Tag Archives: penyakit

Penyakit Celiac (Celiac Disease)

Penyakit celiac (celiac disease) ialah penyakit turunan dimana seseorang tidak dapat mengkonsumsi makanan mengandung gluten. Gluten ialah protein yang ditemukan pada makanan olahan gandum, rye dan barley seperti tepung terigu, roti, kue, biskuit, dll. Pada penyakit Celiac, sistem tubuh penderita penyakit ini akan menyerang sel tubuh yang sehat bila mengkonsumsi gluten. Hal ini akan menimbulkan kerusakan pada organ terutama usus halus.

141

Usus penderita penyakit celiac

Apa Penyebab Penyakit Celiac?

Belum diketahui secara pasti apa penyebab penyakit Celiac. Namun, diduga faktor genetik dan lingkungan memegang peranan penting dalam perkembangan penyakit ini. Sehingga bila ada keluarga yang mengidap penyakit Celiac, ada kemungkinan gen penyakit tersebut diturunkan ke generasi berikutnya. Satu-satunya faktor lingkugan yang mencetuskan gejala penyakit celiac adalah gluten.

Seberapa sering Penyakit ini terjadi?

Penyakit celiac umum terjadi pada orang Eropa dan Amerika Utara. Namun, saat ini penyakit celiac mulai terdeteksi di populasi orang Afrika, Timur Tengah dan Asia. Di Indonesia penyakit celiac masih jarang terjadi.

Penyakit celiac bisa terdeteksi di usia berapapun. Namun, penyakit ini jarang terjadi pada manula (di atas 60 tahun. Gejala klasik penyakit ini biasanya mulai terlihat pada anak usia 9-18 bulan.

Apa Gejala Penyakit Celiac?

Orang yang mengidap penyakit celiac bisa saja tidak menunjukkan gejala setelah mengkonsumsi gluten. Namun, pada umumnya gejala yang muncul setelah terpapar gluten berupa :

  • Diare kronis
  • Perut kembung
  • Nyeri perut
  • Tidak nafsu makan
  • Muntah
  • Berat badan sulit naik
  • Badan terasa lemah
  • Gizi kurang atau gizi buruk

Selain itu, terdapat gejala di luar saluran pencernaan, seperti :

  • Anemia (kurang darah) karena gangguan penyerapan besi dan folat dari usus halus
  • Pendarahan akibat gangguan penyerapan vitamin K
  • Osteoporosis karena kekurangan kalsium, vitamin D
  • Gangguan saraf seperti kelemahan otot dan baal
  • Gangguan kulit, disebut juga dermatitis herpetiformis, yaitu munculnya bruntus-bruntus yang gatal di punggung tangan dan kaki, punggung, bokong, kepala dan leher.
  • Gangguan hormonal seperti terlambat haid, infertilitias dan impoten

Meskipun jarang, pada penderita penyakit ini bisa terjadi gejala yang mengancam jiwa seperti lemah, diare akut hebat, perut yang amat kembung, dehidrasi berat, tekanan darah turun, gangguan keseimbangan elektrolit dan lemah.

Bagaimana mendiagnosis penyakit celiac?

Diagnosis penyakit celiac ditegakkan dari gejala, pemeriksaan fisik dan penunjang. Tes darah yang digunakan untuk mengetahui penyakit ini ialah tes anti TTG-IgA (Transglutainasi Imunoglobulin A). Tes ini berfungsi untuk mendeteksi antibodi terhadap gluten. Bila hasilnya positif, pemeriksaan biopsi jaringan mungkin dibutuhkan untuk memastikan diagnosis penyakit celiac. Pada pemeriksaan ini, dokter akan meneropong saluran pencernaan Anda lewat endoskopi. Setelah itu, jaringan sel usus akan diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Apa terapi penyakit celiac?

Bila Anda didiagnosis mengalami penyakit Celiac, pengobatan utama yang paling efektif ialah diet bebas gluten seumur hidup. Anda perlu menghindari makanan apapun yang mengandung gandum, rye, barley seperti yang terdapat pada tepung terigu, tepung gandum, mi, roti, kue, keripik, dsb. Untungnya, nasi, ubi, singkong atau kentang yang menjadi makanan pokok di Indonesia tidak mengandung gluten. Begitu juga lauk pauk seperti ikan, daging, ayam juga sayur dan buah.

Diet bebas gluten perlu konsultasi dan pengawasan dari ahli gizi karena Anda mungkin beresiko kekurangan vitamin B, kalsium, zat besi, magnesium dan serat.

Pada penderita yang sulit menjalani diet bebas gluten atau gejala penyakit celiac tetap muncul setelah diet mungkin dibutuhkan obat penurun kekebalan tubuh. Golongan yang umum digunakan ialah kortikosteroid.

Apa komplikasi dari Penyakit Celiac?

Resiko penyakit Celiac yang dikhawatirkan ialah kanker. Kerusakan dari sel tubuh secara jangka panjang dapat menyebabkan keganasan pada saluran pencernaan seperti kanker mulut, kerongkongan, esofagus, pankreas sampai usus.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/17/2015

Referensi

1. Ivor D Hill, MD. Diagnosis of celiac disease in children. Uptodate. 2015 Oct 22;
2. Ivor D Hill, MD. Management of celiac disease in children. Uptodate. 2014 Jun 30;
3. Celiac Sprue: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 17 [cited 2015 Nov 17]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/171805-overview
4. Gujral N, Freeman HJ, Thomson AB. Celiac disease: Prevalence, diagnosis, pathogenesis and treatment. World J Gastroenterol WJG. 2012 Nov 14;18(42):6036–59.

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Saat anak demam orangtua tentu khawatir. Apalagi bila bayi yang mengalami demam. Orangtua perlu ingat bahwa demam bukanlah penyakit. Demam ialah respon alami tubuh untuk melawan infeksi, respon dari kelainan metabolik, dll. Sehingga, penyebab demam tidak selamanya berbahaya dan dapat sembuh sendiri tanpa pertolongan dokter. Namun, Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter apabila :

  1. Anak anda berumur <3 bulan dengan demam >38oC. Demam pada bayi muda bisa jadi tanda adanya penyakit yang serius
  2. Demam lebih dari 40oC pada anak usia berapapun
  3. Demam lebih dari 24 jam (2 hari) pada anak <2 tahun.
  4. Demam lebih dari 72 jam (3 hari) pada anak lebih dari 2 tahun
  5. Demam tidak turun meskipun sudah diberi obat penurun panas
  6. Perilaku anak anda berubah, tidak seperti biasanya dan terlihat sakit berat. Misalnya, anak sulit dibangunkan, sangat rewel, sulit minum,
  7. Mengalami tanda-tanda dehidrasi :kencing pada bayi <1 tahun menjadi jarang yakni kurang dari 4x/hari. Pada anak tidak kencing selama 8 jam.
  8. Anak anda baru saja mendapat imunisasi dengan demam >39oC atau lebih dari 48 jam.
  9. Demam disertai kejang
  10. Demam disertai gejala lain seperti leher kaku, nyeri kepala hebat, nyeri tenggorokan parah hingga sulit makan/minum, nyeri telinga hebat, ruam yang tidak bisa dijelaskan, diare atau muntah berulang.
  11. Anak memiliki masalah imun, misalnya penyakit Sickle cell, kanker, atau dalam terapi steroid
  12. Sedang dalam lingkungan yang amat panas misalnya bermain atau berjemur di siang hari, di daerah gurun (Arab Saudi), di dalam mobil yang terlalu dipanaskan. Dalam kondisi ini, anak dikhawatirkan mengalami heat stroke.
  13. Bila anda khawatir. Saat orangtua merasa tidak nyaman atau panik, Anda bisa berdiskusi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Namun, perlu diingat, apabila penyebab demam tidak serius, dokter mungkin tidak akan atau sedikit memberi obat. Demam juga tidak selalu butuh antibiotik.

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

Telah di telaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr. SpA.

10/24/2015

Referensi
1. Ismoedijanto. Demam pada Anak. Sari Pediatri. 2005 Agustus;2(2):103–8.
2. Team CH. Kids’ Fevers: When to Worry, When to Relax [Internet]. Health Essentials from Cleveland Clinic. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://health.clevelandclinic.org/2015/05/kids-fevers-when-to-worry-when-to-relax/
3. Baraff LJ, Schriger DL, Bass JW, Fleisher GR, Klein JO, McCracken GH, et al. Practice Guideline for the Management of Infants and Children 0 to 36 Months of Age With Fever Without Source. Pediatrics. 1993 Jul 1;92(1):1–12.
4. When to Call the Pediatrician: Fever [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/When-to-Call-the-Pediatrician.aspx
5. When to Call the Pediatrician [Internet]. WebMD. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.webmd.com/parenting/baby/features/call-pediatrician

Anak Anda Sering Pingsan? Mungkin ini sebabnya

Saya jadi ingat waktu zaman sekolah, dokter kecil standby dibelakang barisan untuk menolong teman-temannya yang sakit. Nah, tiap hari Senin hampir selalu ada kawan saya yang pingsan. Waktu itu orangtua saya bilang kalau tidak sarapan saya bisa pingsan. Tapi, apakah benar kurang makan saja bisa membuat pingsan? Bahaya tidak ya kalau anak pingsan?

Sekilas Tentang Pingsan

Pingsan atau syncope adalah kondisi kehilangan kesadaran disertai postur lemah mendadak yang bersifat spontan. Hal ini disebabkan adanya penurunan aliran darah ke otak secara tiba-tiba. Pingsan pada anak cukup sering, kejadiannya sekitar 15%, dan biasanya hilang pada akhir usia remaja. Mayoritas pingsan pada anak tidak berbahaya. Namun, ada beberapa kondisi pingsan yang perlu diwaspadai karena dapat mengancam nyawa.

Penyebab pingsan pada anak

Pingsan pada anak dibagi menjadi 3 penyebab utama yaitu pingsan vasovagal, gangguan kardiovaskular dan penyebab lain.

1. Vasovagal syncope

Adalah penyebab tersering pingsan pada anak (sekitar 50%) dan tidak berbahaya. Pingsan jenis ini terjadi karena hipersensitifitas dari reseptor adrenalin di jantung terhadap perubahan postur dan volume darah. Akibat hipersensitifitas ini, respon parasimpatis meningkat seperti pembuluh darah melebar dan nadi melambat. Ciri khas pingsan vasovagal ialah anak merasakan tanda-tanda awal (prodromal) berupa :

  • Keliyengan (kepala terasa melayang)
  • Pandangan kabur atau ganda
  • Mual
  • Pucat
  • Keringat dingin

F1.large

Biasanya pingsan dicetuskan karena anak berdiri lama, stres (baik fisik maupun emosi seperti panik, takut), atau aktivitas yang mencetuskan refleks seperti batuk, merawat rambut atau pipis.

2. Pingsan karena Gangguan Jantung

Ini adalah pingsan yang perlu diwaspadai karena mengancam nyawa. Pingsan ini terjadi karena penurunan volume darah yang di pompa jantung akibat aritmia (irama jantung yang tidak teratur) atau kelainan organ jantung. Untungnya, pingsan kardiovaskular tergolong jarang pada anak. Namun, orangtua patut curiga anak memiliki masalah jantung apabila :

  • Anak jarang atau tidak mengalami tanda-tanda awal sebelum pingsan(prodromal)
  • Pingsan berlangsung lama (lebih dari 5 menit)
  • Dicetuskan oleh olahraga
  • Disertai nyeri dada atau jantung berdebar-debar
  • Ada riwayat keluarga yang sakit jantung

3. Penyebab lain

  • Breath holding spell : Biasanya terjadi pada anak usia 6-24 bulan. Anak yang mengalami emosi berlebihan seperti nyeri, marah, atau takut bisa menahan nafas selama 1 menit. Namun, mereka melakukan ini secara tidak sadar (refleks). Saat menahan nafas, wajah anak bisa membiru atau pucat dan disertai pingsan. Meskipun membuat panik, breath holding spell ini tergolong jinak. Biasanya berhenti saat anak usia 5 tahun.
  • Hipoglikemia (gula darah rendah): dulu banyak orangtua yang mengira karena anak kurang makan dan gula darah rendah, anak bisa pingsan. Padahal, di luar kasus diabetes tipe 1, hipoglikemi jarang menyebabkan pingsan pada anak. Gejala hipoglikemi biasanya berupa lemas, keringat dingin, gelisah, bingung, sampai penurunan kesadaran (bersifat menetap sampai gula darah naik kembali).

Kapan Perlu Ke Dokter?

Pingsan pada anak biasanya tidak berbahaya. Namun bila anda curiga atau sudah mengetahui ada riwayat gangguan jantung pada anak atau keluarga, silakan hubungi dokter anak Anda.

Biasanya, dokter anak akan melakukan wawancara klinis dan pemeriksaan fisik untuk menganalisa berbagai kemungkinan. Pemeriksaan tambahan seperti EKG, Echocardiogram, dsb mungkin diperlukan bila dokter mendapati kecurigaan adanya penyebab yang berbahaya.

Salah satu kondisi yang mirip dengan pingsan ialah kejang. Kejang pada anak biasanya didahului penurunan kesadaran dan kelemahan otot. Sehingga, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan (seperti rekam otak/EEG) untuk membedakan pingsan karena kejang atau sebab lain.

Apa yang Anda harus lakukan saat anak Anda pingsan?

  1. Sebisa mungkin tangkap anak sebelum ia jatuh ke lantai
  2. Perlahan-lahan baringkan ia dengan posisi terlentang
  3. Jaga jalan nafas. Jika ada makanan dalam mulutnya, miringkan kepala sambil mengambil makanan tersebut
  4. Tidak perlu membangunkan anak dengan alkohol, amonia/kapsul amonia , mengguyur dengan air dingin atau menampar pipi. Ia akan bangun dengan sendirinya dalam beberapa saat.
  5. Hubungi dokter bila perlu

Bagaimana mencegah dan mengobati pingsan?

Pada anak yang mengalami pingsan vasovagal, yang pencegahan dan terapi paling penting ialah:

  1. Perbanyak minum sekitar 30-50 ml/kg Berat badan/hari (misal BB anak 10 kg berarti dalam satu hari anak perlu minum 300-500 ml). Hal ini bertujuan agar menjaga volume darah tetap cukup terpompa ke otak
  2. Makan secara teratur dengan gizi yang seimbang. Kurang mineral bisa menjadi penyebab pingsan vasovagal
  3. Tambahkan snack asin dalam makanan (misal biskuit, acar, keripik, dsb)
  4. Hindari minuman/makanan yang berkafein seperti kopi, teh
  5. Sebisa mungkin hindari berdiri lama. Mungkin Anda bisa utarakan pada guru bahwa anak anda sering pingsan. Sehingga saat upacara atau olahraga, anak diberi keringanan untuk berdiri tidak terlalu lama atau olahraga tidak terlalu capek.
  6. Ajarkan anak tanda-tanda sebelum pingsan agar berhati-hati. Beritahu anak untuk mencegah penumpukan darah di vena saat berdiri lama seperti menekuk lutut saat berdiri lama, melipat tangan, menyilangkan kaki.
  7. Saat anak duduk lama, ajarkan ia untuk sesekali badan maju, menunduk, dan lutut didekap pada dada. Hal ini juga untuk menghindari penumpukan darah di vena.
  8. Saat anak dalam posisi tidur, bisa sanggah bantal di kaki untuk memperlancar aliran darah ke otak
  9. Hindari berlama-lama mandi dengan shower air hangat, berendam air panas atau di tengah matahari yang panas.

Untuk pingsan karena penyakit jantung atau penyebab lain, terapinya ialah sesuai penyebab utama. Silakan konsultasikan ke dokter anak Anda untuk penanganan lebih lanjut. Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

ditelaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr., Sp.A

10/19/2015

Referensi

1. Grassi G. Vasovagal syncope, sympathetic mechanisms and prognosis: the shape of things to come. Eur Heart J. 2010 May 1;ehq115.

2. Strickberger SA, Benson DW, Biaggioni I, Callans DJ, Cohen MI, Ellenbogen KA, et al. AHA/ACCF Scientific Statement on the Evaluation of Syncope From the American Heart Association Councils on Clinical Cardiology, Cardiovascular Nursing, Cardiovascular Disease in the Young, and Stroke, and the Quality of Care and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group; and the American College of Cardiology Foundation: In Collaboration With the Heart Rhythm Society: Endorsed by the American Autonomic Society. Circulation. 2006 Jan 17;113(2):316–27.

3. Breath Holding Spell [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/spells.html

4. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Causes of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2013 Dec 3;

5. Dizziness and Fainting Spells [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 19]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/head-neck-nervous-system/Pages/Dizziness-and-Fainting-Spells.aspx

6. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Emergent evaluation of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2014 Jan 15;

7. Karen J Marcdante, MD. Syncope. In: Nelson Essentials of Paediatrics. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; p. 486–7.

8. Côté J-M. Syncope in children and adolescents: Evaluation and treatment. Paediatr Child Health. 2001 Oct;6(8):549–51.

Pusar Bodong saat Hamil?

Beberapa ibu hamil mungkin mengalami “pusar bodong” saat hamil. Dalam dunia kedokteran, “pusar bodong” disebut hernia umbilikalis. Hernia adalah suatu kondisi dimana terdapat bagian organ tubuh yang keluar melalui bagian otot yang melemah. Pada bayi baru lahir hingga usia 4-5 tahun, penutupan bagian dalam tali pusatnya dapat belum sempurna, sehingga dapat terjadi hernia umbilikalis. Namun biasanya, kondisi ini akan membaik setelah usia 5 tahun. Pada ibu hamil, otot-otot di sekitar perut cenderung tertarik dan melemah, sehingga memiliki risiko untuk terjadinya hernia umbilikalis saat hamil. Selain anak-anak dan ibu hamil, orang yang sering mengangkat beban yang berat juga berisiko untuk mengalami hernia umbilikalis.

Hernia umbilikalis merupakan jenis hernia ketiga tersering setelah hernia inguinalis (selangkangan) dan femoralis (paha), yaitu sekitar 3-8,5% dari seluruh kasus hernia. Kejadian hernia umbilikalis lima kali lebih sering pada wanita, dengan salah satu kondisi penting penyebabnya adalah kehamilan.1

http://www.laparoscopicconsultant.co.uk/hiatus-hernia-operation-london.html

Hernia Umbilikalis

Apa Saja Gejala Hernia Umbilikalis?

Gejala hernia umbilikalis pada kehamilan bervariasi, mulai dari yang tidak terlalu tampak dan tidak terasa, hingga yang selalu menonjol dan tampak dengan jelas. Seringkali tonjolan ini terasa nyeri saat beraktivitas yang berlebihan, tertawa, bersin, atau batuk. Seiring dengan bertambah besarnya kehamilan, beberapa wanita mungkin mengalami kesulitan untuk beraktivitas, karena lebih mudah nyeri.

Berbahayakah bila pusar saya menonjol saat hamil?

Sebenarnya, kondisi ini tidak berbahaya bagi ibu maupun janin, selama tidak terasa nyeri yang terus menerus atau kemerahan pada tonjolan hernia. Sebaiknya sampaikan kondisi ini pada dokter yang memeriksa rutin, agar dapat diperiksa lebih lanjut. Pada ibu hamil dengan hernia umbilikalis, disarankan agar tidak menggunakan pakainan yang ketat. Salah satu laporan komplikasi hernia umbilikalis pada kehamilan adalah terjadinya luka akibat gesekan antara kantung (tonjolan) hernia dengan pakaian. 2

Kapan Perlu ke Dokter?

Beberapa gejala yang menunjukkan tanda-tanda bahaya pada hernia umbilikalis dan perlu segera diperiksakan ke dokter:

  • Nyeri tajam yang terus menerus atau semakin parah
  • Kemerahan pada area atau sekitar tonjolan hernia disertai demam, mual, muntah
  • Tonjolan hernia tidak dapat dimasukkan lagi ke dalam
  • Tanda bahaya diatas sangat penting untuk diperhatikan karena dapat merupakan tanda komplikasi hernia yang dapat membahayakan nyawa bila tidak ditangani segera.

Terapi Hernia Umbilikalis

Hernia umbilikalis pada kehamilan yang tidak bergejala atau tidak nyeri belum memerlukan terapi. Yang perlu dilakukan adalah selalu waspada akan tanda bahaya dengan segera memeriksakan diri bila terdapat satu atau lebih tanda bahaya. Satu-satunya terapi yang terbukti efektif bagi hernia umbilikalis adalah dengan operasi. Perbaikan hernia umbilikalis selama kehamilan hanya dianjurkan bila hernia mengalami komplikasi.Diskusikan dengan dokter bedah untuk informasi lebih detil mengenai kapan saat yang tepat untuk dilakukan prosedur operasi bila dibutuhkan.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Hingga saat ini belum ada pencegahan khusus agar tidak terjadi hernia umbilikalis. Sehingga yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan :

  • Mencegah aktivitas, tertawa, batuk atau besin yang berlebihan
  • Menekan tonjolan pusar saat melakukan kegiatan diatas

Titania Nur Shelly, dr., MARS

08/18/2015

Referensi:

1. Dabbas N, Adams K, Pearson K, Royle GT. Frequency of Abdominal Wall Hernia: Is Classical teaching out of date?. JRSM Short Rep. 2011 Jan; 2(1): 5. Published online 2011 Jan 19. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3031184/

2. Punguyire D, Iserson KV, Apangan S. Fullterm pregnancy in umbilican hernia. Pan Afr Med J. 2011; 8: 6. Published online 2011 Jan 31. diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3201614/

3. American Collage of Surgeons, Division of Education. Adult Umbilical Hernia Repair. diunduh dari: https://www.facs.org/~/media/files/education/patient%20ed/adultumbilical.ashx

4. Ahmed A, Stephen G, Ukwenya Y. Spontaneous Rupture of Umbilical Hernia in Pregnancy: A Case Report. Oman Med J. 2011 Jul; 26(4): 285–287. diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3191721/

Gambar di unduh dari :

http://www.laparoscopicconsultant.co.uk/hiatus-hernia-operation-london.html

Week 25: Nesting and a hernia and candy bars, oh my!

Demam dan Ruam Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mengalami betapa pusingnya bila buah hati demam. Terlebih lagi jika muncul ruam kemerahan yang meluas pada kulit. Amat mungkin orangtua panik dan bertanya-tanya : apakah penyakit ini berbahaya? Menular? Ini campak atau bukan? Dan kegalauan lain yang sering disampaikan kepada dokter. Sebagai orangtua cerdas tentu ingin tahu, apa saja sih yang dapat membuat anak saya demam dan ruam?

Munculnya ruam kulit mendadak yang diikuti dengan demam atau gejala sistemik yang lain disebut dengan exanthema. Penyebab exanthem ini bermacam-macam, mulai dari infeksi, reaksi obat atau kombinasi dari keduanya. Namun, beberapa penyakit klasik yang dikenal ialah campak, demam skarlet, rubella, erythema infectiosum dan roseola infantum.1

Campak (Measles/Rubeola)

Campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus, famili Paramyxodiviridae. Penyakit campak menular lewat droplet atau tetesan air liur saat anak bersin dan batuk. Selain itu campak bisa ditularkan lewat udara meskipun lebih jarang.

Gejala
Demam, pilek, konjungitivits (peradangan pada selaput mata), bruntus merah dan bercak koplik’s (bintik-bintik putih di pipi bagian dalam)

Perjalanan penyakit
Masa inkubasi campak (Pertama kali anak terkena infeksi sampai timbul gejala) berlangsung sekitar 8-12 hari. Sedangkan masa penularan dimulai dari 5 hari sebelum muncul ruam sampai 4 hari setelahnya. Pertama kali timbul gejala anak biasanya mengalami demam, tidak enak badan, dan tidak nafsu makan. Kemudian diikuti dengan konjungtivitis, batuk, pilek dan munculnya bercak Koplik. Saat bercak Koplik memudar, muncul ruam merah disertai bruntus.

measles-boy-blotchyface

Campak (https://www.aap.org/en-us/PublishingImages/measles-boy-blotchyface.jpg)

Urutan bercak ini dimulai dari wajah, kepala, leher, sampai ke seluruh tubuh diikuti dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah 3-4 hari, ruam ini menjadi kecoklatan dan semakin lama-semakin hilang sesuai dengan urutan munculnya ruam. Ruam akan hilang dalam 6-7 hari sedangkan batuk masih bisa bertahan sampai 1-2 minggu.

Terapi :
Tidak ada terapi khusus untuk campak. Terapi hanya bersifat suportif misalnya obat penurun panas. Vitamin A biasanya diberikan untuk mencegah komplikasi defisiensi vitamin A dan xerophtalmia (selaput mata kering akibat kekurangan vitamin A).

Komplikasi :
Diare, infeksi salura nafas, otitis media (radang telinga tengah) dan radang otak (ensefalitis).

Pencegahan :
vaksin MMR.2–4

Demam Skarlet/Scarlatina

Demam skarlet merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri grup A Streptococcus. Penyakit ini sering dijumpai pada anak usia 5-12 tahun. Biasanya gejala demam skarlet relatif ringan namun perlu diobati dengan antibiotik untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Penyebaran :
Paling sering lewat droplet saat orang yang terinfeksi batuk, pilek atau berbagi alat makan yang sama. Bisa juga melalui kontak dengan infeksi kulit grup A streptococcus.

Gejala :
Tenggorokan yang radang dan sangat merah, demam tinggi, ruam merah kasar seperti amplas, ruam merah terang di lipatan kulit, lidah “strawberry” (merah dan berbintil), lapisan putih di lidah dan tenggorokan, sakit kepala, mual muntah, nyeri perut, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit badan.

Perjalanan penyakit :
Masa inkubasi berlangsung 2-5 hari. Gejala dimulai dari demam, muntah nyeri perut, lidah bengkak, memerah dan berbintil “strawberry tongue” disertai lapisan putih. Ruam muncul 1-2 hari setelahnya dari leher, ketiak, selangkangan lalu seluruh tubuh. Awalnya bercak berupa ruam mulus kemerahan lalu berangsur muncul bruntus kasar seperti amplas. Bercak ini biasanya akan hilang selama 7 hari sampai beberapa minggu.

Terapi :
Antibiotik

Komplikasi :
Demam rematik, penyakit ginjal, otitis media (radang telinga tengah), infeksi kulit, abses tenggorokan, pneumonia (infeksi paru), arthritis (radang sendi).

Pencegahan :
cuci tangan dan jangan berbagi alat pribadi seperti alat makan, handuk, atau kain. Anak yang terkena demam skarlet harus izin sekolah paling tidak 24 jam setelah dimulai antibiotik.4,5

Rubella (Campak Jerman/ Campak 3 Hari)

Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan Togaviridae. Penyakit ini ditularkan melalui droplet cairan hidung dan mulut. Masa inkubasi berlangsung 2-3 minggu.

Pada anak gejala yang dialami biasanya ringan dan dicirikan oleh ruam merah disertai bruntus seluruh tubuh, pembengkakan kelenjar getah bening dan demam ringan. Ruam dimulai dari wajah, langsung menyebar di seluruh badan dalam 24 jam dan bertahan sekitar 3 hari. Oleh sebab itu, Rubella disebut campak 3 hari. Masa penularan yaitu 1 minggu sebelum ruam muncul sampai 1 minggu setelah ruam hilang.

Rash_of_rubella_on_back_(crop)

Rubella (CDC)

Terapi :
Suportif
Komplikasi :
Ensefalitis (radang otak), trombositopenia (trombosit rendah)
Pencegahan :
Vaksin MMR (Measles, Mumps, and Rubella)4,6,7

Erythema Infectiosum/Fifth Disease

Erythema Infectiosum ialah penyakit ruam ringan akibat infeksi dari Parvovirus B19. Penyakit ini ditularkan melalui kontak cairan saluran nafas, darah, dan transmisi vertikal dari ibu ke janin.Saat paling menular justru sebelum muncul ruam atau nyeri sendi. Masa inkubasi rata-rata 4-14 hari sampai 21 hari.

Perjalanan penyakit :
Biasanya gejala dimulai dari demam sumeng-sumeng, lemas, nyeri otot, sendi, dan sakit kepala. Sekitar 7-10 hari kemudian muncul ruam merah terang pada pipi yang dinamakan “slapped cheek” karena mirip seperti pipi habis ditampar. Ruam ini disertai pucat disekeliling bibir, ruam merah seperti renda yang gatal di badan lalu menyebar ke lengan, bokong dan paha. Warna merah pada ruam dipengaruhi oleh panas dan cahaya matahari.

Terapi

Terapi hanya bersifat suportif untuk meringankan gejala seperti menurunkan demam, mengurangi nyeri dan gatal.

Pencegahan :
Tidak ada vaksin yang dapat mencegah infeksi ini. Cuci tangan, menggunakan masker, menghindari orang yang sakit atau tinggal dirumah selama sakit dapat mengurangi penularan. 4,8,9

Roseola Infantum (Exanthem Subitum)

Penyebab penyakit ini ialah Human Herpesvirus 6 (HHV-6). Gejala muncul 9 sampai 10 hari setelah anak terinfeksi. Khasnya Roseola ialah demam tinggi 3-5 hari (bisa lebih dari 40oC) yang tiba-tiba turun lalu diikuti ruam merah. Ruam dimulai dari leher dan badan lalu meluas ke wajah serta ekstrimitas. Gejala lain yang mungkin muncul misalnya pembengkakan kelenjar getah bening, keluhan saluran cerna atau saluran nafas, dan radang gendang telinga.

Roseola_rash_edt

Roseola Infantum

Penularan HHV-6 paling sering dari peluruhan virus di sekresi cairan penderita saat tidak bergejala. Saat anak terkena Roseola dan menunjukkan gejala justru tidak menular. Sehingga tidak ada rekomendasi khusus untuk melarang anak ke luar rumah saat gejala timbul dengan alasan takut menularkan.

Terapi :
Bersifat suportif

Pencegahan :
Menjaga higiene dan cuci tangan. Tidak ada vaksin untuk Roseola.

Komplikasi :
Paling sering ialah kejang demam. Komplikasi lain ialah radang otak (ensefalitis), meningitis, dan penurunan trombosit. 4,10

Agustina Kadaristiana, dr. 

08/10/2015

Referensi
1. Lam JM. Characterizing viral exanthems. Pediatr Health. 2010;4(6):623–35.
2. Hayley Gans, MD, Yvonne A Maldonado, MD. Clinical manifestations and diagnosis of measles. 2015 Jul 8;
3. About Measles. CDC [Internet]. 2015 Feb 20; Available from: http://www.cdc.gov/measles/about/index.html
4. Carol J Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Pediatric Infectious Diseases. 2nd ed. USA: American Academy of Pediatrics; 2013.
5. CDC Features – Scarlet Fever [Internet]. [cited 2015 Aug 10]. Available from: http://www.cdc.gov/features/scarletfever/
6. Morven S Edwards, MD. Rubella. Uptodate. 2015 Jul;
7. About Rubella. CDC [Internet]. 2014 Dec 17; Available from: http://www.cdc.gov/rubella/about/index.html
8. Fifth Disease. CDC [Internet]. 2012 Feb 14; Available from: http://www.cdc.gov/parvovirusb19/fifth-disease.html
9. Jeanne A Jordan, PhD. Clinical manifestations and diagnosis of parvovirus B19 infection. Uptodate. 2014 Dec 15;
10. Cécile Tremblay, MD, Michael T Brady, MD. Roseola infantum (exanthem subitum). Uptodate. 2015 Jun 4;

Bisul Karena Makan Telur, Benarkah?

“Ehh jangan sering-sering beri makan anak makan telur! nanti bisul lho”. Mungkin ayah bunda sering mendengar nasihat seperti ini. Tapi tahukah Andah bahwa sebenarnya anggapan itu hanya mitos belaka 🙂

Secara medis, tidak ada hubungan antara anak yang suka telur dengan bisul yang dialaminya. Bisul sebenarnya sejenis peradangan pada kulit yang mengenai folikel rambut dan kelenjar minyak kulit. Penyebabnya infeksi kuman atau bakteri Staphylococcus aureus. Siapapun, usia berapapun, suka telur atau tidak, bisa terkena bisul. Namun, pada anak-anak, bisul lebih sering menyerang dibandingkan dengan orang dewasa.

webmd_rf_photo_of_boils_illustration

Proses Terjadinya Bisul (http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/ss/slideshow-boils)

Bisul dapat menular jika anak dengan luka goresan bersentuhan kulit dengan penderita bisul. Selain itu, kontak tidak langsung dengan penderita bisul juga bisa jadi penyebab. Misalnya, pemakaian handuk bersama, tempat tidur bersama, pakaian, permainan di area publik, kolam renang, dan sebagainya.
Bisul dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yakni: folikulitis, furunkel, furunkulosis, karbunkel, abses multipel, hidraadinitis, dan skrofuloderma. Meski banyak jenisnya, karena prosesnya mirip, orangpun menganggapnya sama. Yakni, sama-sama bisul. Adapun gejala-gejala bisul itu adalah:

  • Gatal di daerah benjolan dan sekitarnya.
  • Rasa nyeri yang menyertai gatal.
  • Berbentuk kerucut dan ‘bermata’. Biasanya mengeluarkan cairan setelah pecah.
  • Berbentuk bulat dan berkubah, tidak bermata, tanpa disertai rasa nyeri. Bisul jenis ini biasanya terdapat pada kelenjar keringat dan agak sulit pecah spontan.
  • Demam.
boils

Bisul (http://www.medicinenet.com/boils/article.htm)

Tiga faktor yang dapat memicu terjadinya bisul:

  1. Kebersihan lingkungan yang kurang baik. Hal ini menyebabkan banyak kuman beredar di sekitar anak. Selain itu, anak yang jarang dimandikan dan tidak dibiasakan membersihkan tubuh juga rentan terkena bisul.
  2. Udara panas. Sebenarnya bisul merupakan penyakit khas daerah tropis. Udara yang panas menjadikan produksi keringat berlebihan. Keringat inilah yang dapat merangsang tumbuhnya bisul, terutama pada bagian kelenjar keringat.
  3. Menurunnya daya tahan tubuh. Diantaranya disebabkan kurang gizi, menderita anemia, kanker, diabetes, dan beberapa kondisi imunodefisiensi.

Meskipun alergi dan bisul tidak punya kaitan langsung, namun alergi dapat memicu bisul. Anak yang alergi, biasanya gatal dan sering menggaruk-garuk. Akibat garukan itu, muncullah luka goresan yang mudah dimasuki kuman. Lalu timbul bisul.

Begitu anak Anda terkena bisul, segera tangani, jangan menunggu hingga bisulnya ‘matang’ dahulu. Jika bisul ditunggu sampai bernanah, dapat memperparah kerusakan jaringan, kulit pun menjadi berongga. Anda tidak dianjurkan memencet bisul, sebab akan membuat kulit ‘trauma’. Dengan perawatan yang benar selama proses pematangan, bisul biasanya akan pecah sendiri. Lakukanlah perawatan di rumah sebelum dan sesudah bisul pecah. Caranya adalah:

Perawatan sebelum bisul pecah:

  • Tetap jaga kebersihan tubuh anak dengan sering memandikan dan mengeramasi
  • Kompres bisul dengan kain bersih yang telah dicelup air hangat
  • Beri obat penahan nyeri dan penurun panas, seperti paracetamol sirup sesuai dosis. Jika perlu,
  • berikan salep hitam (ichtiol) pada bisulnya.
  • Untuk menghindari penularan, bersihkan tangan Anda setelah merawat bisulnya.
  • Jangan memecahkan bisul
670px-Treat-a-Boil-Step-2-Version-2

http://www.wikihow.com/Treat-a-Boil

Perawatan setelah bisul pecah:

  • Pastikan nanah dan mata bisul keluar semua
  • Berikan salep antiseptic
  • Jaga kebersihan kulit agar kuman dari nanahnya tidak merembet ke bagian tubuh lainnya.
  • Bersihkan tangan dan alat-alat yang terkontaminasi setelah merawat bisulnya.

Sebaiknya, segera bawa anak Anda ke dokter jika:

  •  Anak menderita diabetes
  • Bisul ada di wajah, anus, lipat paha, atau sekitar tulang belakang
  • Memicu demam tinggi dan nyeri yang menyiksa. Bengkak atau perubahan warna kulit dekat bisul.
  • Bisul belum pecah setelah seminggu perawatan
  • Terus kambuh beberapa kali dalam waktu singkat.

Depok, 26 Juni 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 12 Juni 2015

Referensi :
1. Ofir Artzi, et al. 2014. Recurrent Furunculosis in Returning Travelers : Newly Defined Entity. Journal of Travel Medicine
2. Selcuk, Aysegul, et al. 2015. Bacterial Skin Infection : Epidemiology and Latest Research. Turkish Journal of Family Medicine and Primary Care.
3. Serap Gunes, et al. 2013. The Prevalence of Pediatric Skin Diseases in Eastern Turkey. International Journal of Dermatology.
4. Balachandra, et al. 2105. Recurrent Furunculosis Caused by a Community Acquired Staphylococcus Aureus Strain. Microbial Drug Resistance Journal
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 143

Gambar awal diambil dari : http://www.webmd.boots.com/children/ss/slideshow-essential-nutrients

Ketahui Serba-Serbi Alergi Pada Anak

Ayah Bunda tentu sudah familiar dengan istilah alergi ini. Seringkali bentuk ‘penampakan’ alergi dan berbagai macam penyebabnya adalah suatu masalah tersendiri ketika dialami. Bayi diare dibilang alergi, gatal di kulit juga alergi, batuk lama dibilang alergi. Bahkan juga mungkin kita pernah mendengar ada yang sampai meninggal juga karena alergi. Jadi alergi itu berada di dalam tubuh sebelah mana ya?

Sekilas tentang alergi

Oleh Tuhan, tubuh kita didesain memiliki sistem pertahanan untuk menghadapi bakteri, virus, atau zat asing yang tidak dikenali tubuh. Sistem pertahanan ini ada dimana-mana dari sistem pernafasan hingga pencernaan. Jika ada benda asing masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan merespon dengan berbagai reaksi. Contohnya adalah demam jika ada bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh dan bersin saat menghirup debu. Semua respon ini sebetulnya respon yang baik untuk mengeluarkan benda asing dari tubuh.

Pada kasus alergi, sistem pertahanan tubuh ini merespon secara berlebihan pada zat asing yang terpapar oleh tubuh. Jadi, zat asing (debu, serbuk sari, dll) yang harusnya dianggap sebagai zat asing normal akan dianggap sebagai zat berbahaya. Sehingga, reaksi pertahanan yang dikeluarkan tubuh pun akhirnya juga berlipat ganda. Makanya, mungkin Anda sering melihat ada anak yang terkena debu hanya bersin sesaat tapi ada juga anak yang sampai bersin dan hidung berair sampai seharian. Semua itu tergantung dari bakat alergi (atau kita menyebutnya dengan atopi) yang dimiliki si anak.

19150

Reaksi Alergi (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19150.htm)

Karena letak sistem pertahanan yang ada di seluruh tubuh, maka tak heran kalau reaksi alergi yang timbul tergantung dengan letaknya, misalnya :

  • Jika di kulit, bentuknya bisa gatal-gatal dengan bentuk biduran, bentol, kemerahan atau bruntus-bruntus
  • Jika letaknya di sistem pernafasan, bentuk alergi yang muncul seperti bersin-bersin, hidung berair, sesak
  • Jika di sistem pencernaan, gejala yang biasa timbul misal diare, muntah, mual, dan nyeri perut.

Karena bentuk reaksi alergi yang muncul ini menyerupai dengan penyakit biasa, memang untuk mengenal mana alergi butuh pengamatan yang cermat. Contohnya, anak yang batuk sudah dua minggu bisa saja disebabkan oleh adanya infeksi paru atau bisa juga alergi dingin. Selain itu, diare juga bisa karena memang ada infeksi virus atau alergi makanan. Wah, jadi bagaimana membedakannya ya, semakin menarik saja ya alergi ini. Yuk kita simak lebih lanjut.

Siapa saja sih yang dapat mengalami alergi ?
Tentunya tidak semua orang mengalami alergi. Jika ayah atau ibu memiliki alergi, kemungkinan si anak mengalami alergi yang serupa lebih besar. Jika di salah satu orang tua ada yang memiliki alergi, maka kemungkinan si anak sekitar 15 – 30% dapat memiliki alergi. Sedangkan kemunkinan ini meningkat menjadi 50 – 75 % jika kedua orang tua memiliki alergi juga. Bisa juga ketika anak memiliki alergi makanan di masa bayi, kemungkinan dia terkena asma ketika beranjak dewasa juga besar. Singkatnya, orang yang rentan alergi dipengaruhi oleh keturunan keluarga dan riwayat alergi sebelumnya.

Apakah itu Atopi ?
Pada anak dengan kecenderungan alergi yang kuat, dikenal istilah derap atopi, suatu istilah untuk menggambarkan perjalanan gejala alergi dari bayi hingga dewasa. Anak dengan atopi pada masa bayi cenderung mengalami alergi makanan dengan gejala kemerahan di pipi atau diare. Kemudian, begitu menginjak sekitar usia 3-5 tahun alergi makanan ini hilang dan diganti dengan timbulnya gejala asma sampai menginjak dewasa. Nah, ketika menginjak usia remaja sampai dewasa gejala asma ini berubah menjadi urtikaria (biduran) dan rhinitis (hidung gatal dan meler, bersin di pagi hari, mata merah berair). Namun, perlu diingat lagi bahwa perjalanan alergi ini tidak sama di setiap individu. Ada yang tidak pernah asma, hanya rhinitis saja. Ada juga yang sejak kecil hingga dewasa asma, dsb.

figure1

Derap Atopi (http://www.worldallergy.org/professional/allergic_diseases_center/allergic_march/)

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah anak saya memiliki bakat alergi atau tidak ?
Penentuan apakah seseorang alergi sebenarnya bisa didapatkan dokter dari hasil anamnesis dan pemeriksaan. Selain itu, terdapat beberapa tes yang biasa dilakukan untuk membantu penentuan alergi/tidak:

  1. Skin prick test, dengan menusuk-nusukkan jarum yang mengandung sedikit alergen (zat yang dapat memicu alergi) untuk melihat reaksi kulit yang terjadi.
  2. Intradermal test, dengan menyuntikkan zat yang dicurigai penyebab alergi dalam dosis yang aman. Dilihat apakah timbul reaksi penanda alergi atau tidak.
  3. Patch test, dengan menempelkan sejenis plester yang mengandung alergen lalu melihat reaksi yang terjadi pada kulit.
  4. Melakukan pengukuran kadar serum IgE total.
    IgE merupakan salah satu antibodi (bagian dari sistem pertahanan tubuh) yang berperan dalam reaksi alergi yang dimediasi oleh antibodi ini. IgE total akan meningkat ketika mengalami alergi. Diperlukan pengambilan darah untuk memeriksakan serum IgE ini.
  5. Melakukan pengukuran kadar serum IgE alergen spesifik
    Pemeriksaan ini lebih khusus dibanding pemeiksaan serum IgE total karena akan didapatkan jumlah IgE untuk jenis alergen tertentu. Dalam sekali pengambilan darah, dapat diperiksakan reaksi terhadap beberapa macam alergen. Hasil akhirnya dapat dilihat pada jenis makanan/zat apakah seseorang alergi.
  6. Food elimination diets, dilakukan dengan tidak mengkonsumsi makanan/zat/obat tertentu yang dicurigai menyebabkan alergi. Jika gejala membaik, kemungkinan besar makanan/obat/zat tersebut adalah penyebab alergi.
  7. Oral food challenges, tes ini harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat karena memasukkan makanan/zat yang dicurigai penyebab timbulnya alergi beresiko timbul reaksi alergi yang berbahaya yakni syok anafilaksis.

Pengobatan Alergi

Jika seseorang mengalami alergi, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menghindari zat penyebab alergi itu sendiri. Adapun jika memang harus diberikan obat maka yang biasa diberikan adalah obat-obatan dari golongan antihistamin, yakni jenis obat yang menangkal histamin, suatu zat yang timbul akibat reaksi alergi dan menyebabkan gejala alergi. Selain itu, dokter mungkin akan mempertimbangkan memberi kortikosteroid pada alergi yang lebih berat.

Metode pengobatan yang disebut desensitisasi juga dapat digunakan untuk jenis alergi tertentu. Desensitisasi ini berarti dengan sengaja memaparkan diri pada suatu alergen agar tubuh ‘belajar’ menjadi kuat terhadap alergen tersebut sehingga tidak lagi timbul reaksi alergi. Konsultasi pada dokter terlebih dahulu diperlukan sebelum menjalani metode ini.

Jadi, dengan gejala alergi yang bervariasi dari ringan hingga berat, penting bagi kita mengetahui riwayat alergi setiap anggota keluarga sehingga orangtua bisa lebih berhati-hati memilih bahan makanan, memilih lokasi dan cuaca ketika hendak berpergian, lebih apik membersihkan debu di rumah dan juga lebih informatif memberikan keterangan pada dokter ketika berobat. Semoga bermanfaat. 🙂

Penulis : Irma Susan Kurnia, dr. 

Editor : Rara Ayuningtyas Pramudita

Modifikasi terakhir : 05/21/2015

Referensi

  1. Allergy Trigers.2014. Available from : http://www.webmd.com/allergies/guide/allergy-triggers
  2. The Allergic March.2007. Available from : http://www.worldallergy.org/professional/allergic_diseases_center/allergic_march/
  3. Bayer JA, Assa’ad A, Jones SM, et al. Guidelines for The Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States : Report of the NIAID-Sponsored Expert Panel. Journal Allergy Clinical Immunology. 2010
  4. Gupta RS, Lau CH,Dyer AA, et al. Food Allergy Diagnosis and Management Practices Among Pediatricians. Clinical Pediatrics.2014 ;53:524.

Depresi Pada Ibu Rumah Tangga

Apakah ibu seorang ibu rumah tangga? Apakah ibu pernah mengalami perasaan seperti terjebak dalam rutinitas pekerjaan rumah tangga yang membosankan? Ibu tidak sendiri. Menurut survey yang dilakukan oleh Gallup1, ibu rumah tangga mempunyai kecenderungan untuk merasa cemas, marah dan sedih berkepanjangan sepanjang hari dibandingkan ibu yang bekerja. Mereka cenderung merasa tidak berguna, terisolasi dari masyarakat, dan terpenjara di dalam rumah2,3.

Perasaan ini wajar dirasakan ibu rumah tangga, terutama mereka yang baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja. Namun jika dibiarkan berlarut-larut, perasaan ini bisa berkembang menjadi depresi. Menurut Stoudenmire4, empat faktor utama yang mengakibatkan depresi pada ibu rumah tangga adalah:

  1. Kemarahan yang tertahan. Pada umumnya, depresi berhubungan dengan kemarahan yang tidak tersalurkan. Pada ibu rumah tangga, kemarahan ini berhubungan dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga. Perasaan ini bisa disebabkan oleh kebencian pada anak-anaknya yang menjadi penyebab ibu harus diam di rumah dan mengharuskan ibu memberikan waktu dan energi untuk mereka.

  2. Merasa diri tidak menarik. Ibu rumah tangga yang terkena depresi umumnya memiliki pandangan negatif pada penampilan fisiknya dan merasa malu dengan keadaan fisiknya.

  3. Ketiadaan peristiwa yang menarik dalam kehidupannya. Mereka yang terkena depresi pada umumnya merasa kehidupannya membosankan, tidak menarik, dan tidak menyenangkan. Mereka tidak menemukan kesenangan, tantangan, dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-harinya. Pada ibu rumah tangga, kehidupan sehari-harinya melibatkan pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan kegiatan-kegiatan yang selalu berhubungan dengan kebutuhan orang lain. Pada sebagian orang, rumah yang rapih, anak yang ceria, dan suami yang merasa bahagia bisa memberikan kepuasan jiwa. Akan tetapi, pada sebagian yang lain, pemenuhan kebutuhan orang lain menyebabkan ibu menelantarkan kebutuhan dirinya sendiri yang pada akhirnya bisa menyebabkan depresi.

  4. Merasa diri tidak berarti dan tidak berharga. Ibu rumah tangga umumnya merasa inferior dan merasa mempunyai ketergantungan tinggi, dalam hal ini secara finansial kepada suami. Pada umumnya, manusia cenderung membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain. Pada orang yang terkena depresi, mereka cenderung merasa lebih rendah daripada orang lain. Mereka merasa diri mereka gagal.

Gejala-gejala depresi

Depresi merupakan muara dari emosi-emosi negatif yang tidak tersalurkan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa tanda-tanda depresi yang harus diperhatikan jika ibu terus-menerus mengalaminya5.

  • Sulit berkonsentrasi dan mengingat

  • Merasa tidak berguna dan tidak berdaya

  • Merasa sedih berkepanjangan dan cemas

  • Sulit tidur (insomnia) atau tidur terus menerus

  • Mudah marah

  • Merasa tidak dipedulikan oleh orang lain

  • Merasa tidak ada harapan baik dalam hidup

  • Tidak lagi mempunyai ketertarikan pada hobi dan aktivitas yang biasanya disukai (ahedonia)

  • Tidak berselera makan atau makan terus menerus

  • Merasa ingin menghilang dari kehidupan

  • Cepat merasa lelah, tidak merasa fit di pagi hari

  • Kenaikan atau penurunan berat mendadak (perubahan lebih dari 5% berat badan dalam sebulan)

  • Terkadang manifestasi fisik juga muncul sebagai akibat dari depresi seperti rasa sakit di otot, sakit kepala, kram, masalah pencernaan yang tidak membaik dengan pengobatan

143919742_super_housewife_gettyimages_17rtpuj-17rtpv2

(sumber : https://au.lifestyle.yahoo.com)

Faktor-faktor resiko depresi pada ibu rumah tangga

Berdasarkan sebuah studi6, depresi pada ibu rumah tangga didorong oleh kebutuhan setiap manusia akan pengakuan dan merasa dihargai. Manusia juga cenderung membutuhkan tantangan dan stimulasi baru. Perasaan tidak mendiri dalam hal keuangan juga menjadi salah satu faktor resiko ibu rumah tangga mengalami depresi. Beberapa faktor resiko yang meningkatkan peluang ibu rumah tangga mengalami depresi ialah7,8,9:

  • Mempunyai riwayat depresi

  • Pendapatan keluarga yang relatif rendah

  • Merasa tidak puas dengan peran sebagai ibu rumah tangga

  • Hubungan sosial dengan teman dan keluarga yang tidak terlalu baik

  • Memiliki anak usia dini

  • Memiliki beberapa anak usia dini dengan jarak yang relatif berdekatan. Penelitian menunjukkan semakin banyak jumlah anak berusia dini, semakin tinggi peluang ibu terkena depresi6.

  • Memiliki pendidikan yang relatif tinggi

  • Pernah mempunyai pekerjaan yang sangat disukai sebelumnya

Penelitian7 melaporkan bahwa faktor paling penting untuk mencegah depresi pada ibu rumah tangga adalah penerimaan dan kepuasan akan perannya. Faktor-faktor yang umumnya disukai dan tidak disukai oleh seorang ibu rumah tangga bisa disarikan pada poin-poin berikut.

Hal-hal yang disukai:

  • Keamanan dan kestabilan

  • Kepuasan sebagai seorang ibu

  • Kepuasan dalam keluarga

  • Kepuasan sebagai istri

  • Pekerjaan rumah tangga

  • Kepuasan mengerjakan hobi yang disukai

  • Keluangan waktu

  • Otonomi pengaturan waktu sehari-hari

Hal-hal yang tidak disukai:

  • Pekerjaan rumah tangga

Pekerjaan rumah tangga bisa menjadi salah satu pemicu depresi pada ibu rumah tangga karena pekerjaan tersebut merupakan rutinitas yang tidak pernah selesai dan akan selalu ada. Ketika ibu rumah tangga tidak bisa menyukai pekerjaan tersebut, mereka cenderung tidak puas dengan perannya sebagai ibu rumah tangga sementara mereka yang menyukai pekerjaan tersebut, merasakan kepuasan sebagai ibu rumah tangga dan cenderung kebal terhadap depresi.


depresi 4(Sumber: healthxwellness.com)

Bagaimana mengatasi depresi?

Jika ibu merasa salah satu gejala-gejala depresi di atas, maka segeralah ambil tindakan untuk mengatasinya. Jika dibiarkan berlarut-larut, keadaan ini bisa berujung menjadi depresi yang berpotensi mengganggu keberlangsungan dan kebahagiaan hidup berkeluarga. Selain itu, hal ini juga meningkatkan resiko rusaknya sel-sel otak yang mengatur ingatan, kecerdasan dan konsentrasi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan di antaranya adalah:

  • Bicarakan apa yang dirasakan pada pasangan

  • Bicaralah pada teman yang bisa dipercaya dan bisa mengerti kondisi ibu

  • Berolahraga, olahraga terbukti bisa membantu melawan depresi

  • Kunjungi dokter yang bisa dipercaya. Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan mental pribadi dan keluarga. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi depresi, tidak membutuhkan tes darah, X-ray, atau tes lab lain. Akan tetapi, tes darah mungkin dilakukan untuk mengeliminasi penyakit lain yang memiliki gejala menyerupai depresi seperti hipothyroid, kecanduan alkohol, kecanduan obat-obatan, dan stroke.

  • Jika menemukan gejala depresi, rujukan akan diberikan untuk mengunjungi tenaga kesehatan spesialis untuk pengobatan seperti psikoterapis. Obat-obatan anti depresant juga mungkin diberikan jika memang dibutuhkan. Untuk ibu yang hamil atau menyusui, dokter akan menyesuaikan obat-obatan yang diberikan sehingga aman untuk ibu dan anak.

depresi5
(Sumber: nzecochick.com)

Agar tidak terjatuh ke dalam jurang depresi

Kecenderungan depresi ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi setiap ibu rumah tangga yang menghadapi berbagai tantangan yang berbeda-beda dalam kesehariannya. Ada beberapa cara yang bisa ibu lakukan untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik di antaranya adalah10:

  • Selalu mandi dan mempersiapkan diri di pagi hari seakan-akan ibu akan bekerja hari itu. Hal ini akan membuat ibu merasa segar dan siap menghadapi kegiatan sehari-hari dengan percaya diri.

  • Jangan sia-siakan waktu dengan melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat seperti nonton televisi. Ibu bisa menggunakan waktu menonton untuk membaca buku, mempelajari keahlian baru, berjalan-jalan santai di luar, membacakan buku pada anak, mengunjungi kawan atau keluarga dan kegiatan lain yang membuat ibu merasa lebih bahagia.

  • Susunlah jadwal harian. Dengan memiliki jadwal harian, ibu akan mempunyai perkiraan apa saja kegiatan yang akan dilakukan setiap hari sehingga ibu bisa menyelesaikan pekerjaan domestik dalam waktu yang diinginkan. Selain itu ibu bisa menemukan waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan di luar pekerjaan domestik.

  • Ubah kebiasaan ibu, lakukan hal yang baru. Ketika ibu merasakan emosi negatif yang mengarah pada depresi, cobalah lakukan hal yang baru, sesederhana apapun itu seperti janji makan siang dengan suami atau teman.

  • Jika ibu merasa kurang dihargai sebagai ibu rumah tangga, bicarakanlah perasaan ibu pada pasangan.

  • Ibu bisa mempertimbangkan untuk mengambil kursus atau hobi baru untuk mendongkrak rasa kepercayaan diri dan kepuasan dalam hidup.

  • Rawatlah diri ibu dengan baik dengan berolahraga dan menjaga konsumsi makanan bergizi.

  • Kembangkan jaringan sosial ibu. Salah satu hal yang dipercaya sebagai pendukung kesehatan mental ibu bekerja di antaranya adalah hubungan sosialnya dengan teman sekantor dan atasan. Ibu rumah tangga bisa memperoleh dukungan sosial yang sama dari teman dalam perkumpulan atau kegiatan lain yang dilakukan di luar rumah.

Alternatif lain yang bisa menjadi jalan tengah antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja adalah bekerja paruh waktu. Penelitian6 memaparkan ibu yang bekerja paruh waktu cenderung mempunyai gejala depresi yang lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Mereka juga beresiko lebih rendah menghadapi konflik keluarga-pekerjaan dibandingkan ibu yang bekerja. Pada masa-masa usia dini, ibu yang bekerja paruh waktu dilaporkan paling terlibat dalam kehidupan sekolah anak-anaknya karena mereka mempunyai keluangan waktu dibandingkan ibu yang bekerja dan energi dan emosi yang lebih positif dibandingkan ibu rumah tangga. 

Hanifah Widiastuti, PhD (artikel telah direview oleh Tim Dokter)

SUMBER:

  1. http://www.gallup.com/poll/154685/Stay-Home-Moms-Report-Depression-Sadness-Anger.aspx?utm_source=alert&utm_medium=email&utm_campaign=syndication&utm_content=morelink&utm_term=All%20Gallup%20Headlines

  2. Mostow, E. and Newberry, P. 1975. Work Role and Depression: A comparison of Workers and Housewives in Treatment. American Journal of Orthopsychiatry, 45(4): 538-548

  3. Repetti, R., Matthews, K., and Waldron, I. 1989. Employment and Women’s Health: Effects of Paid Employment on Women’s Mental and Physical Health. American Psychologist, 44(11): 1394-1401

  4. Stoudenmire, J. 1976. The Role of Religion in the Depressed Housewife. Journal of Religion and Health, 15(1): 62-67

  5. http://www.webmd.com/depression/guide/detecting-depression

  6. Buehler, Cheryl and O’Brien, Marion. 2011. Mothers’ Part-Time Employment: Associations With Mother and Family Well-Being. Journal of Family Psychology, 25(6): 895-906

  7. Shehan, C. L. Burg, M. A., and Rexroat, C. A. 1986. Depression and the Social Dimensions of the Full-Time Housewife Role. The Sociological Quarterly, 27(3): 403-421

  8. Weissman, M., Pincus, C., Redding, N., Lawrence, R., and Siegel, R. 1973. The Educated Housewive: Mild Depression and the Search for Work. American Journal of Orthopsychiatry, 43(4): 565-573

  9. Radloff, L. 1975. Sex Differences in Depression: The Effects of Occupation and Marital Status. Sex Roles, 1(3): 249-265

  10. http://www.familylife.com/articles/topics/life-issues/challenges/depression/beating-depression-as-a-stay-at-home-mom#.VDfyPimSx68