Tag Archives: susu

Susu sapi berbahaya. Benarkah?

“Awas! Susu sapi hanya untuk sapi!”. Isu viral ini mungkin pernah kita dapat dari internet atau berita broadcast. Tidak tanggung-tanggung, para pakar anti-susu ini menyorot bahwa susu sapi dapat menyebabkan kanker, alergi, dan menghasilkan radikal bebas. Padahal, sejak dulu masyarakat selalu didorong untuk minum susu. Lalu, manakah sebenarnya pendapat yang benar?

Manfaat vs Resiko

Saat ini memang terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai manfaat susu dari para ahli. Di satu sisi, susu sapi sudah dikenal kaya nutrisi. Kandungan lemak susu sapi yang cukup tinggi (sekitar 50% dari total kalori) bermanfaat untuk anak terutama yang memiliki asupan lemak rendah. Susu juga memberi kontribusi yang signifikan untuk kalsium, zinc, magnesium, selenium, ribovlafin, vitamin B12 dan asam pantothenat. Meskipun perlu diingat bahwa susu sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah.1–4

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi anak Indonesia saat ini ialah stunting (postur pendek). Stunting dianggap masalah karena meningkatkan resiko kecatatan anak dan gangguan perkembangan kognitif. Postur pendek ditambah berat badan lahir rendah juga merupakan faktor resiko penyakit kronik saat dewasa. Penelitian menyebutkan bahwa memberi setiap pemberian 245 ml susu pada anak meningkatkan tinggi badan sebesar 0.4 cm. Susu sapi juga berperan penting dalam mengatasi gizi kurang dan buruk baik di negara berkembang maupun negara industri.3,5,6

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa susu sapi membawa resiko kesehatan bagi anak alergi, memiliki masalah pencernaan (misalnya intoleran laktosa) atau yang mengkonsumsi secara berlebihan. Diet tinggi lemak jenuh, seperti pada susu, disertai konsumsi makanan rendah serat dan olahraga dapat menyebabkan obesitas pada anak. Secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

Susu dan Kanker

Susu dan kalsium telah diduga memegang peran yang berbeda pada tiap-tiap kanker. Beberapa komponen dari susu seperti kalsium, vitamin D, sphingolipids, asam butirat dan protein diduga melindungi tubuh dari kanker. Secara khusus, kalsium dan vitamin D dalam susu bersifat protektif terhadap kanker kolorektal (WCRF dan AICR). 7–13

Konsumsi Susu Sejak Kecil dan Resiko Kanker

Pengaruh konsumsi susu sejak kecil berfokus pada efek susu terhadap IGF-1 (hormon pertumbuhan). Diet susu hewan yang tinggi telah diketahui dapat meningkatkan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang tinggi ini dapat meningkatkan resiko kanker prostat, payudara dan kolorektal. Studi Boyd Orr menemukan bahwa keluarga yang mengkonsumsi produk kaya susu sejak kecil memiliki resiko kanker kolorektal saat dewasa, berbeda dengan temuan dari WCRF. Namun, konsumsi susu saat anak-anak tidak berhubungan dengan kanker payudara dan lambung. 5,14

Konsumsi Susu Saat Dewasa dengan Resiko Kanker

Kadar galaktosa yang tinggi, gula yang dihasilkan dari pencernaan laktosa susu, diketahui berbahaya terhadap ovarium. Meskipun hubungan langsung antara susu dan kanker ovarium tidak serempak dilaporkan, namun ada potensi yang berbahaya mengkonsumsi laktosa yang tinggi. Penelitian yang melibatkan 500.000 wanita menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi laktosa yang tinggi (setara dengan 3 gelas susu per hari) mengalami resiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak.15

Diet tinggi kalsium juga diduga menjadi faktor resiko kanker prostat. Studi dari Harvard menemukan bahwa pria dewasa yang meminum 2 gelas atau lebih susu tiap hari beresiko mengalami kanker prostat dua kali lipat dibandingkan yang tidak. Hubungan ini lebih ditekankan pada konsumsi kalsiumnya daripada produk susu secara umum. 16,17

Kesimpulan

Agar masyarakat tidak bingung, Anda perlu pahami bahwa susu hewani bermanfaat sebagai bagian diet seimbang terutama pada anak di negara berkembang. Namun, konsumsi susu berlebihan secara jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa tidak disarankan karena dapat berpotensi menimbulkan obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, sampai kanker.

Susu hewani memang tidak dapat menggantikan manfaat dari ASI. Namun, anak di atas 1 tahun dapat diberikan susu hewan full cream sebagai susu rekreasi sebanyak 2 gelas. Setelah 2 tahun, beri anak susu rendah lemak sebanyak 2-3 gelas. Untuk orang dewasa, konsumsi kalsium dan produk susu yang cukup (1-2 gelas) bermanfaat untuk kesehatan tulang, menurunkan resiko darah tinggi dan kanker kolon sebagai bagian dari diet seimbang.18

HEPApr2013-1024x800

Bagi anak atau dewasa yang tidak dapat mengkonsumsi susu hewani karena alergi atau masalah pencernaan, Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dari sumber makanan lain. Susu hipoalergenik dapat menjadi pilihan untuk anak yang alergi. Kalsium dapat ditemukan di sayuran hijau, kacang-kacangan, jus dan susu kedelai yang difortifikasi kalsium. Jangan lupa penuhi kebutuhan protein, lemak dan mikronutrien dari daging, ikan, ayam serta sayur dan buah. 18

Agustina Kadaristiana, dr. 

09/12/2015

Referensi

1. Barger-Lux, M.J, Heaney, R.P., Packard, P.T., Lappe, J.M., & Recker, R.R. Nutritional correlations of low calcium intake. Clin Appl Nutr. 1992;2:39–44.
2. Fulgoni V, Nicholls J, Reed A, Buckley R, Kafer K, Huth P, et al. Dairy consumption and related nutrient intake in African-American adults and children in the United States: continuing survey of food intakes by individuals 1994-1996, 1998, and the National Health And Nutrition Examination Survey 1999-2000. J Am Diet Assoc. 2007 Feb;107(2):256–64.
3. Michaelsen KF, Nielsen A-LH, Roos N, Friis H, Mølgaard C. Cow’s milk in treatment of moderate and severe undernutrition in low-income countries. Nestlé Nutr Workshop Ser Paediatr Programme. 2011;67:99–111.
4. Hoppe C, Mølgaard C, Michaelsen KF. Cow’s milk and linear growth in industrialized and developing countries. Annu Rev Nutr. 2006;26:131–73.
5. De Beer H. Dairy products and physical stature: a systematic review and meta-analysis of controlled trials. Econ Hum Biol. 2012 Jul;10(3):299–309.
6. Parodi PW. Cows’ milk fat components as potential anticarcinogenic agents. J Nutr. 1997 Jun;127(6):1055–60.
7. Parodi PW. Conjugated linoleic acid and other anticarcinogenic agents of bovine milk fat. J Dairy Sci. 1999 Jun;82(6):1339–49.
8. Parodi PW. Dairy product consumption and the risk of breast cancer. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):556S – 68S.
9. Parodi PW. A role for milk proteins and their peptides in cancer prevention. Curr Pharm Des. 2007;13(8):813–28.
10. Garland CF, Garland FC, Gorham ED, Lipkin M, Newmark H, Mohr SB, et al. The Role of Vitamin D in Cancer Prevention. Am J Public Health. 2006 Feb;96(2):252–61.
11. German JB, Dillard CJ. Composition, structure and absorption of milk lipids: a source of energy, fat-soluble nutrients and bioactive molecules. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(1):57–92.
12. Holt PR, Bresalier RS, Ma CK, Liu K-F, Lipkin M, Byrd JC, et al. Calcium plus vitamin D alters preneoplastic features of colorectal adenomas and rectal mucosa. Cancer. 2006 Jan 15;106(2):287–96.
13. Van der Pols JC, Bain C, Gunnell D, Smith GD, Frobisher C, Martin RM. Childhood dairy intake and adult cancer risk: 65-y follow-up of the Boyd Orr cohort. Am J Clin Nutr. 2007 Dec;86(6):1722–9.
14. Genkinger JM, Hunter DJ, Spiegelman D, Anderson KE, Arslan A, Beeson WL, et al. Dairy products and ovarian cancer: a pooled analysis of 12 cohort studies. Cancer Epidemiol Biomark Prev Publ Am Assoc Cancer Res Cosponsored Am Soc Prev Oncol. 2006 Feb;15(2):364–72.
15. Edward Giovannucci, Eric B. Rimiti, Alicja Wolk, Alberto Ascherio, Meir J. Stampfer, Graham A. Colditz, Walter C. WilleÂ. Calcium and fructose intake in relation to risk of prostate cancer. CANCER Res. 1998;(58):442–7.
16. Food, nutrition, physical activity, and the prevention of cancer: a global perspective. Washington: World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research; 2007.
17. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
18. Calcium and Milk: What’s Best for Your Bones and Health? Harv Sch Public Health [Internet]. Available from: http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/calcium-full-story/#ref15

Pilih Susu Apa ya untuk anak > 1 tahun?

Ayah bunda tentu sepakat ASI ialah makanan terbaik bayi terutama di 6 bulan pertama. Namun, seiring dengan pertumbuhan si kecil, tentu kebutuhan nutrisinya juga bertambah. Saat anak berulangtahun yang pertama, anak sudah dapat diberi ‘hadiah’ susu rekreasi. Nah, sekarang bagaimana menjadi konsumen cerdas dalam memilihkan susu anak? Yuk simak ulasannya

Kebutuhan Nutrisi Anak

Kebutuhan nutrisi anak bervariasi tergantung dari usia, jenis kelamin dan aktivitas.1 Saat anak mulai berulang tahun yang pertama, kemampuan motoriknya semakin bertambah. Anak sudah bisa merangkak maju bahkan belajar berdiri. Gigi juga sudah mulai tumbuh, yang berarti kebutuhan energi, protein, karbohidrat, lemak, kalsium dan mikronutrien lain juga bertambah. Kebutuhan nutrisi ini dapat terpenuhi dari makanan padat dan juga susu.
Susu diketahui sebagai sumber minuman yang padat akan gizi. Susu mengandung nutrisi lengkap mulai dari karbohidrat, protein, lemak sampai vitamin dan mineral. Mikronutrien yang terdapat dalam susu juga tergolong yang lengkap yaitu Vitamin A, B, C, D, E dan K sampai berbagai jenis mineral seperti kalsium, fosfor, yodium, magnesium dan zinc. Fungsi mikronutrien bagi anak yang paling sering dikenal adalah untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Konsumsi susu atau produknya dari sejak anak-anak dapat membantu menjaga tulang dan gigi tetap kuat dan mencegah dari pengeroposan. Sehingga sayang ya bila anak melewatkan salah satu sumber gizi ini.2, 3 
Bagaimana memilih susu yang tepat untuk anak usia >1 tahun?
Banyaknya produk susu di pasaran tak ayal membuat orangtua bingung memilihkan susu untuk anak. Tidak jarang pula iklan membuat orang tua menjadi tidak ‘Pede’ memberi ASI dan cepat-cepat beralih ke formula. Padahal, organisasi kesehatan dunia seperti American Academy of Pediatrics dan National Health Services UK telah membuat panduan memilih susu anak sesuai usia seperti ilustrasi di bawah ini..
susu anak
  • Usia 0-6 bulan ialah periode ASI ekslusif. Artinya, anak hanya boleh diberi ASI tanpa makanan lain. Susu formula hanya diberikan dalam kondisi medis tertentu. Pemberian ASI ini dianjurkan untuk diteruskan sampai 24 bulan. Pada bayi kurang dari setahun tidak disarankan mengkonsumsi susu murni karena tidak mengandung cukup nutrisi yang dibutuhkan bayi (vitamin E, zat besi dan asam lemak esensial). Sistem pencernaan bayi juga mengalami kesulitan dalam mencerna protein, lemak, natrium dan kalium yang tinggi pada susu murni. 6, 10
  • Usia 12-24 bulan. Periode ASI+susu rekreasi. Susu rekreasi hanya boleh diberikan di atas 12 bulan. Susu yang disarankan ialah whole milk (full cream/tinggi lemak) yang dipasteurisasi. Saat ini perkembangan otak paling optimal sehingga anak membutuhkan lemak dalam jumlah besar. Kekurangan asam lemak dipercaya dapat mengganggu kematangan otak, pertumbuhan anak dan mengurangi serapan vitamin larut lemak. Bila tidak ada susu pasteurisasi, pilihan kedua adalah susu UHT. Takaran susu yang dianjurkan ialah 2 gelas (500 ml) per hari disertai konsumsi makanan yang bergizi dan variatif. 1, 5-7
  • Anak usia ≥24 bulan dianjurkan untuk mengkonsumsi susu dengan kadar lemak 1-2% (susu semi skim atau susu 1%) yang dipasteurisasi terutama pada anak gemuk atau ada riwayat keluarga dengan kolesterol yang tinggi/penyakit jantung. Bila tidak ada susu pasteurisasi anak boleh mengkonsumsi susu UHT. Takaran untuk anak 2-8 tahun ialah 2-3 gelas perhari dan untuk anak remaja usia 9-18 sebanyak 3 gelas sehari disertai makanan yang kaya kalsium untuk memenuhi kebutusan harian kalsiumnya. 1, 5-9

Perhatikan porsi

Selama ini tidak jarang orang tua yang salah kaprah untuk memberikan susu sebanyak-banyaknya pada balita lebih dari setahun. Bahkan seringkali anak diberi susu botol sebelum tidur.  Ternyata, konsumsi susu yang berlebihan tidaklah baik. Selain dapat menyebabkan obesitas akibat penumpukan lemak, meminum susu yang terlalu banyak dapat membuat anak cepat kenyang dan malas makan. Padahal, susu saja tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi seperti zat besi. (1, 14). Jadi penting untuk memberi takaran susu sesuai dengan anjuran. Bila anak mendapat asupan turunan susu yang lain, konsumsi susu dapat di modifikasi misalnya menjadi 1 gelas (250 ml), 200 gr yoghurt, dan 2 lembar keju (40 gr).

Ternyata banyak sekali jenis susu yang disebutkan tadi. Apa perbedaan susu-susu tersebut?

Secara garis besar, kelompok susu dibagi menjadi dua berdasarkan kadar lemak dan cara pengolahannya.

Susu berdasarkan kadar lemak :

Berdasarkan kandungan lemak yang terdapat di dalamnya, produk susu dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu susu murni (whole milk), susu rendah lemak atau susu skim (skim milk). 4

Picture

Sumber : WebMD (http://www.webmd.boots.com/diet/ss/slideshow-food-frauds)
  1. Susu murni (Whole-milk)
    Susu murni adalah susu yang tidak ditambahkan atau dikurangi zatnya. Sedangkan susu oalahan dikatakan whole milk bila kadar lemak minimal 3,5%. Whole milk yang dihomogenisasi memiliki kandungan lemak serta nutrisi yang identik dengan susu standar whole milk namun yang membedakan adalah proses ‘homogenisasi’ nya yang memecah gumpalan lemak dalam susu. Proses ini bermaksud agar lemak tercampur rata dalam susu dan mencegah lemak menggumpal di permukaan susu. 4
  2. Susu semi-skim, susu 1% lemak dan susu skim
    Susu semi-skim adalah susu yang mengandung 1,7% lemak sedangkan susu skim adalah susu yang kandungan lemaknya hampir dihilangkan (0%-0,5%). Karena kandungan lemaknya yang sangat rendah, susu skim memiliki rasa yang agak hambar dan cair. Jenis susu lain yaitu susu 1% lemak. Susu ini dibuat untuk konsumen yang ingin menikmati rasa susu semi-skim dengan kadar lemak yang lebih rendah. 4
or-121016-ts-21

Pemanasan susu

Susu berdasarkan proses pemanasan
Berdasarkan pembuatannya, susu ada yang di panaskan dan ada yang tidak. Proses pemanasan susu bertujuan untuk membunuh bakteri yang berbahaya dan memperpanjang umur penyimpanan susu. Pemanasan yang umum dilakukan ialah pasteurisasi, sterilisasi dan UHT (Ultra High Treated Milk).4
  1. Pasteurisasi merupakan proses pemanasan susu yang paling populer dan relatif ringan. Pada proses ini, susu dipanaskan tidak kurang dari 72ºC selama 25 detik lalu didinginkan secara cepat. Pasteurisasi juga dikenal dengan HTST (High Temperature Short Time) atau pemanasan dalam waktu singkat. Keuntungan dari pasteurisasi adalah dapat mematikan kuman berbahaya tanpa mengurangi nutrisi dan rasa pada susu. 4
  2. Susu UHT (Ultra Heat Treated Milk) adalah susu yang dipanaskan di suhu 135ºC dan segera didinginkan sampai 4-5°C selama 2-3 detik lalu disimpan dalam kemasan steril. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti aslinya. Pada proses UHT semua kuman (baik yang berbahaya ataupun tidak) mati, namun susu ini lebih awet dan dapat disimpan setidaknya enam minggu.4
  3. Sterilisasi merupakan proses pemanasan yang paling berat diantara UHT dan Pasteurisasi. Pertama, susu di panaskan di suhu 50°C lalu di homogenisasi (dipecahkan gumpalan lemaknya) dan diletakkan di botol gelas tertutup. Setelah itu susu dipanaskan di suhu 110-130°C selama 10-30 menit lalu didinginkan. Proses ini dapat membunuh hampir semua kuman di dalam susu (baik yang berbahaya atau tidak) namun dapat mengubah rasa dan menurunkan sedikit kadar nutrisi terutama vitamin B dan vitamin C. Kemasan yang belum dibuka dapat awet sampai 6 bulan tanpa perlu disimpan dalam kulkas. Bila kemasan sudah dibuka, harus diperlakukan seperti susu murni, disimpan dalam kulkas dan dikonsumsi dalam waktu 5 hari. 4
  4. Susu Mentah Susu mentah adalah susu murni yang langsung dikonsumsi dari ternak tanpa dilakukan proses apapun untuk menghilangkan bakteri dan kuman berbahaya.

Bolehkah anak diberikan susu mentah?

rawmilkBanyak orang tua yang salah informasi dan khawatir proses pemanasan susu akan mengurangi zat gizinya. Sehingga orangtua beralih mengkonsumsi susu mentah.  Padahal, kandungan nutrisi pasteurisasi sama dengan susu murni dan perlu diingat bahwa konsumsi susu mentah amatlah berbahaya. 13 Meskipun awalnya susu ternak itu steril, kontaminasi kuman berbahaya bisa terjadi dari berbagai cara. Misalnya, kontak antara susu dengan materi feses hewan, kontaminasi dari kulit atau payudara hewan yang terinfeksi, produksi susu dari hewan yang sakit (tuberkulosis) dan kontaminasi lingkungan seperti serangga, hewan, dan manusia (sarung tangan atau pakaian yang tercemar).

Sejak tahun 1920-an konsumsi susu mentah diketahui menyebabkan lonjakan penyakit tuberkulosis (TBC), aborsi akibat infeksi Brucella, infeksi streptokokus dan penyakit pencernaan. Saat ini diketahui bahwa konsumsi susu mentah dapat meningkatkan resiko 5x lipat penyakit toxoplasmosis pada ibu hamil, keguguran akibat penyakit listeriosis, prematuritas dan infeksi pada bayi baru lahir seperti sepsis dan meningitis.4, 13

Hal ini menyebabkan susu mentah tidaklah aman dikonsumsi, bahkan di Skotlandia pelarangan susu mentah telah dilakukan sejak tahun 1983. Berbagai organisasi kelas dunia seperti American Medical Association, American Veterinary Medical Association, the International Association for Food Protection, National Environmental Health Association, FDA, dan WHO mendorong perlindungan konsumsi susu dengan tidak menyarankan konsumsi susu mentah.13

Bolehkah anak >1 tahun diberi susu formula?

Baby Milk FormulaSusu formula ialah susu yang berasal dari susu yang dikeringkan dan ditambahkan nutrisi tambahan misalnya vitamin D, zat besi dan DHA. Susu formula diperuntukkan bagi bayi <1 tahun bila tidak bisa meminum ASI. Namun, sekarang ini banyak produsen susu yang membuat susu formula untuk anak usia >1 tahun. Sebenarnya, susu formula tidak perlu diberikan pada anak usia >1 tahun karena nutrisi yang terdapat di susu formula dapat dipenuhi dari susu segar dan makanan lain. Pada anak yang yang  mengalami gangguan tumbuh kembang, orang tua dapat mengkonsultasikan pertimbangan menggunakan susu formula pada dokter. 4, 14, 15
Bagaimana dengan susu kambing?
susu-kambing-etawaSusu kambing sangat mirip dengan susu sapi. Susu kambing dapat diberikan pada anak di atas 12 bulan asalkan tidak mentah dan sudah diproses terlebih dahulu (pasteurisasi). Perbedaannya dengan susu sapi, susu kambing memiliki kadar vitamin yang lebih rendah terutama asam folat. Untuk menyiasati hal ini, pastikan anak anda diberi asuapan tinggi folat seperti sayuran hijau, buah, dan sereal yang difortifikasi. Pada anak yang sulit makan dan anak hanya meminum susu kambing, suplemen asam folat dapat dipertimbangkan setelah berdiskusi dengan dokter. Asam folat penting salah satunya untuk mencegah anemia. 14
Samakah nutrisi susu beraneka rasa dengan susu murni?
Susu dengan rasa  coklat, stroberi dan pisang serta banyak beredar di pasaran. Pada umumnya kandungan nutrisinya sama dengan susu biasa kecuali kalori yang sedikit lebih tinggi. Penelitian menyebutkan bahwa konsumsi susu yang ditambahkan rasa tetap dapat menjadi pilihan sumber nutrisi anak dan remaja karena kaya akan zat gizi. 4
Apakah susu kedelai aman dikonsumsi anak?
Susu kedelai dapat menjadi alternatif pada anak vegetarian. Saat ini diketahui susu kedelai relatif aman dikonsumsi untuk balita. Isu hormon phytoestrogen/isoflavon dari kedelai pernah diduga memiliki efek negatif dalam perkembangan seksual anak, perilaku, fungsi imun dan thyroid. Namun, hasil penelitian yang dilakukan pada hewan, manusia dewasa atau bayi menyimpulkan tidak ada efek negatif pada perkembangan, reproduksi dan fungsi endokrin. Susu kedelai yang baik dikonsumsi anak usia >12 bulan adalah susu kedelai yang telah ditambahkan kalsium (paling tidak 100 mg kalsium/100 ml). Sebaliknya, susu kedelai tanpa tambahan kalsium tidak cocok untuk balita. 14, 16
Semoga bermanfaat 🙂

Agustina Kadaristiana, dr

Modifikasi terakhir :05/27/2015

Referensi

1. Dureya TK. Dietary recommendations for toddlers, preschool, and school-age children2014. Available from: http://www.uptodate.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/contents/dietary-recommendations-for-toddlers-preschool-and-school-age-children?source=search_result&search=milk+for+toddler&selectedTitle=1~150.

2. Dairy and Health. Available from: http://www.milk.co.uk/page.aspx?intPageID=42.

3. THE IMPORTANCE OF MILK IN CHILDREN’S DIETS. Ontario dairy industry.

4. Varieties of milk. Available from: http://www.milk.co.uk/page.aspx?intPageID=43.

5. Nutrition ACo. Feeding the child. In: Kleinman RE, Greer FR, editors. Pediatric Nutrition 7th: American Academy of Pediatrics; 2013. p. 123.

6. Allen RE, Myers AL. Nutrition in toddlers. American family physician. 2006;74(9):1527-32.

7. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gillman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary recommendations for children and adolescents: a guide for practitioners. Pediatrics. 2006;117(2):544-59.

8. Daniels SR, Greer FR, Committee on N. Lipid screening and cardiovascular health in childhood. Pediatrics. 2008;122(1):198-208.

9. Expert Panel on Integrated Guidelines for Cardiovascular H, Risk Reduction in C, Adolescents, National Heart L, Blood I. Expert panel on integrated guidelines for cardiovascular health and risk reduction in children and adolescents: summary report. Pediatrics. 2011;128 Suppl 5:S213-56.

10. Kaneshiro NK. Cow’s Milk and Children. Available from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001973.htm.

11. Milk and Dairy Food. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/milk-dairy-foods.aspx.

12. Dietary Recommendations for Healthy Children2014. Available from: http://www.heart.org/HEARTORG/GettingHealthy/Dietary-Recommendations-for-Healthy-Children_UCM_303886_Article.jsp.

13. Committee on Infectious D, Committee on N, American Academy of P. Consumption of raw or unpasteurized milk and milk products by pregnant women and children. Pediatrics. 2014;133(1):175-9.

14. Milk for Toddler2014. Available from: http://www.cyh.com/healthtopics/healthtopicdetails.aspx?p=114&np=302&id=1788#goat.

15. Parents could be wasting hundreds of pounds on “unnecessary” toddler milks2013. Available from: http://press.which.co.uk/whichpressreleases/2839/.

16. Bhatia J, Greer F, American Academy of Pediatrics Committee on N. Use of soy protein-based formulas in infant feeding. Pediatrics. 2008;121(5):1062-8.