Tag Archives: tidur

Tips Agar Anak Tidur Nyenyak

Tidur yang cukup sangat penting untuk proses belajar yang optimal. Bila anak kurang jam tidur, otomatis tubuh akan mencoba membayarnya dengan tidur yang lebih panjang di waktu lain. Namun, bila hal ini terjadi secara kronis maka periode anak saat bangun akan terpengaruh. Hasilnya ialah kurangnya kewaspadaan anak saat bangun, mengantuk, gangguan emosi (emosi labil, mudah marah, depresi dan marah), kelelahan, sakit kepala dan otot. Fungsi luhur otak anak juga bisa terganggu seperti berkurangnya memori, konsentrasi, atensi, kemampuan akademis dan mengambil keputusan dan memecahkan masalah sampai terjadinya perilaku overaktif, impulsif, tidak patuh dan kegagalan dalam mengikuti pelajaran sekolah.

Lalu, bagaimana menyiasati agar anak dapat tidur dengan nyenyak? Berikut tips-tipsnya..

  1. Masih ingat kan ya dengan ritme sirkardian pada artikel pola tidur anak normal? Jam internal biologis anak ini bisa kita atur sedemikian rupa dengan rangsangan cahaya dan jadwal yang teratur. Coba lakukan kegiatan rutin sesuai jadwal, seperti kenalkan waktu makan, waktu tidur siang dan waktu tidur. Hal ini bisa melatih kematangan jam biologis dan pola tidur-bangun anak sejak dini.

  2. Buat tempat tidur anak khusus untuk istirahat. Usahakan untuk menghindari bermain di kamar tidur. Jangan jadikan kamar tidur juga sebagai tempat hukuman. Hal ini dimaksudkan supaya saat masuk kamar, anak rileks dan bisa beristirahat dengan nyaman.

  3. Perhatikan lingkungan sekitar anak saat tidur. Buat kamar segelap mungkin, suhu yang nyaman (tidak terlalu panas dan dingin) dan minim dari suara bising. Bila anak masih tidak nyaman gelap, lampu tidur bisa digunakan.

  4. Kurangi makanan yang mengandung kafein di siang hari (cokelat, teh, cola). Kafein bisa menunda waktu tidur, mengurangi total waktu tidur, dan meningkatkan kejadian tidur di siang hari.

  5. Menjelang waktu tidur, hindari aktivitas bermain, olah raga dan stimulus visual seperti komputer atau televisi. Ganti aktivitas tersebut dengan yang membuat rileks seperti bercerita, mandi atau sikat gigi tanpa tergesa-gesa atau “quality time” berdua dengan anak. Namun, bila Anak anda malah menjadi aktif dengan mandi, Anda bisa meninggalkan aktivitas ini sebelum tidur.

  6. Jangan lupa lakukan kiat-kiat tidur anak yang aman ya..

Selamat tidur 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

Modifikasi terakhir :09/15/2015

Referensi

  1. Davis KF, Parker KP, Montgomery GL. Sleep in infants and young children. J Pediatr Health Care. 2004 Mar 1;18(2):65–71.
  2. Bedtime routines for babies. Babycenter. 2012 Mar. http://www.babycentre.co.uk/a553895/bedtime-routines-for-babies

Pentingnya Mengetahui Kiat Tidur yang Aman Bagi Anak

Orang tua sekalian mungkin pernah mendengar isu mengenai resiko berbagi tempat tidur bersama anak (bed-sharing) terhadap kematian mendadak pada bayi (Sudden infant death syndrome/SIDS). Tentunya hal ini bisa membuat galau terutama para ibu yang berusaha memberi ASI ekslusif. Bagaimana tidak? Kelelahan yang melanda ibu paska melahirkan ditambah lagi harus menyusui si kecil saat terbangun tiap malam membuat ibu sering tertidur bersama bayi. Apalagi tidur bersama bayi dalam satu kasur sudah menjadi kebiasaan dan bagian dari budaya kita. Namun, tahukah bunda bahwa berdasarkan penelitian, bed-sharing ternyata bisa meningkatkan resiko SIDS? Hal ini mendorong American Association of Pediatrics (2011) agar orang tua tidak melakukan bed-sharing. Kampanye AAP ini menimbulkan kontroversi di berbagai kalangan termasuk medis.(1) Tetapi tidak perlu khawatir ya, kali ini tim Doctormums akan mencoba mengupas tuntas mengenai kiat tidur yang aman bayi dan cara menengahi isu pro-dan kontra pada masalah ini..

Sekilas mengenai SIDS

  • SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) ialah kematian mendadak pada anak di bawah 1 tahun yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh termasuk autopsi lengkap, penyidikan tempat kematian dan penelusuran riwayat medis.(2)
  • SIDS menjadi penyebab utama kematian pada bayi usia 1-12 bulan di Amerika Serikat. Sedangkan di Inggris dan Wales hampir 250 bayi meninggal karena SIDS setiap tahunnya. Bila dibandingkan dengan negara barat, insidensi SIDS di Asia memang lebih rendah yaitu sekitar 0,04 per 1000 kelahiran hidup per tahun (dibandingkan dengan 0,6/1000 kelahiran hidup per tahun di Amerika).(3,4)
  • Berdasarkan penelitian NICHD, 90% SIDS terjadi pada bayi kurang dari 6 bulan. Rata-rata SIDS terjadi saat bayi berusia 11 minggu dengan puncaknya di usia 2-4 bulan. Hanya sekitar 2% SIDS terjadi pada bayi di atas 9 bulan.(5)

Apa Penyebab dari SIDS?
Sampai saat ini SIDS belum diketahui penyebabnya. Namun, berbagai penelitian telah dilakukan dengan metode yang terpercaya (baik metode observasi atau case-control). Berdasarkan penelitian tersebut, didapatkan hasil yang konsisten mengenai faktor resiko dari SIDS :(2)

Faktor orangtua :

  • Ibu usia muda (5)
  • Ibu merokok saat hamil atau setelah melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa pada bayi yang ibunya merokok, respons kardiovaskular dan kewaspadaannya abnormal terhadap stimulus CO2 dan O2.(6–11)
  • Ibu mengkonsumsi alkohol. Pada penelitian populasi dengan metode case-control, SIDS berhubungan secara signifikan terhadap konsumsi alkohol ibu sebelum konsepsi (6,2x) dan trimester pertama (8,2x). (12)
  • Ibu mengkonsumsi narkoba. Pada satu laporan ditemukan peningkatan 5x lipat resiko SIDS pada ibu yang mengkonsumsi narkoba di Los Angeles. Namun, mekanismenya belum ditemukan secara pasti apakah berasal dari efek biologi obat pada janin, prematuritas atau perilaku ibu. (13)
  • Ibu terlambat atau tidak melakukan pemeriksaan kehamilan (prenatal care/PNC)(2)

Faktor resiko SIDS (http://www.waraqat.net/2009/06/baby_3.jpg)

Faktor anak dan lingkungan :

  • Bayi prematur atau berat badan rendah. Bayi prematur memiliki resiko terhadap SIDS yang lebih tinggi daripada bayi yang cukup bulan. Terlebih lagi bila bayi tersebut memiliki berat badan rendah atau sangat rendah resikonya meningkat sampai 3-4x lipat dibandingkan bayi cukup bulan. (14)
  • Bayi tidur dengan posisi tengkurap. Beberapa penelitian case-control menyebutkan bahwa posisi tengkurap dapat meningkatkan resiko SIDS dari 2,4-13,1 x lipat dibandingkan dengan telentang. Studi lanjutan juga mendukung temuan ini dimana SIDS berkurang di beberapa negara setelah kampanye tidur terlentang. Menghindari tidur dengan posisi miring juga dapat mengurangi resiko SIDS. Hal ini disebabkan kemungkinan bayi berguling ke posisi tengkurap lebih besar daripada terlentang saat tidur dengan posisi miring. (2,15–19)
  • Bayi tidur pada permukaan yang lembut dengan berbagai asesoris seperti selimut dan bantal. Beberapa penelitian case-control menemukan bahwa resiko SIDS meningkat 5x lipat pada bayi yang tidur di permukaan yang lembut. Resiko ini meningkat menjadi 21x lipat bila bayi tidur dalam posisi telungkup. Asesoris tidur lain seperti sofa, kasur serat alami, selimut, bantal juga meningkatkan resiko SIDS sampai 5x lipat tanpa dipengaruhi oleh posisi tidur. (20,21)
NoSoftSurfaces_HR

Asesori Tidur yang Tidak Aman (http://www.sidsandkids.org/wp-content/uploads/NoSoftSurfaces_HR.jpg)

 

  • Bed-sharing atau tidur satu kasur bersama orang dewasa. Pada penelitian meta-analisis, resiko SIDS berbagi tempat tidur dengan bayi lebih besar 2,89x dibandingkan dengan yang tidak. Resiko ini meningkat pada bayi kurang dari 3 bulan (resiko 10,37x) atau pada ibu yang merokok (resiko 6,27x). Hasil yang serupa juga ditemukan dari meta-analisis yang melibatkan 1472 kasus SIDS dan 4679 kontrol di Inggris, Eropa dan Australasia. Bila bed-sharing ditambah dengan faktor resiko lain seperti menyusui dari botol, orang tua merokok dan minum alkohol, resiko SIDS bisa meningkat 15x lipat. Tidur bersama bayi di sofa atau di kasur dengan tambahan bantal, selimut juga bisa meningkatkan SIDS. Selain itu, semakin banyak orang yang berbagi kasur dengan bayi, semakin besar resiko SIDS.(2,22,23)
  • Overheating/ bayi terpapar panas berlebihan

Bed Sharing (http://www.abc.net.au/parenting/parenting_in_pictures/images/wrapping_newborn_1.gif)

Bagaimana mekanisme terjadinya SIDS?

SIDS diduga terjadi karena kombinasi tiga faktor : faktor pencetus eksternal, disfungsi/belum matanya fungsi jantung-pernafasan dan sistem kewaspadaan (arousal) bayi. Kombinasi dari faktor-faktor ini menyebabkan kegagalan respon perlindungan bayi terhadap lingkungan yang menyebabkan kematian.(1)

model SIDS (AAP,2011)

Lalu bagaimana mencegah SIDS?
Meskipun ancaman SIDS ini menakutkan, ternyata sebagian besar dari faktor resiko SIDS bisa dimodifikasi. Artinya, dengan mengubah kebiasaan dan perilaku, orang tua dapat melindungi bayi dari ancaman kematian mendadak pada bayi. (2,24,25)

Usaha Ibu:

  1. Lakukan pemeriksaan kehamilan (prenatal care) secara berkala pada ibu hamil
  2. Hindari paparan bayi terhadap rokok baik dari sejak di kandungan sampai lahir
  3. Berhenti konsumsi alkohol dan narkoba bagi orang tua

Pencegahan dari faktor bayi :

  • Jauhkan asesoris tidur bayi yang lunak seperti selimut, bantal dan boneka dari tempat tidur bayi. Kepala bayi harus dibiarkan terbuka (tanpa penutup). Jika selimut digunakan, pilih selimut yang tipis, kaki bayi harus diletakkan pada permukaan ujung boks bayi dan selimut harus diselipkan ke sisi-sisi tempat tidur untuk menghindari tertutupnya wajah bayi dengan selimut.
  • Car seat, stroller dan gendongan bayi tidak direkomendasikan sebagai tempat yang rutin untuk tidur di rumah atau rumah sakit.
  • Hindari menggunakan permukaan yang lembut, kasur untuk anak yang lebih besar atau orang dewasa dan kasur yang memiliki bed-rails (rel tidur).
  • Tempat tidur paling aman untuk bayi ialah boks bayi atau basinet dengan alas tidur khusus berpermukaan yang keras yang bersertifikat khusus. Lapis alas tidur tersebut dengan sprei yang tipis dan ketat.
Tidur Aman http://nefhealthystart.org/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/Safe-sleep.jpg

Tidur Aman http://nefhealthystart.org/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/Safe-sleep.jpg

  • Room sharing tanpa bed-sharing. Sebaiknya bayi tidur dalam satu kamar dengan orang tua tanpa berbagi tempat tidur. Letakkan bayi dalam basinet/crib di samping tempat tidur orangtua. Cara seperti ini diketahui dapat menurunkan resiko SIDS sampai 50%
  • Bayi boleh dibawa ke tempat tidur ibu saat disusui atau ditenangkan tetapi setelah itu pindahkan bayi ke tempat tidurnya ketika mulai terlelap dan ibu siap kembali tidur.
  • Semua bayi, termasuk yang prematur harus diletakkan dalam posisi telentang saat tidur sampai 1 tahun meskipun mereka sudah bisa berbalik. Resiko SIDS memang berkurang di atas 6 bulan namun masih tetap ada. Tidur dalam posisi miring tidak direkomendasikan.
  • Hindari paparan panas berlebih pada bayi (overheating). Saat tidur bayi sebaiknya menggunakan pakaian yang tidak terlalu tebal dan suhu ruangan harus nyaman. Jangan letakkan bayi di dekat pemanas, radiator, atau sinar matahari langsung saat tidur.
  • ASI sangat direkomendasikan karena bersifat protektif terhadap SIDS
  • Pertimbangkan untuk memberi empeng saat bayi tidur karena dapat mengurangi resiko SIDS.
Rekomendasi Crib http://a.dilcdn.com/bl/wp-content/uploads/sites/8/2011/06/crib-safety.png

Rekomendasi Crib http://a.dilcdn.com/bl/wp-content/uploads/sites/8/2011/06/crib-safety.png

Saya pernah mendengar istilah co-sleeping, apakah itu sama dengan bed-sharing?
Istilah co-sleeping dan bed-sharing memang sering tertukar dan dianggap sama di kalangan masyarakat. Namun, sebenarnya kedua istilah ini berbeda. Co-sleeping ialah istilah berbagai cara bayi tidur di dekat pengasuh (biasanya ibu) secara sosial atau fisik. Definisi co-sleeping ini termasuk bayi tidur bersama-sama ibu di permukaan yang tidak aman bagi bayi seperti tempat tidur orang dewasa, sofa atau kursi. Sedangkan bed-sharing hanya merujuk pada praktik tidur bersama bayi di tempat tidur yang sama. Jadi bisa dikatakan bed-sharing adalah bagian dari co-sleeping (2,26)

Lalu bolehkah ibu tidur dengan bayi dalam satu kasur yang sama? Pada kenyataannya sulit sekali menghindari tidak tidur bersama bayi karena kelelahan..

Manfaat vs resiko bed-sharing memang masih jadi perdebatan bahkan di kalangan para ahli. Beberapa pakar pro bed-sharing berpendapat bahwa resiko bed-sharing relatif rendah bila tidak ada faktor resiko lain. Mereka juga menilai ada kelemahan statistik dalam metode penelitian bed-sharing dan SIDS. Dari segi manfaat, tidur bersama bayi diketahui bisa memproteksi bayi secara fisik dari udara dingin dan memperpanjang durasi ASI. Sedangkan diketahui bahwa resiko SIDS berkurang pada bayi yang diberi ASI. McKenna dkk juga menemukan bahwa bayi yang berbagi tempat tidur dengan ibunya lebih sering terbangun dan lebih sedikit proporsi tidur fase 3-4. Hal ini diduga bersifat protektif terhadap SIDS karena tidur yang dalam dan periode bangun yang tidak konsisten mungkin menjadi faktor resiko SIDS.(27–30)

Pada daerah rawan malaria, co-sleeping juga diketahui paling efisien untuk berbagi kelambu tidur. Sedangkan dari segi psikologis, bed-sharing dan co-sleeping telah lama dipromosikan untuk menguatkan ikatan antara orangtua dan bayi. Interaksi terhadap bayi yang intens lebih membuat ibu responsif dan diduga dapat melindungi bayi terhadap SIDS. Selain itu, di berbagai negara (termasuk Asia) bed-sharing sudah menjadi tradisi terutama di daerah yang kurang tersedia fasilitas rumah atau tempat tidur bayi yang cukup. (27,28)

Terlepas dari manfaat dari tidur satu alas bersama bayi, orang tua perlu pahami bahwa resiko co-sleeping termasuk bed-sharing nyata adanya. Resiko ini bertambah bila orang tua tidur bersama bayi di sofa, merokok, mengkonsumi alkohol atau narkoba. Sehingga ikatan para ahli seperti American Academy of Pediatrics (AAP), Canadian Pediatric Society (CPS), United Kingdom Departement of Health, dan UNICEF setuju bahwa tempat tidur bayi paling aman ialah basinet atau boks bayi yang diletakkan sedekat mungkin dengan ibu. Metode ini memungkinkan untuk ibu tetap menyusui sekaligus bayi terlindungi dari resiko SIDS. (1,25,26,31)

Room sharing tanpa bed sharing http://images.huffingtonpost.com/2014-10-28-SafetoSleepRoomSharingHuffPo.jpg

Room sharing tanpa bed sharing http://images.huffingtonpost.com/2014-10-28-SafetoSleepRoomSharingHuffPo.jpg

Meskipun begitu, pilihan tidur bersama bayi sepenuhnya keputusan orangtua setelah diberi informasi dan menimbang manfaat dan resikonya. Bila orangtua memutuskan untuk tidur satu alas bersama bayi, ini yang perlu diperhatikan : (26,32)

  1. Jauhkan bayi dari bantal
  2. Pastikan bayi tidak bisa jatuh dari tempat tidur atau terhimpit diantara dinding dan matras
  3. Pastikan pakaian tidur tidak menutupi wajah bayi atau kepala
  4. Jangan biarkan bayi tidur sendiri karena bahkan bayi yang sangat muda bisa bergeliat ke posisi yang berbahaya
  5. Hindari tidur satu alas di bulan pertama jika bayi lahir sangat kecil atau prematur
  6. Jangan tidur bersama bayi jika anda telah mengkonsumsi alkohol atau obat yang menyebabkan kantuk (legal atau illegal)
  7. Hindarkan bayi tidur bersama perokok
  8. Hindari tertidur bersama bayi di sofa atau kursi (unicef)

Bagaimana dengan tidur tengkurap? Saya dengar posisi tersebut bisa membuat bayi cepat berbalik dan duduk?

Posisi tengkurap memang mendorong bayi untuk menopang badan dengan lengan dan mengangkat kepala. Gerakan ini bagus untuk memperkuat otot yang digunakan saat nantinya bayi merayap, merangkak atau berbalik. Sebaliknya, bayi yang selalu dalam posisi telentang kurang terlatih otot-ototnya. Oleh sebab itu, bayi perlu sesekali diposisikan tengkurap namun hanya saat bayi bangun. Rekomendasi ini (disebut juga “tummy time”) sebenarnya sudah termasuk dalam kampanye tidur aman. Namun, pada praktiknya hal ini sering terlupakan. (28,33)

posisi bobo

Posisi tidur bayi terlentang dan telungkup (NIH)

Adapun saat tidur, posisi tengkurap tidak membawa manfaat, malah meningkatkan resiko SIDS. Saat bayi tidur dengan posisi tengkurap, esofagus (saluran pencernaan) berada di atas trakea (saluran nafas). Sehingga, makanan yang naik/dimuntahkan lebih mudah masuk ke saluran nafas yang mana berbahaya. Sebaliknya, bila bayi tidur posisi terlentang, letak esofagus berada di bawah trakea. Sehingga makanan yang naik/dimuntahkan akan mengikuti gravitasi dengan tetap berada di saluran cerna. Selain itu, jaringan kemosensitif yang menimbulkan refleks lebih banyak terdapat di bagian belakang. Sehingga, bayi lebih terlindungi saat tidur posisi telentang. (34)

Nah, sekarang para orangtua sudah kaya akan informasi tidur yang aman pada bayi.. Perlu diingat ya, saat orang tua bangun, bayi bisa diletakkan didekat orang tua. Yang menjadi resiko bila baik orang tua maupun bayi sama-sama tertidur di tempat tidur atau sofa. Jadi, tidak perlu khawatir.. ibu masih bisa menyusui dan dekat bersama bayi tanpa resiko 🙂 Semoga orangtua sekalian dapat mengambil keputusan dengan bijaksana ya…

Agustina Kadaristiana, dr

REFERENSI

1. Syndrome TF on SID. SIDS and Other Sleep-Related Infant Deaths: Expansion of Recommendations for a Safe Infant Sleeping Environment. Pediatrics. 2011 Oct 17;peds.2011–284.
2. Task Force on Sudden Infant Death Syndrome, Moon RY. SIDS and other sleep-related infant deaths: expansion of recommendations for a safe infant sleeping environment. Pediatrics. 2011 Nov;128(5):e1341–67.
3. Draft recommendations to tackle Sudden Infant Death Syndrome published for consultation | Press and media | News | NICE [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.nice.org.uk/news/press-and-media/draft-recommendations-to-tackle-sudden-infant-death-syndrome-published-for-consultation
4. Moon RY, Horne RSC, Hauck FR. Sudden infant death syndrome. Lancet. 2007 Nov 3;370(9598):1578–87.
5. Hoffman HJ, Damus K, Hillman L, Krongrad E. Risk factors for SIDS. Results of the National Institute of Child Health and Human Development SIDS Cooperative Epidemiological Study. Ann N Y Acad Sci. 1988;533:13–30.
6. Cohen G, Vella S, Jeffery H, Lagercrantz H, Katz-Salamon M. Cardiovascular stress hyperreactivity in babies of smokers and in babies born preterm. Circulation. 2008 Oct 28;118(18):1848–53.
7. Viskari-Lähdeoja S, Hytinantti T, Andersson S, Kirjavainen T. Heart rate and blood pressure control in infants exposed to maternal cigarette smoking. Acta Paediatr Oslo Nor 1992. 2008 Nov;97(11):1535–41.
8. Schneider J, Mitchell I, Singhal N, Kirk V, Hasan SU. Prenatal cigarette smoke exposure attenuates recovery from hypoxemic challenge in preterm infants. Am J Respir Crit Care Med. 2008 Sep 1;178(5):520–6.
9. Richardson HL, Walker AM, Horne RSC. Maternal smoking impairs arousal patterns in sleeping infants. Sleep. 2009 Apr;32(4):515–21.
10. Ali K, Wolff K, Peacock JL, Hannam S, Rafferty GF, Bhat R, et al. Ventilatory response to hypercarbia in newborns of smoking and substance-misusing mothers. Ann Am Thorac Soc. 2014 Jul;11(6):933–8.
11. Stéphan-Blanchard E, Chardon K, Léké A, Delanaud S, Djeddi D, Libert J-P, et al. In utero exposure to smoking and peripheral chemoreceptor function in preterm neonates. Pediatrics. 2010 Mar;125(3):e592–9.
12. Iyasu S, Randall LL, Welty TK, Hsia J, Kinney HC, Mandell F, et al. Risk factors for sudden infant death syndrome among northern plains Indians. JAMA. 2002 Dec 4;288(21):2717–23.
13. Ward SL, Bautista D, Chan L, Derry M, Lisbin A, Durfee MJ, et al. Sudden infant death syndrome in infants of substance-abusing mothers. J Pediatr. 1990 Dec;117(6):876–81.
14. Bigger HR, Silvestri JM, Shott S, Weese-Mayer DE. Influence of increased survival in very low birth weight, low birth weight, and normal birth weight infants on the incidence of sudden infant death syndrome in the United States: 1985-1991. J Pediatr. 1998 Jul;133(1):73–8.
15. Mathews TJ, Menacker F, MacDorman MF. Infant mortality statistics from the 2001 period linked birth/infant death data set. Natl Vital Stat Rep Cent Dis Control Prev Natl Cent Health Stat Natl Vital Stat Syst. 2003 Sep 15;52(2):1–28.
16. Dwyer T, Ponsonby AL, Blizzard L, Newman NM, Cochrane JA. The contribution of changes in the prevalence of prone sleeping position to the decline in sudden infant death syndrome in Tasmania. JAMA. 1995 Mar 8;273(10):783–9.
17. Gibson E, Fleming N, Fleming D, Culhane J, Hauck F, Janiero M, et al. Sudden infant death syndrome rates subsequent to the American Academy of Pediatrics supine sleep position. Med Care. 1998 Jun;36(6):938–42.
18. Carpenter RG, Irgens LM, Blair PS, England PD, Fleming P, Huber J, et al. Sudden unexplained infant death in 20 regions in Europe: case control study. Lancet. 2004 Jan 17;363(9404):185–91.
19. Fleming PJ, Gilbert R, Azaz Y, Berry PJ, Rudd PT, Stewart A, et al. Interaction between bedding and sleeping position in the sudden infant death syndrome: a population based case-control study. BMJ. 1990 Jul 14;301(6743):85–9.
20. Hauck FR, Herman SM, Donovan M, Iyasu S, Merrick Moore C, Donoghue E, et al. Sleep environment and the risk of sudden infant death syndrome in an urban population: the Chicago Infant Mortality Study. Pediatrics. 2003 May;111(5 Pt 2):1207–14.
21. Mitchell EA, Scragg L, Clements M. Soft cot mattresses and the sudden infant death syndrome. N Z Med J. 1996 Jun 14;109(1023):206–7.
22. Vennemann MM, Hense H-W, Bajanowski T, Blair PS, Complojer C, Moon RY, et al. Bed sharing and the risk of sudden infant death syndrome: can we resolve the debate? J Pediatr. 2012 Jan;160(1):44–8.e2.
23. Carpenter R, McGarvey C, Mitchell EA, Tappin DM, Vennemann MM, Smuk M, et al. Bed sharing when parents do not smoke: is there a risk of SIDS? An individual level analysis of five major case-control studies. BMJ Open. 2013;3(5).
24. Mitchell EA. Recommendations for sudden infant death syndrome prevention: a discussion document. Arch Dis Child. 2007 Feb;92(2):155–9.
25. Recommendations for safe sleeping environments for infants and children. Paediatr Child Health. 2004 Nov;9(9):659–63.
26. Unicef UK statement on co-sleeping following new NICE guidance [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.unicef.org.uk/BabyFriendly/News-and-Research/News/Unicef-UK-statement-on-co-sleeping-following-new-NICE-guidance/
27. Academy of Breastfeeding Medicine Protocol Committee. ABM clinical protocol #6: guideline on co-sleeping and breastfeeding. Revision, March 2008. Breastfeed Med Off J Acad Breastfeed Med. 2008 Mar;3(1):38–43.
28. Michael J Corwin. Sudden infant death syndrome: Risk factors and risk reduction strategies. Uptodate. 2015;
29. McKenna JJ. An anthropological perspective on the sudden infant death syndrome (SIDS): the role of parental breathing cues and speech breathing adaptations. Med Anthropol. 1986;10(1):9–92.
30. McKenna JJ, Mosko S, Dungy C, McAninch J. Sleep and arousal patterns of co-sleeping human mother/infant pairs: a preliminary physiological study with implications for the study of sudden infant death syndrome (SIDS). Am J Phys Anthropol. 1990 Nov;83(3):331–47.
31. Postnatal care | 1-guidance | Guidance and guidelines | NICE [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.nice.org.uk/guidance/cg37/chapter/1-guidance
32. The Baby Friendly Initiative | Resources | Caring for your baby at night [Internet]. [cited 2015 Feb 3]. Available from: http://www.unicef.org.uk/BabyFriendly/Resources/Resources-for-parents/Caring-for-your-baby-at-night/
33. Jones MW. Supine and Prone Infant Positioning: A Winning Combination. J Perinat Educ. 2004;13(1):10–20.
34. Infant Sleep Position and SIDS Questions and Answers for Health Care Providers. US Dep Health Hum Serv Natl Inst Health [Internet]. Available from: https://www.nichd.nih.gov/publications/pubs/documents/SIDS_QA-508-rev.pdf

Mengenal Pola Tidur Normal Pada Anak

Tahukah Anda bahwa saat anak tertidur aktivitas otaknya lebih tinggi daripada saat terbangun? Tidur pada anak ternyata bukan hanya sekedar cara untuk beristirahat tetapi juga termasuk aktivitas yang penting dalam perkembangan otak dan proses belajar. Terlebih lagi saat tiga bulan pertama otak bayi sedang berkembang pesat-pesatnya. Maka tidak heran bila bayi dan batita menghabiskan mayoritas waktunya dengan tidur.

Apa itu tidur?

Tidur merupakan keadaan sementara dari berkurangnya respon dan interaksi manusia terhadap lingkungan. Tidur sering dikatakan sebagai periode pemulihan di mana tubuh dan pikiran beristirahat, namun sebenarnya saat tidur terjadi aktivitas saraf dan psikologi yang sangat tinggi.Sehingga dapat dikatakan bahwa tidur bukan hanya sekedar periode istirahat tetapi juga periode tingginya aktivitas otak yang melibatkan fungsi luhur (higher cortical function).

Bagaimana pengaturan tidur dalam tubuh si kecil?

Dalam tubuh manusia terdapat 2 proses utama yang mengatur proses tidur :

  1. Proses homeostatis

    Proses homeostatis ialah mekanisme yang mendorong tubuh untuk tidur, mengatur durasi dan kedalaman tidur. Proses ini dipengaruhi oleh “hutang tidur” yang terakumulasi saat bangun. Sehingga dengan kata lain, semakin lama anak terbangun, semakin besar pula dorongannya untuk tidur.

  2. Proses sirkardian.

    Proses sirkardian seringkali juga disebut sebagai jam internal yang mengatur periode bangun dan tidur. Proses ini dipengaruhi oleh siklus gelap dan terang lingkungan melalui hormon melantonin yang dihasilkan oleh tubuh. Ritme jam internal manusia sebenarnya 25 jam, lebih lama daripada hitungan waktu satu hari. Namun yang menarik, ritme jam ini bisa diatur dan di singkronkan dengan lingkungan. Caranya adalah dengan mengenalkan pada anak paparan cahaya terhadap aktivitas : terang berarti bangun dan gelap berarti waktu istirahat. Hal ini bisa jadi strategi juga lho sebagai cara agar buah hati anda mudah tidur dengan nyenyak 🙂 simak terus ya..

https://fuzzyscience.wikispaces.com/

https://fuzzyscience.wikispaces.com/

Terkadang saya melihat anak saya tidur gelisah dan mudah terbangun namun adakalanya ia tidur secara lelap. Adakah sebenarnya perbedaan jenis dari tidur dan fungsinya?

Secara garis besar, tidur dibagi menjadi 2 yaitu REM (Rapid eye movement) dan NREM (Non Rapid eye movement). Masing-masing jenis tidur ini memiliki level kesadaran, respon, aktivitas otak dan kekuatan otot yang berbeda

  1. Tidur fase REM dikarakteristikan dengan pergerakan bola mata yang cepat, intensnya gelombang otak, ‘kelumpuhan’ otot dan mimpi. Saat direkam dengan EEG (electroencephalogram) atau alat pengukur gelombang otak, ternyata gelombang di fase ini sama seperti saat anak terbangun. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi luhur otak tetap aktif saat anak tidur di fase ini. Roffwarg (1966) pertama kali mempopulerkan bahwa tujuan utama dari tidur yang aktif ini ialah menstimulus perkembangan otak pada bayi baru lahir dan bayi muda yang periode bangunnya masih terbatas. Tidur REM juga diduga sebagai periode di saat otak mencerna gambar atau stimulus visual dengan memutarkannya lewat mimpi juga periode belajar dari pengalaman saat bangun.

  1. Tidur NREM berfungsi untuk pemulihan metabolisme tubuh, penyembuhan sel yang rusak dan pengaturan sistem imun untuk performa yang optimal. Berdasarkan pengukuran gelombang otak lewat EEG, tidur NREM ini dibagi menjadi 4 fase :

    – Fase 1 merupakan saat di mana anak mulai tidur lelap. Fase ini dicirikan dengan berkurangnya pergerakan tubuh, mengantuk, dan menurunnya respon anak terhadap stimulus. Fase ini masih dikatakan fase peralihan antara tidur dan bangun karena anak masih mudah terbangun.

    – Fase 2 kemudian mengikuti fase 1 secara cepat. Pada fase ini baru dikatakan tidur yang sebenarnya. Ciri-ciri fase ini ialah menurunnya gerakan mata, kekuatan otot, serta melambatnya denyut jantung dan pernafasan. Saat ini anak bisa bergerak bebas dan berubah posisi tanpa terbangun.

    – Fase 3 dan 4 hampir identik, secara kolektif disebut delta, tidur dalam atau tidur gelombang lambat (Slow wave sleep/SWS). Saat ini tubuh anak relaks, denyut jantung dan pernafasan melambat serta anak sulit dibangunkan.

Bagaimana Perubahan Pola Tidur Si Kecil dari waktu ke waktu?

Bayi baru lahir

  • Bayi baru lahir yang lahir cukup bulan menghabiskan sekitar 16-18 jam per hari untuk tidur. (7)

  • Durasi terlama tidur 2,5-4 jam. Sehingga tidak heran bila bayi tidur lebih sebentar namun sering.

  • Waktu tidur dan bangun yang tidak teratur.

  • Pada usia ini, proporsi tidur aktif (REM) dan tenang (NREM) hampir serupa.

  • Siklus tidur bayi muda belum efektif, sehingga saat ini bayi mudah terbangun.

Bayi usia 1-12 bulan

  • Proses regulasi tidur mulai mengalami pematangan

  • Sekitar usia 2-3 bulan, ritme sirkardian mulai muncul. Bayi mulai bisa diatur pola tidurnya melalui rangsangan cahaya lingkungan.

  • Waktu istirahat lebih banyak saat malam hari dengan waktu tidur yang lebih pendek

  • Saat memasuki usia pertamanya, secara umum anak tidur selama 14-15 jam per hari dengan proporsi terbesar saat malam hari.

  • Proporsi tidur REM berkurang menjadi 30-40% dari total waktu tidur. Sekitar usia 3 bulan, tidur mulai diawali dengan siklus NREM dan diakhiri dengan siklus REM.

Anak usia 1-5 tahun

  • Seiring dengan kematangan anak, kebutuhan waktu tidur menjadi berkurang, sekitar 13 jam untuk anak 2 tahun, 12 jam untuk anak 3-4 tahun dan 11 jam untuk anak 5 tahun.

  • Pada usia 1-2 tahun, anak masih melakukan tidur siang untuk mencukupi kebutuhan tidur. Rata-rata 1-2 kali sehari (biasanya saat pertengahan pagi dan awal sore). Lama-kelamaan kebiasaan ini berhenti diawali dari berhenti tidur di pagi hari lalu di sore hari.

  • Proporsi tidur NREM lebih besar dari REM

Baru-baru ini (Februari, 2015) National Sleep Foundation bersama dengan panel ahli dari berbagai disiplin mengeluarkan rekomendasi terbaru mengenai waktu tidur ideal dari berbagai umur. Rekomendasi tersebut bisa dilihat di gambar ini :

sleep hour

Kolom biru tua menunjukkan durasi tidur (dalam jam) yang disarankan. Kolom biru muda menunjukkan durasi tidur yang masih bisa ditolerir. Sedangkan kolom kuning menunjukkan durasi tidur yang tidak disarankan.

Bila ibu penasaran bagaimana caranya agar si kecil tidur nyenyak, silakan simak di tautan ini. Selamat mencoba 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

REFERENSI

1. R. E. Dahl. The development and disorders of sleep. Advances in Pediatrics,. 1998. p. 73–90.

2. Davis KF, Parker KP, Montgomery GL. Sleep in infants and young children. J Pediatr Health Care. 2004 Mar 1;18(2):65–71.

3. Dement, W. C. C, M. A. Normal human sleep: An overview. Principles and practice of sleep medicine. Philadelphia: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.; 1989. p. 3–13.

4. P. C. Zee FWT. Introduction to sleep and circadian rhythms. Regulation of sleep and circadian rhythms. New York: Marcel Dekker, Inc; 1999. p. 1–17.

5. Heraghty JL, Hilliard TN, Henderson AJ, Fleming PJ. The physiology of sleep in infants. Arch Dis Child. 2008 Nov;93(11):982–5.

6. Judith A. Owens. Sleep Medicine. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; 2011. p. 46–55.

7. Roffwarg HP, Muzio JN, Dement WC. Ontogenetic development of the human sleep-dream cycle. Science. 1966 Apr 29;152(3722):604–19.

8. H.H. Bauchner RHA. Sleep problems in childhood. Current Problems in Pediatrics. 1993. p. 147–70.

9. National Sleep Foundation Recommends New Sleep Times [Internet]. [cited 2015 Feb 13]. Available from: http://sleepfoundation.org/media-center/press-release/natioanl-sleep-foundation-recommends-new-sleep-times