Tag Archives: SIDS

9 Alasan Ini Membuat Anda Ingin Berhenti Merokok

Seringkali kita dibuat frustasi saat mengajak pasangan, keluarga, atau orang lain untuk berhenti merokok padahal mereka sudah tahu bahayanya. Sama halnya dengan yang dialami perokok ketika ingin berhenti tetapi sulit untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Lalu bagaimana solusinya?

Pahami Mengapa sulit melepaskan diri dari rokok
Saat pertama mulai merokok, orang biasanya tidak sadar dan merasa rokok membahayakan tubuh mereka. Iklan rokok, media, internet atau film secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa merokok itu keren, dewasa, gagah dan glamor. Bayangkan saja, rokok tampil di 2 dari 3 film hit box office tahun 2005 dan lebih dari sepertiganya film remaja. Padahal perlahan-lahan rokok menggerogoti tubuh mereka. Sebab itu lah rokok disebut “gradual killer” oleh WHO. Pasalnya saat perokok merasakan gejala penyakit, mereka sudah terlanjur kecanduan nikotin.1–3

Tidak heran mengapa perokok mudah menjadi pecandu. Nikotin yang terdapat dalam rokok memiliki dapat mengaktivasi reseptor di otak untuk melepaskan dopamin yang menyebabkan adiksi. Selain itu, nikotin dapat menstimulus psikomotor sehingga pemakainya merasakan peningkatan performa otak dan konsentrasi. Namun, tubuh kita amat cepat kebal dengan efek stimulan ini. Sehingga perokok kronis dapat tidak merasakan peningkatan stimulus tadi. 3

Adiksi Nikotin (http://jerushaellis.ca/illustrations/nicotine-addiction-and-your-brain/)

Adiksi Nikotin (http://jerushaellis.ca/illustrations/nicotine-addiction-and-your-brain/)

Banyak juga yang bilang bahwa merokok dapat menenangkan. Padahal, hanya sedikit bukti penelitian yang menyebutkan nikotin memiliki efek meditasi, perbaikan mood, dan manajemen stress. Salah satu penjelasan mengapa perokok merasa tenang dengan merokok ialah gejala penarikan nikotin. Saat tidak merokok, perokok mulai mengalami gangguan mood dan performa dalam beberapa jam. Sehingga mereka tidak bisa lama-lama dari rokok. 3

Pikirkan hal ini sebelum merokok
Kita paham bahwa berhenti merokok butuh keberanian dan tekad yang kuat melawan efek kecanduan nikotin. Seperti kata pepatah “musuh paling besar ialah diri sendiri”. Sehingga butuh dukungan dan kesabaran dari lingkungan untuk membantu keluar dari rokok. Bagi perokok, coba Anda pikirkan hal-hal ini sebelum menyulutkan rokok anda..

  • Merokok tidak akan membuat Anda gagah. Sebaliknya, merokok dapat merusak seluruh organ dalam tubuh dan memperpendek usia anda. Fakta nya, rokok membunuh separuh dari penggunanya sekitar 6 juta orang per tahun. Berikut adalah ilustrasi penyakit yang disebabkan oleh rokok. 4,5
Penyakit yang disebabkan rokok (http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/)

Penyakit yang disebabkan rokok (http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/)

  • Rokok dapat membuat Anda lemah. Ingin tubuh atletis atau six pack ?Hindari rokok sekarang juga. Faktanya zat dari rokok dan mediator inflamasi meningkatkan pemecahan protein dan menghambat sintesis protein. Hal ini menyebabkan penurunan masa otot. Selain itu rokok dapat mengurangi mineral tulang dan meningkatkan kejadian osteoporosis (pengeroposan tulang)6–8
  • Merokok dapat menurunkan ‘keperkasaan’ Anda dan menyebabkan infertil. Mungkin Anda tidak percaya dengan hal ini karena melihat orang lain bisa memiliki anak meskipun merokok. Tetapi berbagai penelitian membuktikan bahwa merokok dapat berdampak negatif bagi hampir semua sistem yang terlibat dalam reproduksi. Penelitian menyebutkan bahwa pada orang yang merokok jumlah dan kualitas spermanya jauh lebih rendah daripada yang tidak merokok. Rokok juga dapat meningkatkan kejadian disfungsi ereksi yang signifikan bagi pemakainya. 9,10
  • Meningkatkan performa otak dengan merokok? Yakin? Penelitian menemukan bahwa pada pertengahan umurnya, perokok berat memiliki resiko 2x lipat mengalami Alzheimer’s atau bentuk lain dari dementia. Alzheimer’s merupakan penyakit degeneratif yang dapat menurunkan fungsi kognitif otak secara drastis.11
  • Merokok tidak akan membuat Anda glamor. Pencitraan yang dibuat oleh iklan ternyata tidak sesuai dengan fakta lapangan. Menurut WHO, 80% perokok tinggal di negara miskin dan menengah. Bahkan, masyarakat di negara maju sudah mulai meninggalkan rokok.4,12 Sebaliknya, berhenti merokok dapat menghemat uang sekitar Rp. 7.380.000 per tahun. Matematika rokok :
    Rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari di Indonesia =12,3 batang/hari13
    Harga rokok/bungkus = Rp.20.000,-
    Harga rokok 1 tahun = 1.025 bungkus x Rp. 20.000,- x 360 hari = Rp. 7.380.000,
Money rolled up in cigarette box, close-up

Uang dan Rokok (http://www.iyaa.com/berita/nasional/umum/1367205_1124.html)

“Badan ini kan urusan saya, terserah dong saya mau merokok atau tidak”. Bila anda masih berpikir demikian, coba pikirkan orang-orang yang anda sayangi di sekitar Anda. Karena faktanya…

  • Anda dapat meningkatkan resiko kematian bayi mendadak atau SIDS (Suddan Infant Death Syndrome) bila merokok. Terlebih lagi bila ibu yang merokok saat hamil. Resiko SIDS 17x lipat lebih tinggi pada bayi yang tidur dalam satu alas dengan ibu yang merokok. 14,15
  • Bila Anda merokok, 23-29% kemungkinan anak anda juga akan merokok. Siapkah Anda melihat buah hati Anda mengikuti jejak Anda merokok saat ia remaja?16
  • Sejak tahun 1964, 2.500.00 orang yang tidak merokok juga meninggal akibat penyakit dari terpapar asap rokok (secondhand smoke). Jadi bukan hanya diri anda yang terkena bahaya rokok tetapi anak-anak, pasangan, keluarga, atau teman di sekitar Anda yang ikut dirugikan. 17
Efek Perokok Pasif Anak Efek Perokok Pasif  Dewasa
SIDS (Kematian mendadak bayi)
Infeksi telinga
Serangan asthma
Gangguan saluran nafas (batuk, bersin, sesak)
Infeksi saluran nafas (bronkitis, pneumonia)
Penyakit jantung
Kanker paru
Stroke, dll
  • Bekas dari rokok juga berbahaya. Tahukah Anda bahwa setelah merokok anda meninggalkan toksin yang sulit dibersihkan? Istilah ini dinamakan thirdhand smoke. Zat nitrossamine yang menempel pada perkakas, kursi, dan ruangan setelah anda merokok ternyata bersifat karsinogen kuat yang dapat menyebabkan kanker. Bila terpapar anak-anak, dampaknya bisa serius. 18
Thirdhand Smoke (https://electrodry-seohacker.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2014/05/second-hand-smoke.jpg)

Thirdhand Smoke (https://electrodry-seohacker.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2014/05/second-hand-smoke.jpg)

Jadi setelah menghitung untung-ruginya, masihkah Anda mau merokok? Kesulitan yang anda alami ketika berusaha berhenti merokok akan terbayar saat anda mencoba dan berhasil.

Agustina Kadaristiana, dr.

Modifikasi Terakhir : 06/04/2015

Referensi

  1.  We know it can kill us: Why people still smoke – CNN.com [Internet]. CNN. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.cnn.com/2014/01/11/health/still-smoking/index.html
  2. Why do people start smoking? Am Cancer Soc. 2014 Feb 13;
  3. Jarvis MJ. Why people smoke. BMJ. 2004 Jan 29;328(7434):277–9.
  4. WHO | Tobacco [Internet]. WHO. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs339/en/
  5. Health CO on S and. Smoking and Tobacco Use; Fact Sheet; Health Effects of Cigarette Smoking [Internet]. Smoking and Tobacco Use. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/
  6. Abate M, Vanni D, Pantalone A, Salini V. Cigarette smoking and musculoskeletal disorders. Muscles Ligaments Tendons J. 2013 Jul 9;3(2):63–9.
  7. Degens H, Gayan-Ramirez G, van Hees HWH. Smoking-induced Skeletal Muscle Dysfunction. From Evidence to Mechanisms. Am J Respir Crit Care Med. 2015 Jan 12;191(6):620–5.
  8. Petersen AMW, Magkos F, Atherton P, Selby A, Smith K, Rennie MJ, et al. Smoking impairs muscle protein synthesis and increases the expression of myostatin and MAFbx in muscle. Am J Physiol – Endocrinol Metab. 2007 Sep 1;293(3):E843–8.
  9. Cao S, Yin X, Wang Y, Zhou H, Song F, Lu Z. Smoking and risk of erectile dysfunction: systematic review of observational studies with meta-analysis. PloS One. 2013;8(4):e60443.
  10. Mostafa T. Cigarette smoking and male infertility. J Adv Res. 2010 Jul;1(3):179–86.
  11. Cataldo JK, Prochaska JJ, Glantz SA. Cigarette smoking is a risk factor for Alzheimer’s disease: An analysis controlling for tobacco industry affiliation. J Alzheimers Dis JAD. 2010;19(2):465–80.
  12. harry. April 2015, Harga Rokok Bakal Naik Jadi Rp. 20 Ribu per Bungkus [Internet]. Jakartakita.com. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://jakartakita.com/2015/03/15/april-2015-harga-rokok-bakal-naik-jadi-rp-20-ribu-per-bungkus/
  13. Prof Tjandra Yoga Aditama. Data Rokok. Depkes [Internet]. 2014 Jun 3; Available from: http://www.litbang.depkes.go.id/berita-data-rokok
  14.  Syndrome TF on SID. SIDS and Other Sleep-Related Infant Deaths: Expansion of Recommendations for a Safe Infant Sleeping Environment. Pediatrics. 2011 Oct 17;peds.2011–284.
  15. Blank Layout Test [Internet]. WebMD. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.webmd.com/modules/sponsor-box
  16. Vuolo M, Staff J. Parent and Child Cigarette Use: A Longitudinal, Multigenerational Study. Pediatrics. 2013 Aug 5;peds.2013–0067.
  17. Health CO on S and. Smoking and Tobacco Use; Fact Sheet; Secondhand Smoke [Internet]. Smoking and Tobacco Use. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/secondhand_smoke/general_facts/
  18. Matt GE, Quintana PJE, Destaillats H, Gundel LA, Sleiman M, Singer BC, et al. Thirdhand Tobacco Smoke: Emerging Evidence and Arguments for a Multidisciplinary Research Agenda. Environ Health Perspect. 2011 Sep;119(9):1218–26.

Pentingnya Mengetahui Kiat Tidur yang Aman Bagi Anak

Orang tua sekalian mungkin pernah mendengar isu mengenai resiko berbagi tempat tidur bersama anak (bed-sharing) terhadap kematian mendadak pada bayi (Sudden infant death syndrome/SIDS). Tentunya hal ini bisa membuat galau terutama para ibu yang berusaha memberi ASI ekslusif. Bagaimana tidak? Kelelahan yang melanda ibu paska melahirkan ditambah lagi harus menyusui si kecil saat terbangun tiap malam membuat ibu sering tertidur bersama bayi. Apalagi tidur bersama bayi dalam satu kasur sudah menjadi kebiasaan dan bagian dari budaya kita. Namun, tahukah bunda bahwa berdasarkan penelitian, bed-sharing ternyata bisa meningkatkan resiko SIDS? Hal ini mendorong American Association of Pediatrics (2011) agar orang tua tidak melakukan bed-sharing. Kampanye AAP ini menimbulkan kontroversi di berbagai kalangan termasuk medis.(1) Tetapi tidak perlu khawatir ya, kali ini tim Doctormums akan mencoba mengupas tuntas mengenai kiat tidur yang aman bayi dan cara menengahi isu pro-dan kontra pada masalah ini..

Sekilas mengenai SIDS

  • SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) ialah kematian mendadak pada anak di bawah 1 tahun yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh termasuk autopsi lengkap, penyidikan tempat kematian dan penelusuran riwayat medis.(2)
  • SIDS menjadi penyebab utama kematian pada bayi usia 1-12 bulan di Amerika Serikat. Sedangkan di Inggris dan Wales hampir 250 bayi meninggal karena SIDS setiap tahunnya. Bila dibandingkan dengan negara barat, insidensi SIDS di Asia memang lebih rendah yaitu sekitar 0,04 per 1000 kelahiran hidup per tahun (dibandingkan dengan 0,6/1000 kelahiran hidup per tahun di Amerika).(3,4)
  • Berdasarkan penelitian NICHD, 90% SIDS terjadi pada bayi kurang dari 6 bulan. Rata-rata SIDS terjadi saat bayi berusia 11 minggu dengan puncaknya di usia 2-4 bulan. Hanya sekitar 2% SIDS terjadi pada bayi di atas 9 bulan.(5)

Apa Penyebab dari SIDS?
Sampai saat ini SIDS belum diketahui penyebabnya. Namun, berbagai penelitian telah dilakukan dengan metode yang terpercaya (baik metode observasi atau case-control). Berdasarkan penelitian tersebut, didapatkan hasil yang konsisten mengenai faktor resiko dari SIDS :(2)

Faktor orangtua :

  • Ibu usia muda (5)
  • Ibu merokok saat hamil atau setelah melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa pada bayi yang ibunya merokok, respons kardiovaskular dan kewaspadaannya abnormal terhadap stimulus CO2 dan O2.(6–11)
  • Ibu mengkonsumsi alkohol. Pada penelitian populasi dengan metode case-control, SIDS berhubungan secara signifikan terhadap konsumsi alkohol ibu sebelum konsepsi (6,2x) dan trimester pertama (8,2x). (12)
  • Ibu mengkonsumsi narkoba. Pada satu laporan ditemukan peningkatan 5x lipat resiko SIDS pada ibu yang mengkonsumsi narkoba di Los Angeles. Namun, mekanismenya belum ditemukan secara pasti apakah berasal dari efek biologi obat pada janin, prematuritas atau perilaku ibu. (13)
  • Ibu terlambat atau tidak melakukan pemeriksaan kehamilan (prenatal care/PNC)(2)

Faktor resiko SIDS (http://www.waraqat.net/2009/06/baby_3.jpg)

Faktor anak dan lingkungan :

  • Bayi prematur atau berat badan rendah. Bayi prematur memiliki resiko terhadap SIDS yang lebih tinggi daripada bayi yang cukup bulan. Terlebih lagi bila bayi tersebut memiliki berat badan rendah atau sangat rendah resikonya meningkat sampai 3-4x lipat dibandingkan bayi cukup bulan. (14)
  • Bayi tidur dengan posisi tengkurap. Beberapa penelitian case-control menyebutkan bahwa posisi tengkurap dapat meningkatkan resiko SIDS dari 2,4-13,1 x lipat dibandingkan dengan telentang. Studi lanjutan juga mendukung temuan ini dimana SIDS berkurang di beberapa negara setelah kampanye tidur terlentang. Menghindari tidur dengan posisi miring juga dapat mengurangi resiko SIDS. Hal ini disebabkan kemungkinan bayi berguling ke posisi tengkurap lebih besar daripada terlentang saat tidur dengan posisi miring. (2,15–19)
  • Bayi tidur pada permukaan yang lembut dengan berbagai asesoris seperti selimut dan bantal. Beberapa penelitian case-control menemukan bahwa resiko SIDS meningkat 5x lipat pada bayi yang tidur di permukaan yang lembut. Resiko ini meningkat menjadi 21x lipat bila bayi tidur dalam posisi telungkup. Asesoris tidur lain seperti sofa, kasur serat alami, selimut, bantal juga meningkatkan resiko SIDS sampai 5x lipat tanpa dipengaruhi oleh posisi tidur. (20,21)
NoSoftSurfaces_HR

Asesori Tidur yang Tidak Aman (http://www.sidsandkids.org/wp-content/uploads/NoSoftSurfaces_HR.jpg)

 

  • Bed-sharing atau tidur satu kasur bersama orang dewasa. Pada penelitian meta-analisis, resiko SIDS berbagi tempat tidur dengan bayi lebih besar 2,89x dibandingkan dengan yang tidak. Resiko ini meningkat pada bayi kurang dari 3 bulan (resiko 10,37x) atau pada ibu yang merokok (resiko 6,27x). Hasil yang serupa juga ditemukan dari meta-analisis yang melibatkan 1472 kasus SIDS dan 4679 kontrol di Inggris, Eropa dan Australasia. Bila bed-sharing ditambah dengan faktor resiko lain seperti menyusui dari botol, orang tua merokok dan minum alkohol, resiko SIDS bisa meningkat 15x lipat. Tidur bersama bayi di sofa atau di kasur dengan tambahan bantal, selimut juga bisa meningkatkan SIDS. Selain itu, semakin banyak orang yang berbagi kasur dengan bayi, semakin besar resiko SIDS.(2,22,23)
  • Overheating/ bayi terpapar panas berlebihan

Bed Sharing (http://www.abc.net.au/parenting/parenting_in_pictures/images/wrapping_newborn_1.gif)

Bagaimana mekanisme terjadinya SIDS?

SIDS diduga terjadi karena kombinasi tiga faktor : faktor pencetus eksternal, disfungsi/belum matanya fungsi jantung-pernafasan dan sistem kewaspadaan (arousal) bayi. Kombinasi dari faktor-faktor ini menyebabkan kegagalan respon perlindungan bayi terhadap lingkungan yang menyebabkan kematian.(1)

model SIDS (AAP,2011)

Lalu bagaimana mencegah SIDS?
Meskipun ancaman SIDS ini menakutkan, ternyata sebagian besar dari faktor resiko SIDS bisa dimodifikasi. Artinya, dengan mengubah kebiasaan dan perilaku, orang tua dapat melindungi bayi dari ancaman kematian mendadak pada bayi. (2,24,25)

Usaha Ibu:

  1. Lakukan pemeriksaan kehamilan (prenatal care) secara berkala pada ibu hamil
  2. Hindari paparan bayi terhadap rokok baik dari sejak di kandungan sampai lahir
  3. Berhenti konsumsi alkohol dan narkoba bagi orang tua

Pencegahan dari faktor bayi :

  • Jauhkan asesoris tidur bayi yang lunak seperti selimut, bantal dan boneka dari tempat tidur bayi. Kepala bayi harus dibiarkan terbuka (tanpa penutup). Jika selimut digunakan, pilih selimut yang tipis, kaki bayi harus diletakkan pada permukaan ujung boks bayi dan selimut harus diselipkan ke sisi-sisi tempat tidur untuk menghindari tertutupnya wajah bayi dengan selimut.
  • Car seat, stroller dan gendongan bayi tidak direkomendasikan sebagai tempat yang rutin untuk tidur di rumah atau rumah sakit.
  • Hindari menggunakan permukaan yang lembut, kasur untuk anak yang lebih besar atau orang dewasa dan kasur yang memiliki bed-rails (rel tidur).
  • Tempat tidur paling aman untuk bayi ialah boks bayi atau basinet dengan alas tidur khusus berpermukaan yang keras yang bersertifikat khusus. Lapis alas tidur tersebut dengan sprei yang tipis dan ketat.
Tidur Aman http://nefhealthystart.org/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/Safe-sleep.jpg

Tidur Aman http://nefhealthystart.org/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/Safe-sleep.jpg

  • Room sharing tanpa bed-sharing. Sebaiknya bayi tidur dalam satu kamar dengan orang tua tanpa berbagi tempat tidur. Letakkan bayi dalam basinet/crib di samping tempat tidur orangtua. Cara seperti ini diketahui dapat menurunkan resiko SIDS sampai 50%
  • Bayi boleh dibawa ke tempat tidur ibu saat disusui atau ditenangkan tetapi setelah itu pindahkan bayi ke tempat tidurnya ketika mulai terlelap dan ibu siap kembali tidur.
  • Semua bayi, termasuk yang prematur harus diletakkan dalam posisi telentang saat tidur sampai 1 tahun meskipun mereka sudah bisa berbalik. Resiko SIDS memang berkurang di atas 6 bulan namun masih tetap ada. Tidur dalam posisi miring tidak direkomendasikan.
  • Hindari paparan panas berlebih pada bayi (overheating). Saat tidur bayi sebaiknya menggunakan pakaian yang tidak terlalu tebal dan suhu ruangan harus nyaman. Jangan letakkan bayi di dekat pemanas, radiator, atau sinar matahari langsung saat tidur.
  • ASI sangat direkomendasikan karena bersifat protektif terhadap SIDS
  • Pertimbangkan untuk memberi empeng saat bayi tidur karena dapat mengurangi resiko SIDS.
Rekomendasi Crib http://a.dilcdn.com/bl/wp-content/uploads/sites/8/2011/06/crib-safety.png

Rekomendasi Crib http://a.dilcdn.com/bl/wp-content/uploads/sites/8/2011/06/crib-safety.png

Saya pernah mendengar istilah co-sleeping, apakah itu sama dengan bed-sharing?
Istilah co-sleeping dan bed-sharing memang sering tertukar dan dianggap sama di kalangan masyarakat. Namun, sebenarnya kedua istilah ini berbeda. Co-sleeping ialah istilah berbagai cara bayi tidur di dekat pengasuh (biasanya ibu) secara sosial atau fisik. Definisi co-sleeping ini termasuk bayi tidur bersama-sama ibu di permukaan yang tidak aman bagi bayi seperti tempat tidur orang dewasa, sofa atau kursi. Sedangkan bed-sharing hanya merujuk pada praktik tidur bersama bayi di tempat tidur yang sama. Jadi bisa dikatakan bed-sharing adalah bagian dari co-sleeping (2,26)

Lalu bolehkah ibu tidur dengan bayi dalam satu kasur yang sama? Pada kenyataannya sulit sekali menghindari tidak tidur bersama bayi karena kelelahan..

Manfaat vs resiko bed-sharing memang masih jadi perdebatan bahkan di kalangan para ahli. Beberapa pakar pro bed-sharing berpendapat bahwa resiko bed-sharing relatif rendah bila tidak ada faktor resiko lain. Mereka juga menilai ada kelemahan statistik dalam metode penelitian bed-sharing dan SIDS. Dari segi manfaat, tidur bersama bayi diketahui bisa memproteksi bayi secara fisik dari udara dingin dan memperpanjang durasi ASI. Sedangkan diketahui bahwa resiko SIDS berkurang pada bayi yang diberi ASI. McKenna dkk juga menemukan bahwa bayi yang berbagi tempat tidur dengan ibunya lebih sering terbangun dan lebih sedikit proporsi tidur fase 3-4. Hal ini diduga bersifat protektif terhadap SIDS karena tidur yang dalam dan periode bangun yang tidak konsisten mungkin menjadi faktor resiko SIDS.(27–30)

Pada daerah rawan malaria, co-sleeping juga diketahui paling efisien untuk berbagi kelambu tidur. Sedangkan dari segi psikologis, bed-sharing dan co-sleeping telah lama dipromosikan untuk menguatkan ikatan antara orangtua dan bayi. Interaksi terhadap bayi yang intens lebih membuat ibu responsif dan diduga dapat melindungi bayi terhadap SIDS. Selain itu, di berbagai negara (termasuk Asia) bed-sharing sudah menjadi tradisi terutama di daerah yang kurang tersedia fasilitas rumah atau tempat tidur bayi yang cukup. (27,28)

Terlepas dari manfaat dari tidur satu alas bersama bayi, orang tua perlu pahami bahwa resiko co-sleeping termasuk bed-sharing nyata adanya. Resiko ini bertambah bila orang tua tidur bersama bayi di sofa, merokok, mengkonsumi alkohol atau narkoba. Sehingga ikatan para ahli seperti American Academy of Pediatrics (AAP), Canadian Pediatric Society (CPS), United Kingdom Departement of Health, dan UNICEF setuju bahwa tempat tidur bayi paling aman ialah basinet atau boks bayi yang diletakkan sedekat mungkin dengan ibu. Metode ini memungkinkan untuk ibu tetap menyusui sekaligus bayi terlindungi dari resiko SIDS. (1,25,26,31)

Room sharing tanpa bed sharing http://images.huffingtonpost.com/2014-10-28-SafetoSleepRoomSharingHuffPo.jpg

Room sharing tanpa bed sharing http://images.huffingtonpost.com/2014-10-28-SafetoSleepRoomSharingHuffPo.jpg

Meskipun begitu, pilihan tidur bersama bayi sepenuhnya keputusan orangtua setelah diberi informasi dan menimbang manfaat dan resikonya. Bila orangtua memutuskan untuk tidur satu alas bersama bayi, ini yang perlu diperhatikan : (26,32)

  1. Jauhkan bayi dari bantal
  2. Pastikan bayi tidak bisa jatuh dari tempat tidur atau terhimpit diantara dinding dan matras
  3. Pastikan pakaian tidur tidak menutupi wajah bayi atau kepala
  4. Jangan biarkan bayi tidur sendiri karena bahkan bayi yang sangat muda bisa bergeliat ke posisi yang berbahaya
  5. Hindari tidur satu alas di bulan pertama jika bayi lahir sangat kecil atau prematur
  6. Jangan tidur bersama bayi jika anda telah mengkonsumsi alkohol atau obat yang menyebabkan kantuk (legal atau illegal)
  7. Hindarkan bayi tidur bersama perokok
  8. Hindari tertidur bersama bayi di sofa atau kursi (unicef)

Bagaimana dengan tidur tengkurap? Saya dengar posisi tersebut bisa membuat bayi cepat berbalik dan duduk?

Posisi tengkurap memang mendorong bayi untuk menopang badan dengan lengan dan mengangkat kepala. Gerakan ini bagus untuk memperkuat otot yang digunakan saat nantinya bayi merayap, merangkak atau berbalik. Sebaliknya, bayi yang selalu dalam posisi telentang kurang terlatih otot-ototnya. Oleh sebab itu, bayi perlu sesekali diposisikan tengkurap namun hanya saat bayi bangun. Rekomendasi ini (disebut juga “tummy time”) sebenarnya sudah termasuk dalam kampanye tidur aman. Namun, pada praktiknya hal ini sering terlupakan. (28,33)

posisi bobo

Posisi tidur bayi terlentang dan telungkup (NIH)

Adapun saat tidur, posisi tengkurap tidak membawa manfaat, malah meningkatkan resiko SIDS. Saat bayi tidur dengan posisi tengkurap, esofagus (saluran pencernaan) berada di atas trakea (saluran nafas). Sehingga, makanan yang naik/dimuntahkan lebih mudah masuk ke saluran nafas yang mana berbahaya. Sebaliknya, bila bayi tidur posisi terlentang, letak esofagus berada di bawah trakea. Sehingga makanan yang naik/dimuntahkan akan mengikuti gravitasi dengan tetap berada di saluran cerna. Selain itu, jaringan kemosensitif yang menimbulkan refleks lebih banyak terdapat di bagian belakang. Sehingga, bayi lebih terlindungi saat tidur posisi telentang. (34)

Nah, sekarang para orangtua sudah kaya akan informasi tidur yang aman pada bayi.. Perlu diingat ya, saat orang tua bangun, bayi bisa diletakkan didekat orang tua. Yang menjadi resiko bila baik orang tua maupun bayi sama-sama tertidur di tempat tidur atau sofa. Jadi, tidak perlu khawatir.. ibu masih bisa menyusui dan dekat bersama bayi tanpa resiko 🙂 Semoga orangtua sekalian dapat mengambil keputusan dengan bijaksana ya…

Agustina Kadaristiana, dr

REFERENSI

1. Syndrome TF on SID. SIDS and Other Sleep-Related Infant Deaths: Expansion of Recommendations for a Safe Infant Sleeping Environment. Pediatrics. 2011 Oct 17;peds.2011–284.
2. Task Force on Sudden Infant Death Syndrome, Moon RY. SIDS and other sleep-related infant deaths: expansion of recommendations for a safe infant sleeping environment. Pediatrics. 2011 Nov;128(5):e1341–67.
3. Draft recommendations to tackle Sudden Infant Death Syndrome published for consultation | Press and media | News | NICE [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.nice.org.uk/news/press-and-media/draft-recommendations-to-tackle-sudden-infant-death-syndrome-published-for-consultation
4. Moon RY, Horne RSC, Hauck FR. Sudden infant death syndrome. Lancet. 2007 Nov 3;370(9598):1578–87.
5. Hoffman HJ, Damus K, Hillman L, Krongrad E. Risk factors for SIDS. Results of the National Institute of Child Health and Human Development SIDS Cooperative Epidemiological Study. Ann N Y Acad Sci. 1988;533:13–30.
6. Cohen G, Vella S, Jeffery H, Lagercrantz H, Katz-Salamon M. Cardiovascular stress hyperreactivity in babies of smokers and in babies born preterm. Circulation. 2008 Oct 28;118(18):1848–53.
7. Viskari-Lähdeoja S, Hytinantti T, Andersson S, Kirjavainen T. Heart rate and blood pressure control in infants exposed to maternal cigarette smoking. Acta Paediatr Oslo Nor 1992. 2008 Nov;97(11):1535–41.
8. Schneider J, Mitchell I, Singhal N, Kirk V, Hasan SU. Prenatal cigarette smoke exposure attenuates recovery from hypoxemic challenge in preterm infants. Am J Respir Crit Care Med. 2008 Sep 1;178(5):520–6.
9. Richardson HL, Walker AM, Horne RSC. Maternal smoking impairs arousal patterns in sleeping infants. Sleep. 2009 Apr;32(4):515–21.
10. Ali K, Wolff K, Peacock JL, Hannam S, Rafferty GF, Bhat R, et al. Ventilatory response to hypercarbia in newborns of smoking and substance-misusing mothers. Ann Am Thorac Soc. 2014 Jul;11(6):933–8.
11. Stéphan-Blanchard E, Chardon K, Léké A, Delanaud S, Djeddi D, Libert J-P, et al. In utero exposure to smoking and peripheral chemoreceptor function in preterm neonates. Pediatrics. 2010 Mar;125(3):e592–9.
12. Iyasu S, Randall LL, Welty TK, Hsia J, Kinney HC, Mandell F, et al. Risk factors for sudden infant death syndrome among northern plains Indians. JAMA. 2002 Dec 4;288(21):2717–23.
13. Ward SL, Bautista D, Chan L, Derry M, Lisbin A, Durfee MJ, et al. Sudden infant death syndrome in infants of substance-abusing mothers. J Pediatr. 1990 Dec;117(6):876–81.
14. Bigger HR, Silvestri JM, Shott S, Weese-Mayer DE. Influence of increased survival in very low birth weight, low birth weight, and normal birth weight infants on the incidence of sudden infant death syndrome in the United States: 1985-1991. J Pediatr. 1998 Jul;133(1):73–8.
15. Mathews TJ, Menacker F, MacDorman MF. Infant mortality statistics from the 2001 period linked birth/infant death data set. Natl Vital Stat Rep Cent Dis Control Prev Natl Cent Health Stat Natl Vital Stat Syst. 2003 Sep 15;52(2):1–28.
16. Dwyer T, Ponsonby AL, Blizzard L, Newman NM, Cochrane JA. The contribution of changes in the prevalence of prone sleeping position to the decline in sudden infant death syndrome in Tasmania. JAMA. 1995 Mar 8;273(10):783–9.
17. Gibson E, Fleming N, Fleming D, Culhane J, Hauck F, Janiero M, et al. Sudden infant death syndrome rates subsequent to the American Academy of Pediatrics supine sleep position. Med Care. 1998 Jun;36(6):938–42.
18. Carpenter RG, Irgens LM, Blair PS, England PD, Fleming P, Huber J, et al. Sudden unexplained infant death in 20 regions in Europe: case control study. Lancet. 2004 Jan 17;363(9404):185–91.
19. Fleming PJ, Gilbert R, Azaz Y, Berry PJ, Rudd PT, Stewart A, et al. Interaction between bedding and sleeping position in the sudden infant death syndrome: a population based case-control study. BMJ. 1990 Jul 14;301(6743):85–9.
20. Hauck FR, Herman SM, Donovan M, Iyasu S, Merrick Moore C, Donoghue E, et al. Sleep environment and the risk of sudden infant death syndrome in an urban population: the Chicago Infant Mortality Study. Pediatrics. 2003 May;111(5 Pt 2):1207–14.
21. Mitchell EA, Scragg L, Clements M. Soft cot mattresses and the sudden infant death syndrome. N Z Med J. 1996 Jun 14;109(1023):206–7.
22. Vennemann MM, Hense H-W, Bajanowski T, Blair PS, Complojer C, Moon RY, et al. Bed sharing and the risk of sudden infant death syndrome: can we resolve the debate? J Pediatr. 2012 Jan;160(1):44–8.e2.
23. Carpenter R, McGarvey C, Mitchell EA, Tappin DM, Vennemann MM, Smuk M, et al. Bed sharing when parents do not smoke: is there a risk of SIDS? An individual level analysis of five major case-control studies. BMJ Open. 2013;3(5).
24. Mitchell EA. Recommendations for sudden infant death syndrome prevention: a discussion document. Arch Dis Child. 2007 Feb;92(2):155–9.
25. Recommendations for safe sleeping environments for infants and children. Paediatr Child Health. 2004 Nov;9(9):659–63.
26. Unicef UK statement on co-sleeping following new NICE guidance [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.unicef.org.uk/BabyFriendly/News-and-Research/News/Unicef-UK-statement-on-co-sleeping-following-new-NICE-guidance/
27. Academy of Breastfeeding Medicine Protocol Committee. ABM clinical protocol #6: guideline on co-sleeping and breastfeeding. Revision, March 2008. Breastfeed Med Off J Acad Breastfeed Med. 2008 Mar;3(1):38–43.
28. Michael J Corwin. Sudden infant death syndrome: Risk factors and risk reduction strategies. Uptodate. 2015;
29. McKenna JJ. An anthropological perspective on the sudden infant death syndrome (SIDS): the role of parental breathing cues and speech breathing adaptations. Med Anthropol. 1986;10(1):9–92.
30. McKenna JJ, Mosko S, Dungy C, McAninch J. Sleep and arousal patterns of co-sleeping human mother/infant pairs: a preliminary physiological study with implications for the study of sudden infant death syndrome (SIDS). Am J Phys Anthropol. 1990 Nov;83(3):331–47.
31. Postnatal care | 1-guidance | Guidance and guidelines | NICE [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.nice.org.uk/guidance/cg37/chapter/1-guidance
32. The Baby Friendly Initiative | Resources | Caring for your baby at night [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.unicef.org.uk/BabyFriendly/Resources/Resources-for-parents/Caring-for-your-baby-at-night/
33. Jones MW. Supine and Prone Infant Positioning: A Winning Combination. J Perinat Educ. 2004;13(1):10–20.
34. Infant Sleep Position and SIDS Questions and Answers for Health Care Providers. US Dep Health Hum Serv Natl Inst Health [Internet]. Available from: https://www.nichd.nih.gov/publications/pubs/documents/SIDS_QA-508-rev.pdf