Tag Archives: P3K

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Saat anak demam orangtua tentu khawatir. Apalagi bila bayi yang mengalami demam. Orangtua perlu ingat bahwa demam bukanlah penyakit. Demam ialah respon alami tubuh untuk melawan infeksi, respon dari kelainan metabolik, dll. Sehingga, penyebab demam tidak selamanya berbahaya dan dapat sembuh sendiri tanpa pertolongan dokter. Namun, Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter apabila :

  1. Anak anda berumur <3 bulan dengan demam >38oC. Demam pada bayi muda bisa jadi tanda adanya penyakit yang serius
  2. Demam lebih dari 40oC pada anak usia berapapun
  3. Demam lebih dari 24 jam (2 hari) pada anak <2 tahun.
  4. Demam lebih dari 72 jam (3 hari) pada anak lebih dari 2 tahun
  5. Demam tidak turun meskipun sudah diberi obat penurun panas
  6. Perilaku anak anda berubah, tidak seperti biasanya dan terlihat sakit berat. Misalnya, anak sulit dibangunkan, sangat rewel, sulit minum,
  7. Mengalami tanda-tanda dehidrasi :kencing pada bayi <1 tahun menjadi jarang yakni kurang dari 4x/hari. Pada anak tidak kencing selama 8 jam.
  8. Anak anda baru saja mendapat imunisasi dengan demam >39oC atau lebih dari 48 jam.
  9. Demam disertai kejang
  10. Demam disertai gejala lain seperti leher kaku, nyeri kepala hebat, nyeri tenggorokan parah hingga sulit makan/minum, nyeri telinga hebat, ruam yang tidak bisa dijelaskan, diare atau muntah berulang.
  11. Anak memiliki masalah imun, misalnya penyakit Sickle cell, kanker, atau dalam terapi steroid
  12. Sedang dalam lingkungan yang amat panas misalnya bermain atau berjemur di siang hari, di daerah gurun (Arab Saudi), di dalam mobil yang terlalu dipanaskan. Dalam kondisi ini, anak dikhawatirkan mengalami heat stroke.
  13. Bila anda khawatir. Saat orangtua merasa tidak nyaman atau panik, Anda bisa berdiskusi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Namun, perlu diingat, apabila penyebab demam tidak serius, dokter mungkin tidak akan atau sedikit memberi obat. Demam juga tidak selalu butuh antibiotik.

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

Telah di telaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr. SpA.

10/24/2015

Referensi
1. Ismoedijanto. Demam pada Anak. Sari Pediatri. 2005 Agustus;2(2):103–8.
2. Team CH. Kids’ Fevers: When to Worry, When to Relax [Internet]. Health Essentials from Cleveland Clinic. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://health.clevelandclinic.org/2015/05/kids-fevers-when-to-worry-when-to-relax/
3. Baraff LJ, Schriger DL, Bass JW, Fleisher GR, Klein JO, McCracken GH, et al. Practice Guideline for the Management of Infants and Children 0 to 36 Months of Age With Fever Without Source. Pediatrics. 1993 Jul 1;92(1):1–12.
4. When to Call the Pediatrician: Fever [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/When-to-Call-the-Pediatrician.aspx
5. When to Call the Pediatrician [Internet]. WebMD. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.webmd.com/parenting/baby/features/call-pediatrician

Anak Anda Sering Pingsan? Mungkin ini sebabnya

Saya jadi ingat waktu zaman sekolah, dokter kecil standby dibelakang barisan untuk menolong teman-temannya yang sakit. Nah, tiap hari Senin hampir selalu ada kawan saya yang pingsan. Waktu itu orangtua saya bilang kalau tidak sarapan saya bisa pingsan. Tapi, apakah benar kurang makan saja bisa membuat pingsan? Bahaya tidak ya kalau anak pingsan?

Sekilas Tentang Pingsan

Pingsan atau syncope adalah kondisi kehilangan kesadaran disertai postur lemah mendadak yang bersifat spontan. Hal ini disebabkan adanya penurunan aliran darah ke otak secara tiba-tiba. Pingsan pada anak cukup sering, kejadiannya sekitar 15%, dan biasanya hilang pada akhir usia remaja. Mayoritas pingsan pada anak tidak berbahaya. Namun, ada beberapa kondisi pingsan yang perlu diwaspadai karena dapat mengancam nyawa.

Penyebab pingsan pada anak

Pingsan pada anak dibagi menjadi 3 penyebab utama yaitu pingsan vasovagal, gangguan kardiovaskular dan penyebab lain.

1. Vasovagal syncope

Adalah penyebab tersering pingsan pada anak (sekitar 50%) dan tidak berbahaya. Pingsan jenis ini terjadi karena hipersensitifitas dari reseptor adrenalin di jantung terhadap perubahan postur dan volume darah. Akibat hipersensitifitas ini, respon parasimpatis meningkat seperti pembuluh darah melebar dan nadi melambat. Ciri khas pingsan vasovagal ialah anak merasakan tanda-tanda awal (prodromal) berupa :

  • Keliyengan (kepala terasa melayang)
  • Pandangan kabur atau ganda
  • Mual
  • Pucat
  • Keringat dingin

F1.large

Biasanya pingsan dicetuskan karena anak berdiri lama, stres (baik fisik maupun emosi seperti panik, takut), atau aktivitas yang mencetuskan refleks seperti batuk, merawat rambut atau pipis.

2. Pingsan karena Gangguan Jantung

Ini adalah pingsan yang perlu diwaspadai karena mengancam nyawa. Pingsan ini terjadi karena penurunan volume darah yang di pompa jantung akibat aritmia (irama jantung yang tidak teratur) atau kelainan organ jantung. Untungnya, pingsan kardiovaskular tergolong jarang pada anak. Namun, orangtua patut curiga anak memiliki masalah jantung apabila :

  • Anak jarang atau tidak mengalami tanda-tanda awal sebelum pingsan(prodromal)
  • Pingsan berlangsung lama (lebih dari 5 menit)
  • Dicetuskan oleh olahraga
  • Disertai nyeri dada atau jantung berdebar-debar
  • Ada riwayat keluarga yang sakit jantung

3. Penyebab lain

  • Breath holding spell : Biasanya terjadi pada anak usia 6-24 bulan. Anak yang mengalami emosi berlebihan seperti nyeri, marah, atau takut bisa menahan nafas selama 1 menit. Namun, mereka melakukan ini secara tidak sadar (refleks). Saat menahan nafas, wajah anak bisa membiru atau pucat dan disertai pingsan. Meskipun membuat panik, breath holding spell ini tergolong jinak. Biasanya berhenti saat anak usia 5 tahun.
  • Hipoglikemia (gula darah rendah): dulu banyak orangtua yang mengira karena anak kurang makan dan gula darah rendah, anak bisa pingsan. Padahal, di luar kasus diabetes tipe 1, hipoglikemi jarang menyebabkan pingsan pada anak. Gejala hipoglikemi biasanya berupa lemas, keringat dingin, gelisah, bingung, sampai penurunan kesadaran (bersifat menetap sampai gula darah naik kembali).

Kapan Perlu Ke Dokter?

Pingsan pada anak biasanya tidak berbahaya. Namun bila anda curiga atau sudah mengetahui ada riwayat gangguan jantung pada anak atau keluarga, silakan hubungi dokter anak Anda.

Biasanya, dokter anak akan melakukan wawancara klinis dan pemeriksaan fisik untuk menganalisa berbagai kemungkinan. Pemeriksaan tambahan seperti EKG, Echocardiogram, dsb mungkin diperlukan bila dokter mendapati kecurigaan adanya penyebab yang berbahaya.

Salah satu kondisi yang mirip dengan pingsan ialah kejang. Kejang pada anak biasanya didahului penurunan kesadaran dan kelemahan otot. Sehingga, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan (seperti rekam otak/EEG) untuk membedakan pingsan karena kejang atau sebab lain.

Apa yang Anda harus lakukan saat anak Anda pingsan?

  1. Sebisa mungkin tangkap anak sebelum ia jatuh ke lantai
  2. Perlahan-lahan baringkan ia dengan posisi terlentang
  3. Jaga jalan nafas. Jika ada makanan dalam mulutnya, miringkan kepala sambil mengambil makanan tersebut
  4. Tidak perlu membangunkan anak dengan alkohol, amonia/kapsul amonia , mengguyur dengan air dingin atau menampar pipi. Ia akan bangun dengan sendirinya dalam beberapa saat.
  5. Hubungi dokter bila perlu

Bagaimana mencegah dan mengobati pingsan?

Pada anak yang mengalami pingsan vasovagal, yang pencegahan dan terapi paling penting ialah:

  1. Perbanyak minum sekitar 30-50 ml/kg Berat badan/hari (misal BB anak 10 kg berarti dalam satu hari anak perlu minum 300-500 ml). Hal ini bertujuan agar menjaga volume darah tetap cukup terpompa ke otak
  2. Makan secara teratur dengan gizi yang seimbang. Kurang mineral bisa menjadi penyebab pingsan vasovagal
  3. Tambahkan snack asin dalam makanan (misal biskuit, acar, keripik, dsb)
  4. Hindari minuman/makanan yang berkafein seperti kopi, teh
  5. Sebisa mungkin hindari berdiri lama. Mungkin Anda bisa utarakan pada guru bahwa anak anda sering pingsan. Sehingga saat upacara atau olahraga, anak diberi keringanan untuk berdiri tidak terlalu lama atau olahraga tidak terlalu capek.
  6. Ajarkan anak tanda-tanda sebelum pingsan agar berhati-hati. Beritahu anak untuk mencegah penumpukan darah di vena saat berdiri lama seperti menekuk lutut saat berdiri lama, melipat tangan, menyilangkan kaki.
  7. Saat anak duduk lama, ajarkan ia untuk sesekali badan maju, menunduk, dan lutut didekap pada dada. Hal ini juga untuk menghindari penumpukan darah di vena.
  8. Saat anak dalam posisi tidur, bisa sanggah bantal di kaki untuk memperlancar aliran darah ke otak
  9. Hindari berlama-lama mandi dengan shower air hangat, berendam air panas atau di tengah matahari yang panas.

Untuk pingsan karena penyakit jantung atau penyebab lain, terapinya ialah sesuai penyebab utama. Silakan konsultasikan ke dokter anak Anda untuk penanganan lebih lanjut. Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

ditelaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr., Sp.A

10/19/2015

Referensi

1. Grassi G. Vasovagal syncope, sympathetic mechanisms and prognosis: the shape of things to come. Eur Heart J. 2010 May 1;ehq115.

2. Strickberger SA, Benson DW, Biaggioni I, Callans DJ, Cohen MI, Ellenbogen KA, et al. AHA/ACCF Scientific Statement on the Evaluation of Syncope From the American Heart Association Councils on Clinical Cardiology, Cardiovascular Nursing, Cardiovascular Disease in the Young, and Stroke, and the Quality of Care and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group; and the American College of Cardiology Foundation: In Collaboration With the Heart Rhythm Society: Endorsed by the American Autonomic Society. Circulation. 2006 Jan 17;113(2):316–27.

3. Breath Holding Spell [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/spells.html

4. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Causes of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2013 Dec 3;

5. Dizziness and Fainting Spells [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 19]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/head-neck-nervous-system/Pages/Dizziness-and-Fainting-Spells.aspx

6. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Emergent evaluation of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2014 Jan 15;

7. Karen J Marcdante, MD. Syncope. In: Nelson Essentials of Paediatrics. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; p. 486–7.

8. Côté J-M. Syncope in children and adolescents: Evaluation and treatment. Paediatr Child Health. 2001 Oct;6(8):549–51.

Pertolongan Pertama Mimisan Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mendapatkan sang buah hati mengalami mimisan. Saat ia sedang asik-asiknya bermain, ceria dan sehat, tiba-tiba hidungnya berdarah. Tentu mimisan cukup membuat panik darah yang cukup banyak dan spontan. Namun, masih banyak orangtua yang menangani mimisan dengan cara yang kurang tepat. Seperti menyumbatnya dengan kain, tisu bahkan daun sereh. Lalu, bagaimana pertolongan pertama mimisan yang benar pada anak?

How-to-Stop-Nose-Bleeds

Sekilas Tentang Mimisan

Mimisan atau epistaksis ialah pendarahan dari hidung. Di hidung terdapat banyak pembuluh darah halus, terutama di daerah cuping hidung. Pembuluh darah itu dapat pecah jika terdapat faktor-faktor pencetusnya. Saat itulah terjadi mimisan. Anak-anak rentan terhadap mimisan karena selaput lendir dan pembuluh darahnya masih sensitif.

4359_image

Pembuluh darah hidung (http://www.seattlechildrens.org/kids-health/image/ial/images/4359/4359_image.png)

Terdapat dua faktor penyebab mimisan, yakni:

  1. Faktor organik
    Ditandai oleh kelainan organ bawaan sejak usia dini. Bisa berupa kelemahan pada organ atau pembuluh darah hidungnya. Misalnya, pembuluh darah hidungnya terlalu lebar, terlalu tipis atau rapuh. Dengan begitu, ketika aktivitas anak terlalu berlebih, kena iritasi, atau mengalami stres, akhirnya mimisan.
  2. Faktor gangguan medik
    Terjadi karena adanya gangguan pembekuan darah. Mimisan karena faktor ini disebabkan pembuluh darah dan trombosit (keping darah) gagal berfungsi menutup luka.

Secara umum, mimisan dipicu oleh:

  1. Suhu udara yang ekstrem, baik terlalu panas maupun terlalu dingin. Bisa juga terjadi karena perubahan cuaca yang sangat drastis.
  2. Kebiasaan anak yang sering mengorek lubang hidung.
  3. Hidung yang terbentur benda keras atau terjatuh
  4. Masuknya benda-benda kecil ke dalam hidung yang membuat hidung mengalami pendarahan
  5. Terlalu lelah bermain
  6. Terlalu kencang saat menbuang ingus atau mengembuskan udara
  7. Anak dengan riwayat alergi. Misalnya, anak yang sering pilek (flu) atau bersin-bersin juga lebih sering mengalami mimisan.

Cara Mengatasi Mimisan

Saat pertama kali terjadi mimisan pada anak, sebaiknya Anda tidak perlu panik. Lakukanlah pertolongan pertama dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Dudukkan anak dengan kepala condong ke depan. Hal ini menghindari tersedak atau muntah darah akibat darah berbalik arah ke kerongkongan. Dengan duduk, aliran darah akan melambat. Hindari posisi menengadah atau tidur karena darah dapat tertelan.
Cara Benar

Cara Benar (http://www.rch.org.au/uploadedImages/Main/Content/kidsinfo/Nosebleeds—KHI-RCH.jpg)

Cara Salah

Cara Salah (http://www.wetreatkidsbetter.org//wp-content/uploads/Nose-Bleed-Dont.bmp)

  • Tekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. Sebaiknya, gunakan kain atau tisu bersih saat menekan sehingga darah tidak berceceran. Lakukan selama 1-2 menit. Tenteramkanlah jika ia merasa tidak nyaman. Atau jika ia sudah mengerti, ajari bernapas melalui mulut sejenak.
  • Jika darah belum berhenti, coba kompres hidungnya dengan es yang dibungkus sapu tangan. Es dapat mengecilkan pembuluh darahnya. Ulangi juga menekan pangkal hidung.
  • Hindari menyumbat dengan kain, tissue atau daun sereh karena akan memperlama proses pembekuan darah.

Setelah pendarahan berhenti, cegah anak mengorek-ngorek hidung. Biasanya dengan bertambahnya usia, mimisan jadi berkurang, karena pembuluh darah dan selaput lendir hidungnya semakin menguat.

Kapan Perlu ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus mimisan ialah ringan, terkadang ada pula mimisan yang terjadi karena sebab serius. Sebaiknya orangtua segera membawa anaknya ke dokter apabila :

  1. Mimisan tidak berhenti dengan penekanan setelah 10-20 menit
  2. Mimisan yang hebat, dapat menyebabkan pingsan
  3. Mimisan berulang dalam periode singkat disertai darah yang banyak
  4. Anak merasa pusing, lemah atau merasa akan pingsan
  5. Mimisan pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun
  6. Adanya Sumbatan jalan napas
  7. Mimisan akibat trauma pada wajah
  8. Mimisan disertai demam atau muntah darah.

Depok, 9 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir :2015-06-11

Referensi :

  1. Jeremy Foon. 2014. Epistaxis. Department of Otolaryngology. University of Texas Medical Branch.
  2. Grema Umar, et al. 2014. Epistaxis: The Experience at Kaduna Nigeria. Department of Clinical Service. Journal of Medical Society.
  3. Bestari, Al Hafiz. 2009. Epistaksis dan Hipertensi. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang.
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 1485.
  5. Mimisan: Kapan berbahaya? [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/mimisan-kapan-berbahaya.html
  6. Nosebleed (Epistaxis) Causes, Symptoms, Treatment – When to Seek Medical Care [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/nosebleeds/article_em.htm

Bantuan Hidup Dasar Bayi & Anak

Tentunya kita tidak pernah menginginkan kecelakaan terjadi pada buah hati kita ya, ayah bunda. Namun, pernahkah ibu atau ayah bayangkan apabila dihadapkan pada situasi kritis yang menyebabkan anak berhenti nafas atau jantung secara tiba-tiba? Pastinya kita akan panik atau bingung bahkan mungkin saja melakukan tindakan yang malah justru berbahaya bagi anak.. Selama ini mungkin kita hanya lihat dari sinetron tentang tindakan penyelamatan pada anak. Tapi sayangnya apa yang ditayangkan tidak bersifat edukatif dan seringkali tidak sesuai dengan rekomendasi medis. Lalu, bagaimana cara tindakan pertolongan pertama pada henti nafas dan jantung pada anak? Sebagai orangtua bijak, penting disimak ya agar kita bisa siap kapanpun dan dimanapun..

Istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau di luar negeri dikenal dengan CPR (Cardio Pulmonary Resucitation) adalah tindakan kegawatdaruratan untuk mempertahankan pasokan oksigen ke otak dan jantung pada saat seseorang tidak sadarkan diri dengan tidak bernapas atau tidak ada denyut jantung. Tindakan ini bukanlah untuk mengembalikan napas atau denyut jantung seseorang, namun hanya untuk memberikan aliran darah sebagian secara buatan untuk memperlambat kerusakan otak dan jantung. Pada kasus tenggelam, kecelakaan, atau tersedak dengan kondisi anak tidak bernapas atau tidak ada denyut jantung, sesuai dengan rekomendasi American Heat Association 2010 mengenai bantuan hidup dasar anak , dapat dilakukan tindakan berikut ini:

  • Pastikan keamanan penyelamat dan korban. Pada kasus misalnya kecelakaan, sebelum melakukan RJP korban harus dipindahkan ke tempat yang aman.
  • Periksa perlunya melakukan RJP. RJP diperlukan bila penolong menilai anak tidak bernapas atau tidak sadar.
  • Periksa respon anak, tanyakan : “Apa kamu baik-baik saja?”, panggil nama anak jika anda mengetahuinya. Bila anak dapat menjawab, bergerak, atau mengerang, periksa apa ada luka dan membutuhkan bantuan medis. Jika anak masih bernapas, panggil bantuan dan aktifkan emergency response system (memanggil bantuan dan secepatnya kembali ke anak dan melakukan siklus kompresi dada-ventilasi kembali hingga bantuan datang atau anak sadar), dan segera kembali untuk monitor kondisi anak.
  • Bila anak tidak berespon, jangan tinggalkan anak dan teriaklah minta tolong.
  • Periksa napas: bila anak bernapas dengan teratur, berarti tidak membutuhkan RJP. Pada kondisi trauma akibat kecelakaan misalnya, posisikan anak pada posisi pemulihan, untuk mempertahankan patensi jalan napas dan menurunkan risiko aspirasi (tersedak ludahnya sendiri)

Gambar 1. Posisi pemulihan pada bayi dan anak

RecoveryPosition

https://www.scratchsleeves.co.uk/parenting-plus-eczema/wp-content/uploads/2014/02/RecoveryPosition.jpg

Gambar 2. Cara Melakukan Posisi Pemulihan

http://www.nedac.co.uk/picts/recovery%201.gif

http://www.nedac.co.uk/picts/recovery%201.gif

Gambar 3. Cara Melakukan Posisi Pemulihan Pada Bayi

http://www.firstaider.org/1024%20English/images/74.jpg

http://www.firstaider.org/1024%20English/images/74.jpg

Bila anak tidak bernapas:

  • Panggil, atau kirim pesan untuk mencari bantuan, jika pada saat itu belum datang, jika terdapat lebih dari 1 penolong. Bila hanya sendiri, teriaklah minta tolong
  • Jangan tinggalkan anak pada kondisi ini. Lakukan langkah-langkah RJP (Resusitasi jantung paru). Sesuai dengan rekomendasi American Heart Association, RJP dilakukan dengan alur C-A-B ( Compression – Airway –Breathing):
  • Lakukan kompresi dada (tidak perlu memeriksa nadi) sebanyak 30 kali. Cara melakukan kompresi dada yang berkualitas :
  • Berikan tekanan dada dengan jumlah dan kedalaman yang baik. Tekan dengan cepat: tekan dengan kecepatan 100 kompresi per menit. Tekan kuat: tekan dengan usaha yang cukup untuk menekan setidaknya sepertiga dari kedalaman dada, yaitu 4 cm untuk bayi dibawah 1 tahun dan 5 cm untuk anak diatas 1 tahun.

Gambar 4. Lokasi untuk memberikan tekanan dada pada bayi (tekan dengan 2 jari dibawah garis penghubung puting)

http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/media/medical/hw/h9991484_001.jpg

http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/media/medical/hw/h9991484_001.jpg

  • Untuk anak diatas 1 tahun, tekan dengan tumit telapak tangan di dada bawah dengan kedalaman kira-kira 5cm.

Gambar 5. Lokasi kompresi dada anak

http://resuscitation- guidelines.articleinmotion.com/uploads/els_articles/S0300-9572(10)00438- 7/assets/gr5.jpg

http://resuscitation-
guidelines.articleinmotion.com/uploads/els_articles/S0300-9572(10)00438-
7/assets/gr5.jpg

  • Beri waktu dada untuk kembali mengembang setelah setiap kompresi, sehingga jantung dapat terisi darah kembali
  • Minimalisir interupsi pada kompresi dada
  • Hindari terlalu banyak ventilasi (memberikan terlalu banyak bantuan napas)
  • Buka jalan napas, jika terlihat benda didalam mulut, keluarkan, namun jangan berusaha untuk melakukan sapuan tanpa melihat adanya objek atau melakukan  sapuan tangan berkali-kali. Hal ini dapat menyebabkan objek menjadi tertekan lebih ke dalam, dan dapat mengakibatkan cedera orofaring.
  • Cara membuka jalan napas adalah dengan cara: head tilt (kepala di tengadahkan ke atas) dan chin lift (dagu ditekan ke bawah)

Gambar 6. Cara Membuka Jalan Napas

http://www.blscprtraining.com/a3.jpg

http://www.blscprtraining.com/a3.jpg

  • Berikan 2 kali bantuan napas (ventilasi) dari mulut ke mulut, dan lanjutkan dengan siklus kompresi dada – ventilasi, hingga objek keluar.
  • Pada anak dengan usia kurang dari 1 tahun,berikanbantuan napas dari mulut ke hidung dan mulut bayi.
  • Pastikan bantuan napas efektif (tandanya: dada mengembang saat ditiupkan napas). Bila dada tidak mengambang, ubah posisi kepala anak, dan berikan ulang

Gambar 7. Cara Memberikan Bantuan Napas

rescue_breathing_d

http://www.healthy.net/scr/article.aspx?ID=1795

  • Bila penolong hanya sendiri, untuk melakukan RJP selama 2 menit diikuti dengan mengaktifkan emergencyresponse system.
  • Penolong sebaiknya telah melakukan pelatihan Basic Life Support (Pelatihan Bantuan Hidup Dasar) sebelum melakukan pertolongan agar dapat memberikan bantuan yang benar dan efektif.

Video ini mungkin bisa membantu ibu dan ayah belajar mengenai RJP. Selamat belajar ya. Pastikan kelamatan anak menjadi nomer satu.. 🙂 Semoga bermanfaat

dr. Titania Nur Shelly, MARS

Referensi:

Berg MD, Schexnayder SM, Chameides L, et al. Prom the American Academy of Pediatrics Special Report Pediatric Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. PEDIATRICS Journal; 2010:126. diunduh dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/126/5/e1345.full (Sabtu, 28 Maret 2015)

P3K Anak di Rumah: Tersedak

Sebagai ibu dari dua bocah laki-laki, tentunya bagi saya menjadi hal yang cukup biasa untuk mendengar keduanya beradu mulut, atau kompak memohon makanan kesukaan (baca: coklat) hingga berebutan makanan atau mainan. Sering juga keduanya bermain kejar-kejaran hingga salah salah satunya terjatuh. Terkadang hingga ada yang terluka. Anakku yang kedua saat ini masih berusia 1 tahun 6 bulan, usia yang sedang hobi-hobinya bereksplorasi dengan barang baru, dan di masukkan ke dalam mulut. Beberapa kali bahkan saya mendapati ia tersedak mainan kecil saat bermain di rumah kawan.

Kecelakaan pada anak yang terjadi di rumah atau lingkungan rumah mungkin sudah tidak asing lagi terjadi pada setiap anak, tidak hanya di indonesia, tapi di seluruh dunia, dan seringkali hingga memerlukan bantuan dokter untuk menanganinya. Pada tahun 2010 tercatat 25 juta anak berkunjung ke Unit Gawat Darurat di Amerika Serikat, dan penyebab tertinggi anak dibawa ke UGD adalah akibat kecelakaan dan keracunan (1). Di Australia, kecelakaan merupakan penyebab utama kematian dan merupakan penyebab kedua terbanyak setelah penyakit saluran napas pada anak usia 0-14 tahun (2).

Kecelakaan adalah kerusakan pada tubuh yang disebabkan saat tubuh mausia dihadapkan pada energi dengan jumlah yang melebihi batas toleransi tubuh, atau dapat mengakibatkan kurangnya satu atau lebih elemen yang vital bagi tubuh, misalnya oksigen (3). Kecelakaan terdiri dari 2 jenis, yaitu kecelakaan yang disengaja (intentional injury) dan kecelakaan yang tidak disengaja (unintentional injury). Penting bagi orang tua untuk mengetahui apakah kecelakaan yang terjadi pada anak disengaja atau tidak. Sebab, kecelakaan yang tidak disengaja sebenarnya dapat diprediksi dan dapat dicegah dengan menggunakan perhatian akan keselamatan dengan cukup. Beberapa kecelakaan yang sering terjadi pada anak antara lain:

  1. Tersedak (choking)
  2. Transportasi (transportation)
  3. Tenggelam (drowning)
  4. Jatuh (Falls)
  5. Terbakar (burns)
  6. Keracunan (poisoning)

Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hal-hal diatas adalah mengenai pengetahuan, perilaku, dan juga keterampilan. Anak-anak dibawah usia 5 tahun bergantung pada orang lain untuk menjaga keamanannya. Kurangnya pengetahuan pada orang yang menjaga anak kecil dapat meningkatkan terjadinya kecelakaan yang tidak disengaja (2). Sehingga, sangat penting bagi orang tua untuk memiliki pengetahuan mengenai pentingnya menyediakan lingkungan yang aman bagi anak. Lalu, apa saja penjelasan lebih detilnya mengenai masing-masing kecelakaan dan bagaimana penanganannya yang penting untuk diketahui para orang tua/ pengasuh anak?

Pada bagian ini, kita akan membahas mengenai tersedak atau choking. Apa yang sebenarnya terjadi saat anak kita (atau bahkan kita sendiri) tersedak? Sebelum kita tahu lebih lanjut mengenai bagaimana tersedak bisa terjadi, tentunya kita perlu memahami apa yang senantiasa terjadi pada bagian belakang mulut kita setiap waktu. Udara yang masuk melalui hidung (atau mulut) akan mengalir ke paru-paru, dan makanan yang kita makan akan masuk ke lambung, semuanya melalui satu saluran yang sama, yaitu faring (throat), sebelum akhirnya terpisah yang menjadi saluran yang menuju ke paru-paru (trakea)dan yang menuju ke lambung (esofagus). Nah, bagaimana makanan dan udara senantiasa bisa masuk ke tujuan yang tepat? Alhamdulillah, sungguh beruntungnya kita karena ternyata ada katup yang disebut sebagai “epiglotis”. Epiglotis berfungsi seperti pintu. Ia akan bersepon saat kita mengunyah makanan dengan menutup trakea, sehingga makanan yang kita telan akan mengalir ke lambung melalui esofagus.

Gambar 1. Apa yang terjadi pada epiglotis saat kita makan

http://kidshealth.org/image/ial/images/4621/4621_image.png

 

Pada beberapa keadaan, seperti saat anak (atau kita) tertawa atau kaget saat makan, epiglotis dapat tidak menutup dengan sempurna, sehingga sebagian makanan dapat masuk ke dalam saluran napas dan menyumbat pernapasan. Nah, pada saat ini anak sedang dalam keadaan “tersedak”. Perasaan yang dialami saat tersedak tentunya sangat tidak nyaman, apalagi bila yang menyebabkan tersedak berukuran besar, sehingga menyebabkan sulit bernapas. Secara alamiah, tubuh akan berusaha untuk mengeluarkan benda yang masuk ke saluran napas dengan cara “batuk”, namun hal ini akan sulit dilakukan pada kondisi tersedak oleh benda yang besar, sehingga membutuhkan bantuan orang lain.

Sebagai salah satu dari 5 besar penyebab kematian utama pada anak yang tidak disengaja pada anak usia dibawah 5 tahun (4), pengetahuan untuk penanganan tersedak sangatlah penting bagi orang tua dan pengasuh anak. Beberapa hal yang penting untuk menjadi catatan adalah:

  • anak usia dibawah 5 tahun adalah yang paling berisiko untuk tersedak
  • tersedak tidak hanya terjadi oleh makanan, tapi juga oleh mainan atau peralatan rumah tangga yang kecil (ukuran diameter trakea anak kira-kira sebesar sedotan air minum, sehingga bayangkan bila benda seperti popcorn menyumbat saluran seukuran sedotan, tentunya anak tidak dapat bernapas dan dapat mejadi fatal).
  • Apabila kejadian tersedak terjadi, penting bagi orang di sekitarnya untuk mengetahui penanganannya, dan cara terbaik adalah dengan pencegahan.

Apa saja yang dapat menyebabkan anak tersedak?

1. Makanan yang dapat membahayakan

Jangan memberikan makanan yang bulat dan keras pada anak usia dibawah 4 tahun. Karena bila anak tidak dapat mengunyah makanan dengan sempurna, mereka pastinya akan menelannya bulat-bulat, dan ini merupakan penyebab utama tersedak pada anak. Beberapa makanan yang sebaiknya dihindari:

  • hot dog
  • kacang-kacangan
  • daging atau keju
  • anggur bulat
  • permen yang keras
  • pop corn
  • sayuran mentah
  • buah-buahan yang keras seperti apel
  • permen karet

2. Barang-barang rumah yang dapat membahayakan

Pastikan benda-benda ini jauh dari jangkauan anak-anak:

  • balon yang belum ditiup
  • koin
  • kelereng
  • mainan dengan bagian yang kecil
  • mainan yang seluruh bagiannya dapat masuk ke mulut anak
  • bola kecil
  • pulpen atau alat tulis lain
  • baterai
  • obat-obatan

Apa yang perlu kita lakukan untuk dapat mencegah dan menangani tersedak?

  1. Pelajari RJP (Resusitasi Jantung Paru) untuk bantuan hidup dasar
  2. Jauhkan hal-hal yang dapat menyebabkan tersedak
  3. Pastikan anak selalu makan sambil duduk. Sehingga mereka fokus untuk makan dan tidak makan sambil lari, tidur, atau bermain.
  4. Potong makanan kecil-kecil untuk anak
  5. Selalu temani anak saat makan
  6. Perhatikan anak bila makan bersama anak yang lebih besar, karena anak yang lebih besar sering kali memberikan makanan tanpa paham bahwa anak kecil belum mampu memakannya
  7. Jauhkan mainan yang kecil dan berbahaya, dan simpan alat-alat rumah tangga di tempat aman
  8. Periksa barang-barang dirumah dan di selipan kursi apakah ada barang kecil yang terselip
  9. Jangan pernah membiarkan anak bermain dengan koin dan baterei

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita menjadi orang terdekat anak yang mengalami kejadian tersedak?

Saat benda asing masuk ke dalam saluran napas, anak akan bereaksi dengan batuk, sebagai upaya untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Menurut Konsil Resusitasi UK, batuk spontan merupakan manuver/cara terbaik dan lebih aman dibandingkan dengan manuver apapun yang dilakukan oleh penolong. Namun demikian, bila anak tersedak hingga tidak bisa batuk ataupun batuk tetapi tidak efektif (tidak dapat mengeluarkan benda asing tersebut), saluran napas dapat tersumbat total dan anak akan menjadi kekurangan oksigen. Pada saat tersebut, bantuan aktif untuk mengeluarkan benda asing menjadi diperlukan, namun harus dilakukan dengan cepat dan percaya diri .

Apabila mendapatkan anak dengan kemungkinan tersedak, yang perlu dilakukan adalah pastikan dahulu bahwa anak tersebut benar-benar tersedak. Tanda umum dari tersedak adalah(5,6):

  • ada yang melihat kejadian tersedak
  • batuk atau tampak kesulitan bernapas, terdengar suara mengi (wheezing) atau mengorok (stridor)
  • kejadian terjadi dengan cepat
  • sebelumnya sedang makan atau bermain dengan benda kecil

Setelah itu, lihat kondisi anak, apakah anak dapat batuk dengan efektif atau tidak. Ciri-ciri batuk efektif dan tidak efektif:

Batuk tidak efektifBatuk efektif
Tidak dapat bicaraMenangis atau dapat berespon verbal (bicara)
Batuk dengan tidak bersuaraBatuk keras
Tidak dapat bernapas
Dapat menarik napas sebelum batuk
Wajah membiru
Kulit wajah tampak normal
Anak tidak sadarkan diriBerespon secara penuh

Berikut ini adalah alur penanganan anak dengan tersedak:

Gambar 2. Alur Penanganan Anak Tersedak

Untitled

Kondisi anak saat tersedak

  • Jika anak dapat batuk dengan efektif, tidak perlu melakukan tindakan luar. Biarkan anak untuk batuk hingga benda asing keluar, dan monitor secara berkala
  • Jika anak batuk secara, atau menjadi tidak efektif tentukan tingkat kesadaran anak. Cara menentukan tingkat kesadaran anak:
    Tepuk anak dan tanyakan dengan keras : “Apa kamu baik-baik saja?” Bisa tanyakan nama anak, jika anak sudah dapat berbicara. Jika anak responsif, ia akan menjawab, bergerak, atau menangis.
    Jika terdapat lebih dari 1 penolong, maka segera cari bantuan, telepon nomor darurat yang diketahui.

Anak tersedak dengan kondisi sadar

  • Jika anak masih sadar namun tidak dapat batuk atau batuk tetapi tidak efektif, berikan tekanan perut (abdominal thrust/ heimlich maneuver). Cara ini akan membuat “batuk buatan” dengan meningkatkan kenanan di dalam dada dan mengeluarkan benda asing.
  • Pada bayi usia kurang dari 1 tahun, berikan tepukan pungung diikuti dengan tekanan dada (chest compression).
  • Jangan lakukan heimlich manuver pada bayi dibawah 1 tahun, karena dapat menyebabkan cedera liver (hati) pada bayi

Cara melakukan tepukan punggung

  • Pangku anak dalam kondisi telungkup dengankepala di bawah, agar gaya gravitasi dapat membantuk mengeluarkan benda asing
  • Penolong harus dapat memangku dengan posisi yang aman
  • Tahan kepala anak dengan 1 tangan, dengan posisi jari jempol pada satu sisi rahang dan dua atau tiga jadi lainnya pada sisi rahang lainnya
  • Pastikan jangan sampai menekan jaringan dibawah rahang, karena dapat memperparah sumbatan jalan napas

Gambar 3. Cara memberikan tepukan punggung bayi

ChokingBaby

http://www.childhealthslough.com/html/img/ChokingBaby.jpg

  • berikan 5 tepukan punggung dengan cepat dan kuat di belakang dada
  • Tujuan yang ingin diraih adalah untuk dapat mengeluarkan benda asing. Bila sebelum 5 perukan benda asing sudah keluar, tepukan dapat dihentikan
  • Apabila tepukan punggung gagal untuk mengeluarkan beda asing tersebut, dan anak masih dalam kondisi sadar, gunakan tekanan dada.

Tekanan dada pada bayi dibawah 1 tahun

  • Posisikan bayi dalam keadaan terlentang dalam pangkuan secara aman, dengan cara meletakkan tangan di sepanjang punggung bayi dan telapak melingkari kepala bayi
  • Identifikasi tanda wilayah untuk tekanan dada ( dibawah garis puting bayi)

Gambar 4. Lokasi untuk memberikan tekanan dada

h9991484_001

http://www.webmd.com/parenting/baby/cpr-for-infants-positioning-your-hands-for-chest-compressions

  • Berikan 5 kali tekanan dada. Penolong melakukan kompresi setidaknya sepertiga dari kedalaman dada, atau sekitar 4 cm. Lakukan kompresi dengan menggunakan 2 jari.
  • Tekanan dada ini dilakukan dengan pasti dan lihat respon setiap kali setelah melakukan tekanan.

Tekanan perut pada anak usia lebih dari 1 tahun:

  • Berdiri atau pangku anak dari belakang. Letakkan tangan dibawah lengan anak dan lingkari pinggangnya
  • kepalkan tangan diantara umbilikus dan xiphosternum
  • Dekap tangan yang dikepalkan, dan tarik dengan kuat ke arah atas dan dalam

Gambar 5. Cara melakukan Tekanan Abdominal pada anak.

CRC_abdominal_thrusts_standing

http://www.merckmanuals.com/media/professional/figures/CRC_abdominal_thrusts_standing.gif

Gambar 6. Lokasi melakukan tekanan perut

fig5-2

http://www.medtrng.com/cls2000a/lesson_5_perform_first_aid_to_cl.htm

  • Dapat diulangi hingga 4 kali
  • Pastikan tidak menekan prosesus xiphoideus atau iga bawah karena dapat menyebabkan trauma
  • Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengatasi sumbatan jalan napas, sehingga dapat dihentikan bila sumbatan sudah teratasi

Setelah melakukan tekanan perut atau dada, periksa kembali kondisi anak:

  • Jika objek tidak dapat dikeluarkan dan anak masih sadar, lanjutkan tepukan punggung dan tekanan perut (pada bayi kurang dari 1 tahun) atau abdominal (pada bayi lebih dari 1 tahun)
  • Panggil, atau kirim pesan, untuk mencari bantuan jika pada saat itu bantuan belum datang
  • Jangan tinggalkan anak pada kondisi ini

Jika objek dapat dikeluarkan, perhatikan kondisi klinis anak. Perhatikan apakah masih ada kemungkinan ada bagian dari objek tersebut yang masih tertinggal di saluran napas, karena hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi.

Bila anak tersedak dan tidak sadar atau menjadi tidak sadar, lakukan tindakan penyelamatan resusitasi jantung paru seperi yang diterangkan di halaman berikut ini. Jangan lupa hubungi tenaga kesehatan medis untuk pertolongan lebih lanjut.

Titania Nur Shelly, dr, MARS

 ibu dari 2 anak sholeh dan ceria

Referensi:

  1. Wier LM, Yu H, Owens PL, Washington R. Overview of Children Emergency Department, 2010. In: Healthcare cost and Utilization Project. Statistical Brief #157; 2013. p. 5. diunduh dari: http://www.hcup-us.ahrq.gov/reports/statbriefs/sb157.pdf (Rabu, 25 Maret 2015).

  2. Richard J,Leeds M, Kidsafe WA. Child Injury Overview 2012. diunduh dari: https://www.iccwa.org.au/useruploads/files/child_injury_review_and_consultation.pdf. (Rabu 25 Maret 2015).

  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Protect the Ones You Love: Child Injuries are Preventable. Atlanta: 2012. diunduh dari: http://www.cdc.gov/safechild/NAP/background.html. (Rabu, 25 Maret 2015).

  4. Department of Health. Choking Prevention for Children. Revised: July, 2014. diunduh dari: https://www.health.ny.gov/prevention/injury_prevention/choking_prevention_for_children.htm (Rabu, 25 Maret 2015)

  5. American Academy Pediatrics. Choking Prevention and First Aid for Infants and Children. 2006. diunduh dari: http://www.huntsvillepediatrics.com/images/choking_2009_aap.pdf. (Kamis, 26 Maret 2015)

  6. Resusication Council (UK). Paediatric Basic Life Support. In: Resucitation Guidelines 2010. Diunduh dari: https://www.resus.org.uk/pages/pbls.pdf. (Jumat, 27 Maret 2015)

  7. Berg MD, Schexnayder SM, Chameides L, et al. Prom the American Academy of Pediatrics Special Report Pediatric Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. PEDIATRICS Journal; 2010:126. diunduh dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/126/5/e1345.full (Sabtu, 28 Maret 2015)

  8. Gupta, RC. Choking. Reviewed: September 2014. Diunduh dari: http://kidshealth.org/kid/watch/er/choking.html#.