Hukuman Fisik pada Anak

Memberikan hukuman fisik pada anak sudah lama menjadi topik perdebatan di Amerika. Menurut beberapa study, lebih dari separoh orang tua di Amerika membenarkan hukuman pukulan pada anak kecil, namun penelitian lain menunjukkan bahwa hal ini berbahaya. Berikut Tanya jawab APA (American Psychology Association) dengan Alan E. Kazdin, PhD, professor psikologi di Yale University dan direktur Yale’s Parenting Center and Child Conduct Clinic.

APA: Beberapa orang tua terkadang memukul anaknya bukan utk menghukum tapi untuk mengubah tingkah laku anak. Apakah memberikan pukulan ini efektif?
K: memukul anak bukanlah strategi yang efektif karena dua hal, pertama tidak menekankan pada pokok permasalahan, dan kedua tidak mengajarkan anak apa yg harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa kenakalan anak tidak berkurang dg memberikan hukuman fisik, bahkan jika hukumannya diperberat sekalipun.

APA: Apa bentuk hukuman lain yang dapat digunakan oleh orang tua?
K: Intinya adalah membantu anak untuk mengubah perilakunya. hukuman fisik tidak perlu dilakukan. Mengembangkan perilaku positif, yaitu perilaku berlawanan yg diharapkan ortunya, jauh lebih efektif.

APA: Apa contoh metode lain yang bisa diterapkan ortu untuk mendisiplinkan anak? Dan kenapa metode lain ini lebih efektif?
K: Arahkan anak pada perilaku positif! Gunakan metode sebelum, proses dan sesudah perubahan perilaku. Jelaskan konsekuensi dari kenakalan perlahan tapi pasti merubah perilaku konsekuensi setelah berubah (misal: memberikan pujian, imbalan). Ada banyak peneliatian dan buku mengenai ini.

APA: Apa bedanya hukuman fisik dengan tindak kekerasan pada anak (child abuse)?
K: Tindak kekerasan pada anak didefenisikan berbeda-beda di tiap Negara bagian di Amerika. Ada yang menekankan pada bagian tubuh mana anak-anak tersebut di pukul, penggunaan benda-benda tertentu, dsb. Intinya segala bentuk hukuman fisik yang sedang-berat punya efek jangka panjang negatif bagi anak, termasuk pada kemampuan akademik, kesehatan fisik maupun mental.

APA: apakah ada bentuk tekanan (sosial, ekonomi, lingkungan) yang menyebabkan ortu atau pengasuh cenderung menggunakan hukuman fisik?
K: YA! Tekanan dapat memicu kekerasan. Juga harapan ortu akan apa yang bisa dilakukan anak untuk membantu.

APA: Apa akibatnya jika anak didisiplinkan dg memberikan hukuman fisik? Misalnya, apakah mereka bisa jadi lebih agresif dibandingkan anak2 lain?
K: tidak ada jawaban pasti dari penelitian-penelitian mengenai hukuman fisik ringan (memukul anak tapi jarang-jarang). Namun hukuman fisik sedang-berat dapat berakibat pada keterlambatan dalam pendidikan, gangguan fisik dan psikologis.

APA: Apa tanggapan anda terhadap orang tua yang bilang: “orang tua saya dulu memukul saya dan sekarang saya baik-baik saja kok!”
K: Ada perokok yg hidup sampai usia 100, namun ini tidak bisa menyanggah penemuan bahwa merokok itu memperpendek usia. Ada pengecualian memang (contoh: orang terinfeksi HIV belum tentu mengidap AIDS), tapi kecenderungan berlaku secara umum.

APA: Riset seperti apa yang bisa memberikan bukti mengenai dampak hukuman fisik dan dapat menyarankan bentuk disiplin alternatif?
K: sudah ada penelitian-penelitian tentang ini yang kesimpulannya: semua bentuk hukuman yg melewati batas hukuman fisik ringan tidak efektif dan bisa berakibat buruk jangka panjang. Tidak semua ahli setuju, tapi saya menyarankan ortu utk menghindari segala bentuk hukuman fisik. Ada banyak cara lain yang lebih efektif.

*Artikel ini  dibagi oleh ibu psikolog Rolla Apnoza  yang diterjemahkan oleh Novie Safita dari grup FOCER (Forum Curhat Emak Rempong) asuhan Kiki Barkiah

Sumber : Parenting Expert Warns Against Physical Punishment [press release]. American Psychological Association2010.(http://www.apa.org/news/press/releases/2010/05/corporal-punishment.aspx)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *