Sunat Pada Anak Dengan Fimosis

“Dok, kenapa ya tiap anak saya mau pipis, burungnya seperti balon?”

“Dok, kalau anak saya pipis burungnya seperti balon dan kesakitan, kenapa ya?“

Apakah Ayah Bunda memiliki persoalan yang sama? Mungkinkah anak Ayah Bunda mengalami fimosis? Ayah Bunda tidak perlu panik, yuk kita ikuti penjelasannya berikut ini.

Apa itu fimosis?

Fimosis merupakan suatu kondisi dimana kulit luar penis (preputium) yang menutupi glans penis terlalu sempit dan sulit digerakkan/ditarik. Fimosis terbagi 2 jenis, fisiologis dan patologis.

Sekitar 96% bayi laki-laki terlahir dengan kondisi fimosis fisiologis, akibat lengketnya lapisan epitel preputium dan glans penis. Seiring dengan bertambahnya usia, bayi akan mengalami ereksi, serta lapisan epitel preputium akan mengalami keratinisasi. Kedua hal tersebut menyebabkan preputium menjadi lebih longgar dan mudah digerakkan/ditarik. Sehingga, fimosis fisiologis akan sembuh sendiri.

Preputium yang ditarik dengan paksa dapat menyebabkan luka, infeksi dan perdarahan, serta jaringan parut, yang dapat mengubah fimosis fisiologis menjadi patologis. Kurangnya kebersihan penis, infeksi glans penis dan preputium (balanitis/balanopostitis) yang berulang, juga dapat menyebabkan fimosis patologis. Fimosis patologis sebaiknya diobati oleh dokter.

Apa saja gejalanya?

Pada fimosis fisiologis, bisa jadi gejalanya hanya preputium yang sulit ditarik. Kadang dapat muncul ballooning tanpa keluhan lainnya. Ballooning yaitu ketika anak pipis, preputiumnya tampak menggelembung seperti balon.

Pada fimosis patologis, selain ballooning, anak biasanya mengeluh nyeri saat BAK (disuria), kadang air seninya berdarah, sering mengalami infeksi saluran kemih, serta BAK yg kurang lancar.

Bagaimana cara pengobatannya?

Pada fimosis fisiologis, yang penting adalah menjaga kebersihan preputium dari smegma. Smegma adalah kumpulan sel-sel kulit mati dari pergantian kulit preputium dan glans penis. Proses pergantian kulit alami ini membantu lepasnya perlengketan antara preputium dan glans penis. Smegma biasanya berwarna putih, yang tampak saat preputium ditarik.

Cara membersihkan smegma (saat mandi dan selesai BAK) yaitu dengan menarik preputium perlahan-lahan dan hati-hati, kemudian dibasuh air hangat. Boleh menggunakan sabun, tapi hati-hati dengan sabun “kuat” karena dapat menyebabkan iritasi (dermatitis kontak iritan), sehingga berisiko menjadi fimosis patologis.

Fimosis fisiologis mayoritas sembuh saat usia anak 2-3 tahun. Sekitar 10% fimosis menetap dan berisiko menjadi fimosis patologis. Fimosis patologis perlu tindakan sirkumsisi (sunat) oleh dokter spesialis urologi.

Kapan harus disunat?

Sirkumsisi/sunat awalnya hanya dilakukan pada anak-anak umat Islam. Seiring berjalannya waktu, sunat diketahui memiliki berbagai manfaat medis (termasuk mencegah kanker tertentu), sehingga sunat merupakan tindakan yang rutin dilakukan pada bayi di Amerika dan Eropa. Sunat dapat menyembuhkan fimosis, serta menurunkan risiko infeksi saluran kemih.

Sunat pada bayi risiko komplikasinya lebih kecil dibandingkan pada anak, sehingga disarankan sunat saat masih bayi, atau secepatnya untuk menghindari komplikasi fimosis.

Pakai bius lokal atau bius umum saat sunat?

Bius lokal direkomendasikan oleh WHO pada:

  • bayi baru lahir usia <28 hari (bisa dipegang dgn mudah agar tidak bergerak),
  • anak usia 4 atau 5 tahun ke atas (bisa mengikuti instruksi dan tidak bergerak-gerak),

Anak yang berusia diantara 28 hari dan 4/5 tahun, sebaiknya menggunakan bius umum. Konsultasikan kepada dokter spesialis anestesi mengenai keuntungan dan risiko bius umum pada anak Ayah Bunda.

Apa bahayanya jika tidak disunat?

Pada fimosis patologis yang tidak disunat, ada risiko menjadi parafimosis. Parafimosis yaitu kondisi preputium yang “tersangkut” di leher penis, menyebabkan aliran darah ke glans penis terhambat, penis bengkak dan nyeri. Semakin lama nyeri dan bengkak bertambah. Parafimosis merupakan suatu kegawatan dan harus segera disunat agar jaringan glans penis tidak mati.

Apa ada komplikasi sunat?

Komplikasi sunat lebih jarang terjadi pada bayi yang berusia <28 hari dibandingkan anak yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena prosedur sunat yang lebih sederhana dan proses penyembuhan yang lebih cepat pada bayi yang berusia <28 hari.

Komplikasi yang cukup sering muncul pada anak yang lebih tua yaitu nyeri, perdarahan, dan bengkak. Namun komplikasi tersebut biasanya ringan.

Komplikasi yang berat seperti perdarahan hebat maupun glans penis yang terpotong dapat terjadi, namun kemungkinannya <1%.

Perawatan setelah sunat

Ayah Bunda tidak perlu kuatir kapan benang jahitan sunat harus dilepas. Jahitan sunat saat ini menggunakan benang yang bisa diserap tubuh, yang akan diserap sempurna dalam 1-2 bulan.

Setelah sunat, penis anak tampak bengkak, dan kadang anak mengeluh nyeri saat BAK. Ayah Bunda tidak perlu kuatir, sebelum pulang dari rumah sakit, dokter biasanya sudah meresepkan obat untuk mengurangi nyeri dan bengkak tersebut. Dalam beberapa hari, keluhan bengkak dan nyeri akan berkurang. Kemudian, pada glans penis dapat muncul lapisan tipis berwarna putih. Ini merupakan bagian dari proses penyembuhan dan akan segera menghilang.

Selain obat anti nyeri, dokter akan memberikan salep yang fungsinya melapisi glans penis, serta mencegah luka akibat gesekan dengan popok/celana dalam.

Perban akan terpasang mengelilingi penis anak Ayah Bunda, namun bagian glans penis tetap terbuka. Jaga perban tetap kering. Beberapa hal yang bisa Ayah Bunda lakukan yaitu:

  • Jika anak BAK, cukup bersihkan dengan ujung kapas/cotton bud yang dibasahi air bersih saja. Boleh gunakan sedikit sabun lembut jika ada feses yang menempel pada penis.
  • Pastikan penis anak tetap bersih, tidak ada sisa air seni/feses yang menempel pada penis, karena sisa tersebut berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri (bisa terinfeksi).  
  • Jangan mandikan anak. Cukup lap badan anak dengan waslap/kain basah.

Jika tidak ada keluhan, kontrol ke dokter setelah 3-7 hari untuk melepas perban. Setelah perban dilepas, anak boleh dimandikan seperti biasa. Jika anak berendam air hangat (tanpa sabun), maka dapat mencegah terbentuknya krusta, sehingga mempercepat penyembuhan. Biasanya penis anak akan sembuh dalam 7-10 hari.

Segera kontrol ke dokter, jika:

  • Anak tidak BAK dalam 12 jam setelah disunat
  • Demam
  • Glans penis semakin merah & bengkak dibandingkan sesaat setelah disunat
  • Ada tanda infeksi seperti benjolan berisi nanah
  • Darah yang terus keluar atau terdapat bercak darah pada popok (more than quarter-sized)

Penutup

Fimosis fisiologis adalah kondisi yang umum terjadi pada bayi baru lahir, dan biasanya sembuh sendiri saat usia 2-3 tahun. Preputium yang ditarik dengan paksa dapat menyebabkan luka, infeksi dan perdarahan, serta jaringan parut, yang dapat mengubah fimosis fisiologis menjadi patologis. Fimosis patologis sebaiknya segera disunat untuk menghindari komplikasi. Sunat pada bayi berusia <28 hari lebih direkomendasikan karena kemungkinan komplikasi yang sangat kecil dan lebih cepat sembuh. 

Diana Andarini, dr.

Sumber:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3329654/

https://emedicine.medscape.com/article/777539-overview

https://kidshealth.org/en/parents/procedure-circumcision.html

https://www.chadkids.org/urology/urology-parents-circumcision.html

https://urology.ucsf.edu/patient-care/children/phimosis

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5332238/

https://www.who.int/hiv/pub/malecircumcision/neonatal_child_MC_UNAIDS.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *