebesoy B, Ozkur A, Cicek H, Can G. Effect of fasting during Ramadan on fetal development and maternal health. J Obstet Gynaecol Res. 2008 Aug;34(4):494–8. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18937702
  5. Azizi F, Sadeghipour H, Siahkolah B, Rezaei-Ghaleh N. Intellectual development of children born of mothers who fasted in Ramadan during pregnancy. Int J Vitam Nutr Res Int Z Für Vitam- Ernährungsforschung J Int Vitaminol Nutr. 2004 Sep;74(5):374–80. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15628676
  6. Awwad J, Usta IM, Succar J, Musallam KM, Ghazeeri G, Nassar AH. The effect of maternal fasting during Ramadan on preterm delivery: a prospective cohort study. BJOG Int J Obstet Gynaecol. 2012 Oct;119(11):1379–86.
  7. Alwasel SH, Harrath A, Aljarallah JS, Abotalib Z, Osmond C, Al Omar SY, et al. Intergenerational effects of in utero exposure to Ramadan in Tunisia. Am J Hum Biol. 2013 May;25(3):341–3.
  8. Malhotra A, Scott PH, Scott J, Gee H, Wharton BA. Metabolic changes in Asian Muslim pregnant mothers observing the Ramadan fast in Britain. Br J Nutr. 1989 May;61(3):663–72.
  9. Khoshdel A, Kheiri S, Hashemi-Dehkordi E, Nasiri J, Shabanian-Borujeni S, Saedi E. The effect of Ramadan fasting on LH, FSH, oestrogen, progesterone and leptin in pregnant women. J Obstet Gynaecol. 2014 Jun 10;1–5.
  10. Van Ewijk RJ, Painter RC, Roseboom TJ. Associations of prenatal exposure to Ramadan with small stature and thinness in adulthood: results from a large Indonesian population-based study. Am J Epidemiol. 2013 Apr 15;177(8):729–36.
  11. Mirghani HM, Weerasinghe SD, Smith JR, Ezimokhai M. The effect of intermittent maternal fasting on human fetal breathing movements. J Obstet Gynaecol. 2004 Sep;24(6):635–7.
  12. Bajaj S, Khan A. Women’s Health in Ramadan. Medical Update 2013 [Internet]. The Association of Physicians of India; 2013. p. 332–4. Available from: http://www.apiindia.org/medicine_update_2013/chap175.pdf
  13. Ziaee V, Kihanidoost Z, Younesian M, Akhavirad MB, Bateni F, Kazemianfar Z, et al. The effect of ramadan fasting on outcome of pregnancy. Iran J Pediatr. 2010 Jun;20(2):181–6.
  14. Bajaj S, Khan A, Fathima FN, Jaleel MA, Sheikh A, Azad K, et al. South Asian consensus statement on women’s health and Ramadan. Indian J Endocrinol Metab. 2012 Jul;16(4):508–11.

Peran Ayah ASI dalam Keberhasilan Menyusui

Ayah asi adalah paduan pola pikir dan tindakan seorang ayah yang mendukung proses menyusui dari istri (ibu) ke anaknya. Bukan label, julukan, apalagi pangkat yang bisa dicapai dengan target tertentu, karena penerapannya bisa sangat relatif, bahkan sulit dirumuskan.

“Siklus kehidupan di mulai dari bersatunya energi feminin dan maskulin, dalam bentuk hubungan seks. Proses itu berlanjut pada kehamilan, lalu persalinan, menyusui, dan menjadi orangtua. Satu bagian dari proses tersebut tidak bisa terputus, karena menentukan kualitas mata rantai berikutnya.” (Reza Gunawan, Pakar Holistik)

Penjelasan di atas menjadi modal pertama untuk menetapkan pola pikir ayah yang sudah berkomitmen menjalani kehidupan berkeluarga. Artinya, seorang ayah harus siap menghadapi setiap prosesnya dengan sadar. Ketika istri memasuki masa kehamilan, seorang ayah pun relatif paham untuk menjadi suami siaga. Ayah sebaiknya mengisi kepala dengan pengetahuan, dan rasa ingin tahu saat berhadapan dengan dokter kandungan, demi kelancaran dan kesempurnaan bayi yang berada di dalam kandungan istri.

Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Masa persalinan, kebanyakan dari ayah sudah tangkas menghadapi situasi menegangkan ini. Begadang mendampingi istri di salah satu momen terpenting ini seperti perkara mudah, karena ayah tampak sudah terlatih untuk bertoleransi dengan kemampuan fisik, melalui pekerjaan, hingga pertandingan futsal.

Berikutnya, menyusui pun, sebetulnya tak sulit buat seorang ayah terlibat penuh dalam prosesnya. Bahkan, seorang laki-laki tidak perlu dilatih untuk menjadi ayah yang pro ASI. Ia hanya perlu sadar, bahwa ini adalah konsekuensi logis yang terbaik untuk istri dan anaknya, seperti saat menjalani tahapan-tahapan sebelumnya. Saat hal ini terjadi, seorang ayah akan mendorong seluruh kualitas kelaki-lakiannya untuk beradaptasi, menaklukkan situasi, dan (otomatis) memberikan kontribusi.

Pada tahap berkontribusi, ia akan dengan sadar memberi dukungan kepada istri, mendengarkan keluhannya dan menghiburnya, menjadi partner yang bersedia mengurangi beban berat seorang ibu yang menyusui, dengan berpartisipasi pada kegiatan yang bisa dilakukannya. Entah menggendong si anak, menyendawakan setelah menyusui, memandikan anak, membuat makanan pendamping ASI, dan lainnya.

fahter-of-breastfed-baby-Aug2009-iStock

Mengapa Menjadi Ayah Asi itu Penting?

Keterlibatan suami, adanya pasangan di samping istri, yang membantunya mengatasi kelelahan fisik, cenderung membuat istri senang. Apalagi jika suami jadi lebih sering melakukan hal-hal yang membuat istri senang dengan cara meningkatkan kualitas hubungan mereka; karena koneksi setiap pasangan itu khas. Rasa senang istri, akan berdampak sangat positif pada kelancaran proses menyusui. Dan pada titik ini, kesiapan sepasang suami-istri diuji untuk menjadi orang tua. Penelitian juga membuktikan bahwa mengajarkan ayah untuk mencegah dan menangani kesulitan laktasi berhubungan erat dengan kesuksesan ASI esklusif 6 bulan pertama.

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

Ketika seorang laki-laki melewati setiap bagian di atas, ia sudah bertindak. Mungkin ada yang menyadari sejak awal, tapi banyak juga menjalaninya saja tanpa memikirkan caranya. Ada yang menjalaninya dengan baik dari pertama, tak sedikit pula yang mengejar ketinggalan di tengah prosesnya. Bagaimanapun itu jika seorang ayah meyakini di alam pikirannya bahwa menyusui adalah proses yang tidak bisa dilewatkan dan ASI adalah yang terbaik untuk keluarganya, dia sepatutnya memberikan kontribusi nyata dengan caranya.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi Ayah ASI:

poedfh2k4c

  1. Jadilah ‘cheerleader’ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk produksi ASI akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil ataupun sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri.
  2. Jadilah juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi ‘benteng’ pertahanan bunda dari ‘serangan’ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasannya agar istri diberikan waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang menyusui.
  3. Jadilah manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur persediaan ASI perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer. Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah adalah manajer logistik ASIP.
  4. Tunjukkan Anda adalah orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau pencari nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari mengurusi anak hingga belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih 15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah.
  5. Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika Ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu.
  6. Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi. Dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM berjalan.
  7. Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari dan beri pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll. Tempelkan kertas-kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung mereka juga bisa membacanya. Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat agar mereka bisa ikut membacanya.
  8. Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami kesulitan istri, ajak istirahat sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah hati. Bisikan kata-kata lembut sambil tersenyum.
  9. Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.
  10. Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya. Sharing membuat  Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal dengan dimensi dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan Anda mengambil langkah yang tepat.

Depok, 2 Mei 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 06/04/2015

Referensi:

  1. Lynn A. Rempel, John K. 2011. The Breastfeeding Team: The Role of Involved Fathers in the Breastfeeding Family. International Lactation Consultant Association
  2. Naomi Bromberg, et al. 1997. Fathers and Breastfeeding: A Review of the Literature. International Lactation Consultant Association
  3. Lulie, et al. 2008. Inclusion of Fathers in an Intervention to Promote Breastfeeding: Impact on Breastfeeding Rates. International Lactation Consultant Association
  4. Bruce Maycock, et al. 2013. Education and Support for Fathers Improves Breastfeeding Rates: A Randomized Controlled Trial. International Lactation Consultant Association.
  5. Tim Ayah ASI. 2012. Breastfeeding father. Diakses dari: www.ayahasi.org
  6. Tim AyahBunda. 2013. Tips Menyusui Ayah ASI. Diakses dari: www.ayahbunda.co.id
  7. Pisacane A, Continisio GI, Aldinucci M, D’Amora S, Continisio P. A Controlled Trial of the Father’s Role in Breastfeeding Promotion. Pediatrics. 2005 Oct 1;116(4):e494–8.

Mengenal Obesitas Pada Anak

Tahukah ayah bunda bahwa persepsi anak gemuk itu tidak selamanya benar? Saat ini anak-anak di Indonesia bukan hanya terancam masalah gizi kurang tetapi juga gizi berlebih. Bahkan data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa tahun 2013 satu dari lima anak Indonesia usia 5-12 tahun gemuk atau obes. Obesitas pada anak amat ditakuti karena dapat meningkatkan resiko gangguan mental (depresi, rendahnya kepercayaan diri), DM Tipe 2, stroke sampai penyakit jantung stroke yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Tapi tidak perlu khawatir. Obesitas ini bisa dicegah dengan peran orangtua yang bijaksana menjaga nutrisi sang buah hati..

Tren Nutrisi Anak di Indonesia

Tren Nutrisi Anak di Indonesia. Terdapat peningkatan 7x lipat angka Overweight/Obes pada dekade terakhir

Mengapa obesitas terjadi?
Pada umumnya, obesitas terjadi ketika porsi makan anak melebihi kebutuhan tubuhnya. Kelebihan kalori itu disimpan menjadi lemak di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuh anak pun jadi membesar. Jumlahnya melebihi anak dengan berat badan normal. Selera makan anak yang terlanjur gemuk menjadi sangat besar. Semakin cepat terpenuhi nafsu makannya, semakin cepat bertambah beratnya. Ketika selera makan terus membesar, anak cenderung menjadi lapar mata, yakni terdorong mencicipi dan makan apa saja yang dilihat atau ditawarkan padanya, meskipun tidak lapar.

Bagaimana cara mengetahui anak saya obesitas?
Cara paling mudah mengetahui kelebihan gizi pada anak ialah menilai status gizi anak dari kurva WHO. Bagi orangtua yang memiliki balita, tentu familiar dengan KMS (Kartu Menuju Sehat). Nah, KMS ini dibuat berdasarkan kurva WHO. Sehingga ayah bunda bisa mendeteksi lebih dini kecenderungan obesitas melalui penimbangan berat dan pengukuran tinggi anak tiap bulan. Orangtua perlu waspada bila pada kurva tersebut didapatkan hasil :
– Berat badan/tinggi badan >2 SD artinya gemuk
– Berat badan/tinggi badan >3 SD artinya obesitas

Bila terdapat kecurigaan dari nutrisi yang berlebih, tenaga kesehatan mungkin akan mengukur Indeks Masa Tubuh anak secara berkala.

hasil

Selain itu, obesitas ditandai kelebihan lemak dalam darah. Kelebihan lemak dapat menjadi risiko perlemakan hati. Obesitas juga ditandai kadar kolesterol dan trigliserida di atas normal. Jika sejak kecil hingga dewasa keadaan itu terus berlanjut, dapat membahayakan kesehatannya. Hal itu setidaknya menjelaskan, misalnya, mengapa kini banyak orang terkena serangan jantung atau stroke pada usia kurang dari 40 tahun.

Bagaimana mencegah obesitas?
Agar anak tidak obesitas, para orang tua sebaiknya menjaga agar berat tubuh anaknya tetap normal. Dengan begitu, risiko penyakit yang muncul akibat obesitas dapat dihindari. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas:

  • Beri buah hati anda ASI. Berbagai penelitian, termasuk dari data CDC, membuktikan bahwa ASI ekslusif yang dilanjutkan dengan ASI selama mungkin dapat melindungi dari obesitas. Meskipun mekanismenya belum diketahui dan efeknya mungkin kecil, namun para ahli sepakat bahwa ASI bermanfaat untuk mengurangi resiko obesitas.
  • Hindari memberi makanan padat bagi bayi berusia kurang dari enam bulan. Ketika memasuki masa pemberian MP ASI, lakukanlah tahap-tahap pemberian makanan secara tepat dan sesuai perkembangannya.
  • Berikan anak nutrisi sesuai kebutuhan.
  • Latih anak untuk makan sesuai jadwal makanannya. Dengan begitu, tubuhnya terbiasa makan ketika sedang merasa lapar saat jam makannya tiba. Ikuti langkah pemberian makan anak yang benar di sini.
  • Hindari menyuapi anak sambil menonton TV atau bermain gadget. Penelitian membuktikan bahwa hanya dengan mengurangi waktu paparan anak terhadap media saja sudah bisa menurunkan Indeks Masa Tubuh anak secara signifikan. Batasi penggunaan media elektronik hanya 2 jam per hari pada anak usia di atas 2 tahun.
  • Jangan biasakan anak memakan makanan junk food dalam beragam bentuk, seperti pizza, burger, hotdog, dan lain-lain. Biasakanlah anak memakan makanan yang diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang segar dan bergizi seimbang.
https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

  • Pada anak di atas 1 tahun yang telah terlanjur gemuk, pilihlah susu non fat (susu yang lemak susunya telah dibuang) sebagai susu rekreasi. Latih anak meminum dari gelas mulai usia 7 bulan. Minum susu dari botol sebelum tidur bisa menjadi kebiasaan yang membawa pada resiko obesitas.
  • Biasakan agar anak banyak bergerak melakukan olahraga dan bermain. Aktivitas yang disarankan ialah kegiatan aerobik seperti berlari, jalan cepat, berenang paling tidak 1 jam/hari. Semua aktivitas itu diarahkan untuk membuat tubuhnya bugar, membangun tulang dan ototnya, serta membakar kelebihan kalori. Anak yang kurang bergerak, berolahraga, dan latihan jasmani, berisiko menjadi gemuk dan tidak bugar.
Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Depok, 4 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 05/31/2015

Referensi :

  1. Sara McLanahan, et al. 2006. Childhood Obesity. A publication of the Woodrow Wilson School of public and international affairs at Princeton University and the Brooking Institution.
  2. Aaron S Kelly, et al. 2013. Severe Obesity in Children and Adolescents: Identification, associated health risk, and treatment Approach. American Heart Association
  3. Agata Dabrowska. 2014. Childhood Overweight and Obesity: Data Brief. Congressional Research Service
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 166
  5. Nutrition C on. Prevention of Pediatric Overweight and Obesity. Pediatrics. 2003 Aug 1;112(2):424–30.
  6. Obesitas pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 May 31]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak.html
  7. Indonesia Health Sector Review. Indonesia : Facing up to the Double Burden of Malnutrition [Internet]. The World Bank, Millenium Challenge Corporation; 2012 Dec. Available from: http://www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2013/01/18/000350881_20130118154713/Rendered/PDF/NonAsciiFileName0.pdf
  8. Indonesia Nutrition Profile [Internet]. USAID; 2014 Apr. Available from: http://www.fantaproject.org/sites/default/files/download/Indonesia-Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
  9. Physical Activity for Everyone: Guidelines: Children | DNPAO | CDC [Internet]. [cited 2015 May 31]. Available from: http://www.cdc.gov/physicalactivity/everyone/guidelines/children.html
  10. Richard J Schanler,MD. Infant Benefits of Breastfeeding. Uptodate [Internet]. 2015 Mar 13; Available from: http://www.uptodate.com/contents/infant-benefits-of-breastfeeding?source=search_result&search=infant+benefits+of+breastfeeding&selectedTitle=1~150

Kiat Aman Mengajarkan Puasa Pada Anak

Marhaban ya Ramadhan 🙂 Hanya dalam hitungan hari umat Islam seluruh dunia akan merayakan bulan puasa. Tak terkecuali anak-anak yang ikut meramaikan dengan pesantren, pergi tarawih sampai ikut berpuasa. Meskipun anak yang belum puber tidak wajib berpuasa, seringkali orangtua ingin melatih anak berpuasa dari sejak dini. Lalu apa saja yang perlu ayah bunda perhatikan sebelum mengajak si kecil ibadah shaum?

Kenali Dampak Kesehatan Puasa Pada Anak

Anak bukanlah ‘dewasa kecil’. Saat anak-anak terjadi proses pertumbuhan yang aktif-aktifnya. Sehingga perbedaan antara anak-anak dan dewasa bukan hanya terletak pada ukuran tetapi juga pada proses metabolisme. Termasuk salah satunya perbedaan respon tubuh anak saat berpuasa. Beberapa hikmah mengapa anak tidak diwajibkan berpuasa misalnya:

  1. Semakin muda usia anak, semakin mudah terkena hipoglikemia (kurang gula darah). Fakta ini didapatkan dari penelitian yang melibatkan 167 anak sehat untuk melakukan puasa makan namun boleh minum. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi 3 berdasarkan umur (0-2 tahun; 2-7 tahun; >7tahun). Lalu, anak-anak tersebut dites hasil darahnya pada jam-jam tertentu. Hasilnya, semakin muda usia anak, semakin cepat tubuhnya mengalami hipoglikemia (kurang gula darah) saat puasa. 1
  2. Proses pemecahan simpanan gula dalam tubuh lebih cepat dialami anak yang lebih kecil. Hal ini diduga sebagai respon dari lebih cepatnya gula darah menurun pada anak kecil yang berpuasa. 1
  3. Penurunan kadar Hemoglobin dan zat besi yang signifikan pada anak praremaja (usia 9-12 tahun) di minggu terakhir Ramadan. 2
  4. Penurunan jumlah jam tidur. Semakin dini usia anak, semakin besar pula kebutuhan tidurnya. Bangun sahur dan solat tarawih dapat memperpendek jam tidur anak. Meskipun kualitas tidur bisa tidak terganggu bila anak tidur di siang hari atau anak membalas tidur setelah bulan Ramadan selesai. 2
  5. Perubahan kognitif. Hasil riset menyebutkan bahwa anak pra remaja (9-12 tahun) mengalami penurunan fokus pada minggu ke-4 Ramadan. Hal ini mungkin mempengaruhi performanya di sekolah. 2
32-muslims-photo-ramadan-2011

Shaum anak (http://www.ummahweb.net/?p=4048)

Lalu bolehkah saya mengajak berpuasa?
Tentu banyak pertimbangan penting dari orang tua ketika ingin mengajarkan anaknya berpuasa. Sehingga keputusan mengajak anak berpuasa sepenuhnya ada di tangan orangtua. Namun, penting sekali untuk memahami kondisi anak baik mental maupun fisik. Agar anak dapat mencerna pendidikan puasa ini sesuai kemampuannya.

Kapan waktu yang aman mengajarkan anak berpuasa?
Bila sudah puber, anak sudah diwajibkan puasa dan sudah dinilai aman untuk berpuasa penuh layaknya orang dewasa. Sebelum puber, usia bisa dimulai berpuasa tergantung pada kondisi masing-masing anak. Namun, menurut panduan puasa sehat dari National Health Services United Kingdom, anak di bawah usia 6-7 tahun tidak dianjurkan berpuasa penuh. Alternatifnya, mereka dapat diajarkan untuk ‘mencicipi’ puasa beberapa jam atau separuh hari. 3

Tips Aman Mengajak Anak Berpuasa4–6

  • Utamakan makna. Mulailah bercerita mengenai makna puasa pada anak sejak dini agar anak dapat lebih ringan menjalani puasa saat ia sudah siap. Salah satu ide yang mungkin mudah ditangkap anak ialah mengajarkan arti puasa sebagai ibadah sosial. Saat puasa kita dapat memahami rasa lapar yang sehari-hari dirasakan kaum dhuafa. Baik sekali bila orangtua mengajak anak melihat langsung ke panti asuhan atau lingkungan dhuafa sambil bersedekah atau berbuka bersama.

sedekah2

  • Jadikan puasa momen menggembirakan. Bila anak fokus pada aktivitas menahan lapar dan haus, tentu akan terasa berat. Katakan pada anak bahwa puasa ialah bulan yang penuh bonus dan pahala. Ajak anak untuk menyambut Ramadan dengan hal-hal menggembirakan seperti dekor rumah, mengajak belanja makanan untuk berbuka, ngabuburit ke masjid, dll. Buat suasana agar anak dengan sendirinya tertarik untuk ikut ibadah di bulan Ramadan.
0206dafc1fbe0268c37ef7b6a91ff103

https://www.pinterest.com/explore/ramadan-decorations/

  • Ajarkan puasa secara bertahap. Balita tidak disarankan untuk berpuasa penuh sekaligus. Sehingga anda bisa memulai dari mengajak sahur atau berbuka saja sampai puasa beberapa jam. Terus pantau kondisi anak selama berpuasa dan konsultasikan ke dokter bila anak anda memiliki penyakit penyerta.
  • Peduli pada emosi. Ibadah puasa bukan serta merta menahan lapar dan haus. Ajari anak bersikap sabar dan jujur.
  • Alihkan saat lapar. Saat di siang hari, Anda bisa mengajaknya bermain atau tidur agar anak bisa lupa sejenak dengan laparnya.
  • Kenali tanda ia perlu berbuka. Anak prapubertas cukup rentan terhadap hipoglikemia atau kurang gula. Tanda ia dehidrasi atau kurang gula ialah lemas, rewel, kurang responsif, menggigil, tidak keluar air mata saat menangis sampai pingsan. Bila ada tanda-tanda demikian sebaiknya lekas berbuka.
  • Sediakan makanan bergizi dengan porsi sesuai. Kebutuhan nutrisi anak saat berpuasa tidaklah berubah dengan nutrisi sehari-hari. Hati-hati dengan asupan berlebih akibat ‘balas dendam’ saat berbuka. Hal ini benar terjadi dan sudah dibuktikan dari penelitian bahwa pada bulan Ramadan asupan kalori anak malah meningkat.2
  • Pahami kebutuhan tidur. Saat ramadan waktu tidur anak mungkin berkurang karena sahur atau tarawih. Ajak anak tidur siang untuk mengkompensasi tidur malam.
  • Beri penghargaan, hindari tekanan. Pahami bahwa beribadah ialah proses belajar. Hindari memaksa atau menekan anak bila belum bisa bangun sahur atau ikut puasa. Beri ia penghargaan dan apresiasi atas peningkatan usahanya agar anak senang dan bisa beribadah dengan sukarela.

Bagaimana dengan ayah bunda? Bagikan pengalaman Anda mengajak anak berpuasa pada kolom komentar di bawah ini ya 🙂 Semoga bermanfaat…

Agustina Kadaristiana, dr, Kiki Barkiah

Modifikasi terakhir : 05/27/2015

Referensi

1. Veen MR van, Hasselt PM van, Velden MGM de S der, Verhoeven N, Hofstede FC, Koning TJ de, et al. Metabolic Profiles in Children During Fasting. Pediatrics. 2011 Apr 1;127(4):e1021–7.
2. Farooq A, Herrera CP, Almudahka F, Mansour R. A Prospective Study of the Physiological and Neurobehavioral Effects of Ramadan Fasting in Preteen and Teenage Boys. J Acad Nutr Diet [Internet]. [cited 2015 May 25];0(0). Available from: http://www.andjrnl.org/article/S221226721500163X/abstract
3. Dr Razeen Mahroof, BM, MRCP(UK), FRCA, Dr Rizwan Syed, BM, DRCLG, Dr Ahmed El-Sharkawy, BM, MRCP(UK), Tehseen Hasan, BSc(Hons), Sahra Ahmed, MPharm, Dr Fuad Hussain. Ramadhan Health Guide [Internet]. Communities in Action; 2007. Available from: http://www2.warwick.ac.uk/services/equalops/resources/a_guide_to_healthy_fasting.pdf
4. 99 Tips to Help Kids Fast during Ramadan [Internet]. American Muslim Mom. [cited 2015 May 27]. Available from: http://americanmuslimmom.com/99-tips-kids-fast-ramadan
5. [Ramadan Series] 10 Tips to Help Moms Make Ramadan Fun for Kids [Internet]. ProductiveMuslim.com. [cited 2015 May 27]. Available from: http://productivemuslim.com/10-tips-to-help-moms-make-ramadan-fun-for-kids/
6. TanyaDok.com | Kapan Puasa Untuk Anak Dimulai, Dok? | Page 3 of 3 [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2015 May 27]. Available from: http://www.tanyadok.com/anak/kapan-puasa-untuk-anak-dimulai/3/

5 Resep MPASI Praktis untuk Bayi 6 Bulan

Halo ibu-ibu, ketika anak memasuki usia enam bulan, inilah saat krusial pemberian makan perdana. Sebagai orang tua, kita akan penasaran seperti apakah pola makan anak kita, yang susah atau yang gampang ya, suka sayur atau tidak ya, pemilih atau tidak, dan lain sebagainya. Segala persiapan pastinya telah dipersiapkan, tak lupa ketinggalan tentang resep MPASI perdana si buah hati. Berikut ini akan kami bagikan resep MPASI 6 bulan yang praktis tetapi tetap bergizi tentunya. Yuk dicoba !

  1. Nasi Lumat

    rice poridge 2

    sumber : www.flavorexplosion.com
    Bahan :
    1 mangkok (sekitar 200 cc atau 1 gelas) nasi yang sudah matang

    Cara membuat :
    1. Masukkan 1 mangkok nasi ke dalam panci
    2. Campurkan dengan 2 gelas air putih matang
    3. Aduk rata perlahan hingga air habis dan mengering
    4. Saring nasi lumat dgn menggunakan saringan besi dan sendok stainless steel hingga nasi tersaring semua.

    Fakta !
    sendok

    Tekstur nasi yang disebut nasi lumat adalah nasi yang ketika sendok dijatuhkan tidak langsung mengalir.
    Nasi lumat dapat juga ditambahkan bahan makanan lain yang dilumatkan seperti hati ayam kukus lumat, sayuran kukus yang dilumatkan, minyak, dll.

  2. Pure Ubi Jalar Kuning


    pure ubi

    sumber : rasamalaysia.com
    untuk : 2 porsi

    Bahan :
    – 50 gr ubi kuning, kupas, cuci, potong dadu kecil kecil
    – 150 ml ASI/MPASI

    Cara membuat :
    1. Kukus ubi kuning di dalam dandang panas hingga lunak. Angkat
    2. Haluskan ubi bersama 100 ml air bekas mengukusnya
    3. Tambahkan ASI/PASI. Aduk hingga tercampur rata. Tuang ke mangkuk
    4. Sajikan hangat

    Fakta menarik!
    Ubi jalar kuning mengandung karbohidrat, beta karoten, vitamin D, vitamin B, dan vitamin E

  3. Bubur Beras


    bubur beras

    sumber : weelicious.com
    untuk : 2 porsi

    Bahan :
    – 1 sendok makan (10 gr) tepung beras putih/beras merah
    – 150 ml air
    – 100 ml ASI/PASI

    Cara membuat :
    1. Larutkan tepung beras dengan air secukupnya. Rebus sisa air di dalam panci hingga mendidih
    2. Masukkan larutan tepung beras ke dalam air mendidih. Masak dengan api kecil, sambil diaduk agar tidak menggumpal.
    3. Angkat jika sudah mendidih kembali dan mengental. Biarkan hingga hangat
    4. Tuang ASI/PASI, aduk hingga rata
    5. Sajikan hangat

    Fakta menarik!
    Anda dapat membuat tepung sendiri loh dari beras. Prosesnya mudah dan cepat seperti ini :
    – Cuci beras hingga bersih, tiriskan
    – Jemur hingga kering
    – Masukkan ke dalam blender kering/food processor. Haluskan
    – Ayak atau saring tepung yang sudah halus
    – Sangrai tepung diatas api kecil sambil diaduk-aduk hingga kering, tapi tidak berubah warna
    – Simpan di wadah kedap udara

  4. Pure Pisang

    banana-puree1

    sumber : www.babybullet.org
    untuk 1 porsi

    Bahan :
    – 25 gr pisang ambon, kupas, potong-potong
    – 100 ml ASI/MPASI

    Cara membuat :
    1. Haluskan pisang bersama ASI/PASI menggunakan garpu, atau kawat penyaring khusus untuk makanan bayi
    2. Tuang ke dalam mangkuk kecil
    3. Sajikan segera

    Fakta !
    Pisang kaya karbohidrat dalam bentuk pati dan gula. Selain itu, pisang mengandung cukup banyak vitamin A, serta sedikit vitamin B1 dan C. Kandungan mineral paling menonjol pada buah pisang adalah kalium atau potassium.
    Jenis pisang yang dapat dimakan langsung setelah langsung adalah ambon, ambon lumut, raja, kepok, barangan, dan cavendish.

  5. Pure Alpukat

    pure alpukat

    sumber : www.galleryhip.com
    untuk 1 porsi

    Bahan :
    – 50 gr buah alpukat, keruk daging buahnya
    – 100 ml air matang
    – 100 ml ASI/PASI

    Cara membuat :
    1. Haluskan avokad bersama air matang dengan blender. Tuang ke dalam mangkuk
    2. Tambahkan ASI/PASI. Aduk hingga tercampur rata
    3. Sajikan segera

    Fakta !
    Alpukat mengandung banyak lemak yang umumnya dalam bentuk lemak tidak jenuh sehingga dapat memberikan manfaat untuk anak. Selain itu juga mengandung vitamin B, C, dan E. Buah ini juga membantu dalam mencegah anemia karena mengandung zat besi dan kalium.

    Sekian resep mpasi 6 bulan yang praktis dan tetap bergizi . Segala serba serbi MPASI sebelumnya bisa dibaca di sini . Selamat mencoba ya !

Rara Pramudita, dr

Sumber :
1. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi. Sehat lezat olah saji dr. Tiwi. Kompas Gramedia, 2013
2. Slide makanan pendamping ASI
3. WHO. Complementary feeding : family food for breastfed children.

Manajemen ASI Perah

Adakalanya seorang ibu tidak punya waktu untuk menyusui langsung dari payudara, misalnya karena bekerja atau berkarir di luar rumah. Hal itu bukan alasan untuk menghentikan sama sekali pemberian ASI. Untuk memenuhi kebutuhan ASI bayi selama Anda tidak di rumah, dapat disiasati dengan memberikan ASI perahan dari payudara Anda. Berikut adalah beberapa manajemen ASI perahan.

http://www.breastfeedinginsheffield.co.uk/wp-content/uploads/hand-expressing.jpg

http://www.breastfeedinginsheffield.co.uk/wp-content/uploads/hand-expressing.jpg

Memerah ASI Dengan Tangan

  1. Cuci tangan Anda sampai bersih.
  2. Ambil posisi duduk yang nyaman.
  3. Pijat lembut payudara dengan gerakan melingkar. Dari pangkal payudara ke arah puting. Tapi jangan sampai terkena puting.
  4. Pegang botol yang sudah disterilkan dengan satu tangan Anda. Letakkan di bawah puting untuk menampung ASI yang keluar. Sementara tangan lainnya memposisikan ibu jari dan telunjuk Anda di luar lingkaran areola. Lalu tekan payudara Anda ke arah dalam dinding dada.
  5. Tanpa mengubah atau menggeser posisi ibu jari dan telunjuk, tekan pula payudara ke arah atas dan bawah hingga ASI keluar dan tertampung dalam botol.
  6. Cara lain memerah ASI dengan tangan adalah dengan mengubah posisi ibu jari dan telunjuk. Dengan kata lain, pemijatan perlu dilakukan di setiap sudut, hingga ASI pada payudara Anda terasa kosong. Biasanya, pemerahan ASI pada payudara berlangsung sekitar 5-10 menit.
  7. Lakukan pemijatan payudara lain sampai Anda merasa ASI telah habis. Pemerahan ASI dianggap mencukupi jika berlangsung sekitar 20 menit.
  8. Tutup botol tempat menampung ASI tadi dengan rapat, lalu masukkan ke kulkas. Jika di kantor tidak ada kulkas, Anda dapat menyediakan paket tas dan peralatan pendingin ASI (cool box) yang dapat diisi es batu.
http://babygooroo.com/2011/09/which-breast-pump-is-best-for-you-2/

http://babygooroo.com/2011/09/which-breast-pump-is-best-for-you-2/

Memerah ASI dengan Pompa (breast pump)

  1. Letakkan bagian kop breast pump Anda tepat di bagian tengah payudara hingga menutupi daerah sekitar puting.
  2. Lakukan pemompaan secara perlahan hingga ASI keluar dan sampai alirannya melemah. Saat memompa, tangan yang lain dapat difungsikan untuk memijat payudara yang sedang diperah.
  3. Lakukan hal serupa pada payudara yang lain.
http://spotofteadesigns.com/2014/06/review-giveaway-lansinoh-breastfeeding-products/

http://spotofteadesigns.com/2014/06/review-giveaway-lansinoh-breastfeeding-products/

Cara Menyimpan ASI Perah

  1. Usai memerah ASI, beri keterangan tanggal dan jam pemerahan pada setiap wadah penampungan ASI.
  2. Simpan ASI perah di dalam kulkas pada suhu sekitar 4 derajat celcius. Harap jangan letakkan ASI di luar kulkas atau coolbox lebih dari tiga jam. Sebab dapat merusak kandungan ASI.
  3. Setelah tiba di rumah, simpan kembali ASI perah tadi ke dalam kulkas. Mintalah kepada pengasuh bayi Anda untuk memberikan ASI itu pada bayi keesokan harinya.
  4. ASI perahan yang disimpan dalam freezer pada suhu minus 18 derajat celcius masih dapat bertahan dan digunakan hingga tiga bulan ke depan.
http://www.uofmmedicalcenter.org/healthlibrary/Article/82245

http://www.uofmmedicalcenter.org/healthlibrary/Article/82245

Cara Penyajian ASI Perah

  1. Ambil botol berisi ASI perah dalam kulkas. Pilihlah yang tanggal dan jam pemerahannya lebih dulu dilakukan.
  2. Hangatkan dengan cara meletakkan botol berisi ASI perah itu ke dalam wadah berisi air hangat. Diamkan selama beberapa menit.
  3. Jika bayi telah berusi 6 bulan, cadangan ASI perah dalam kulkas dapat dijadikan bahan mengolah MPASI. Misalnya, sebagai pencampur bubur susu atau biscuit.

Depok, 2 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 42

Pedoman Pemberian ASI

ASI merupakan jenis makanan awal terbaik bagi bayi. Bagi ibu yang memutuskan memberi ASI eksklusif, ada beberapa pedoman dalam pemberian ASI. Pedoman ini akan turut menentukan kelancaran produksi ASI.

  1. Bulatkan niat, tekad dan keyakinan untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayi Anda. Jauh hari sebelum melahirkan, Anda harus mempunyai keyakinan yang kuat bahwa Anda mampu dan akan memberi ASI eksklusif pada bayi Anda. Sebab, ASI merupakan makanan paling sempurna bagi tumbuh kembangnya.
  2. Segeralah berikan ASI begitu bayi Anda lahir. Hindari bayi mengenal susu botol terlebih dahulu daripada ASI. Sebelum persalinan, baik normal maupun sesar, katakana pada dokter ataupun bidan bahwa Anda akan memberikan ASI eksklusif pada bayi. Bisa juga Anda meminta fasilitas rawat gabung, dimana Anda dan bayi berada dalam ruang yang sama sehingga memudahkan pemberian ASI.
  3. Sambil menyusui, tataplah matanya, bicaralah padanya, dan sentuhlah dengan lembut anggota-anggota tubuhnya. Dengan begitu, berarti Anda sedang merangsang fungsi-fungsi panca indranya sedini mungkin. Hal ini akan membantu proses pertumbuhan dan pematangan fungsi organ-organnya. Anda pun sesungguhnya sedang membangun fondasi ikatan batin antara seorang ibu dan anak.
  4. Konsumsilah makanan dan minuman yang bergizi. Jauh-jauh hari sebelum kelahiran, pemenuhan gizi lengkap dan berimbang seharusnya telah menjadi gaya hidup Anda. Pada wanita yang tidak menyusui, kebutuhan kalorinya sekitar 1.800 kalori per hari. Sementara bagi wanita menyusui, butuh tambahan sekitar 500 kalori. Dengan begitu, kebutuhan kalori per hari menjadi sekitar 2.300 kalori. Apalagi jika anak dilahirkan kembar, tentu kebutuhan kalorinya pun bertambah.
  5. Perbanyak menghadirkan momen-momen kebahagiaan dan hindari stres. Suasana hati yang bahagia menjalani hari-hari bersama bayi, membuat tubuh ibu merespon secara positif pula. Dengan begitu, berpengaruh pada produksi ASI. Sebaliknya, jika hati selalu diliputi stress, akan berdampak kurang baik bagi metabolism tubuh. Produksi ASI pun terganggu. Selain itu, setumpuk perasaan stress yang terbawa saat memberikan ASI akan membuat rangsangan Anda pada bayi tidak akan berjalan secara optimal. Padahal rangsangan itu penting untuk mematangkan fungsi-fungsi organ tubuhnya.
  6. Tidur dan istirahat yang cukup. Kondisi tubuh yang bugar karena cukup istirahat, turut menentukan produksi ASI Anda. Lebih baik Anda mengambil waktu tidur saat anak juga sedang tidur. Kemudian, segera bangun begitu bayi merengek minta disusui. Seiring berjalannya waktu dan pulihnya kondisi pasca persalinan, biasanya jam tidur bayi akan semakin teratur.
  7. Jika Anda terserang penyakit flu, teruskan pemberian ASI kepada bayi. Kerap kali muncul kekhawatiran ketika ibu-menyusui terserang flu, bayinya akan tertular. Seharusnya Anda tetap memberikan ASI dengan memakai masker. Perlu diingat, dalam ASI terdapat zat antibody yang mampu melindungi bayi dari infeksi saluran napas.
  8. Dukungan suami melalui breastfeeding father sangat membantu kelancaran ASI. Peran dan keterlibatan aktif suami memberikan dukungan moral dan emosional kepada Anda dan bayi dalam pemberian ASI, turut menentukan kadar emosi kebahagiaan Anda.
  9. Sebelum usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi cukup dengan diberi ASI eksklusif. Namun, begitu genap usia 6 bulan, ASI hanya cukup memenuhi 60-70% kebutuhan gizi bayi. Bayi perlu diperkenalkan dengan makanan tambahan di luar ASI, meski pemberian ASI tetap dilanjutkan. Kebutuhan gizi yang meningkat itu karena tubuh bayi kian besar. Aktivitas yang mampu dilakukannya pun mulai beragam, sehingga membutuhkan energy yang lebih besar pula.

Depok, 30 Maret 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 32