6 Tips Agar Anak Tidak Takut Dengan Dokter

Banyak anak yang takut diajak ke dokter. Mereka menangis, bahkan meronta-ronta ketika hendak dibawa, atau ketika telah tiba di ruangan praktik dokter. Kalau sudah begitu, dokter pun jadi sulit memeriksa penyakitnya. Secara psikologis, anak pun tidak maksimal memperoleh “efek sugesti” yang diperoleh lewat pemeriksaan dan pengobatan terhadap dirinya. Padahal, efek sugesti yang positif cukup berperan dalam proses penyembuhan suatu penyakit.

Mengapa anak takut dokter? Penyebabnya, kemungkinan akibat persepsi keliru tentang dokter. Dokter baginya laksana makhluk horror “tukang suntik” yang justru bikin sakit bagian tubuh yang disuntik. Persepsi itu tanpa sadar tertanam melalui orang-orang sekeliling anak itu sendiri. Entah orang tua, kakak, atau teman-teman. Sebaiknya, sedini mungkin berikan gambaran positif tentang citra profesi seorang dokter pada anak.

Untuk para dokter, komunikasi yang baik dengan keluarga dapat memperbaiki kepuasan, pemahaman dan kepatuhan terhadap terapi yang kita berikan. Dalam memberikan perhatian pada pasien anak, dokter harus memperhatikan kata-kata yang digunakan, bahasa tubuh, dan aspek profesional lain agar dapat diterima oleh anak. Komunikasi yang efektif dan disertai rasa empati dapat mengarahkan pada hasil yang baik bagi anak, keluarga yang mengantar, dan bagi dokter sendiri. Dan tentu, dokter harus memberikan kesempatan pada ibu pasien untuk menceritakan kondisi anaknya.

Berikut beberapa tips agar anak tidak takut pada dokter:

  • Jangan pernah menjadikan dokter sebagai objek menakut-nakuti anak. Sebab, hal ini akan menumbuhkan persepsi keliru anak tentang dokter. Akibatnya, ia takut ketika harus dibawa ke dokter. Saat anak tidak mau makan, jangan katakan, “Ayo habiskan makanannya. Kalau tidak, ibu panggilkan dokter biar kamu disuntik.”
  • Sebaiknya, katakan terus terang tentang rencana kunjungan ke dokter sebelum hari kunjungan itu tiba. Jelaskan tentang tujuannya ke dokter dan apa saja yang mungkin akan dilakukan dokter padanya. Hal ini untuk menyiapkan mentalnya menghadapi apa yang akan dialaminya di ruang praktik dokter.
  • Jika anak memang perlu disuntik, jangan katakan bahwa disuntik itu tidak sakit. Sebab, anak merasa dibohongi. Sebaiknya, jujurlah pada anak bahwa disuntik itu agak sedikit sakit. Namun, sakitnya sebentar seperti digigit semut. Katakan pula bahwa disuntik itu mempercepat kesembuhan sakitnya.
  • Sambil diperiksa bagian tubuhnya, ajak anak pada hal-hal yang menyenangkan hatinya. Misalkan, dengan mengeluarkan mainan kesayangannya yang dibawa dari rumah. Bisa juga dengan bermain tebak-tebakan anggota tubuh. Saat dokter memeriksa perut, dada, mulut, dan sebagainya, katakan, “Ayo tebak, bagian tubuhmu ini namanya apa?”
  • Jika diizinkan dokter, ajak anak mengenal lebih dekat peralatan yang digunakan dokter untuk memeriksanya. Misalnya, ia turut mendengarkan detak jantungnya sendiri melalui stetoskop.
  • Usai diperiksa, peluk hangat dirinya dan beri apresiasi. Katakan, “Anak hebat! Semoga kamu lekas sembuh ya, sayang!

Reqgi First Trasia, dr.

Referensi:

  1. Rachel, Tony. 2008. Better Communication with Childeren and Parents. UK : Pediatrics and Child Health Review. Elsevier Journal
  2. Levetown, Marcia. 2008. Communicating With Children and Families: From everyday Interactions to skill in Conveying distressing Information. American Academy of Pediatrics.
  3. Dina Roth Port. 2009. Tips to Help Kids Overcome Fear of Doctors.
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 132-134