Tag Archives: vaksin

Tanya jawab vaksin MR

Halo ayah bunda! Baru-baru ini pemerintah baru saja menambahkan vaksin MR (Measles, Rubella) di imunisasi dasar. Seperti isu vaksin lainnya, respon orangtua terhadap vaksin MR juga terbagi tiga: ada yang pro, kontra dan yang galau. Pada tulisan kali ini, Doctormums akan membantu orang tua menimbang manfaat dan risiko dari vaksin MR. Siap-siap yah…

Apa itu vaksin MR?

Vaksin Measles, Rubella (MR) atau disebut juga vaksin campak dan rubella ialah vaksin hidup yang dilemahkan berupa serbuk kering dengan pelarut. Seperti namanya, vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit campak dan rubella (campak Jerman) pada anak yang disebabkan oleh virus.(1)

Apa bedanya vaksin campak, MR dan MMR?

Kalau ini paling mudah dijelaskan dengan rumus matematika yah 😊

Vaksin campak= M (measles)

Vaksin MR= Measles + Rubella

Vaksin MMR= Mumps (gondongan)+ Measles (campak) + Rubella (campak jerman)

Sebelumnya pemerintah hanya mewajibkan vaksin campak. Namun, karena kejadian rubella juga tinggi, pemerintah menambah imunisasi rutin dengan vaksin rubella. Vaksin MMR sudah ada di Indonesia, tapi tidak masuk dalam program wajib pemerintah artinya vaksin ini tidak gratis. Tapi stok vaksin MMR di Indonesia sudah lama kosong. Dengan adanya vaksin MR, diharapkan penyakit rubella dan campak bisa tetap dicegah. Pemerintah lebih memprioritaskan MR karena campak dan rubella lebih berbahaya dan mematikan disbanding mumps (gondongan).(1,2)

Apa bahayanya campak dan rubella sampai anak saya harus divaksin?

Rubella berbahaya bila mengenai ibu hamil dan anak-anak. Bila mengenai ibu hamil pada trimester pertama, rubella bisa menyebabkan aborsi, kematian janin atau cacat bawaan. Cacat yang diakibatkan oleh rubella disebut Congenital Rubella Syndrome/ Sindrom Rubella Kongenital (CRS) yang ditandai katarak, tuli, kelainan jantung dan otak. Bila anak tertular rubella setelah lahir, anak beresiko terkena ensefalitis (peradangan otak) meskipun jarang. Mirip halnya dengan campak, anak yang terkena infeksi ini setelah lahir bisa terkena komplikasi ensefalitis, meningitis (radang selaput otak), radang paru (pneumonia), diare, bahkan kematian.(1)

Kapan vaksin MR ini diberikan?

Selama program kampanye vaksin MR, semua anak usia 9 bulan-15 tahun harus di vaksin MR ya ayah bunda. Kalau kampanye vaksin sudah selesai, vaksin MR diberikan menggantikan jadwal vaksin campak yaitu 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat.(2)

Kalau sudah di vaksin campak, apa perlu di vaksin MR lagi?

Perlu supaya anak terlindungi dari rubella. Vaksin MR aman diberikan pada yang sudah diberi vaksin campak.(1)

Kalau sudah di vaksin MMR bagaimana?

Sebaiknya si kecil tetap di vaksin untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit campak dan rubella. Vaksin MR aman diberikan pada anak yang sudah MMR.(1)

Kenapa banyak orang tua yang galau untuk vaksin anaknya?

Menurut penelitian di Indonesia, alasan orangtua untuk tidak memvaksin ialah takut akan resiko dan efek samping, takut terkena autis, dan ragu akan kehalalannya.(3)

Memang apa resiko anak saya di vaksin MR?

Vaksin MR pada umumnya aman namun bukan berarti bebas dari resiko. Resiko atau efek samping yang bisa muncul karena vaksin MR misalnya:

  • Sakit karena disuntik!
  • Radang di bekas suntikan
  • Demam

Meskipun sangat jarang, reaksi alergi terhadap vaksin bisa terjadi.(1) Bila terjadi hal tersebut, segera laporkan ke petugas kesehatan untuk ditindak lanjuti. Saat ini pemerintah menyediakan situs pelaporan keamanan vaksin bila orangtua resah terhadap efek samping/resiko vaksin: www.keamananvaksin.com

Benarkah vaksin campak membuat autisme?

Tidak. Isu vaksin MMR menyebabkan autism dan penyakit usus berasal dari penelitian dokter Andrew Wakefield di tahun 1998. Penelitian ini sangat menghebohkan orangtua di Inggris sampai-sampai banyak orangtua yang menolak vaksinasi. Ternyata setelah ditelusuri penelitian ini dianggap tidak valid, terdapat unsur penipuan dan tidak bisa di replikasi. Pemerintah Inggris telah mencabut izin praktek dan menarik penelitiannya dari jurnal. Tapi tetap saja Wakefield aktif berkampanye anti vaksin lewat gerakan Vaxxed sampai saat ini. (4)

Benarkah vaksin mengandung babi sehingga haram?

Tidak. WHO sudah memberi pernyataan resmi bahwa enzim tripsin atau gelatin yang berasal dari babi tidak terkandung di produk akhir vaksin. Gelatin dan enzim tripsin dipakai dalam beberapa proses pembuatan vaksin. Namun, vaksin dicuci hingga bersih sampai enzim tersebut benar-benar hilang (5). Tahun 2001, WHO telah konsultasi dengan 100 ulama dari berbagai belahan dunia dan disimpulkan gelatin yang terkandung dalam vaksin halal. Menurut ulama dunia, tidak ada alasan untuk tidak mengimunisasi anaknya. (6)

Di Indonesia, MUI telah mengeluarkan fatwa nomor 4 Tahun 2016 bahwa imunisasi hukumnya mubah (boleh).(7) Sebagai informasi, saat ini sedang dikembangkan vaksin yang tidak menggunakan produk babi oleh Biofarma. Jangan lupa kita dukung ya 😊

Adakah anak yang tidak boleh divaksin MR?

Ada. Beberapa kelompok yang kontraindikasi untuk di vaksin MR misalnya:

  • Anak yang sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan dan radioterapi
  • Anak dengan kelemahan imun (immunocompromise)
  • Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  • Kelainan fungsi ginjal berat
  • Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin
  • Setelah pemberian gamma globulin atau transfusi darah.(1)

Kapan pemberian vaksin MR bisa ditunda?

Pemberian imunisasi bisa ditunda saat anak demam, batuk pilek, dan diare.(1)

Kalau saya memilih tidak memvaksin, apa resikonya?

Vaksin bukan hanya melindungi anak yang divaksin tetapi juga juga anak-anak yang lain. Vaksin memberi kekebalan masyarakat dari penyakit dari konsep Herd immunity. (4,8) Bila cakupan vaksin tinggi (80-95%), virus akan terhambat penyebarannya. Bahkan suatu penyakit bisa benar-benar hilang seperti penyakit smallpox (cacar) bila cakupan vaksin tetap tinggi. Tingginya herd immunity ini akan melindungi anak yang belum atau tidak bisa divaksin MR. Misalnya, anak yang timbul reaksi alergi berat karena vaksinasi, bayi-bayi muda, atau anak dengan kekebalan tubuh rendah. Sebaliknya, bila banyak orangtua yang menolak vaksin, herd immunity akan menurun drastis. Penelitian terbaru di Amerika menemukan bahwa penurunan cakupan imunisasi sekecil 5% saja bisa meningkatkan resiko campak 3x lipat! (9) Bayangkan bila angka imunisasi turun lebih dari itu. Bukan hanya anak berisko terkena penyakit, masyarakat akan beresiko terkena wabah.

Sebagai janji Doctormums di awal, kami akan membantu orangtua menimbang-nimbang risiko vs manfaat dari vaksinasi. Kalau dirangkum dari tulisan ini, yang perlu orangtua pikirkan ialah:

vaksin mr

Orangtua memang memiliki kewenangan untuk membesarkan anak dan memberi keputusan medis untuk anak yang dianggap belum cukup umur. Kebebasan berpendapat orangtua memang perlu dihargai seperti keyakinan beragama. Namun, dalam menimbang masalah imunisasi, orangtua kerap kali menyepelekan resiko penyakit seperti campak dan rubella dan membesarkan efek negatif imunisasi. (10) Penelitian lain juga menemukan bahwa sentimen dari sosial media tentang vaksin berpengaruh besar terhadap keraguan orangtua pada vaksin (11). Agar orangtua senantiasa bijak dalam memilih yang terbaik untuk anak, kami sangat mendukung orangtua yang terus mencari informasi yang terpercaya. Diskusikan dengan tenaga medis sebanyak-banyaknya bila orangtua galau dalam memutuskan imunisasi. Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr.

8/8/2017

Referensi

  1. Kemenkes. Petunjuk teknis kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. Jakarta; 2017. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1
  2. IDAI. IDAI – Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017 [cited 2017 Aug 8]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
  3. UN Global Pulse. Understanding immunisation awareness and sentiment through social media and mainstream media. Glob Pulse Proj Ser [Internet]. 2015;(19). Available from: http://www.unglobalpulse.org/projects/immunisation-parent-perceptions
  4. Chatterjee A. Vaccinophobia and Vaccine Controversies of the 21st Century [Internet]. 2013. Available from: http://reader.eblib.com/(S(r0xkd1qnsweq5vz04hzacqs1))/Reader.aspx#
  5. WHO. Oral polio vaccine and its production [Internet]. WHO. 2017 [cited 2017 Aug 2]. Available from: http://www.emro.who.int/polio/information-resources/oral-polio-vaccine-production.html
  6. MMR. [cited 2017 Aug 8]; Available from: http://www.immunisationscotland.org.uk/vaccines-and-diseases/mmr.aspx
  7. MUI. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang imunisasi [Internet]. MUI, 4 2016. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/lain/Fatwa No. 4 Tahun 2016 Tentang Imunisasi.pdf
  8. Luyten J, Vandevelde A, Van Damme P, Beutels P. Vaccination policy and ethical challenges posed by herd immunity, suboptimal uptake and subgroup targeting. Public Health Ethics. 2011;4(3):280–91.
  9. Lo NC, Hotez PJ. Public Health and Economic Consequences of Vaccine Hesitancy for Measles in the United States. JAMA Pediatr [Internet]. 2017;1–6. Available from: http://archpedi.jamanetwork.com/article.aspx?doi=10.1001/jamapediatrics.2017.1695
  10. Wearmouth E. Children, vaccination and UK law and UK law. Arch Dis Child [Internet]. 2014;99(Suppl 1):A193–A193. Available from: http://adc.bmj.com/cgi/doi/10.1136/archdischild-2014-306237.445
  11. Salathé M, Khandelwal S, Cauchemez S, Gerberding J, Barabasi A. Assessing Vaccination Sentiments with Online Social Media: Implications for Infectious Disease Dynamics and Control. Meyers LA, editor. PLoS Comput Biol [Internet]. 2011 Oct 13 [cited 2017 Aug 8];7(10):e1002199. Available from: http://dx.plos.org/10.1371/journal.pcbi.1002199